Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Sunday, April 29, 2018

Macam-macam "QAULAN" di dalam al-Quran


Macam-macam "QAULAN" di dalam al-Quran
Kata-kata yang keluar dari mulut kita tidak selamanya terjaga dengan baik, terkadang secara sengaja atau tidak sengaja malah menyakitkan hati pendengarnya.

Jika hal tersebut dibiarkan tak terjaga maka ucapan yang keluar dari mulut kita justru akan lebih banyak merugikan diri kita sendiri.

Bahkan, ahli ibadah pun pernah dikatakan celaka oleh Rasulullah saw gara-gara lisannya yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص إِنَّ فُلَانَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ هِيَ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ لَا خَيْرَ فِيْهَا هَيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Dikatakan kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya si Fulanah shaum (berpuasa) di siang hari dan tahajud di malam hari. Namun akhlaknya buruk. Ia suka menyakiti hati tentangganya dengan mulutnya”. Rasulullah bersabda, “Tidak ada kebaikan pada diri Fulanah itu. Ia termasuk ahli neraka”. (H.R. Ahmad). ( Taubat adalah ubatnya )

Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan sesempurnanya penciptaan, dibandingkan makhluk yang lain. Keindahan dan kesempurnaan manusia hendaknya diiringi dengan keindahan dan kesempurnaan perangai.

Salah satunya, manusia mesti mengindahkan dan menyempurnakan diri dengan komunikasi / Percakapan yang baik meskipun pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna.
Untuk menyokong hal ini, Allah memberi kelebihan kepada kita sebagai manusia supaya pandai berkomunikasi sebagaimana dijelaskan dalam QS ar-Rahman ayat 4, “Allah mengajarkan manusia pandai berbicara”. Ayat tersebut menyiratkan perintah supaya kita berkomunikasi dengan baik.
Dalam al-Quran terdapat macam-macam qaulan (perkataan), diantaranya:

1. Qaulan Karima
Dilihat dari segi bahasa, karima berasal dari kata karuma yakrumu karman karimun yang bermakna mulia. Al-Quran mengingatkan kita untuk menggunakan bahasa yang mulia, yakni perkataan yang memuliakan dan memberi penghormatan kepada orang yang diajak bicara sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut:

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“... janganlah kamu mengatakan ‘ah’ kepada mereka (orang tua), jangan pula kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia!” (QS al-Isra` [17]: 23).

2. Qaulan Ma’rufa
Ma’rufa identik dengan kata urf atau budaya. Menurut ahli tafsir ma’ruf secara bahasa artinya baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Qaulan ma’rufa berarti perkataan yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Selain itu, qaulan ma’rufa berarti pula perkataan yang pantas dengan latar belakang dan status seseorang. Seorang guru hendaknya berutur kata yang santun karena memang pantasnya begitu. Pun dengan seorang da’i, muballigh, petinggi ormas, dll. hendaknya berbicara dengan perkataan ma’ruf, karena memang seperti itulah pantasnya.
Dalam al-Quran dijelaskan:
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Dan janganlah kamu menyerahkan harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (anak yatim) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan! berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik!” (QS an-Nisa [4]: 5).

3. Qaulan Sadida
Sadida berarti jelas, jernih, terang. Dalam al-Quran, konteks qaulan sadida diugkapkan pada pembahasan mengenai wasiat (QS an-Nisa [4]: 9) dan tentang buhtan (tuduhan tanpa bukti) yang dilakukan kaum Nabi Musa kepada Nabi Musa (QS al-Ahzab [33]: 70).
Dari kedua konteks ayatnya, qaulan sadida merupakan perkataan yang jelas, tidak meninggalkan keraguan, meyakinkan pendengar, dan perkataan yang benar tidak mengada-ada (buhtan: tuduhan tanpa bukti).

4. Qaulan Baligha
Terhadap kelompok oposisi atau kaum munafiq kita diminta menggunakan bahasa yang komunikatif (qaulan baligha). Baligha itu sendiri berarti sampai. Dalam konteks ayatnya (QS an-Nisa [4]: 63), qaulan baligha dimaknai sebagai perkataan yang sampai dan meninggalkan bekas di dalam jiwa seseorang.
Ini merupakan indikasi bahwa dakwah itu mesti diupayakan. Salah satunya adalah dakwah dengan lisan (da’wah billisan). Dan, kemestian dakwah dengan lisan ini tentunya bagi yang mumpuni dan berkapasitas. Kecakapan dakwah yang perlu diasah adalah dalam penyampaian verbal. Maka, kecakapan dalam qaulan baligha merupakan hal yang niscaya bagi seorang da’i atau muballigh.

