Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Wednesday, August 27, 2014

Penyakit Yang Menyerang Para Ulama dan Ahli Ibadah

Penyakit Yang Menyerang Para Ulama dan Ahli Ibadah

Mungkin anda bingung kenapa seorang ulama dan ahli ibadah boleh terkena atau terserang penyakit!!?? penyakit ini adalah penyakit yang kronik, dan merupakan penyakit tersembunyi ini adalah tipu daya syaitan yang paling besar, tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang didekatkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Syahwat tersembunyi adalah sesuatu yang sulit bagi ulama besar untuk menghindarinya, apalagi bagi bagi ahli ibadah yang awwam. Karena penyakit ini kebanyakan menimpa mereka para ulama dan ahli ibadah.

Ketika mereka mampu untuk mengekang syahwat-syahwat mereka dan membawa diri-diri mereka dan untuk sebab-sebab ibadah serta tidak melakukan maksiat-maksiat yang zhohir (tampak) yang dilakukan oleh anggota badan, maka nafsu (jiwa) ketika itu menjadi tenang dan pengekangan nafsu menjadi nikmat dan menyenangkan ketika makluq(orang-orang) memandang dengan tingginya ilmu dan amalnya.

Sehingga dengan pandangan makhluq kepadanya menjadikannya mudah baginya (nafsu) untuk meninggalakan maksiat-maksiat yang zhohir, karena hatinya sudah senang dengan pujian dan perhatian makhluq kepadanya, sehingga salah seorang dari mereka menyangka dia telah baik ibadahnya dan ikhlash kepada Allah, padahal dia sesungguhnya telah terjangkit penyakit riya dan suka pujian. Wal iyaadzu billah..


Allah Subhaanahu wa Ta’alaa berfirman,

“تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “

“Itulah negri akhirat yang kami menjadikannya untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian/ kesombongan dan berbuat kerusakan dimuka bumi…

(QS:AlQasos:83)

Oleh karena itu dikatakan penyakit yang terakhir keluar dari orang –orang yang siddeeq adalah cinta kedudukan atau cinta kemasyhuran dan pujian makhluq.

Orang yang mukmin dan taat namun tidak dikenal lebih selamat dari penyakit hati ini.

Nabi Shallallahu ‘alihi wasallam bersabda :

“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertaqwa kaya dan menyembunyikan(ketaatannya)”(Sohih Muslim :14/215)

Diriwayatkan bahwasannya ibnu mas’ud radhiyallah ‘anhu apabila ia keluar dari rumahnya, kemudian diikuti oleh sekelompok orang dibelakangnya, beliau berkata kepada mereka, :”kenapa kalian mengikutiku? Pergilah sesungguhnya hal ini merupakan kehinaan bagi orang yang mengikuti dan fitnah bagi orang yang di ikuti!.”

Bahwasannya kholid bin ma’dan Rahimahullah, apabila semakit banyak halaqohnya (orang-orang yang duduk mengelilinginya untuk menuntut ilmu), dia berdiri dan pergi karena ia tidak menyukai kepamoran.

Berkata azZuhri Rahimahullah, kami menganggap zuhud itu mudah kecuali zuhud dengan kedudukan, kami melihat seseorang mampu untuk zuhud dalam makanan, minuman dan harta, namun ketika kami berikan padanya kedudukan, dia memeliharanya dan membiasakannya.

Berkata Ibnu Mas’ud Radhiyallah ‘anhu : “ jadilah kalian mata air ilmu, lampu-lampu petunjuk…..kalian dikenal oleh penduduk langit dan kalian tersembunyi(asing) bagi penduduk bumi.

Perlu diketahui, bahwasannnya mencari kemegahan/kemasyuran adalah tercela, namun jika kemegahan/kemasyuran itu didapatkan tanpa meminta kepada manusia maka tidaklah tercela, akan tetapi kemegahan/kemasyuran itu akan menjadi ftnah bagi orang-orang yang lemah iman dan ilmunya. Semoga Allah menjaga dan menguatkan kita dan para ulama-ulama kita dari penyakit ini. WallahulMuwaffiq wal Musta’aan.

Sumber : Mukhtashor Minhaajul Qhosidin/ Ibnu Qudamah.

Monday, August 25, 2014

mereka meninggalkan budaya mereka



Mereka meninggalkan budaya mereka....
Org asal Islam mengambilalih !
Matahari timbul di barat....(Cahaya timbul di barat ?)

Muhaasabah diri kemudian berubah



hmmmm kena ambil tindakan drastik ni...
1- Kena selalu taubat & Sadar Diri 
2- Hindari sombong dan penyakit perasan


Sunday, August 24, 2014

Tanda-Tandanya Orang yg jahil lagi hina

Syukran Ukhti Nadine Arshanty

"..KENALI DIRI DAN TEMAN.."

