Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Sunday, May 31, 2020

Uraian Kalimat KULLU Dalam Ilmu Lughot Dan Ilmu Manthiq




#Uraian Kalimat "KULLU" (كُلّ) Dalam Ilmu Lughot Dan Ilmu Manthiq !!!
‎قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ؛
‎كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَ كُلُّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ
‎(رواه النسائى فى سننه)
Bersabda Rasulullah SAW :
"Setiap Perkara Yang Baru Adalah Bid'ah,Dan Setiap Bid'ah Adalah Sesat,Dan Setiap Kesesatan (Tempatnya) Di Neraka"
(HR.Nasai Didalam Kitab SUNAN)
Dalam Menguraikan Lafazh "KULLU" (كُلُّ),Para Imam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Sepakat Memaknainya Dengan 2 Makna ;
1.Bermakna KESELURUHAN.
2.Bermakna SEBAGIAN BESAR.
Imam Abdurrahman bin Muhammad Al Ahdhori Dalam Nazhomnya Menyatakan ;
‎الْكُلُّ حُكْمُنَا عَلَى الْمَجْمُوْعِ كَكُلُّ ذَاكَ لَيْسَ ذَا وُقُوْعِ
"Lafazh KULLU Atas MAJMU' (Sebagian Besar) Seperti Contohnya SEKALIAN ITU TIDAK TERJADI"
‎وَ حَيْثُمَا لِكُلِّ فَرْدٍ حُكِمَا فَإنَّهُ كُلِّيَّةٌ قَدْ عُلِمَا
"Dan Dari Segi Pemakaiannya Untuk SATU PERSATU,Maka Ini Diketahui Sebagai KULLIYAH"
‎وَ الْحُكْمُ لِلْبَعْضِ هُوَ الْجُزْئِيَّةْ وَ الْجُزْءُ مَعْرِفَتُهُ جَلِيَّةْ
"Dan Hukum Bagi SEBAGIAN Dinamai JUZ'IYAH,Dan JUZ'I Ialah Bagiannya"
-Dalam Perspektif Ilmu Manthiq,Nazhom Diatas Dibagi Menjadi 4 Bagian ;
1.KULLIYAH Yaitu KULLU JAMI' (كل للجميع) Bermakna KESELURUHAN TANPA PENGECUALIAN.
2.KULLI Yaitu KULLU MAJMU' (كل للمجموع) Bermakna SEBAGIAN BESAR Namun TIDAK SEMUANYA.
3.JUZ'IYAH Yaitu Lafazh BA'DHU (بعض) Bermakna SEBAGIAN.
4.JUZ'I Bermakna SEBAGIAN KECIL.
Untuk Lebih Jelasnya ;
=Contoh KULLIYAH Atau KULLU JAMI' (كل للجميع) Seperti KULLU NAFSIN DZAIQATUL MAUT (كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ) Maknanya SETIAP JIWA AKAN MATI !!!
KULLU Disini Bermakna KESELURUHAN,TANPA ADA PENGECUALIAN !!!
=Contoh KULLI Atau KULLU MAJMU' (كل للمجموع) Ialah WA JA'ALNA MINAL MA'I KULLA SYAI'IN HAYYIN (وَ جَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْئٍ حَيٍّ) Maknanya DAN KAMI JADIKAN SETIAP YANG HIDUP BERASAL DARI AIR !!!
KULLU Disini Maknanya SEBAGIAN BESAR,BUKAN SEMUANYA !!!
Karena Pada Faktanya TIDAK SEMUA YANG HIDUP BERASAL DARI AIR !!!
Contohnya Jin,Dia Tidak Berasal Dari Air,Namun Dari Api !!!
=Contoh JUZ'IYAH Seperti BA'DHUL KALAM KADZIB (بَعْضُ الْكَلَامِ كَذِبٌ) Bermakna SEBAGIAN UCAPAN ADALAH DUSTA !!!
=Contoh JUZ'I Seperti AS SAQFU JUZ'UN MINAL BAYT (السَّقْفُ جُزْءٌ مِنَ الْبَيْتِ) Bermakna ATAP ADALAH JUZU'/BAGIAN DARI RUMAH !!!
Hal Diatas Juga Senada Dengan Ucapan Imam Muhammad bin Ya'qub Al Fairuz Abadi (Seorang Imam Pakar Bahasa Arab) Yang Menyatakan Demikian.
Dan Pada Faktanya,,
Orang-Orang Yang Menyatakan Bahwa KULLU Hanyalah Bermakna KESELURUHAN Saja,Mereka Hanyalah Orang-Orang Yang Tidak Mendalami Ilmu Bahasa Arab,Ilmu Qur'an & Ilmu Hadits !!!
Mereka Menyamakan Pemahaman Mereka Langsung Dengan Sabda Nabi.
Lah,Sabda Nabi Itu Wahyu Allah !!! Sedangkan Pemahaman Mereka Bukanlah Wahyu Allah !!!
Pantes Kah Memahami Wahyu Allah Dengan Pemahaman Nafsu Tanpa Ilmu ??
Hehehe
Karena Pada Faktanya,,,
Ilmu Bahasa Arab Tidak Pernah Bertentangan Dengan Qur'an & Hadits,Yang Bertentangan Hanyalah Nafsu,Bukan Ilmu Bahasa Arabnya !!!
Jadi Bila Ada Yang Mengata ;
"Memahami Qur'an Hadits Gak Perlu Belajar Ilmu Bahasa Arab (Seperti Nahwu,Shorof,Dll)"
Maka Jawablah Olehmu ;
"Bahwa Awal Mula Pen-TAHRIF-an Kitab-Kitab Terdahulu Seperti Taurat,Zabur Dan Injil Dimulai Dari Memahami Isinya Bukan Dari Bahasa Aslinya Dan Tidak Mempelajari Ilmu Bahasa Asli Dari Kitab-Kitab Tsb,Sehingga Mereka Salah Paham Dan Mengubah Isinya Menurut Pemahaman Nafsu Mereka,Karena Itulah Mereka Dilaknat Allah"
-Adapun Masalah KULLU (كُلُّ) Yang Masuk Pada Lafazh BID'AH (بدعة) Sudah Lebih Dahulu Dibahas Panjang Lebar Oleh Para Imam-Imam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Didalam Karya-Karya Mereka,Yang Rasanya Tidak Perlu Lagi Dibahas Disini.
‎و الله أعلم بالصواب
=SUMBER REFERENSI KITAB :
1.Al Qur'an Al Karim.
2.Al Qamus Al Muhith (القاموس المحيط) Karya Imam Muhammad bin Ya'qub Al Fairuz Abadi.
3.Sullamul Munawwaraq (سلم المنورق) Karya Imam Abdurrahman bin Muhammad Al Ahdhori.
4.Al Qaul Al Mu'allaq (القول المعلق) Karya Syekh Salim bin Ma'ruf.
5.Miftah 'Ilmil Manthiq (مفتاح علم المنطق) Karya Syekh Syukri Ibnu Ali.
6.Tajul 'Arus Fii Syarhil Qamus (تاج العروس فى شرح القاموس) Karya Imam Al Murtadho Az Zabidi.
7.Dll.
‎انتهى كلامى (أنوار بن محمد)

Salawat Al Fatih



Salawat Al Fatih
Fadhilatnya:
"Barangsiapa berselawat dengan dia sekali jua seumurnya nescaya tiada masuk neraka dan sekalinya itu menyamai sepuluh ribu selawat yg lain dan kata setengahnya menyamai enam ratus ribu selawat yang lain mengekali baca akan dia empat puluh hari itu menerima Allah taala akan taubatnya."
(Kitab Al Aqoid Wal Fawaid, TG Haji Daud, Bukit Abal)
Open in Drive - Download pdf
https://drive.google.com/file/d/1jJokHRg3Qq_KuBPyAOcrRZHoBlLNhdJC/view?usp=drivesdk

wasiat Allah dalam surah al-Hujurat tentang interaksi sesama manusia

*RENUNGAN BERSAMA*

*9 wasiat Allah dalam surah al-Hujurat tentang interaksi sesama manusia*

Wasiat 1: “فَتَبَيَّنُوٓاْ” = *Selidik suatu khabar yang sampai padamu*

Wasiat 2: “فَأَصۡلِحُواْ” = *Damaikan saudara yang bersengketa*

Wasiat 3: “وَأَقۡسِطُوٓاْ‌ۖ” = *Berlaku adil*.

Wasiat 4: “لَا يَسۡخَرۡ” = *Jangan mencemuh/merendahkan orang lain.*

Wasiat 5: “وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ” = *Jangan mengaibkan*.