5. Qaulan Maysura
Maysura artinya mudah. Qaulan maysura berarti perkataan yang mudah. Dalam konteks ayatnya (QS al-Isra` [17]: 28), Imam al-Maraghi mengartikannya sebagai ucapan yang lunak dan baik atau ucapan janji yang tidak mengecewakan. Sedangkan Imam Ibnu Katsir menyebutkan makna qaulan maysura dengan perkataan yang pantas dan ucapan janji yang menyenangkan. Kedua pendapat tersebut identik, yakni ucapan yang keluar dari mulut kita hendaknya menyenangkan orang dan tidak mengecewakannya.

6. Qaulan Layyina
Secara bahasa layyina artinya lemah lembut. Qaulan layyina boleh bermakna sebagai strategi dakwah. Pasalnya, konteks qaulan layyina (QS Thaha [20]: 44) berbicara tentang dialog Nabi Musa dengan Firaun.Walaupun dengan lemah lembut pun tetap saja membuat Firaun marah apatah lagi bila menggunakan kata-kata keras, tentu batang leher yang menjadi taruhannya.
Sebagai seorang anak angkat yang dibesarkan dan disenangkan di istana Firaun, penguasa yang melabeli diri sebagai tuhan, Musa harus berurusan dengan Firau sebagai objek dakwah tauhidnya. Berat rasanya bagi Nabi Musa. Tetapi, ini adalah misi yang diembankan Allah. Maka, Allah menuntun dan memotivasi agar Nabi Musa menggunakan qaulan layyina saat menyampaikan dakwahnya.

7. Qaulan Tsaqila
إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.
(QS: Al-Muzzammil Ayat: 5)
maksud dari “qaulan tsaqila” Perkataan yang berat para ulama berpendapat adalah Al-Qur’an.Kata Qaulan Tsaqila ini merupakan Qaulan yang pertamakali diturunkan kepada nabiyullah Muhammad SAW.Qaulan Tsaqila boleh jadi merupakan intisari dari semua Qaulan tersebut diatas.Walaupun diucapkan dengan cara berkata yang sederhana dan apa adanya orang yang mendengarnya boleh tersentak/takjub / terkesan atau mengingatnya seumur hidup,..

.....sebagaimana bila Rasulullah SAW. menjelaskan tentang Syurga para sahabat yang mendengarnya sangat bersukacita seolah rasanya ingin segera memasukinya dan tatkala Rasulullah SAW. bercerita tentang Neraka, semua Sahabat sangat ketakutan seolah neraka sudah ada dihadapan mereka hingga mereka menangis tersedu-sedu

Bagi kita untuk ....mencapai tingkat Qaulan Tsaqila tentu dengan mengikuti syarat sebagai mana Rasulullah contohkan pada ayat-ayat sebelumnya diantaranya : Shalat malam. berdzikir mengagungkan nama Allah SWT.,Membaca Al qur'an dengan tartil. dan berdo'a.
Dengan begitu Kita berharap memiliki perkataan yang berbobot, berkualitas, menginspirasi orang lain, berpengaruh dan lain sebagainya.

Mari Kita menjaga lisan Kita, agar tidak mengeluarkan perkataan yang tidak baik, kata-kata kasar, kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain, kata-kata jorok/kotor, kata-kata yang tidak pantas, perkataan yang menghina/ merendahkan orang lain dan kata-kata negatif lainnya.
Rasulullah saw. menasehati:
إِحْفَظْ لِسَانَكَ
“Jagalah lidahmu!” (HR Ibnu Asakir).

Bumi mana yang tak di timpa hujan, manusia mana yang tak pernah melakukan kesalahan ????
Allah taqdirkan adanya dosa dan Allah sediakan rahmat dan maghfirah yakni dengan taubat
Wallahu a'lam bishawab