Seseorang Bertanya kepada Nabi : "Beritahulah aku Tanda-Tandanya Orang yg jahil(bodoh/hina) ?

Rasulullah Saw Menjawab :

Jika kau Temani, dia akan Merepotkanmu.
Jika engkau Jauhi, dia kan MenCelamu.
Bila Memberimu Sesuatu, dia akan meng-Ungkit2.
Bila Engkau Memberinya Sesuatu, dia akan Mengingkarinya.

Jika kau Berbicara Tentang Sesuatu Rahasia, dia akan Mengkhianatimu.
Bila Memberitahu sesuatu Hal yang Rahasia padamu,
ia akan Menuduhmu yg bukan-bukan.
Bila Merasa Cukup, dia Berlaku Sombong dan Kasar.

Jika Butuh Sesuatu dia akan Meremehkan Nikmat Tuhan Tanpa Merasa Berdosa.
Jika Senang dia akan menghamburkan dan berlebihan.
Jika ditimpa Kesedihan dia segera Berputus asa.
Kalau Tertawa, Ter-bahak2.
Jika Menangis akan Menjerit-jerit.

Dia selalu Menjelekkan orang baik.
Serta Tidak Mengikuti Aturan Tuhan-Nya.
Juga Tidak Merasa Malu kepada Tuhan-Nya.

Jarang Mengingat Tuhan-Nya.

Jika engkau dianggap menyetujui hal-hal yang ia lakukan, dia akan Memujimu dengan Pujian yang tidak ada padamu.

Dan Jika Marah kepadamu..dia akan Mencacimu dengan Suatu kejelekkan yang Tidak Pernah engkau Lakukan.

Itulah tanda² orang jahil...

Semoga Bermanfaat...

Sahabat iLmu• — in Osaka-shi, Japan.

Sakaratul Maut Detik-Detik Yang Menegangkan Dan Menyakitkan

Sakaratul Maut, Detik-Detik Yang Menegangkan Dan Menyakitkan
Rabu, 11 Nopember 2009 16:15:14 WIB
Kategori : Fiqih : Jenazah & Maut 
SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN[1]

Oleh
Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al'Ali

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya"[2].

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya". [Qaaf: 19]

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian[3].

Juga ayat:

كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan". Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau". [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa'di menjelaskan: "Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: "Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang akan menyembuhkan?" artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta'ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan".[4]

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam)

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

"Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: "Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut". Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la". Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas"[5]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ

"Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: "Alangkah berat penderitaanmu ayahku". Beliau menjawab: "Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]" [6]

Dalam riwayat Tirmidzi dengan, 'Aisyah menceritakan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخرجه الترمذي ك الجنائز باب ما جاء في التشديد عند الموت وصححه الألباني

"Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah".[7]

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: "Setiap jiwa akan merasakan mati". (Ali 'Imran: 185). Dan sabda Nabi: "Sesungguhnya kematian ada kepedihannya". Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. [8]

KABAR GEMBIRA UNTUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN.
Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan. Dalilnya, hadits Al Bara` bin 'Azib Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin:

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ

"Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth (wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: "Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya". Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.."[al hadits].[9]

Malaikat memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):" Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Fushshilat: 30]

Ibnu Katsir mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata "janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan".

Kemudian Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: "Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan". Dan mengomentarinya dengan: "Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus sekali dan memang demikian kenyataannya".

Firman-Nya: "Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat berkata kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat, dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju kenikmatan syurga".[10]

Dalam ayat lain, Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salamun 'alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)", masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". [An Nahl: 32]
.
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: "Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam…[11]

MENGAPA RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MENDERITA SAAT SAKARATUL MAUT?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu 'alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits 'Aisyah di atas.

Ibnu Hajar mengatakan: "Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya"[12]

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat :

Pertama : Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.

Kedua : Mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan".[13]

KABAR BURUK DARI PARA MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG KAFIR.
Sedangkan orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya:

"Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya". Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek yang) banyak mata besinya dari bulu wol yang basah. [14]

Secara ekspilisit, Al Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman: "

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): "Keluarkan nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya". [Al An'am: 93]

Maksudnya, para malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan: "Keluarkan nyawamu". Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai, neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman (Allah). Maka nyawanya bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar.

Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: "Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya".. artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (lantaran) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rasul-Nya.