Wasiat 6: “وَلَا تَنَابَزُواْ” = *Jangan melabel.*

Wasiat 7: “ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ” = *Jauhi dari banyak berprasangka buruk*.

Wasiat 8: “وَلَا تَجَسَّسُواْ” = *Jangan mencari-cari kesalahan orang lain.*

Wasiat 9: “وَلَا يَغۡتَب” = *Jangan mengumpat*.

*Renungi surah ini, tadabbur ayat ini, dan amalkan wasiat ini, nescaya hubungan kita sesama manusia akan terpelihara.*

Saturday, May 30, 2020

Tidak halal orang jahil mengeluarkan hukum

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

 

ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan.

 

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Dr Yusuf al Qardhawi dalam kitabnya al Fatwa Bayna al Indibat al Tasayyub (Fatwa Antara Ketelitian Dan Kecerobohan) menyatakan seorang mufti atau faqih yang menempati kedudukan Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam dalam menyampaikan ketentuan hukum hakam Allah mesti mempunyai kapasiti (kemampuan) yang besar tentang ilmu-ilmu Islam. Antaranya :

 

1. Merangkumi selok belok Bahasa Arab

2. Pemahaman yang bendar dan pengetahuan yang cukup tentang serba serbi kehidupan dan corak ragam manusia

3. Kepakaran yang handal dalam menggali dan merumuskan suatu hukum berdasarkan kaedah-kaedah ijtihad.

 

Siapakah antara ciri-ciri mereka yang dilarang untuk berfatwa ? iaitu :

 

1. Orang yang tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang Bahasa Arab dengan selok beloknya termasuk ayat dan sasteranya agar membolehkannya memahami al Quran dan Al Sunnah tidak dibenarkan memberikan fatwa kepada manusia.

 

2. Orang yang tidak arif dan mengerti pendapat para ulama terdahulu dari berbagai mazhab feqah dan tidak mengerti methodologi pengambilan hukum dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti mengetahui perkara-perkara yang disepakati bersama atau masih dalam pertikaian tidak dibolehkan mengeluarkan fatwa.

 

3. Orang yang tidak memiliki kepakaran dalam bidang Usul Feqh seperti mengenali al Qiyas dan al Illah; pada situasi apakah al Qiyas dibolehkan dan pada situasi apakah al Qiyas tidak dibenarkan

 

4. Orang yang tidak menghayati pendapat para fuqaha yang tercantum dalam kitab-kitab mereka secara mendalam

 

5. Orang yang tidak memiliki kepakaran dalam melakukan penelitian ke atas perbezaan pendapat di antara mereka dan mengenalpasti kaedah yang digunakan mereka dalam menggali hukum hakam syarak.

 

Al Hafiz Al Khatib al Baghdadi meriwayatkan dalam kitabnya "Al Faqih wa al Mutafaqqih" dari al Imam Syafi'e radiyaLlahu anhu berkata :

 

"Tidak dihalalkan bagi seseorang berfatwa mengenai agama Allah, kecuali seorang yang arif dengan Kitab Allah (Al Quran), Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabih, Ta'wil dan Tanzil, Makkiyah dan Madaniyyahnya; Apa yang dimaksudkan dengan satu-satu ayat; dalam masalah apa ia diturunkan. Selain itu, dia juga mesti menguasai hadith Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam; Nasikh dan Mansukhnya. Pengetahuannya mengenai hadith Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam mesti setaraf pengetahuannya mengenai al Quran. Dia mesti juga menguasai Bahasa Arab; arif akan selok belok sya'ir, dan disiplin ilmu yang lain yang diperlukan untuk memahami al Quran.

 

Di samping itu, dia juga mesti menahan diri daripada (seronok) bercakap. Dia dituntut juga untuk memahami perbezaan pendapat di kalangan para ulama, selain harus memiliki kemampuan atau kepakaran dalam mengambil ketentuan hukum (istinbat). Jika semua syarat-syarat ini telah dimilikinya, maka barulah boleh baginya bercakap dan berfatwa tentang halal dan haram. Namun jika belum sampai pada darjat ini, dia hanya boleh membincangkan tentang ilmu pengetahuan, tetapi tidak dibenarkan untuk berfatwa."

(Al Faqih wa al Mutafaqqih, Juz 2, hlm 157, Cetakan Riyadh, Saudi Arabia)

 

Imam Ahmad Ibn Hanbal RadiyaLlahu anhu telah memberikan panduan dalam masalah ini, katanya : "Seseorang tidak boleh menawarkan dirinya untuk berfatwa sebelum ada pada dirinya lima perkara :

 

Pertama : Mempunyai niat yang ikhlas. Sebab jika tiada niat (ikhlas), dia tidak akan mendapat cahaya (petunjuk) dalam melakukan fatwanya.

 

Kedua : Hendaklah dia mempunyai sifat kasih, rendah hati (tawadhuk) dan ketenangan jiwa.

 

Ketiga : Mempunyai keyakinan yang teguh dengan tugasnya dan memahami betul soalan yang sedang dihadapinya.

 

Keempat : Hidupnya dalam kecukupan, kerana jika tidak, dia akan dipengaruhi oleh orang yang berkepentingan.

 

Kelima : Mempunyai maklumat yang cukup tentang adat- istiadat dan selok belok kehidupan manusia (Ibn Battutah, disalin oleh Ibn Qayyim dalam "Ilamul Muwaqqi'in" Juz 4 Hlm 199)

 

Larangan orang yang berfatwa tanpa dasar ilmu (jahil)

 

Imam Abu Hanifah radiyaLlahu anhu berpendapat :

 

"Wajib menghalang orang bodoh (mufti jahil) dan orang yang mempermainkan agama dari mengeluarkan fatwa".

 

Seorang lelaki pernah melihat Rabi'ah Ibn Abd Rahman, guru kepada Imam Malik sedang menangis, lalu ditanya :

 

"Hal apakah yang menyebabkan tuan menangis ? Jawabnya : Ada seorang yang telah diminta untuk berfatwa, walhal dia tidak mengerti apa-apa dan fatwanya itu telah memudaratkan umat Islam, kerana itu, katanya lagi : "Sebahagian mufti lebih berhak masuk penjara daripada para pencuri".

 

Ibn Qayyim meriwayatkan dari beberapa ulama sezamannya :

 

"Bagaimana jika Rabi'ah menyaksikan zaman kita ini, dimana orang yang tidak berilmu berani memberikan fatwa dengan modal kejahilan dan keberanian semata-mata, pengalaman yang sedikit dan pengetahuan yang dangkal, tambahan pula memiliki sejarah hidup yang tidak elok dan tidak dikenal di kalangan para ulama. Pengetahuannya tentang al Quran, al Sunnah dan ilmu-ilmu ulama salaf sangat cetek dan dangkal..

 

(Ibn Qayyim, I'lamul Muwaqqi'in, Juz 4, hlm 207-208)

 

Abu 'Abdillah Ibn Battutah meriwayatkan dari al A'masy dari Syaqiq dari Abdullah Ibn Mas'ud radiyallahu anhu berkata :

 

"Demi Allah, seseorang yang memberi fatwa bagi setiap soalan adalah orang gila".

 

Al Hakam pernah berkata kepada al A'masy setelah mendengar riwayat tadi:

 

"Jika aku mendengar hadith tersebut dari dahulu lagi, nescaya aku tidak akan banyak berfatwa seperti apa yang telah aku lakukan selama ini". Kemudian Abu 'Abdillah menambahkan : :Ini Abdullah Ibn Mas'ud bersumpah dengan nama Allah bahawa sesiapa berfatwa untuk setiap soalan adalah orang gila, sumpah beliau pasti benar, kalau begitu kebanyakan mufti pada zaman kita ini sudah menjadi gila..! Mengapa...? Kerana setiap mufti yang ditanya akan langsung memberi jawapan, tanpa berfikir lebih jauh atau berkata tidak, atau takut kerana Allah Subahanahu Wa Ta'ala (jika fatwanya salah), atau tidak takut untuk disoal balik: "Dari mana jawapan ini kami dapat.. ? Akan tetapi yang paling mereka takuti dan gerun adalah sindiran bahawa dia tidak dapat menjawab soalan.

 

Pada hakikatnya dia telah melakukan perbuatan yang sangat besar yang tidak mampu dilakukan oleh orang yang lebih tinggi, luas dan dalam ilmu agamanya daripada dirinya, dan dia telah melakukan satu praktik perubatan yang tidak mampu dilakukan oleh seorang doktor yang sangat pakar".