Friday, April 27, 2018

Biografi Syeikh Ibrahim al-Bajuri


Biografi Syeikh Ibrahim al-Bajuri
Nama al-Bajuri merupakan nama yang tak asing lagi di kalangan para pelajar Mazhab Syafii. Hal ini karena salah satu kitab fiqih yang menjadi kurikulum menengah adalah Hasyiah al-Bajuri syarah dari Matan Ghayah wa Taqrib. Di Dayah Salafiyah di Aceh khususnya, kitab ini biasanya di pelajari di pada kelas 2. Bagaimana lengkapnya profil Syeikh Ibrahim al-Bajuri ini. Untuk lebih lengkapnya simak di bawah ini.
Nama beliau adalah Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri bin Syeikh Muhammad al-Jizawi bin Ahmad. Beliau di lahirkan di desa Bajur dari propinsi al-Munufiya Mesir tepat pada tahun 1198 H/1783 M. Sejak kecil beliau telah hidup dalam kalangan orang shaleh karena orang tua beliau juga merupakan seorang ulama yang alim dan shaleh.
Tahun 1212 H beliau berangkat ke al-Azhar untuk mengambil ilmu dari para syeikh-syeikh di Universitas tertua tersebut. Pada tahun 1213 H/1798 M Perancis telah menduduki Mesir sehingga membuat beliau keluar dari al-Azhar dan tinggal di Jizah selama beberapa tahun, dan akhirnya kembali lagi ke al-Azhar pada tahun 1216 H ( 1801 M ) setelah Perancis keluar dari Mesir.
Diantara guru-guru beliau di al-Azhar adalah :
al-Allamah Syeikh Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki, beliau seorang ulama terkenal di mesir, seluruh ulama mesir ketika itu mengambil ijazah dan sanad kepada beliau, dari beliau, Syeikh al-Bajuri mendapat ijazah seluruh yang ada dalam kitab tsabat beliau.
al-Allamah Abdullah asy-Syarqawi, beliau merupakan ulama yang alim dan terkenal di Mesir dan di dunia islam, karangannya yang banyak membuat nama beliau meroket di seantero dunia, terlebih lagi beliau mendapat jabatan memimpin al-Azhar dan menjadi Syeikhul Azhar (kedudukan yang tertinggi di al-Azhar ). Di antara karangan beliau yang terkenal dan di pakai di Pesantren adalah Hasyiah Syarqawi `ala Tahrir, Hasyiah Syarqawi `ala Hudhudi dan Hasyiah `ala Hikam.
Syeikh Daud al-Qal`i, beliau merupakan ulama yang bijak dan arif.
Syeikh Muhammad al-Fadhali, beliau seorang ulama al-Azhar yang alim dan sangat mempengaruhi jiwa Syeiikh Ibrahim al-Bajuri.
Syeikh al-Hasan al-Quwisni, beliau adalah seorang ulama yang hebat sehingga di beri tugas untuk menduduki kursi kepemimpinan al-Azhar dan dilantik menjadi Syeikhul azhar pada masanya.Beliau memiliki semangat yang besar dalam belajar dan mengajar. Beliau menghabiskan waktu dari pagi hari hingga waktu isya malam hanya bersama pelajar mengajar mereka dan menulis kitab. Setelah itupun beliau masih menyempatkan untuk membaca al-quran dengan suara beliau yang merdu sehingga banyak orang yang datang untuk mendengarkannya.
Karangan Imam Ibrahim Al-Bajuri
Dalam masa yang begitu muda beliau telah mampu menghasilkan beberapa buah karya yang begitu bernilai, hal ini tentu saja disebabkan kepintaran dan keberkatan ilmu beliau, diantara kitab - kitab yang beliau karang adalah :
asyiyah Ala Risalah Syeikh al-Fadhali, merupakan ulasan dan penjelasan makna " La Ilaha Illa Allah ", kitab ini merupakan kitab yang pertama sekali beliau karang, ketika itu umur beliau sekitar dua puluh empat tahun.
Hasyiyah Tahqiqi al-Maqam `Ala Risalati Kifayati al-`Awam Fima Yajibu Fi Ilmi al-Kalam, kitab ini selesai pada tahun 1223 H.
Fathu al-Qaril al-Majid Syarh Bidayatu al-Murid, selesai di karang pada tahun 1224 H.
Hasyiyah Ala Maulid Musthafa Libni Hajar, selesai pada tahun 1225 H.
Hasyiyah `Ala Mukhtasor as-Sanusi (ummul Barahain) , selesai pada taun 1225 H.
Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah fil mantiq, selesai pada tahun1227 H.
Hasyiah `ala Matn Sulama fil mantiq
Hasyiah `ala Syarh Sa`ad lil aqaid an-Nasafiyah
Tuhfatu al-Murid `Ala Syarhi Jauharatu at-Tauhid Li al-Laqqani, selesai pada tahun 1234 H.