Saat detik-detik kematian datang, orang kafir mintai dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal sholeh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan". [Al Mukminun: 99-100]

Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Allah. Wallahu a'lamu bishshawab. Washallallahu 'ala Muhamaad wa 'ala alihi ajmain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diadaptasi oleh M. Ashim dari kitab Ahwalu Al Muhtazhir (Dirasah Naqdiyyah) karya Dr. Muhammad bin 'Abdul 'Aziz bin Ahmad Al 'Ali, dosen fakultas Ushuluddin di Riyadh. Majalah Jam'iah Islamiyah edisi 124 tahun XXXVI -1424 H.
[2]. Al Maut hlm. 69
[3]. Lihat Jami'u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran (26/100-101) dan Fathul Qadir (5/75).
[4]. Taisir Al Karimi Ar Rahman Fi Tafsiri Kalami Al Mannan hlm. 833.
[5]. HR. Bukhari kitab Riqaq bab sakaratul maut (6510) dan kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[6]. HR. Bukhari kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[7]. HR. Tirmidzi kitab Janaiz bab penderitaan dalam kematian (979). Lihat Shahih Sunan Tirmidzi (1/502 no: 979).
[8]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/50-51).
[9]. HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).
[10]. Tafsiru Al Quranil 'Azhim (4/100-101).
[11]. Adhwaul Bayan (3/266).
[12]. Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari (11/363).
[13]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/48-50) dengan diringkas
[14]. HR. HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).

7 Gangguan Syaitan Ketika Sakaratul Maut!

7 Gangguan Syaitan Ketika Sakaratul Maut!
Hiasan
Iblis dan Syaitan akan sentiasa mengganggu manusia, bermula dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hinggalah ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat iaitu ketika sakaratul maut.
Syaitan mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.Hadith Rasulullah s.a.w.. menerangkan:Yang bermaksud: “Ya Allah aku berlindung dengan Engkau daripada perdayaan Syaitan di waktu maut.”
Rombongan 1
Akan datang Syaitan dengan banyaknya dengan berbagai rupa yang pelik dan aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lazat-lazat.
Maka disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barangan Syaitan itu, di waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah s.w.t. inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.
Rombongan 2
Akan datang Syaitan kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular dan Kala yang berbisa. Maka Apabila yang sedang didalam sakaratul maut itu memandangnya saja kepada binatang itu, maka dia pun meraung dan melompat sekuat hati.
Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah s.w.t., matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.
Rombongan 3
Akan datang Syaitan mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan merupakan dirinya kepada binatang yang menjadi minat kepada orang yang hendak mati itu, kalau orang yang hendak mati itu berminat kepada burung, maka dirupai dengan burung, dan jika dia minat dengan Kuda lumba untuk berjudi, maka dirupakan dengan Kuda lumba (judi).
Jika dia minat dengan dengan ayam sabung, maka dirupakan dengan ayam sabung yang cantik. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah s.w.t.. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.
Rombongan 4
Akan datang Syaitan merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya
Rombongan 5
Akan datang Syaitan merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Syaitan,
berkata dengan rayu-merayu “Wahai anakku inilah sahaja makanan dan bekalan yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahawa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.”
Maka dia pun sudi mengikut pelawaan itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal ia di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.
Rombongan 6
Akan datanglah Syaitan merupakan dirinya sebagai ulamak-ulamak yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: “Wahai muridku, lamalah sudah kami menunggu akan dikau, berbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sedang sakit di sini, oleh itu kami bawakan kepada kamu doktor dan bomoh bersama dengan ubat untukmu.” Lalu diminumnya ubat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang kembali.
Lalu datanglah pula Syaitan yang menyerupai ulamak dengan berkata: “Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?”
Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: “Aku tidak tahu.”
Berkata ulamak Syaitan: “Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulamak yang tinggi dan hebat, baru sahaja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cubalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah s.w.t. hendaklah kamu patuh kepada kami.”
Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Syaitan bagi tujuan mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulamak palsu:
“Bagaimanakah Zat Allah?” Syaitan merasa gembira apabila jeratnya mengena .
Lalu berkata ulamak palsu: “Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu. “
Apabila tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.
Berkata Syaitan: “Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah.”
Berkata orang yang dalam sakaratul maut: “Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai jihat enam, iaitu benda besar ini ada di kirinya dan kanannya, mempunyai atas dan bawahnya, mempunyai depan dan belakangnya.
Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini.”
Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan dikatakan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.
Rombongan 7
Rombongan Syaitan yang ketujuh ini Syaitan terdiri dari 72 barisan sebab menjadi 72 barisan ialah kerana dia menepati Iktikad Muhammad s.a.w. bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 puak (barisan). Satu puak sahaja yang benar (ahli sunnah waljamaah) 72 lagi masuk ke neraka kerana sesat.
Ketahuilah bahawa Syaitan itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlain di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Syaitan dan Iblis yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut.

Bersesuaian dengan sebuah hadith yang bermaksud: “Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah.”

Saturday, August 23, 2014

Ujian Allah Ada Dua Macam

Ibnul Qayyim pernah berkata: Ujian itu ada dua macam. Ujian untuk mengingatkan dan ujian untuk mengangkat derajat.