 

Rujukan : Prof Dr Yusuf al Qardhawi, Al Fatwa Bayna Al Indibat al Tasayyub, Fatwa & Antara Ketelitian & Kecerobohan, 1996, Thinker's Library, Selangor

Maulana fakrurrazi penyesat ummat

#  Samar Dalam Terang  #

X amanah .... x boleh pakai

ini lah perangai wahabi malaysia, depa ada beberapa perangai :
1-tak faham lansung isi kitab
2-buat2 tak faham isi kitab
3-suka salah faham isi kitab
4-suka kelentong isi kitab

Semua ini merujuk kpd jenayah ilmu..

Sebab depa tetap terus sebarkan salah faham depa kepada masyarakat..

Paling teruk yg takdak dlm kitab pun depa kata ada..

Wahabi2...hahahaha

UF menghuraikan cukup panjang pandangan Imam Nawawi r.a mengenai bid'ah , dan kesimpulannya menurut UF pandangan Imam Nawawi adanya bid'ah Hasanah dan bid'ah dholalah merujuk kepada bid'ah pada bahasa , dengan kata lainnya bid'ah Hasanah yg sering para ulama kaitkan dengan imam Nawawi sebenar merujuk kepada bid'ah pada bahasa.

Untuk kali saya hanya bawakan sedikit sedutan video dari huraian beliau, yg mana UF mengemukakan teks Imam Nawawi dari kitab Tahzibul Asma' Wal Lughah .

Berkata Imam Nawawi r.a :

البدعة بكسر الباء في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وهي منقسمة إلى حسنة وقبيحة ...

" Bid'ah ( berbaris bawah ba' ) menurut syara' iaitu - mengadakan perkara yg tidak ada pada masa Rasulullah saw, Dan ia ( bid'ah pada syara' ) terbahagi kepada Hasanah dan Qobihah ..."

Sepanjang huraian UF mengenai bid'ah menurut imam Nawawi dalam video secara penuh , anda akan dapati huraian UF dihiasi dengan lawak jenaka, mana tidaknya, sepatutnya perbincangan yg mahsyur dalam masalah bid'ah akan merujuk kepada bid'ah segi syara' dan bahasa , namun UF menukarkan kepada " bid'ah ibadah khusus ". Kalau ada rezeki saya bicarakan yg ini.

Namun, di wall saya ini saya ingin nyatakan rabun ayam berlaku pada hurain UF terhadap kitab Tahzibul Asma' Imam Nawawi ini.

Pada teks yang dibacakan oleh UF secara terang benderang lagu bercahaya menyinari kenyataan imam bahawa BID'AH PADA SYARA' TERBAHAGI KEPADA HASANAH DAN QOBIHAH .

Perkataan وهي منقسمة , dhomir ini merujuk kepada bid'ah sebelumnya iaitu bid'ah pada syara'. Tidak jelas lagikah ini wahai Ustaz Fakhrulrazi!!!!!!!!

Nasihat saya kepada UF, Jgn di tegakkan sabit yg bengkok .... Nanti jadi parang ....

Wallahualam Bis sawab wa ilaihil marjie wal ma'ab

al Muznib
Abdul Rashid Bin Muhamat Akip
al Melakawi al Terengkawi al Patinggi Ghafuri

# Tepek jgn tak tepek
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=873550013154309&id=100014979545247

Friday, May 29, 2020

06. Akhir Zaman Orang Mula Memusuhi Ulama', Akan Ada Orang Muda Caci Ora...

MENGENAL PERBEZAAN KAEDAH BERINTERAKSI DENGAN Al-MUTASYABIHAH DAN MAZHAB DALAM AQIDAH

MENGENAL PERBEZAAN KAEDAH BERINTERAKSI DENGAN Al-MUTASYABIHAH
DAN MAZHAB DALAM AQIDAH

Al-Mutasyabihah adalah suatu ayat al-Quran atau Hadis yang mendatangkan kesamaran kerana mempunyai beberapa makna.

Menurut Syeikh Manna' Al-Qathan, definisi Al-Mutasyabihah ialah:
والمتشابه : ما احتمل أوجها
"Al-Mutasyabih: Perkara yang difahami dengan beberapa makna"

* Maka dapat kita fahami, Al-Mutasyabihah ada beberapa makna yang menimbulkan kesamaran kerana kadang-kadang makna sesuai pada konteks, ada juga yang sangat tidak sesuai.
= = = = = = = = =

MAZHAB DALAM AQIDAH

Dalam usaha memahami Al-Mutasyabihah, muncul beberapa fahaman atau mazhab yang masyhur di dalam aqidah antaranya:
a) Salafussoleh
b) Al-Asyairah Wal Maturidiah
c) Hasyawiyyah
d) Karamiyyah
e) Muktazilah
f) Jahmiyyah
g) Al-Wahhabiyyah

Oleh kerana penamaan fahaman berbeza maka sudah tentu kaedah juga berbeza-beza.

a) Salafussoleh = Tafwidh
(mensucikan Allah daripada keserupaan dengan makhluk & serah makna kepada Allah taala)

b) Al-Asyairah Wal Maturidiah = Takwil
(mensucikan Allah daripada keserupaan dengan makhluk & memilih makna yang sesuai dinisbahkan kepada Allah daripada makna-makna yang terkandung bagi sesuatu Al-Mutasyabihah secara zhonni)

c) Hasyawiyyah = Tathbit
(menetapkan makna zahir bagi Al-Mutasyabihah yang tidak layak dinisbahkan kepada Allah yang mendatangkan tajsim 'menjisimkan Allah' dan tasybih 'keserupaan Allah dengan makhluk')

d) Karamiyyah = Tathbit
(menetapkan makna zahir bagi Al-Mutasyabihah yang tidak layak dinisbahkan kepada Allah yang mendatangkan tajsim 'menjisimkan Allah' dan tasybih 'keserupaan Allah dengan makhluk')

e) Muktazilah = Tathil
(mengingkari Al-Mutasyabihah & memilih makna yang sesuai dinisbahkan kepada Allah daripada makna-makna yang terkandung bagi sesuatu Al-Mutasyabihah secara qathie)

f) Jahmiyyah = Tabdil
(mengingkari Al-Mutasyabihah & menukar lafaz Al-Quran dengan yang sesuai dinisbahkan kepada Allah secara qathie)

g) Al-Wahhabiyyah = Tathbit
(menetapkan makna zahir bagi Al-Mutasyabihah yang tidak layak dinisbahkan kepada Allah yang mendatangkan tajsim 'menjisimkan Allah' dan tasybih 'keserupaan Allah dengan makhluk')
= = = = = = = = =

PERUMPAMAAN

Berdasarkan penjelasan di atas, maka ada tiga pecahan yang disusun berdasarkan kesamaan manhaj iaitu:

a) Salafussoleh

b) Al-Asyairah Wal Maturidiah

c) Muktazilah & Jahmiyyah

d) Hasyawiyyah & Karamiyyah & Al-Wahhabiyyah

Perumpamaan bagi empat pecahan ini ialah seperti berikut:

a) Salafussoleh
2 + 2 = 4

b) Al-Asyairah Wal Maturidiah
2 x 2 = 4

c) Muktazilah & Jahmiyyah
2 - 2 = 4

d) Hasyawiyyah & Karamiyyah & Al-Wahhabiyyah
2 + 2 - 2 x 0 = 100,000
= = = = = = = = =

PENJELASAN PERUMPAMAAN

Salafussoleh
2 + 2 = 4

Al-Asyairah Wal Maturidiah
2 x 2 = 4

i) Walaupun terdapat sedikit perbezaan kaedah di antara golongan Salafussoleh (tafwidh) dengan Al-Asyairah Wal Maturidiah (takwil), namun kaedah dan hasil mereka adalah betul.

ii) Kaedah dan hasil mereka diakui (ijmak) sejak berkurun lamanya. Begitu juga golongan Al-Asyairah Wal Maturidiah tidak pernah membantah kaedah Tafwidh Salafussoleh kerana kaedah ini diutamakan dalam kitab-kitab mereka.

iii) Takwilan Al-Asya'irah mengandungi ciri-ciri berikut:

   √ mensucikan Allah daripada sebarang keserupaaan dengan makhluk

   √  memilih makna yang layak bagi Allah daripada makna-makna yang terkandung bagi sesuatu Al-Mutasyabihah.
• Contoh: Perkataan Yadd terkandung makna Jarihah (anggota) dan juga makna Qudrah (kekuasaan).
• Maka Al-Asya'irah memilih makna yang layak dinisbah kepada Allah iaitu Qudrah dengan dalil dan hujjah.
• Dapat kita fahami, takwilan Al-Asya'irah adalah pada makna-makna yang terkandung bagi sesuatu Al-Mutasyabihah, BUKAN menukar lafaz Al-Quran.