Tuhfatu al-Khairiyah `Ala al-Fawaidu asy-Syansyuriyah Syarah al-Manzhumati ar-Rahabiyyah Fi al-Mawarits, selesai pada tahun 1236 H.
ad-Duraru al-Hisan `Ala Fathi ar-Rahman Fima Yahshilu Bihi al-Islam Wa al-Iman, selesai pada tahun 1238 H.
Hasyiyah `Ala Syarhi Ibni al-Qasim al-Ghazzi `Ala Matni asy-Syuja`i, selesai di tulis pada tahun 1258 hijriyah, kitab ini merupakan kitab yang di pelajari di al-Azhar Syarif dan seluruh pesantren di Nusantara sampai sekarang. Kitab ini beliau tulis di Makkah tepat di hadapan Ka`bah dan sebagiannya di Madinah tepat di samping mimbar Rasulullah dalam masjid Nabawi.
Fathul Qarib Majid `ala Syarh Bidayah Murid fi ilmi Tauhid, selesai beliau karang tahun 1222 H
Manh al-Fattah `ala Dhau’ al-Mishabah fin Nikah
Hasyiah `ala Manhaj, tidak sempat beliau sempurnakan
Hasyiah `ala Mawahib Laduniyah `ala Syamail Muhammadiyah Imam Turmuzi
Tuhfatul Basyar, ta`liqat `ala Maulid Ibnu Hajar al-Haitami
Ta`liqat `ala tafsir al-Kisyaf
Hasyiah `ala Qashidah Burdah
Hasyiah `ala Qashidah Banat Sa`ad bagi Ka`ab bin Zuhair
Hasyiah `ala Matn Samarqandiyah fi ilmi Bayan
Fathul Khabir Lathif fi ilmi Tashrif
Durar Hisan `ala fath Rahman fima Yahshulu bihi Islam wal Iman
Hasyiah `ala maulid ad-dardir
Risalah fi ilmi Tauhid yang kemudian di syarah oleh ulama
Nusantara, Syeikh nawawi al-bantani dengan nama kitab beliau Tijan ad-dadari.
Hasyiah `ala Qashidah Burdah lil Bushiry
dll
Menjadi Grand Syeikh Al-Azhar
Setelah Imam al-Bajuri mendapatkan ilmu yang banyak dari para gurunya pada akhirnya beliau diangkat menjadi seorang tenaga pendidik di al-Azhar asy-Syarif, dengan tekun dan keikhlasan beliau memulai kehidupannya dengan mengajar dan belajar, hingga pada akhirnya beliau mendapat posisi yang tinggi di al-Azhar, pada tahun 1263 H/1847 M beliau diangkat menjadi Syeikhul al-Azhar ke Sembilan belas menggantikan Syaikh Ahmad al-Shafti yang telah meninggal. Pada saat itu pemimpin Mesir Abbas I beberapa kali mengikuti pengajian beliau di al-Azhar dan mencium tangan beliau.
Di zaman pemerintahan Said Pasha, Syaikh Ibrahim al-Bajuri jatuh sakit. Beliau kerepotan mengurus al-Azhar. Kemudian beliau mewakilkan urusan administrasi al-Azhar kepada empat orang, yaitu Syaikh Ahmad al-adawi, Syaikh Ismail al-halabi, Syaikh Khalifah al-Fasyni dan Syaikh Musthafa al-Shawi. Empat orang syaikh tersebut kemudian mengangkat seorang ketua yaitu Syaikh Musthafa al-Arusi. Al-Azhar tidak mengangkat Syeikh Al-azhar lain sehingga beliau wafat.
Setelah menebarkan ilmunya kepada generasi selanjutnya, akhirnya Imam Ibrahim al-Bajuri menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan dunia yang fana menghadap Allah s.w.t. dengan tenang dan ridha. beliau meninggal duani pada hari kamis tanggal 28 dzulqa`idah tahun 1276 H bertepatan pada 19 juli 1860 M, beribu pelayat hadir untuk menyalatkan Imam besar Ibrahim al-Bajuri, beliau di shalatkan di Masjid al-Azhar asy-Syarif dan di kuburkan di kawasan Qurafah al-Kubra masyhur dengan sebutan al-Mujawarin.
Pemegang teguh Aqidah Asya`irah
Pada masa hidupnya Syeikh Bajuri mazhab `Asy`ari berkembang begitu pesat, tidak berbeda dengan masa masa pemerintahan Mamalik yang menebarkan manhaj `Asy`ariyyah, begitu juga pada masa al-Ayyubiyyah dari masa pemerintahan Salahuddin al-Ayyubi sampai hilangnya al-Ayyubiyyah dan bertukar menjadi pemerintahan Mamalik.
Mazhab `Asya`irah merupakan mazhab ahlussunnah yang berkembang dari negeri barat didaerah Maroko sampai negeri Indonesia, pada masa Ibrahim al-Bajuri sudah mulai terdengar dan hidup mazhab yang berbeda dari mazhab ahlussunnah Wal Jama`ah, yaitu mazhab Wahabi di bahagian timur negeri Hijaz, ketika itu mereka belum dapat menguasai semenanjung Arab, aqidah mereka sangat bertentangan dengan mazhab Ahlusunnah Wal Jama`ah ang di bawa oleh ulama-ulama terdahulu, mereka berpendapat ulama-ulama Ahlussunnah yang bermanhaj `Asya`irah adalah sesat lagi menyesatkan dan mesti dibasmi habis, tetapi wazhab wahabi ketika itu belum bisa berkembang di sebabkan adanya kekhalifahan Utsmaniyah yang menjaga mazhab ahlussunnah Wal Jama`ah al-`Asya`irah.
