Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Saturday, December 30, 2017

Syarah Hikam

https://ibnuabbas.wordpress.com/syarah-hikam/

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Segala puji-pujian bagi Allah, Pemelihara sekalian alam. Selawat disertai salam atas yang paling mulia di antara Rasul-rasul, Muhammad Rasul yang Amin, dan atas sekalian keluarga dan sahabat-sahabat baginda saw.

Daku reda Allah adalah Tuhan, Islam adalah Agama, Nabi Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul, al-Quran adalah Imam, Kaabah adalah Kiblat dan Mukmin adalah saudara.

Wahai tuhanku! Engkau jualah maksud dan tujuanku dan keredaan Engkau jua yang daku cari. Daku mengharapkan kasih sayang-Mu dan kehampiran-Mu.
Kitab al-Hikam karangan Imam Tajuddin Abu Fadhli Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Assakandary boleh dianggap sebagai buku teks yang perlu dipelajari oleh orang-orang yang mahu mendalami ilmu tauhid / tasauf serta berjalan pada jalan kerohanian. Dalamnya mengandungi kata-kata hikmat yang boleh dijadikan petunjuk jalan menuju Allah s.w.t dan mencapai keredaan-Nya.
Pada mulanya daku mengenali Kitab al-Hikam pada namanya sahaja. Apa yang diperkatakan adalah kitab ini merupakan sebuah kitab yang sukar difahami. Hanya sedikit sahaja bilangan guru-guru yang mampu mengajarkan kitab ini. Anggapan yang telah tertanam dalam fikiranku adalah hanya orang-orang yang khusus sahaja layak mempelajari kitab tersebut. Oleh yang demikian daku tidak pernah mencuba untuk mempelajarinya.
Kehendak Allah s.w.t mengatasi segala perkara. Apabila daku dimasukkan ke dalam bidang kerohanian timbullah minat dan kecenderungan untuk mengetahui isi Kitab al-Hikam. Daku mula mempelajari syarah-syarah kitab tersebut yang boleh didapati di kedai-kedai buku. Sedikit sekali kefahaman yang terbuka kepadaku. Kemudian daku mempelajari kitab-kitab tasauf yang boleh daku dapati dari berbagai-bagai sumber. Berbekalkan sedikit pengetahuan dalam ilmu tasauf, daku mempelajari semula Kitab al-Hikam. Apa yang daku fahamkan itu daku tuliskan sebagai satu cara pembelajaran. Beberapa orang sahabat telah membaca teks yang asal dan memberi teguran yang membina. Hasil dari teguran itu daku tulis semula Syarah al-Hikam ini.
Apa yang daku fahamkan dan perolehi dari khazanah al-Hikam ingin daku kongsikan dengan saudara-saudara Muslimku. Mudah-mudahan Allah s.w.t memberikan taufik dan hidayat kepada kita semua.
Penyusun Syarah al-Hikam ini bukanlah seorang yang alim dalam ilmu tasauf, apa lagi ilmu fikah. Oleh itu adalah baik jika saudara-saudara yang membaca kitab ini merujukkan kepada orang yang alim. Jika terdapat perbezaan pendapat di antara isi kitab ini dengan perkataan orang alim, anggaplah kefahaman penyusun telah tersilap dan berpeganglah kepada perkataan orang alim. Penyusun memohon kemaafan di atas kesilapan tersebut. Sekiranya apa yang diperkatakan dalam kitab ini adalah benar, maka sesungguhnya kebenaran itu dari Allah s.w.t. Hanya Dia yang patut menerima pujian. Hanya kepada-Nya kita bersyukur.
Wahai saudara-saudaraku yang daku kasihi.

****

Sunday, December 24, 2017

BAGAIMANA HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL ???

AHLI SHOLAWAT is with Maftha Sya'dhiiyach and 44 others.
BAGAIMANA HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL ???
.
1. HARAM
Secara umum Para Ulama menghukumi HARAM mengucapkan selamat hari Natal kepada umat Nasrani.
• HARAM DAN HARUS DIHUKUM (TA'ZIR)
Bahkan ada sebagian Ulama berpendapat bukan Hanya haram, Tetapi juga hendaknya dihukum Ta'zir Kepada umat islam yang ikut merayakan & mengucapkan selamat kepada hari raya kaum kafir.
خاتمة : يعزر من وافق الكفار في أعيا دهمو نم يمسك الحية و من يدخل النار ومن قال لذمي يا حاج ومن هنأ بعيده ألخ
(Syarwani ‘ala Tukhfat al-Muhtaj juz 9 halaman 212, Darul Fikr dan Mughn al-Muhtaj ‘ala Syarkh al-Minhaj Imam Nawawi juz 5 halaman 550)
• BISA MENJERUMUSKAN KEPADA KEKUFURAN
Mengucapkan selamat Natal bisa menjerumuskan umat islam kepada kekufuran (keluar dari islam) jika dalam pengucapannya dibarengi dengan keyakinan bahwa Yesus (Nabi Isa) adalah anak Tuhan yang lahir pada 25 desember. Maka ini hukumnya mutlak HARAM bahkan sudah kafir.
----------------------------------------------------------
2. MAKRUH (DALAM KEADAAN DARUDAT !!!)
Ada sebagian Ulama, khususnya ulama² kontemporer, menghukumi boleh apabila orang tersebut dalam keadaan darurat (sangat sangat terpaksa), atau lebih tepatnya MAKRUH (lebih baik ditinggalkan).
Contohnya; Jika orang tersebut berada di suatu lingkungan yang kurang atau bahkan tidak mengenal islam, jika kita tidak mengucapkan selamat maka akan terjadi sesuatu yang buruk, gejolak sosial dll., dengan kemungkinan akan menghambat dakwah islam di tempat tersebut, maka hal ini sebagian ulama memperbolehkan, asal hanya sekedar basa-basi, atau mengucap selamat saja (tidak perlu diteruskan).
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Mengenai perbedaan pendapat Ulama soal hukum mengucapkan selamat hari raya kepada non muslim, Sulthanul Ulama Al Habib Salim Asy-syatiri berpesan :
"Kalau madzhabnya ulama - ulama yang Wara' adalah Tidak, Tidak akan Melakukan Seperti itu / Menjauhi hal-hal yang seperti itu, dengan kata lain meninggalkannya."
.
والله أعلمُ بالـصـواب