   √ Takwilan Al-Asya'irah hanya di atas jalan Zhonni BUKAN Qathie yang akan menyebabkan berlaku pengubahan Al-Quran.

- - - - - - - - - - -
Muktazilah & Jahmiyyah
2 - 2 = 4

i) Bagi kedua-dua golongan ini, walaupun hasil mereka kadang-kadang sama dengan Al-Asya'irah, namun kaedah mereka jelas salah.

ii) Mereka ditentang dan disesatkan oleh ulama

DUDUK DIAM-DIAM JIKA BUKAN AHLI Pesan Guru Yang Mulia Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni

DUDUK DIAM-DIAM JIKA BUKAN "AHLI"

Pesan Guru Yang Mulia, Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni حفظه الله تعالى:

"Kalau nak bercakap bab Feqah atau bab Khilaf, cakap bagi habis... Jangan bagi orang awam pening, kena hurai setiap pandangan mazhab... Kalau tak reti, DUDUK DIAM-DIAM... Ikut saja apa yang Ulama' dah dhobit dalam Kitab-Kitab mereka..."

Pesan Baba 'Eil Sepanjang حفظه الله تعالى lagi, "Ingatlah bahawa khilaf ini merupakan satu RAHMAT bagi seluruh umat Islam.. Khilaf ini umpama lautan yang sangat luas, sekiranya ada beberapa ekor lembu terjatuh ke dalam lautan lalu lemas & menjadi bangkai yang busuk, lama kelamaan ia akan disucikan oleh air lautan itu sendiri kerana air lautan itu terlampaulah banyaknya yang tak kuasa bagi kita untuk menyukatnya berbanding dengan beberapa ekor bangkai lembu itu.."

"Tetapi lainlah keadaannya jika beberapa ekor lembu itu terjatuh ke dalam parit yang kecil & sempit kerana airnya terlampaulah sedikitnya, maka lama kelamaan parit itu pasti akan menjadi busuk disebabkan bangkai² lembu itu.. Begitulah juga diibaratkan dengan khilaf.. Khilaf ni terlampaulah banyaknya, apabila terjadi satu khilaf, pastinya ada pandangan² & pendapat² yang boleh menyokong satu masalah khilaf itu.."

"Maka janganlah selalu bertelagah tentang soal Khilafiyyah kerana sesungguhnya Khilafiyyah ini tersangatlah luas & tak mampu bagi orang awam seperti kita ini untuk berenang-renang di dalam lautan khilaf yang sangat luas ini, maka serahkanlah ia kepada orang yang ahlinya sahaja.."

Petikan dari Comment
Fb Rashidi Shukri AlBanjari

Babaismailsepanjang Alfatoni

Thursday, May 28, 2020

SESIAPA YANG BERTAWASUL MAKA DIA KAFIR

SESIAPA YANG BERTAWASUL MAKA DIA KAFIR

Ini adalah surat Muhammad bin Abdul Wahhab kepada Ulama Hijaz (Mekah dan Madinah) di zamannya, ketika mana menjawab soalan daripada Syeikh Al-Sobah.

Ana ambil daripada kitab “Haqiqatu Dakwah Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab” oleh Al-Syaikh Abdul Rahman bin Hammad Al-Amr (ulama Arab Saudi), cetakan Darul ‘Ashimah, Cet. Pertama, tahun 1422 (2001), halaman 80.

Surat ini mengandungi beberapa isi yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sesiapa yang bertawasul dengan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, maka mereka kafir.

2. Sesiapa yang bertawasul dengan orang soleh, walaupun mereka juga berzikir kepada Allah, maka mereka juga kafir.

3. Tidak sekali-kali akan bermuamalah dengan orang-orang yang bertawasul dengan orang-orang soleh, kerana mereka tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

4. Orang berbuat demikian (bertawasul) adalah kufur dan akan dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah ta’ala.

Sekian kalam.

PENJELASAN:

Di sini, ana ingin memetik beberapa riwayat hadis yang menjelaskan bahawa bolehnya bertawasul dengan orang soleh sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia:

Pertama: Riwayat al-Thabrani

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Mu'jam al Kabir dan al-Ausath dalam hadis yang sangat panjang daripada Anas, bahawa ketika Fatimah binti Asad bin Hasyim (Ibu Sayyidina Ali) wafat, maka Rasulullah turut menggali makam untuknya dan Rasulullah masuk ke dalam liang lahadnya lalu merebahkan diri di dalam liang tersebut dan baginda berdoa:

‎أَللهُ الَّذِيْ يُحْيِىْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ اِغْفِرْ لِأُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِيْ فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ )رواه الطبراني وابو نعيم فى حلية الأولياء عن انس)

Maksudnya: “Allah yang menghidupkan dan mematikan. Allah maha hidup, tidak akan mati. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad, tuntunlah hujjahnya dan lapangkan kuburnya, dengan haq Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Zat yang paling mengasihi”. (HR al-Thabrani dan Abu Nuaim daripada Anas).

Ahli hadis al-Hafiz al-Haithami mengomentari hadis tersebut:

‎رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْكَبِيْرِ وَالْاَوْسَطِ وَفِيْهَ رَوْحُ بْنُ صَلاَحٍ وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَفِيْهِ ضُعْفٌ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ رِجَالُ الصَّحِيْحِ (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد ۹/۲۱۰)

Maksudnya: “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir dan al-Ausath, salah satu perawinya adalah Rauh bin Shalah, ia dinilai terpercaya oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, tetapi ia dhaif, sedangkan yang lain adalah perawi-perawi sahih”. (Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid).

Kedua: Riwayat Ibnu Hibban

‎عَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقَ t أَنْ يَقُوْلَ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَإِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ وَمُوْسٰى نَجِيِّكَ وَعِيْسٰى كَلِمَتِكَ وَرُوْحِكَ وَبِتَوْرَاةِ مُوْسٰى وَإِنْجِيْلِ عِيْسٰى وَزَبُوْرِ دَاوُدَ وَفُرْقَانِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ ..... الْحَدِيْثَ

Maksudnya: “Rasulullah mengajarkan doa kepada Abu Bakar al-Shiddiq: Ya Allah. Saya meminta kepada-Mu dengan Muhammad Nabi-Mu, Ibrahim kekasih-Mu, Musa yang Engkau selamatkan, Isa kalimat dan yang Engkau tiupkan ruh-Mu, dan dengan Taurat Musa, Injil Isa, Zabur Dawud dan al-Quran Muhammad. Semoga Allah memberi selawat dan salam kepada semuanya….”.

Hadis ini dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya', dan al-Hafiz Zainuddin al-Iraqi mengomentari status hadis di atas:

‎فِي الدُّعَاءِ لِحِفْظِ الْقُرْآنِ رَوَاهُ أَبُوْ الشَّيْخِ ابْنُ حِبَّانَ فِي كِتَابِ الثَّوَابِ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ هَارُوْنَ بْنِ عَبْثَرَةَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنِّيْ أَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ وَيَنْفَلِتُ مِنِّيْ فَذَكَرَهُ وَعَبْدُ الْمَلِكِ وَأَبُوْهُ ضَعِيْفَانِ وَهُوَ مُنْقَطِعٌ بَيْنَ هَارُوْنَ وَأَبِيْ بَكْرٍ (تخريج أحاديث الإحياء ۳/۳۹)

Maksudnya: “Hadis tersebut adalah doa untuk menghafaz Al- Quran, diriwayatkan oleh Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam kitab al-Thawab daripada Abdul Malik bin Harun bin ‘Abtharah, dari bapanya bahawa Abu Bakar datang kepada Nabi untuk mempelajari Al Quran…. Abdul Malik dan bapanya adalah dhaif, dan hadis ini terputus antara Harun dan Abu Bakar" (Takhrij Ahadis al-Ihya’)

Ketiga: Riwayat al-Hakim

‎عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلاً ضَرِيْرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَلِّمْنِيْ دُعَاءً أَدْعُوْ بِهِ يَرُدُّ اللهُ عَلَيَّ بَصَرِيْ، فَقَالَ لَهُ قُلِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلٰى رَبِّيْ أَللّٰهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِيْ فِيْ نَفْسِيْ فَدَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ فَقَامَ وَقَدْ أَبْصَرَ

Maksudnya: “Daripada Usman bin Hunaif: “Suatu hari seorang yang buta datang kepada Rasulullah berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan saya sebuah doa yang akan saya baca agar Allah mengembalikan penglihatan saya”. Rasulullah berkata: “Bacalah doa (ertinya): “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat. Kemudian ia berdoa dengan doa tersebut, ia berdiri dan telah dapat melihat”. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak).