Diantara hasil tulisan Imam al-Bajuri yang membicarakan tentang tauhid didalam minhaj al-`Asy`ariyah adalah:
Hasyiyah Kifayatu al-`Awam yang di beri nama Tahqiqul al-Maqam, kitab Kifayatu al-`Awam merupakan karangan guru Imam al-Bajuri yaitu Syeikh Muhammad al-Fadhali, kitab ini di pelajari oleh pelajar-pelajar al-Azhar dan di pondok-pondok pesantren dan dayah-dayah di Nusantara.
Kitab ini menjelaskan sifat dua puluh yang wajib bagi Allah, dua puluh sifat yang mustahil bagi Allah, dan satu sifat yang boleh bagi Allah, kemudian di terangkan sifat-sifat yang wajib, mustahil dan boleh bagi para Rasul-Rasul Allah, kitab ini sangat bagus sekali di pelajari bagi pelajar ilmu tauhid tingkat pemula.
al-Fathu al-Qarib Majid Syarah Bidayat al-Murid, kitab ini adalah karangan al-Imam as-Siba`i, didalamnya memuat tauhid aqidah al-`Asya`irah, Imam Ibrahim mencoba mensyarah dan menjelaskan isi kitab ini agar mudah di fahami oleh para pelajar.
Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah, kitab Matan as-Sanusiyah di karang oleh Imam Sanusi, seorang ulama mazhab Maliki yang teguh berpegang kepada mazhab Asy`ari dalam aqidah. Beliau mengarang tiga kita tauhid yang terkenal : shughra yang di kenal dengan nama ummul Barahain, wushta (kemudian beliau syarah sendiri) dan kubra. Matan Sanusi yang di syarah oleh Imam Ibrahim al-Bajuri adalah Shughra yang juga banyak di syarah oleh ulama lain, seperti al-Hudhudi (kemudian di beri hasyiah oleh Syeikh Abdullah Syarqawi dan menjadi kitab pelajaran aqidah di Dayah di Aceh setelah mengkhatamkan kitab Syeikh al-Bajuri, Hasyiah Kifayatul Awam). Kitab Matn as-Sanusi ini menjadi bahan pelajaran kelas pemula di berbagai lembaga pendidikan Ahlussunnah Wal Jama`ah, baik di negeri arab maupun di Indonesia, Malaysia dan Tailand.
Tuhfatu al-Murid `Ala Syarah Jauharatu at-Tauhid, kitab ini merupakan Syarah dari matan manzhumah Jauharatu at-Tauhid yang sangat terkenal di kalangan para penuntut ilmu agama, hasil karya Syeikh Ibrahim al-Laqqani, beliau merupakan seorang ahli didalam ilmu hadis dan tauhid, kitab ini memuat sebanyak 144 bait sya`ir, banyak dikalangan ulama yang telah mensyarahkan kitab ini diantaranya Imam al-Bajuri.
Imam al-Bajuri mencoba menumpukan segala kemampuannya dan keahliannya untuk mensyarahkan kitab ini, dengan cara mengulas dan memutuskan mana yang tepat dan rajih dikalangan ulama Ahlussunnah, beliau juga mengisinya dengan dalil naqal dan akal, kemudian beliau juga menyebutkan perbedaan pendapat diantara `Asya`irah dan Maturidiyyah didalam sebahagian permasalahan.
Dari keempat kitab Imam Ibrahim al-Bajuri didalam ilmu tauhid dapat kita simpulkan bahwa beliau seorang ulama `Asya`irah yang kuat dan memiliki peranan dalam mengembangkan mazhab `Asyairah, keahlian beliau bukan saja didalam tauhid bahkan didalam segala disiplin ilmu agama seperti Fiqih, Tafsir, Hadis, Bayan, Mantiq, Fara`idh dan lain-lainnya.
Disebutkan dalam manaqibnya, Syeikh Ibrahim Al-Bajuri adalah seorang ulama yang amat mencintai dzurriyah Rasul SAW. Ia rajin mengunjungi dan berziarah kepada para ahli bait, baik yang masih hidup mau­pun yang sudah wafat. Salah satu bukti kecintaannya itu bisa kita lihat pada ba­gian akhir dari salah satu karyanya, Ha­syiyah ‘Ala Syarh Ibn Qasim. Al-Bajuri menampakkan kecintaannya dan semangatnya bertabarruk dengan ahlul bayt Nabi SAW dan ulama salaf shalih, khususnya Sayyid Ahmad Al-Badawi.
Dalam kitab karyanya tersebut, secara khusus ia menyarankan kepada siapa pun yang mengkhatamkan kitab tersebut itu untuk membacakan hadiah Fatihah bagi Sayyid Ahmad Al-Badawi karena beliau mengkhatamkan penulisan kitab tersebut tepatnya pada hari haul maulid Sayyidi Ahmad al-Badawi.