Apabila seorang hamba banyak maksiat lagi lalai dalam masalah dunianya, cuek kepada Tuhannya maka itu ujian untuk mengingatkannya dari dosa dan maksiat serta untuk mengingatkannya kepada Allah.

Apabila seorang hamba yang diuji itu seorang mukmin yang taat kepada Tuhannya, berarti ia diuji supaya membersihkannya dari dosa dan mengangkat posisinya di hadapan Allah.

Maka kedua ujian itu bukti kecintaan, rahmat dan kelembutan Allah terhadap hamba-Nya.

Andaikan kita mengetahui hal yang gaib, pasti kita akan memilih segala pilihan Allah Yang Maha Penyayang untuk diri kita.

Andaikan kalian tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu pasti hatimu akan hancur meleleh karena cinta kepada-Nya.

ganjaran memohon ampun kepada mukmeen

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كتب له بكل مؤمن ومؤمنة حسنة" أي بعدد كل مؤمن خلقه الله تعالى فيما مضى وفي هذا الوقت، بعدد المؤمنين والمؤمنات الله تعالى يعطيه حسنة، هذه نعمة عظيمة. من يعلم عدد المؤمنين والمؤمنات إلا الله؟ من يقول هذه الكلمة الخفيفة على اللسان يكسب حسنات بعدد المؤمنين والمؤمنات.

قولوا: "رب اغفر للمؤمنين والمؤمنات
***

Bersabda RasulAllah saw. barangsiapa memohon keampunan Allah agar diampunkan segala dosa mukmeen nescaya ditulis oleh Allah baginya segala kebaikan dari kebaikan kebaikan org mukmeen. yakni segala kebaikan manusia beriman sejak dari Nabi Adam lagi akan diberi kepada si fulan yg berdoa itu !.... Berapa ramai org beriman ? hanya Allah yg mengetahuinya !

Kalimah itu hanya terlalu ringan kita menyebutnya, tapi terlalu besar ganjarannya ... cuma berkata

رب اغفر للمؤمنين والمؤمنات

Gua Yang Sangat Wangi - Mukjizat Nabi

Friday, August 22, 2014

Pentingnya Bersahabat Dengan Mukmin

Jangan Tinggalkan Bersahabat Dengan Mukmin, Ia Membawa Hingga Ke Syurga

Tazkirah 24 ogos 2014

Apabila penghuni Syurga telah masuk kedalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu sewaktu di Dunia.

Mereka pun bertanya tentang sahabat mereka kepada Allah:

"Wahai Tuhan Kami.. 
Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia solat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami."

Maka Allah berfirman:
"Pergilah kamu ke Neraka, lalu keluarkanlah sahabat sahabat mu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah"
(HR : Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Basri berkata: "Perbanyaklah sahabat sahabat mukmin Di kalangan mu, kerana mereka memiliki Syafa'at pada hari Kiamat nanti".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat sahabat nya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukanku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku:
"Wahai Tuhan Kami..
Hamba-Mu si fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu"

SAHABAT Ku..
Mudah mudahanan dengan ini, aku telah mengingatkanmu Tentang Allah ..
Agar aku dapat kelak di Syurga & Redha-Nya..
آمِيّنْ. يَا رَبَّ العَالَمِينْ
Ya Allah
Aku Memohon kepada-Mu.. Kurniakanlah kepadaku sahabat sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk patuh & taat Kepada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat kelak...

Oleh itu...
Carilah seberapa ramai sahabat yang baik yang menunjukkan jalan jalan ke Syurga & jalan jalan kebaikan.

WAHAI SAHABATKU
JANGAN LUPA BERTANYA TENTANGKU NANTI...JIKA AKU TIADA DI SYURGA NANTI

"ALLAHU AKHBAR"

Manusia dan sebiji botol

Manusia dan sebiji botol...

1. Kalau diisi air mineral, harganya RM1
2. Kalau diisi jus, harganya RM 8
3. Kalau diisi Madu Yaman akan berharga RM200
4. Kalau diisi minyak wangi odd, akan berharga RM1000
5. Kalau diisi air longkang, ianya akan dibuang dalam tong sampah kerana langsung tiada harga dan tiada siapa yg suka.

Botol yg sama tetapi harganya berbeza sebab isi dalamnya berharga.. manusia semua sama, yang membezakannya adalah IMAN & AMAL dalam dirinya yg akan myebabkan dia berharga di sisi ALLAH atau dia di pandang hina oleh ALLAH lalu dibuang ke dalam neraka.