Beliau menyatakan bahawa hadis ini adalah shahih dari segi sanad walaupun Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Zahabi menyatakatan bahawa hadis ini adalah shahih, demikian juga Imam Tirmizi dalam kitab Sunannya bab Daa'wat menyatakan bahawa hadis ini adalah hasan shahih gharib.

Keempat: Riwayat al-Darimi

‎حَدَّثَنَا أَبُوْ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِي حَدَّثَنَا أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطاً شَدِيْداً، فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ. قَالَ فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطَراً حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتِ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِّىَ عَامَ الْفَتْقِ )رواه الدارمي(

Maksudnya: “Daripada Aus bin Abdullah: “Suatu hari kota Madinah mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madinah kepada Aisyah (isteri Rasulullah) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi Muhammad lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung”, lantas mereka pun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan unta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk”. (HR. Imam Darimi)

Kitab Musnad as-Shahabah menjelaskan status athar di atas sebagai berikut:

‎قَالَ الشَّيْخُ حُسَيْنٌ أَسَدٌ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ وَهُوَ مَوْقُوْفٌ عَلَى عَائِشَةَ )مسند الصحابة في الكتب التسعة ۱۳/۷۶)

Maksudnya: “Syaikh Husain berkata: “Perawinya adalah orang-orang terpercaya”. Riwayat tersebut bersumber daripada Aisyah”. (Musnad al-Shahabat)

Kelima: Riwayat Ibnu Sa’d

‎قَالَ صلى الله عليه وسلم حَيَاتِي خَيْرٌ وَمَمَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ فَإِذَا أَنَا مُتُّ كَانَتْ وَفَاتِيْ خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ اللهَ تَعَالٰى وَإِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اِسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ )رواه ابن سعد عن بكر بن عبد الله مرسلا(

Maksudnya: “Rasulullah bersabda: “Hidupku lebih baik dan matiku juga lebih baik bagi kamu. Jika aku wafat maka kematianku lebih baik bagi kamu. Amal-amal kamu diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat amal baik, maka aku memuji kepada Allah. Dan jika aku melihat amal buruk, maka aku mintakan ampunan bagimu kepada Allah”. (HR. Ibnu Sa’d dari Bakar bin Abdullah secara mursal)

Berkaitan penilaian hadis ini al-Munawi berkata:

‎وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ الْهَيْثَمِي وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ )فيض القدير شرح الجامع الصغير ۳/۵۳۲)

Maksudnya: “Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Ibnu Mas’ud. Al-Haithami berkata: “Perawinya adalah perawi-perawi yang sahih”. (Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ al-Shaghir)

Demikianlah ana bawakan 5 riwayat hadis serta athar mengenai bolehnya bertawasul dengan orang soleh sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Walaupun sebahagian hadis ini dha’if, namun tetap diperbolehkan untuk diamalkan.

Hatta jika kita lihat sebahagian nash, Ibnu Taimiyah sendiri bertawasul dalam doanya:

‎رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِيْ كِتَابِ مُجَابِي الدُّعَاءِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُوْ هَاشِمٍ سَمِعْتُ كَثِيْرَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ كَثِيْرِ بْنِ رِفَاعَةَ يَقُوْلُ جَاءَ رَجُلٌ إلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيْدِ بْنِ أَبْجَرَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ بِكَ دَاءٌ لَا يَبْرَأُ. قَالَ مَا هُوَ؟ قَالَ الدُّبَيْلَةُ. قَالَ فَتَحَوَّلَ الرَّجُلُ فَقَالَ اللهَ اللهَ اللهَ رَبِّيْ لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا اللّٰهُمَّ إنِّيْ أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ صلى الله عليه وسلم تَسْلِيْمًا يَا مُحَمَّدُ إنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ وَرَبِّيْ يَرْحَمُنِيْ مِمَّا بِيْ. قَالَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ قَدْ بَرِئَتْ مَا بِكَ عِلَّةٌ. قُلْتُ فَهَذَا الدُّعَاءُ وَنَحْوُهُ قَدْ رُوِيَ أَنَّهُ دَعَا بِهِ السَّلَفُ وَنُقِلَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِيْ مَنْسَكِ الْمَرْوَذِيِّ التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي الدُّعَاءِ وَنَهَى عَنْهُ آخَرُوْنَ )مجموع الفتاوى ۱/۲۶۴ وقاعدة جليلة في التوسل والوسيلة ۲/۱۹۹(

Maksudnya: “Ibnu Abi al-Dunya meriwayatkan dari Kathir bin Muhammad, Ada seorang lelaki datang kepada Abdul Malik bin Said bin Abjar. Abdul Malik memegang perutnya dan berkata: “Kamu mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan”. Lelaki itu bertanya: “Penyakit apa?” Ia menjawab: “Penyakit dubailah (seperti tumor dalam perut)”. Kemudian lelaki tersebut berpaling dan berdoa: “Allah Allah Allah.. Tuhanku, tiada suatu apapun yang yang menyekutuinya. Ya Allah, saya menghadap kepada-Mu dengan Nabi-Mu. Muhammad Nabi yang rahmah. Wahai Muhammad saya menghadap pada Tuhan-Mu dengan-Mu (agar) Tuhanku menyembuhkan penyakitku”. Lalu Abdul Malik memegang lagi perutnya dan ia berkata: “Penyakitmu telah sembuh”. Saya (Ibnu Taimiyah) berkata: “Doa seperti ini diriwayatkan telah dibaca oleh ulama salaf, dan diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal dalam al-Mansak al-Marwadzi bahawa beliau bertawassul dengan Rasulullah dalam doanya. Namun ulama yang lain melarang tawassul”. (Majmu' al-Fatawa, dan al-Tawassul wa al-Wasilah)

Maka suka untuk ana akhiri penulisan ini dengan suatu ayat Al-Quran, surah al-Baqarah, ayat 154:

‎وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
Maksudnya: “Dan jangan kamu menyangka bahawa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka tetap hidup, akan tetapi kamu yang tidak menyedarinya”.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=255077262244397&id=100032263745178

Wallahu a’lam.
Hj Nasir Al-Bakri
Pondok Mahabbatul Ummah
Ipoh, Perak

08. Bagaimana Nak Tahu Kitab Hadis Yang Kita Ikut Tu Betul ? l Talfiq Ha...

Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Pulau Pinang



Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Pulau Pinang Bil. 3/2012 yang bersidang pada 25 Mei 2012 telah membincangkan mengenai isu Pembid'ahan Dan Penghinaan Amalan-Amalan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Mesyuarat bersetuju untuk melarang pembid'ahan dan penghinaan terhadap amalan-amalan Ahli Sunnah Wal Jamaah sebagai panduan atau irsyad hukum.
Antara larangan tersebut adalah berkaitan amalan-amalan seperti berikut :-
i. Membaca Talqin.
ii. Membaca Al-Quran di atas kubur.
iii. Tahlil.
iv. Kenduri Arwah.
v. Amalan menghadiahkan pahala ibadah kepada si mati seperti bacaan Al-Quran.
vi. Qunut Subuh.
vii. Bacaan doa dan diaminkan oleh para jemaah secara beramai-ramai sama ada selepas solat atau di Iain-Iain waktu dan upacara.
viii. Tawassul.
ix. Berzikir secara beramai-ramai.
x. Membaca surah Yasin malam Jumaat atau pada mana-mana majlis upacara sambutan hari-hari kebesaran Islam seperti Maal Hijrah, Maulidar-Rasul, Isra' Mikraj dan Nisfu Syaaban.
xi. Sembahyang tarawih 20 rakaat.
xii. Sembahyang hajat secara berjamaah.
xiii. Menyapu muka selepas memberi salam.
xiv. Dua kali azan pada hari Jumaat.
xv. Melafazkan niat dalam ibadah.
2. Oleh itu, mana-mana orang Islam atau kumpulan adalah dilarang:-
i. Membid’ah atau;
ii. Menghina atau;
iii. Memperlekeh sama ada dengan perkataan, perbuatan, penulisan atau apa-apa tindakan yang membawa maksud yang seumpama dengannya atau;
iv. Mengajar, menyiar, menyebar, menghebah dan mendedahkan dengan apa-apa cara sekalipun.
Sumber: http://e-smaf.islam.gov.my/e-smaf/index.php/main/mainv1/fatwa/pr/15825

Wednesday, May 27, 2020

Vsdc effect

https://youtu.be/EaH-MsFfwaE

Menjawab hj hadi yg mengatakan asyaari punyai tiga zaman

https://youtu.be/TBDIglblk64

DOA TOK KENALI

DOA TOK KENALI
(AMALAN DOA MENGIRINGI SOLAT FARDU)


Wahai tuhan...
Sesungguhnya saya pohon pada Engkau pemberian yang sempurna ,
Kesihatan yang berkekalan,
Rahmat yang menyeluruh dan
Kesegaran yang berguna.