DAFTAR ISI ALQURAN

DAFTAR ISI ALQURAN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV
PERINTAH , WASIAT , ANJURAN , PETUNJUK , LARANGAN , PERINGATAN DAN ANCAMAN
1. PERINTAH

BAB V

BAB VI

BAB VII
MASALAH KAWIN , TALAQ , RUJUK , WASIAT , PENYUSUAN DAN RUMAH TANGGA.
5. RUMAH TANGGA           

BAB VIII
MASALAH HUKUM QISOS , SUMPAH , DZIHAR , LI’AN , RIBA , DAGANG , ANAK ANGKAT , PERZINAHAN , MENUDUH WANITA BERBUAT KEJI , WARISAN , HUKUM PERANG

BAB IX
SIFAT / WATAK ORANG MUSLIM , MUNAFIK DAN KAFIR

BAB X

BAB XI

BAB XII

BAB XIII
UJIAN
                   
BAB XIV

BAB XV
ADIL DAN JUJUR , KEHIDUPAN DUNIA HANYA SENDA GURAU DAN BIRUL WALIDAIN  

BAB XVI
TENTANG JIN , PERTOLONGAN ALLAH , MANUSIA SUPAYA SALING MENASEHATI

BAB XVII
PEMINDAHAN ARAH KIBLAT , DERAJAT SESORANG SESUAI DENGAN AMALNYA , PERHITUNGAN DISISI ALLAH

BAB XVIII
BERSYUKUR DAN BERSABAR

BAB XIX
GERAK ( AKTIVITAS ) MANUSIA DILIHAT ALLAH DAN MALAIKAT ,   ALLAHLAH YANG MEMPERKENANKAN DO'A , ALLAH TIDAK BISA DILIHAT OLEH MATA MANUSIA DAN SYIRIK

BAB XX
TENTANG KEMATIAN / MAUT , JIWA SESEORANG , BUKTI KEKUASAAN ALLAH MENGHIDUPKAN DARI YANG MATI DAN AZAB ALLAH

BAB XXI
RUKUN IMAN
  POKOK POKOK KEBAKTIAN
6. BERIMAN PADA HARI AKHIR / KIYAMAT
    1. KEDATANGAN HARI KIYAMAT

BAB XXII
SURGA , NERAKA , AL A’RAAF , DO'A NABI DAN ORANG YANG BERIMAN , KITAB CATATAN AKHIRAT , BAYI YANG BISA BICARA
1. SURGA
2. NERAKA          