Fikir-fikirkanlah sebelum kita dipanggil dan disoal apa tujuan kita di hidupkan di dunia ini.

keutamaan menuntut ilmu

OLEH: USTAZ ABDUL HALIM HASAN
SAMBUNGAN KEUTAMAAN ILMU SYAR’I DAN MEMPELAJARINYA
3. Orang yang berilmu adalah orang-orang yang takut kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud: “…Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya hanyalah para ulama” (QS. Faathir: 28).
Ibnu Mas’ud RA berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah itu disebut sebagai ilmu. Dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut sebagai kebodohan.” (Diriwayatkan oleh At-Tabarani, al-Mu’jamul Kabiir & Ibnu ‘Abdil Barr, Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadlih).
Imam Ahmadrahimahullah berkata, “Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.” Bertambah ilmu menyebabkan seseorang itu bertambah rasa takutnya kepada Allah.
4. Ilmu adalah nikmat yang paling agung.
Nikmat yang paling agung yang dikurniakan Allah kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ialah diberikanNya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah), dan Allah mengajarnya apa yang belum diketahuinya.
Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud:“…Dan Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Kurnia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” (QS. An-Nisaa’: 113).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yang sepertinya (As-Sunnah) bersamanya…(HR. Ahmad, Abu Dawud & Ibnu Hibban)
5. Faham dalam masalah agama termasuk tanda-tanda kebaikan.
Dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan RA, ia berkata,”Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarf an-Nawawi (wafat 676H) rahimahullah berkata, ” Di dalam hadis ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya ialah kerana ilmu akan memandunya menuju ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. (Syarah Sahih Muslim)
6. Orang yang berilmu dikecualikan dari laknat Allah.
Dari Abu Hurairah RA RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan keta’atan kepadaNya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.” (HR. at-Termizi, Ibnu Majah & Ibnu ‘Abdil Barr)

SAMBUNGAN KEUTAMAAN ILMU SYAR’I DAN MEMPELAJARINYA
2. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan dalam majlis,’ maka lapangkanlah, nescaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan,’Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11).
Allah berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam yang bermaksud, “...Kami angkat derajat orang yang kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.(QS. Yusuf: 76).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang bermaksud:“…Dan (juga kerana) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Kurnia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” (QS. An-Nisaa’: 113)
Dari Umar bin al-Khattab bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” (HR. Muslim)
KEUTAMAAN ILMU SYAR’I DAN MEMPELAJARINYA
Allah Ta’ala memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hambaNya untuk berilmu dan membekali diri dengannya, begitu pula Sunnah Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam. Antara keutamaan ilmu syar’i seperti yang disebut oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah (wafat 751H) ialah:
1. Kesaksian Allah kepada orang-orang yang berilmu.
Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud: “Allah Ta’ala menyatakan bahawa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, (demikian pula) para Malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Aali Imran: 18). Pada ayat ini Allah Ta’ala meminta orang ang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang sangat agung untuk kesaksian, iaitu keesaan Allah. Ini menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah Ta’ala memuji tentang kesucian dan keadilan orang-orang yang berilmu.
Sesungguhnya Allah hanya akan meminta orang-orang yang adil saja untuk memberikan kesaksian, seperti yang dinyatakan hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama’ yang adil dari tiap-tiap generasi. Mereka akan membenteras penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (yang melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebatilan (para pendusta), dan takwil orang-orang bodoh.” (HR. al-’Uqaily, Ibnu Abi Hatim).
TANDA-TANDA ILMU YANG BERMANFAAT
Ilmu yang bermanfaat dapat diketahui dengan meihat kepada pemilik ilmu tersebut. Di antara tanda-tandanya:
1. Orang yang bermanfaat ilmunya tidak memperdulikan keadaan dan kedudukan dirinya, serta membenci pujian dari manusia, tidak menganggap dirinya suci, dan tidak sombong dengan ilmu yang dimilikinya.
2. Apabila ilmunya bertambah, bertambah pula sikap tawadhu’, rasa takut, hina dan ketundukannya di hadapan Allah.
3. Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari/menjauhi dari dunia (fitnah), terutamanya kedudukan, kesenangan dan pujian.
4. Pemilik ilmu tidak mengakui memiliki ilmu dan tidak berbangga dengannya.
Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, ” Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para Nabi, dan mereka tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Sesiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bahagian yang banyak.” (HR Ahmad, Abu Daud, at-Termizi & Ibnu Hibban).

Ilmu ada tiga jenis:
1. Ilmu tentang Allah, Nama-Nama, dan sifat-sifatNya serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Contohnya seperti yang dinyatakan dalam surah Al-Ikhlas, Ayatul Kursi , dan sebagainya.
2. Ilmu mengenai berita dari Allah tentang hal-hal yang telah terjadi dan akan terjadi serta yang sedang terjadi, contohnya ayat-ayat tentang kisah, janji, ancaman, sifat Syurga, sifat Neraka dan sebagainya.
3. Ilmu tentang perintah Allah mengenai hati dan perbuatan anggota tubuh, seperti beriman kepada Allah, pengetahuan tentang hati dan keadaannya, serta perkataan dan perbuatan anggota badan, yang termasuk didalamnya ilmu mengenai dasar-dasar keimanan dan kaedah-kedah Islam, ilmu-ilmu fiqah yang membahaskan hukum amal perbuatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah berkata Yahya bin Ammar (wafat 422H), ” Ilmu itu ada lima: (1) ilmu yang merupakan kehidupan bagi agama, iaitu ilmu tauhid, (2) ilmu yang merupakan santapan agama, iaitu ilmu tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadis, (3) ilmu yang merupakan ubat agama, iaitu ilmu fatwa, (4) ilmu yang merupakan penyakit agama, iaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, iaitu ilmu sihir dan yang sepertinya.”