Saya pohonkan daripada Engkau
Puncak kesenangan hidup,
Puncak kebahagiaan umur,
Kesempurnaan kebaikan,
Juga keluasan pemberian dan
Kesopanan yang lebih berfaedah.”

Tuhanku...
Tolonglah kami dan jangan pula kami ditindas.

Tuhanku...
Bahagiakanlah kesudahan hidup kami,
Buktikanlah hasrat kami dengan penambahan amalan.
Susilah kesegaran dikala berpagi-pagi dan berpetang-petang.

Wahai Tuhanku...
Tumpahkanlah rahmat engkau di tempat kembali kami dan Kesudahan kami dan
Tuangkanlah dulang kemaafan ke atas dosa-dosa kami dan
Kurniakanlah pembaikan kepada keaifan-keaifan kami dan
Berikanlah kegiatan kami pada agama engkau.

Kepada Engkau kami berserah dan
Kepada engkau kami menggantung harapan

Credit to
Page Tok Kenali

*************************************************************************

دعاء تؤ كنالى

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . حَمْدًا يُّوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِيءُ مَزِيْدَهُ . يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ .
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ . وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ . وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئآتِ . وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ . وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ . وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ مِنَ النِّعْمَةِ تَمَامَهَا . وَمِنَ الصِّحَّةِ دَوَامَهَا . وَمِنَ الرَّحْمَةِ شُمُوْلَهَا . وَمِنَ الْعَافِيَةِ حُصُولَهَا . وَمِنَ الْعَيْشِ أَرْغَدَهُ . وَمِنَ الْعُمْرِ أَسْعَدَهُ . وَمِنَ الْإِحْسَانِ أَتَمَّهُ . وَمِنَ الْإِنْعَامِ أَعَمَّهُ . وَمِنَ الْفَضْلِ أَعْذَبَهُ . وَمِنَ اللُّطْفِ أَنْفَعَهُ .
اللَّهُمَّ كُنْ لَّنَا وَلَاتَكُنْ عَلَيْنَا . اللَّهُمَّ اخْتِمْ بِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ إِلَيْنَا . اللَّهُمَّ اخْتِمْ بِالسَّعَادَةِ آَجَالَنَا . وَحَقِّقْ بِالزِّيَادَةِ آَمَالَنَا . وَاقْرُنْ بِالْعَافِيَةِ غُدُوَّنَا وَآَصَالَنَا . وَاجْعَلْ فِى رَحْمَتِكَ مَصِيْرَنَا وَمَآلَنَا . وَصُبَّ سِجَالَ عَفْوِكَ عَلَى ذُنُوْبِنَا وَمَنْ عَلَيْنَا بِإِصْلَاحِ عُيُوْبِنَا . وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا . وَفِي دِيْنِكَ اجْتِهَادَنَا . وَعَلَيْكَ تَوَكُّلَنَا وَاعْتِمَادَنَا . وَثَبِّتْنَا عَلَى نَهْجِ الاِسْتِقَامَةِ . وَأَعِذْنَا فِى الدُّنْيَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . وَخَفِّفْ عَنَّا ثِقَلَ الأَوْزَارِ . وَارْزُقْنَا عَيْشَ الْأَبْرَارِ . وَاكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ الْأَشْرَارِ .
اللَّهُمَّ أَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَعَشِيْرَتِنَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ . بِرَحْمَتِكَ يَا غَفَّارُ يَا عَزِيْزُ يَا سَتَّارُ يَا حَلِيْمُ يَا جَبَّارُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ . إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ . وَبِالْإِجَابَةِ جَدِيْرٌ .
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ... الْفَاتِحَة!
اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ . وَبِنُوْرِ الْفَاتِحَةِ . وَبِحَقِّ مَنْ أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ الْفَاِتَحَةُ . نَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تَرْزُقَنَا الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . يَافَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ . يَامَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ . وَيَادَافِعَ الْبَلآءِ وَالنِّقَمِ . اِدْفَعْ عَنَّا يَا اللهُ يَا اللهُ يَا اللهُ كُلَّ بَلآءٍ وَوَبآءٍ وَهَمٍّ وَغَمٍّ وَضِيْقٍ وَشِدَّةٍ وَنِقْمَةٍ وَفِتْنَةٍ . دَعْوَاهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اللُّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ . وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .

(Doa diambil dari http://ibnurubat.blogspot.com/)

https://youtu.be/37m0ebLSmKs

Tobatnya ustad salafi Wahabi

Creative

https://www.facebook.com/tastethelemon/videos/267078501358590/?sfnsn=mo&d=n&vh=e

Menjawab pembohongan Haji Hadi berkenaan Imam Abu Hassan Asy'ari

Anda ikut mazahab yg mana satu

SAYA TIDAK BERMAZHAB

SY : Lalu, anda  ikut siapa? 

JW : SAYA IKUT AHLI HADIS.

SY : Ahli hadis yang mana? Tahukah anda  MAJORITI ahli hadis bermazhab? Kebanyakkan mereka pula adalah bermazhab SYAFIE.

Sekiranyanya  anda merasa syak, bolehlah merujuk kepada kitab imam az Zahabi, Tazkirah alHuffaz dan bolehlah mula membilangnya.

JADI  SAYA ULANG SOALAN, ANDA IKUT AHLI HADIS YANG MANA???