Friday, April 20, 2018

Kata kata Mutiara Bijak Syeh Abdul Qodir Al Jailani

Kata kata Mutiara Bijak Syeh Abdul Qodir Al Jailani

image
“Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya. Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu yang kurang baik, maka ia segera memperbaiki ungkapan yang diucapkan itu. Berusahalah menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing². Setiap orang di antara kamu, tidak diwujudkan melainkan telah ditentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Jika dunia dan akhirat datang melayanimu, dengan tanpa susah payah, ketuklah pintu Tuhanmu dan menetaplah di dalamnya. Bila kamu telah menetap di dalamnya, akan jelaslah bagimu seperti “buah fikiran.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Janganlah engkau menuntut imbuhan atas amal perbuatanmu, baik keduniaan maupun keakhiratan. Janganlah kamu mencari nikmat, carilah Zat yang memberimu nikmat. Carilah tetangga sebelum mendapatkan rumah. Dialah Zat yang mewujudkan segala sesuatu, Zat yang mengaturkannya dan yang wujud sesudah segala sesuatu.
Saudaraku, Janganlah kamu termasuk golongan orang² yang apabila diberi nasehat, tidak mau menerima, dan jika mendengar nasehat tidak mau mengamalkannya. Ketahuilah, bahwa agamamu akan (terhapus) hilang disebabkan empat perkara:
1. Kamu tidak mengamalkan apa yang telah kamu ketahui.
2. Kamu mengamalkan apa yang tidak kamu ketahui.
3. Kamu tidak mau berusaha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, sehingga tetap bodoh.
4. Kamu melarang manusia untuk berusaha mengetahui apa yang mereka tidak mengetahuinya..”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Kepada mereka yang fasik, takutlah kepada orang yang beriman. Jangan bergaul dengan dia, selagi kamu masih bergelimang dengan kemaksiatan yang keji. Sebab, orang² mukmin, dengan cahaya Illahi, mengetahui apa yang ada dalam dirimu. Mereka mengetahui syirik dan munafikmu dengan melihat tindakan dan gejolak yang ada di balik dirimu. Mereka melihat cela dan aibmu. Barangsiapa tidak mengetahui tempat keberuntungan, lalu dia jelas tidak akan beruntung. Jika demikian, berarti berubah akalmu, dan teman-temanmu pun berubah akal pula.
Sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya; “Takutlah kamu dengan firasat seorang mukmin. Sebab ia memandang sesuatu dengan cahaya Illahi.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Para kekasih Allah (aulia) terhadap makhluk adalah buta, tuli dan bisu. Jika hati mereka telah dekat kepada Allah Azza Wajalla, maka mereka tidak mendengar dan melihat selain-Nya. Mereka berada pada kedudukan antara Al-Jalal dan Al-Jamal, tidak berpaling ke kanan ataupun kiri. Bagi mereka tidak ada belakang, yang ada hanyalah depan. Manusia, jin, malaikat dan makhluk yang lain melayani mereka.
Demikian pula hukum dan ilmu. Karunia (fadhal) merupakan santapan dan penyegarnya. Mereka makan dari fadhal-Nya dan minum susu-Nya. Mereka minum, mereka merasa bising terhadap suara-suara manusia, tetapi mereka tinggal bersama-dengannya (makhluk). Mereka menyuruh makhluk melaksanakan perintah Allah SWT, mencegah makhluk dari mengerjakan larangan-larangan-Nya, sebagai penerus ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Merekalah pewaris yang sebenarnya.
Para kekasih Allah itu tidak pernah bertindak dan bersikap demi diri dan nafsunya sendiri. Mereka mencintai sesuatu karena Allah Azza Wajalla dan membenci sesuatu juga karena-Nya. Semuanya demi Dia, tidak ada bagian yang diberikan kepada selain-Nya.
Firman Allah SWT, yang artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama” (Q.S. Fathir :28).”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Terimalah nasib dengan zuhud, tidak dengan kebencian. Orang yang makan sambil menangis tidak sama dengan orang yang makan sambil ketawa, dalam menerima segala ketentuan-Nya. Senantiasalah hatimu dengan Allah Azza Wajalla. Berserah dirilah atas keburukan nasib. Kamu makan sesuatu yang diberikan oleh tabib dan sesuai dengan obatnya adalah lebih baik daripada makan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengetahui asal usulnya. Selama hatimu keras terhadap amanat, maka hilanglah rahmat darimu, dan hilanglah pula segala yang ada padamu. Hukum² syariat itu amanat yang dibebankan kepadamu, sedangkan kamu meninggalkan dan mengkhianatinya. Tidak berguna lagi jika amanat telah lenyap dari hatimu.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Andaikata tanpa karunia Allah Azza Wajalla, mana mungkin orang berakal mentadbir negara, bergaul dengan para penghuninya, yang telah dilanda sifat riak, nifak, zalim bergelimang syubhat dan haram. Benar telah tersebar kekufuran, Ya Allah. Kami mohon pertolongan kepada-Mu dari kefasikan kelancangan. Telah banyak kelemahan melanda para zindik. Sungguh telah ku bongkar rahasia rumah kamu. Tetapi aku mempunyai dasar yang memerlukan pembina. Aku mempunyai anak-anak yang memerlukan pendidikan. SEANDAINYA KU UNGKAP SEBAGIAN RAHASIAKU, tentu hal ini merupakan pangkal perselisihan antara aku dengan kamu..”