SAMBUNGAN: PENGERTIAN ILMU YANG BERMANFAAT
Berkata Imam Al-Auza’i (W 157H): ” Ilmu itu apa yang datang dari para Sahabat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang datang dari selain mereka bukanlah ilmu.”. Mereka para Sahabat adalah golongan yang bersama dan menerima bimbingan terus dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, penuh dengan keta’atan, dan menyampaikannya pada yang lain.
Sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perumpamaan petunjuk dan ilmuyang Allah mengutusku dengannya laksana hujan lebat yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutusku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak memberi perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.” (HR. Bukhari & Muslim).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diutus membawa ajaran Islam mengumpamakanya seperti hujan yang diperlukan manusia, dan keadaan mereka sebelumnya bagaikan tanah yang kering kontang. Orang yang mendengar ilmu agama itu diumpamakan dengan berbagai jenis tanah yang terkena air hujan. Bagi orang yang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya, umpama tanah yang subur yang menyerap air sehingga memberi manfaat pada dirinya, dan menumbuhkan tanaman yang memberi manfaat pada yang lain. Ada pula mereka yang menuntut ilmu namun tidak mengamalkannya, tetapi mengajarkannya pada orang lain. Dia diumpamakan sebagai tanah yang menggenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Mereka disebut seperti sabda beliau: ” Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengajarkannya seperti yang ia dengar.” Ada juga mereka yang mendengar ilmu namun tidak menghafal/menjaganya serta tidak menyampaikannya kepada yang lain, ia umpama tanah yang berair atau tanah gersang yang tidak dapat menerima air sehingga merosakkan tanah di sekelilingnya.
Golongan pertama dan kedua adalah bermanfaat. Tetapi golongan ketiga adalah (1) mereka yang memeluk Islam namun tidak mengamalkannya dan tidak mengajarkannya, umpama tanah tandus seperti disebut Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya” Atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak boleh memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain, dan (2)mereka yang tidak memeluk Islam, walaupun telah disampaikan kepadanya pengetahuan mengenai Islam, tetapi ia mengengkarinya dan kufur kepadanya, kelompok ini diumpamakan tanah datar yang keras di mana air mengalir di atasnya, tetapi tidak dapat memanfaatkannya, seperti disabdakan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.”
SAMBUNGAN: PENGERTIAN ILMU YANG BERMANFAAT
Ibnu Rajab (wafat 157H) berkata:” Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur’an, penjelasan makna hadis-hadis Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut attabi’in dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka..”Ibnu Qayyim mengatakan: “Telah berkata sebahagian ahli ilmu :’Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan para sahabat. Semuanya tidak bertentangan…”. Imam As-Syafie (wafat 204H) mengatakan, ” Seluruh ilmu selain Al-Qur’an hanyalah menyibukkan, kecuali ilmu hadis dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama. Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaala, haddasanaa (telah menyampaikan hadis kepada kami)’. Adapun selain itu hanyalah waswas (bisikan) syaitan.”
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan bagi orang yang memahami agama,ia memperoleh manfaat dari ilmunya dan memberikan manfaat kepada orang lain, manakala orang yang tidak memberi pehatian kepada ilmu agama, dengan kelalaiannya itu menjadikannya orang yang rugi, seperti sabda beliau: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan lebat yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apayang Allah mengutusku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak memberi perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.” (HR. Bukhari & Muslim).
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam menyambut orang yang menuntut ilmu syar’i dan para Malaikat meletakkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu seperti sabda beliau: “Barangsiapa berjalan menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju Syurga. Sesungguhnya para Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk para penuntut ilmu kerana redha dengan apa yang mereka lakukan…” (HR. Ahmad, Abu Daud, at Termizi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Diriwayatkan dari Safwan bin ‘Assal Al-Marudi, ia berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu.” Beliau menjawab, “Selamat datang kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya penuntut ilmu itu dikelilingi para Malaikat dan dinaungi dengan sayap-satapnya. Sebahagian mereka menaiki sebahagian yang lain hingga mencapai langit dunia kerana kecintaan mereka terhadap apa yang dia cari…” (HR. Ahmad, Abdurrazzaq, an-Nasa’i, Ibnu Majah & at-Tabarani).
Dalam hadis yg. diriwayatkan oleh Muslim, menceritakan bagaimana Dhimad datang ke Makkah untuk cuba mengubati Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dituduh oleh musyrikin telah disihir, akhirnya dia memeluk Islam apabila mendengar Khutbatul Hajjah yang disampaikan oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam kepadanya, di mana Dhimad telah mendapat manfaat ilmu dengan sabda beliau:
‏ ‏إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ ‏ ‏مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ‏أَمَّا بَعْدُ .
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujiNya. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang boleh menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang boleh memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah, Dialah satu-satunya sembahan, tiada sekutu bagiNya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya.”
Untuk mengikuti kuliah di atas, sila klik di sini.
SAMBUNGAN: PENGERTIAN ILMU YANG BERMANFAAT
Menurut Ibnu Rajab (Wafat 795H) ilmu yang bermanfaat memandu kepada dua perkara:
1. Mengenal Allah dan segala yang hak bagiNya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan yang agung. Hal ini memerlukan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap dan tawakkal kepada Allah dan redha dengan takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah berikan.
2. Mengetahui segala yang diredhai dan dicintai Allah dan menjauhi dari segala perkara yang dibenci dan dimurkaiNya, termasuk keyakinan, perbuatan lahir dan batin serta ucapan. Mereka yang mengetahuinya perlu bersegera melakukan segala yang dicintai dan diredhai Allah dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkaiNya.
Apabila ilmu itu menghasilkan kedua-dua perkara ini kepada pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Apabila ilmu itu bermanfaat dan sentiasa di dalam hati, maka hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya sehinggakan menjadikannya qana’ah dan zuhud di dunia.
Berkata Mujahid bin Jabr (wafat 104H):”Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat derhaka kepada Allah Ta’ala walaupun ilmunya banyak.” Ini menunjukkan ada orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, tetapi ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi orang tersebut kerana tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala. Oleh itu ilmu akan bermanfaat jika disertai dengan niat semata-mata hanya mengharapkan redha Allah.
Ibnu Rajab berkata:” Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur’an, penjelasan makna hadis-hadis Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut atbi’in dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka..”Ibnu Qayyim mengatakan: “Telah berkata sebahagian ahli ilmu :’Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan para sahabat. Semuanya tidak bertentangan…”
Untuk mengikuti kuliah di atas, sila klik di sini.