Monday, May 25, 2020

WUDHU` VERSI 4 MADZHAB

WUDHU` VERSI 4 MADZHAB
Rukun
Para ulama berrbeda pendapat ketika menyebutkan rukun wudhu. Ada yang menyebutkan 4 saja sebagaimana yang tercantum dalam ayat Quran, namun ada juga yang menambahinya dengan berdasarkan dalil dari Sunnah.
4 (empat) rukun menurut Al-Hanafiyah mengatakan bahwa rukun wudhu itu hanya ada 4 sebagaimana yang disebutkan dalam nash Quran
7 (tujuh) rukun menurut Al-Malikiyah menambahkan dengan keharusan niat, ad-dalk yaitu menggosok anggota wudhu`. Sebab menurut beliau sekedar mengguyur anggota wudhu` dengan air masih belum bermakna mencuci atau membasuh. Juga beliau menambahkan kewajiban muwalat.
6 (enam) rukun menurut As-Syafi`iyah menambahinya dengan niat dan tertib yaitu kewajiban untuk melakukannya pembasuhan dan usapan dengan urut, tidak boleh terbolak balik. Istilah yang beliau gunakan adalah harus tertib
7 (tujuh) rukun menurut Al-Hanabilah mengatakan bahwa harus niat, tertib dan muwalat, yaitu berkesinambungan. Maka tidak boleh terjadi jeda antara satu anggota dengan anggota yang lain yang sampai membuatnya kering dari basahnya air bekas wudhu`.
RUKUN
(1) NIAT
(2) MEMBASUH WAJAH
(3) MEMBASUH TANGAN
(4) MENGUSAP KEPALA
(5) MEMBASUH KAKI
(6) TERTIB
(7) MUWALAT
(8) ADDALK
(9) Jum
MENURUT:
Hanafi : - / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / - / - / - / 4
Maliki : Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / - / Rukun / Rukun / 7
Syafi`i : Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / - / - / 6
Hanbali : Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / Rukun / - / 7
1. Niat
Niat wudhu` adalah ketetapan di dalam hati seseorang untuk melakukan serangkaian ritual yang bernama wudhu
2. Membasuh Wajah
Para ulama menetapkan bahwa batasan wajah seseorang itu adalah tempat tumbuhnya rambut (manabit asy-sya`ri) hingga ke dagu dan dari batas telinga kanan hingga batas telinga kiri.
3. Membasuh kedua tangan hingga siku
Secara jelas disebutkan tentang keharusan membasuh tangan hingga ke siku. Dan para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bahwa siku harus ikut dibasahi
4. Mengusap kepala
Yang dimaksud dengan mengusap adalah meraba atau menjalankan tangan ke bagian yang diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air.
Al-Hanafiyah mengatakan bahwa yang wajib untuk diusap tidak semua bagian kepala, melainkan sekadar dari kepala. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga.
Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa yang diwajib diusap pada bagian kepala adalah seluruh bagian kepala. Bahkan Al-Hanabilah mewajibkan untuk membasuh juga kedua telinga baik belakang maupun depannya.
Asy-syafi`iyyah mengatakan bahwa yang wajib diusap dengan air hanyalah sebagian dari kepala, meskipun hanya satu rambut saja. Dalil yang digunakan beliau adalah hadits Al-Mughirah : Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala).
5. Mencuci kaki hingga mata kaki.
Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan hingga mata kaki adalah membasahi mata kakinya itu juga.
6. Tartib
Yang dimaksud dengan tartib adalah mensucikan anggota wudhu secara berurutan dari yang awal hingga yang akhir.
Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah tidak merupakan bagian dari fardhu wudhu`, melainkan hanya sunnah muakkadah. Akan halnya urutan yang disebutan di dalam Al-Quran, bagi mereka tidaklah mengisyaratkan kewajiban urut-urutan.
bersikeras mengatakan bahwa tertib urutan anggota yang dibasuh merupakan bagian dari fardhu dalamwudhu`. Sebab demikianlah selalu datangnya perintah dan contoh praktek wudhu`nya Rasulullah SAW. Tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau berwudhu` dengan terbalik-balik urutannya. Dan membasuh anggota dengan cara sekaligus semua dibasahi tidak dianggap syah.
7. Al-Muwalat / Tidak Terputus
Maksudnya adalah tidak adanya jeda yang lama ketika berpindah dari membasuh satu anggota wudhu` ke anggota wudhu` yang lainnya. Ukurannya menurut para ulama adalah selama belum sampai mengering air wudhu`nya itu.
8. Ad-Dalk
Yang dimaksud dengan ad-dalk adalah mengosokkan tangan ke atas anggota wudhu setelah dibasahi dengan air dan sebelum sempat kering. Hal ini tidak menjadi kewajiban menurut jumhur ulama, namun khusus Al-Malikiyah mewajibkannya. Sebab sekedar menguyurkan air ke atas anggota tubuh tidak bisa dikatakan membasuh seperti yang dimaksud dalam Al-Quran.
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU`
Ada 6 perkara.
NO
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU`
Al-Hanafiyah (A)
Al-Malikiyah (B)
As-Syafi`i (C)
Al-hanabalah (D)
1 Keluarnya sesuatu lewat dua lubang qubul atau dubur
Batal / Batal jika kelua sesuatu yang lazim juga dari lubang yang lazim / Batal / Batal
2 Tidur yang bukan dalam posisi tamakkun
Batal / Batal jika pulas / Batal / Batal walaupun dalam posisi tamakkun
3 Hilang Akal Karena Mabuk, Tidur Atau Sakit
Batal / Batal / Batal / Batal
4 Menyentuh Kemaluan dengan telalapak tangan
Tidak batal / Batal / Batal / Batal
5 Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram
Tidak Batal / Batal jika merasa lezat / Batal / Batal dengan syahwat
6 Keluarnya Sesuatu dari badan
Batal / Tidak Batal / Tidak Batal / Tidak Batal
1. Keluarnya sesuatu lewat dua lubang qubul atau dubur.
Menurut al-Malikiyah keluar sesuatu yang tidak lazim seperti batu, darah atau nanah tidak membatalkan wudhu’ jika sesuatu tersebut terbentuk didalam usus (bukan karena menelan batu)
2. Tidur yang bukan dalam posisi tamakkun di atas bumi (tidak memungkinkan keluar sesuatu dari dubur).
Menurut al-Hanabalah tidur membatalkan wudhu’ secara mutlaq.
Menurut al-Malikiyah tidur pulas dapat membatalkan wudhu’ baik tamakkun aatau tidak, sementara tidur tidur ringan tidak membatalkan wudu’
3. Hilang Akal Karena Mabuk, Tidur Atau Sakit
4. Menyentuh Kemaluan dengan telalapak tangan
Menurut Madzhab Hanafi menyentuh kemaluan dengan tangan tidak batal wudu’.
5. Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram
Menurut as-Syafi’i membatalkan wudu’ tampa lapis selain rambut, kuku dan gigi.
Menurut al-Hanafiyah tidak batal wudu’ samasekali.
Menurut al-Malikiyah membatalkan wudhu’ apabila dengan kelezatan atau bermaksud kelezatan walaupun dengan lapis tipis, baik kulit, rambut. Juga Menyentuh amrod aljamil hukumnya sama.
Menurut al-Hanabalah membatalkan wudhu’ dengan syahwat, Ajnabi atau Muhrim. Tidak batal wudu’ bagi yang di sentuh.
6. Keluarnya Sesuatu dari badan, seperti darah, nanah dan semacamnya, akibat luka atau lainnya.
Catatan :
Mereka sepakat bahwa Murtad juga menyebabkan batalnya wudu’ kecuali al Hanafiyah.
Namun al Hanafiyah berpendapat Ketawa dalam solat juga menyebabkan batal wudu’.
makan daging kambing atau unta menurut al-Hanabalah termasuk yang membatalkan wudu’, dan juga memandikan jenazah.
Ragu terhadap hadats membatalkan wudu’ menurut al-Malikiyah.
AIR MUSTA’MAL:
Pada dasarnya Madahibil Arba’ah berpandangan sama tentang Air Musta’mal yaitu air yang berpisah/ menites dari tubuh yang digunakan untuk mengangkat hadats, atau untuk menghilangkan najis selama sifat-sifat air tidak berubah.
Bersuci dengan cara memesukkan anggota tubuh ke dalam air sedikit (kurang dari 2 Qullah =190 Liter/ wadah berukuran 85 cm2 [syafi’i] ) maka air tersebut dihukumi Musta’mal setelah diangkatnya anggota tubuh.
Air Musta’mal ini hukumnya suci tapi tidak bisa mensucikan. Artinya air itu suci tidak najis, bias digunaka dalam memasal dsb. tapi tidak bisa digunakan lagi m,ensucikan, Demikian menurut al-Madahib kecuali Malikiyah.
Menurut al-Malikiyah Air musta’mal hukumnya suci dan mensucikan, Artinya, bisa dan sah digunakan lagi untuk berwudu` atau mandi bersuci, tetapi makruh apabila masih ada air yang tidak musta’mal
Menurut as-Syafi’I Air musta’mal yang mencapai dua Qullah dengan sendirinya menjadi air suci dan mensucikan.

Fitnah ketika nazak

NAZAK... SAAT HAMPIR MENINGGAL DUNIA

Dalam konteks ajaran Islam, saat kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya. Semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasai kematian, sesuai dengan firman Allah S.W.T yang bermaksud :

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu. ketika itu sesiapa Yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka Sesungguhnya ia telah berjaya. dan ( ingatlah bahawa ) kehidupan di dunia ini  (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya ) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.

                                                                                                                                  Surah ali-Imran 3: (185)

Nazak

Nazak adalah saat terakhir seseorang yang akan menempuhi alam kematian. Nazak adalah ibarat sesuatu yang menyakitkan roh sehingga tidak meninggalkan satu bahagian pun dari roh yang tidak merasai kesakitan. Kepedihan di waktu nazak menyerang roh dan seluruh bahagiannya, kerana roh itulah yang dicabut dan ditarik dari setiap urat dan sendi jasad, iaitu bermula dari kepala hingga ke hujung kaki. Bencana kematian itu terbahagi kepada tiga perkara. Pertama, kerasnya nazak. Kedua, akan melihat rupa malaikat maut dan ketiga keluarnya roh serta akan rasa ketakutan di dalam hati. Detik-detik akhir menjelang kematian dinamakan sakaratul maut. Sakarat diertikan sebagai  mabuk. Sakaratul maut adalah peringkat ujian yang paling hebat dan ia juga amat dahsyat  sehingga menyebabkan seseorang itu bagaikan rasa mabuk disamping kesakitan yang amat dahsyat. Ianya tetap dihadapi oleh sesiapa sahaja di saat kematiannya hampir tiba sama ada orang yang beriman atau tidak beriman.

Keadaan ketika nazak

a)      Tanda orang mukmin meninggal dunia

Antara tanda-tanda kematian ialah tumit akan menjadi lembut, hidung menjadi bengkok, alis matanya semakin hilang, kulit muka menjadi tegang dan dahinya berpeluh.

Dari Abi Buraidah al-Aslami, Nabi S.A.W bersabda: “ Orang mukmin mati dengan keluar keringat di dahinya.” ( Hadis Riwayat al-Tirmizi dan al-Hakim ).