Wednesday, December 13, 2017

kerja-kerja dakyah Rozaimi di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) semakin berkembang.


Kami dapat maklumat, kerja-kerja dakyah Rozaimi di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) semakin berkembang.
Bukan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang dibawanya tetapi dakyah wahhabi. Ibu Ayah, penjaga, asatizah diharap ambil berat perkara ini.
REKOD MERAH ROZAIMI RAMLEE (RORA)
1.Berbohong atas nama Imam An Nawawi
2. Berbohong atas nama Imam Ibnu Hajar Al Haithami
4. Mengajar umat Islam sombong dengan ilmu
5. Berhujjah dengan aqidah Firaun

6. Isu tauliah
7. Dakwa boleh berpegang kepada zahir nas ayat mutasyabihat.
8. Menyatakan Hadith Jihad Lawan Nafsu BUKAN HADITH
9. Menyatakan pahala bacaan al Quran tidak sampai DALAM MAZHAB ASY SYAFIE
10. Mengkritik Jabatan Mufti Selangor tentang tauliah
11. Menolak IJMAK ULAMAK yang menyatakan wajib qadha' solat dan dijawab oleh maulana lutfi penyelewengan RORA :
12. Tidak amanah dalam penilaian hadith berkaitan Israk dan mikraj
13. Berbohong dengan mengatakan selawat lepas Solat Terawih hanya diamal di Malaysia dan nusantara
14. Menyatakan Peha Bukan Aurat dan tidak jujur dalam menukil pandangan Imam Bukhari
15. Mendakwa Zikir Allah.. Allah tidak afdhal.
Jawapan kepada dakwaan ini :
- Ustaz Khafidz Soroni : https://m.facebook.com/story.php…
- ASWJ Research Group : https://m.facebook.com/story.php…
- Ustaz Abdullaah Jalil : https://m.facebook.com/story.php…
Ilmu itu agama, lihat kepada siapa agama itu diambil.

Friday, December 8, 2017

Hukum Melaknat Mukmin


Seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk menjaga lisannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al-Mukminun: 1-3)
, “Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula syuhada pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscaya laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia (laknat -ed) tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan kiri, dan jika tak menemui jalan keluar (menuju sasarannya), maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika memang ia pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi.” (HR. Abu Daud)
Kadang kita mendengar orang berkata, “dasar batu sial!” atau “sial kamu!”, kata-kata ini terdengar sangat sepele, namun ketahuilah Saudariku, bahwa kita dilarang untuk mengucapkan atau melaknat sesuatu tanpa adanya keterangan dari agama bahwa sesuatu tersebut mendatangkan kesialan.
Selain itu, kita juga dilarang melaknat angin, binatang, ayam jago, waktu, serta manusia tertentu, terutama seorang mukmin karena hal tersebut termasuk dosa besar. Tsabit bin Adh-Dhahhak rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seakan-akan dia membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah SAW larang kutuk mengutuk sesama Muslim
Yang dimaksudkan dengan mengutuk ialah mendoakan orang lain agar mendapat kecelakaan. Mengutuk ini adalah satu perbuatan yang terlarang kita lakukan sesama muslim. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW. di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud maksudnya: “ Mencaci orang Islam itu termasuk fasik dan membunuhnya termasuk kafir.”
Rasulullah SAW bersabda maksudnya, “Mengutuk seorang mukmin itu seperti membunuhnya.” (Hadis Riwayat Jamaah selain Ibnu Majah, hadis riwayat Tsabit bin Adl-Dlahak)
Rasulullah SAW bersabda maksudnya ” Tidaklah para pelaknat itu dapat jadi penolong dan saksi di hari kiamat.” (Hadis Riwayat Muslim dan Abu Daud)
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW bersabda maksudnya: ” Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencerca, bukan yang suka menjolok jolok, bukan yang suka berbuat keji, dan bukan juga orang yang suka bercakap keji.”