MEMOHON ILMU YANG BERMANFA’AT KEPADA ALLAH

Kita hendaklah sentiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah, dan memohon pertolonganNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa perlu kepadaNya.
Do’a dari Al-Qur`an : 
رَبِّ زِدْنِي عِلْماً 

“Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha : 114)
Do’a dari Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً 
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.”(HR Ahmad, al-Humaidi, Ibnu Majah, Ibnus Sunni, An-Nasa’i)
اَللَّهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْمًا 
“Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah ilmu kepadaku.”(HR at-termizi dan Ibnu Majah)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعْ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعْ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعْ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ ُيْستَجَابُ لَهُ 
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan.” (HR Muslim, An-Nasa’i)
PENGERTIAN ILMU YANG BERMANFA’AT
Di dalam Al-Qur’an Allah menyebut ilmu pada kedudukan terpuji iaitu ilmu yang bermanfa’at, dan ilmu pada kedudukan tercela iaitu ilmu yang tidak bermanfa’at.
” ..Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tudak mengetahui?.. (QS. Az Zumar: 9)
“Allah menyatakan bahawa tidak ada ilah (yang layak diibadahi dengan benar) selain Dia, (demikian pula) para Malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)
“…Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya hanyalah para ulama’..” (QS. Fathir: 28).
Ketika Adam diberi pelajaran oleh Allah tentang nama-nama segala sesuatu dan memberitahu kepada Malaikat, maka para Malaikta berkata:
“..Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 32)
dalam kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir, Nabi Musa berkat kepadanya:
“..Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66).
Suatu kaum ada diberikan ilmu yang pada hakikatnya bermanfa’at, namun tidak ada manfa’at kepada mereka kerana tidak mengambil manfa’at dari ilmunya itu:
” Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Jumuah: 5)
Allah juga mencela ilimu sihir, seperti firmanNya;
“..Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfa’at. Dan sungguh mereka tidak tahu barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, nescaya tidak mendapat keuntungan akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al Bqarah: 102)
Dan Allah juga berfirman:
” Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)
Ibnu Taimiyyah (wafat 728H) berkata:” Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfa’at adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedoktoran, ilmu hisab, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.”
Untuk mengikuti kuliah di atas, sila klik di sini.
Ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui. Ilmu Syar’i bermaksud ilmu yang diturunkan oelh Allah kepada RasulNya berupa keterangan dan petunjuk. Maka ilmu yang didalamnya terkandung pujian dan sanjungan adalah ilmu wahyu, iaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah sahaja.
Dari Muawiyyah bin Abu Sufian RA, bahawa Nabi Saw bersabda: Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya faham tentang agamanya (iaitu Al-Qur’an dan As Sunnah). Sesungguhnya aku hanyalah menyampaikan dan Allahlah yang memberi. Dan umat ini akan sentiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya keputusan Allah (hari Kiamat). (HR. Bukhari).
Berkata Imam Al-Auza’i:” Ilmu adalah apa yang berasal dari para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada pun yang bukan dari seseorang dari mereka, maka itu bukan ilmu.”
Mengikut Syaikh Muhammad bin Salih al-’Utsaimin:Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya. Tingkatan ilmu pada seseorang ada 6 tingkatan:
1. Al-ilmu iaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti.