Diriwayatkan juga dari Salman Al-Farisi r.a, ia berkata: “ Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda: “ Perhatikanlah tiga perkara pada mayat di waktu saat kematiannya: jika keluar peluh di dahinya berlinangan air matanya, dan melebar kedua lubang hidungnya, maka itu adalah rahmat dari Allah yang turun kepadanya. Jika ia mendengkur seperti unta yang tercekik, pucat warnanya dan berbuih mulutnya, maka itu adalah seksaan dari Allah yang telah menimpanya”. (Hadis Riwayat al-Tirmizi dan al-Hakim).

b)      Sakaratulmaut bagi orang kafir

Bagaimana pula kematian orang yang derhaka ? Allah mengingatkan dengan firmanNya: “Ingatlah bila roh sampai ke kerongkong. Lalu ditanyakan: “Siapa yang dapat memberi penawar? Sedangkan dia yakin itulah tanda kematian. Dan kedahsyatan mati dirasakan bagai bertindih-tindih. Ketika itu kamu dibawa mengadap Tuhanmu. Padahal dia tidak menerima baik ajaran Allah dan tidak pula melakukan solat.” (Surah al-Qiyamah 75: 26-31)

Ketika itu orang yang berdosa akan mengalami sakit yang amat sangat dirasakan seperti berbelitlah betis dengan betis. Nabi Muhammad S.A.W membayangkan malaikat mencabut nyawa orang yang derhaka umpama satu guni yang penuh dengan gandum diletakkan satu cangkuk yang besar lalu direntap cangkuk itu sampai ke bawah lalu terburailah isinya. Begitu kasar dan keras kerja malaikat maut mengambil nyawa terhadap orang yang menderhakai Allah S.W.T.

Apa yang dilihat oleh orang nazak

Iblis dan syaitan akan sentiasa mengganggu manusia, bermula dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hinggalah ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat iaitu ketika sakaratul maut. Iblis akan mandatangi manusia sewaktu sakaratul maut.

Menurut al-Qurtubi dalam  Al-Tazkirah yang diriwayatkan dari Nabi S.A.W bahawa di saat seorang hamba yang hampir menemui ajalnya akan datang dua syaitan yang duduk menghampirinya. Satu akan duduk di sebelah kanannya dan satu lagi akan berada di sebelah kirinya. Yang di sebelah kanannya akan menyerupai wajah dan sifat ayahnya. Ia berkata kepadanya: “Dulu aku mengasihi dan menyayangimu. Akan tetapi matilah kamu dalam agama Nasrani, kerana agama tersebut merupakan agama yang terbaik.” Syaitan yang berada di sebelah kirinya akan menyerupai sifat ibunya. Ia berkata kepadanya: “Hai anakku, perutku telah mengandungmu, susu ku telah memberimu minum, dan pahaku telah memangkumu. Akan tetapi matilah kamu dalam agama Yahudi, kerana agama tersebut merupakan agama yang terbaik.”

Manakala menurut Abdul Hasan al-Qasibi di dalam kitabnya Syariah Risalah Ibnu Abi Zaid dan Abu Hamid menyebut maknanya dalam kitab Kasyfu Uluum al-Akhirah, apabila hampirnya  saat-saat getir kematian, seseorang itu akan diuji dengan pelbagai ujian dan dugaan. Ini adalah kerana iblis telah mengarahkan para pengikutnya secara khusus untuk cuba menghasut dan menggoda umat Islam. Mereka mendatangi manusia dan menjelmakan diri mereka meyerupai orang-orang yang dicintai di dunia seperti wajah ayah, ibu, saudara lelaki, saudara perempuan dan sahabat handai.

Selain itu, jika orang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibril alaihissalam akan menebarkan sayapnya yang di sebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada di sekelilingnya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail alaihissalam. Manakala jika orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail alaihissalam akan menebarkan sayap di sebelah kiri. Maka orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang di sekelilingnya. Ini adalah kerana terlalu takutnya dia apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.

Oleh itu, hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia dengan kalimah suci Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut. Bersesuaian dengan sabda Rasulullah SAW: "Ajarkan oleh kamu ( orang yang masih hidup ) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah."

********************

Syaitan & Iblis sentiasa mendampingi manusia supaya manusia mengikut segala hasutannya.Tidak kira di mana kita berada,syaitan akan tetap datang untuk menggoda kita. Apabila sudah tergoda,berbagai-bagai maksiat yang kita terlanjur lakukan.Akan tetapi di saat sakaratul maut,iblis tidak datang lagi untuk kita melakukan maksiat,tatapi dia datang untuk menukarkan akidah kita.Walaupun kita bergelar umat islam,namun belum pasti kita dapat mati dalam keadaan Islam.

Rombongan 1
Iblis itu datang dengan pelbagai rupa bentuk yang pelik dan aneh seperti emas,perak,makanan dan minuman yang lazat-lazat.Jika sewaktu hidupnya dia seorang yang tamak haloba pada barang-barang tersebut,maka akan disogokkan segala keperluan itu hingga nyawanya bercerai daripada tubuh. Dia mati dalam keadaan yang lalai dan lupa kepada Allah.

Rombongan 2
Iblis itu datang menyerupai rupa binatang yang ditakuti manusia seperti harimau,ular,singa atau kala jengking yang berbisa,maka dia meraung ketakutan semasa itu. Di waktu itu tercabutlah nyawanya.

Rombongan 3
Iblis itu datang menyerupai binatang yang menjadi minat kepada bakal si mati. Kalau dia berminat kepada burung,maka akan datang iblis itu menyerupai burung.Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu, matilah dia dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah.

Rombongan 4
Iblis menjelma dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati. Maka, semasa itu ,dia berusaha untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu.Apabila sampai waktu maut itu,matilah dia dalam keadaan fasik dan munafik.

Rombongan 5
Iblis menjelmakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu.Contohnya, ibunya membawa makanan dan minuman yang sangat diharapkan orang yang dalam Sakaratul Maut.Lalu dia menghulurkan tangan untuk mencapai makanan dan minuman tersebut.Maka jika dia sudi menerimanya dengan tanpa berfikir panjang, ketika itu matilah dia dalam kekafiran yang nyata.

Rombongan 6
Iblis menjelmakan dirinya sebagai ulama’-ulama’ yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata,”wahai muridku, lama sudah kami menunggumu. Pelbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sakit di sini. Oleh itu, kami bawakan doktor dan bomoh bersama-sama ubat untukmu”.

Lalu dia minum ubat tersebut, penyakit itu hilang dan kemudian penyakit itu datang lagi. Lalu iblis yang menyerupai ulama’ berkata” kali ini kami datang untuk memberi nasihat agar kamu mati di dalam keadaan baik,tahukah kamu bagaimana hakikat Allah? Orang yang dalam sakaratul maut menyatakan dia tidak tahu.

Iblis itu mula memasang perangkapnya dengan berkata” ketahuilah ,aku ini adalah seorang ulama yang hebat ,aku baru sahaja kembali dari alam ghaib dan telah memperolehi syurga yang paling tinggi.Cubalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalu kamu ingin mengetahui Zat Allah, hendaklah kamu patuh kepada kami”.

Si bakal mati memandang ke kanan dan ke kiri, terpersonalah dia melihat sanak saudaranya berada dalam kesenagan syurga.kemudian dia berkata” Bagaimanakah Zat Allah ?” Iblis itu merasa gembira kerana perangkapnya sudah mengena lalu berkata”Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu”.

Apabila tirai dibuka selapis demi selapis ,maka si bakal mati itu dapat melihat satu benda yang sangat besar ,seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi. Iblis berkata” Itulah dia Zat Allah yang patut kamu sembah”. Si bakal mati peun berkata” Wahai guruku ,bukankah ini benda yang benar-benar besar, tapi benda ini mempunyai jihat enam, iaitu benda ini ada di kirinya dan kanannya,mempunyai atas dan bawahnya,mempunyai atas dan bawahnya,mempunyai depan dan belakangnya. Sedangkan zat Allah tidak menyerupai makhluk , sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain dari yang kita ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda besar ini”.
Dalam keadaan masih ragu-ragu, malaikat Izrail pun datang mencabut nyawanya. Maka matilah orang itu dalam kekafiran dan kekal di dalam neraka.

Rombongan 7
Iblis terdiri dari 72 barisan(menyerupai iktikad rasulullah bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 barisan). Satu puak sahaja yang benar(ahli sunnah waljamaah) 72 lagi kumpulan termasuk ke neraka kerana kesesatan.iblis mengacau dan mengaggu si bakal mati dengan 72 macam godaan dan setiap satunya berlainan.

Hanya dengan kalimah “Laa ilaaha illallah” dapat menyelamatkan si bakal mati daripada 7 rombongan iblis laknatullah. Banyakkan lah berdoa supaya kita terselamat dan masih kekal sebagai umat islam di ambang sakaratul maut.

Hadis Rasulullah menerangkan ,”Ya Allah aku berlindung dengan Engkau daripada perdayaan syaitan di waktu maut”.