2. Al-Jahlul basith iaitu tidak mengetahui sesuatu sama sekali.
3. Al-Jahlul murakkab iaitu mengetahui sesuatu tidak sesuai dengan yang sebenarnya . Disebut murakkab kerana pada orang tersebut terdapat dua kebodohan iaitu bodoh kerana ia tidak mengetahui yang sebenarnya dan bodoh kerana beranggapan bahawa dirinya tahu padahal sebenarnya ia tidak tahu.
4. Al-Wahm iaitu mengetahui sesuatu dengan kemungkinan salah lebih besar daripada benarnya.
5. As-Syak iaitu mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar dan salahnya adalah sama.
6. Az-Zhan iaitu mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar daripada salahnya.
Ilmu itu terbahagi dua, iaitu:
1. Dharuri – pengetahuan yang dapat diperoleh secara langsung tanpa memerlukan penelitian dan dalil, seperti pengetahuan bahawa api itu panas.
2. Nazhari – pengetahuan yang hanya boleh diperolehi dengan melakukan penelitian dan dengan dalil, contohnya pengetahuan bahawa wajibnya niat dalam berwuduk.
Dari sudut kewajibannya ke atas seorang Muslim, ilmu syar’i terbahagi kepada dua:
1. Ilmu ‘aini iaitu ilmu yang wajib diketahui dan dipelajari oleh setiap Muslim.
2. Ilmu kifa’i iaitu ilmu yang tidak diwajibkan bagi setiap Muslim untuk mengetahui dan mempelajarinya, cukup hanya sebahagian dari mereka mempelajari dan mengetahuinya dan gugurlah kewajibannya bagi sebahagian yang lain.
Untuk mengikuti kuliah di atas, sila klik di sini.

MUKADDIMAH

- Dari Ibnu Abbas RA, bahawa Nabi SAW bersabda: Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan kedua-duanya, iaitu nikmat sihat dan waktu lapang. (HR Bukhari)
- Seorang muslim tidak akan boleh melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali belajar Islam yang benar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafus-Soleh.
- Firman Allah SWT:, yang bermaksud: Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk (iaitu ilmu yang bermanafaat) dan agama yang hak (iaitu. amal soleh) agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al-Fath : 28)
- Dari Anas RA, bahawa Nabi SAW bersabda: Menuntut ilmu syar’i itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)
- Dari Abu Darda’ RA, bahawa Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah memudahkan jalannya menuju Syurga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu kerana redha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit mahupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Ssungguhnya keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulamak itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh ia telah mendapat bahagian yang banyak. (HR. Ahmad)
- Dari Anas RA, bahawa Nabi SAW bersabda: Apabila kalian berjalan melalui taman-taman Syurga, perbanyakkanlah berzikir. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksudkan taman-taman Syurga itu? Beliau SAW menjawab: Iaitu halaqah-halaqah zikir ( majlis ilmu). (HR At-Termizi)
- Majlis ilmu yang dimaksudkan di sini ialah majlis yang didalamnya diajarkan tentang tauhid, aqidah yang benar menurut pemahaman Salafus-Soleh, ibadah yang sesuai Sunnah Nabi SAW, muamalah, dan lainnya.
BAB 1 – PENGERTIAN ILMU SYAR’I
- Ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui. Ilmu Syar’i bermaksud ilmu yang diturunkan oelh Allah kepada RasulNya berupa keterangan dan petunjuk. Maka ilmu yang didalamnya terkandung pujian dan sanjungan adalah ilmu wahyu, iaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah sahaja.
- Dari Muawiyyah bin Abu Sufian RA, bahawa Nabi Saw bersabda: Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya faham tentang agamanya. Sesungguhnya aku hanyalah menyampaikan dan Allahlah yang member. Dan umat ini akan sentiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya keputusan Allah (hari Kiamat). (HR. Bukhari)

http://assabiel.com/?cat=420&paged=2