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Nasehatilah dirimu terlebih dahulu, kemudian baru orang lain. Kamu harus memelihara nafsumu. Jangan kamu mengira kesalahan orang lain sebab, dirimu masih memerlukan perbaikan. Adakah kamu tau bagaimana cara membersihkan orang lain? Bagaimana menonton orang lain? Padahal yang dapat memimpin manusia adalah orang² yang awas. Hanya perenang ulung yang dapat menyelamatkan orang lain yang tenggelam dalam lautan. Hanya orang yang mengetahui Allah yang dapat mengarahkan umat manusia ke arah jalan-Nya. Tidaklah ucapan yang diperlukan untuk berbakti kepada Allah Swt melainkan perbuatan nyata.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Nafsu seseorang selalu menentang dan membangkang. Maka barangsiapa ingin menjadikannya baik, hendaklah ia bermujahadah, berjuang melawannya, sehingga terselamatkan dari kejahatannya. Hawa nafsu semuanya adalah keburukan dalam keburukan, namun apabila telah terlatih dan menjadi tenang, berubahlah ia menjadi kebaikan di dalam kebaikan.”
↑ (Syeh Abdul Qodir Jaelani) ↑
Dipetik Dari Buku: Al-Fath Ar-Rabbani (Hakikat Pengabdian), Wallahu A’lam.
“Syirik itu terdapat pada lahir maupun batin. Syirik lahir adalah menyembah berhala sedangkan syirik batin adalah berpegang kepada makhluk dan memandang mereka dapat memberi kemudaratan dan manfa’at.”
Wahai anak; “Janganlah kamu menuntut sesuatu kepada seseorang. Jika kamu mampu untuk memberi dan tidak mengambil (mencuri) maka lakukanlah. Jika kamu mampu melayani dan kamu tidak minta dilayani oleh orang lain maka lakukanlah.”
“Jadikanlah akhiratmu sebagai modalmu dan jadikan duniamu sebagai keuntunganmu. Gunakanlah seluruh waktumu untuk menghasilkan akhiratmu. Lalu apabila dari waktumu itu ada sedikit yang masih tersisa maka gunakanlah untuk berusaha dalam urusan duniamu dan mencari penghidupanmu.”
“Mudah-mudahan umat Islam diselamatkan dari bencana alam selama dia masih mau mendo’akan saudaranya yang seiman.”
“Yang paling beruntung adalah mereka yang mampu ikhlas mulai dari awal hingga akhirnya.”
“Berpikirlah, bahwasanya sesuatu yang kamu cintai di dunia ini tidak akan kekal selamanya. Tidak abadi dan pasti fana. Jika kamu telah menyadari hal ini, maka kamu tidak akan melupakan-Nya walaupun sekejap.”
“Sesungguhnya bencana terhadapmu bukan untuk menghancurkanmu melainkan sesungguhnya akan mengujimu, mengesahkan kesempurnaan imanmu dan menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu.”
“Orang itu dikatakan dekat dengan Allah selama dia meluangkan waktunya untuk berdzikir setiap hari.”
“Selama hidup di dunia ini, yang terbaik adalah menyelamatkan hati dari buruk sangka.”
Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”
Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Orang ini bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu) :
“Dia telah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu : “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”
jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”
Hai yang ternoda karena ketamakannya….andaikata kau bersama penghuni bumi bersatu untuk mendatangkan sesuatu yang bukan bagianmu, maka kalian semua tidak akan mampu mendatangkannya. Oleh karena itu tinggalkanlah rasa tamak untuk mencari sesuatu (rezeki) yang telah ditetapkan untukmu, maupun yang tidak ditetapkan untukmu. Apakah pantas bagi seorang yang berakal untuk menghabiskan waktunya memikirkan sesuatu yang telah selesai pembagiannya….?
Wahai Allah…Dzat yang mengetahui Kelemahanku dari memuji-Mu,…Aku memohon kehadirat-Mu…. sesempurna orang yang memuji-Mu,…Engkau bukakan haqeqat-haqeqat Asmamu & Sifat-Mu,…..dan kenalkan aku melalui Kesempurnaan-Mu yang Maha lembut.
“Bantulah orang fakir dengan sebagian harta kalian. Jangan pernah menolak pengemis, padahal kalian mampu memberikan sesuatu untuknya baik sedikit maupun banyak. Raihlah kasih sayang Allah dengan pemberian kalian. Bersyukurlah kepada Allah yang telah membuat kalian mampu memberi. Jika pengemis adalah hadiah dari Allah, sementara kalian mampu memberinya, mengapa kalian menolak hadiah itu?! Bohong kalau kalian mendengar nasehat dan menangis di hadapanku, tapi saat orang datang meminta uluran tangan, kalian malah membiarkannya. Itu menunjukkan bahwa tangisan kalian bukan karena Allah.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
Dunia Adalah Ladang dan Akhirat Adalah Tempat Tinggal :
“Wahai muridku, jangan jadikan apa yang kamu makan dan minum, yang kamu pakai, yang kamu nikahi dan berkumpul dengannya sebagai tujuan dan cita-cita. Semuanya adalah dorongan hasrat dan hawa nafsu.
Tujuan dan cita-cita hati adalah Allah al-Haq. Maka jadikanlah Allah dan segala yang ada pada-Nya sebagai tujuan dan cita-citamu. Dunia ada penggantinya yaitu akhirat. Makhluk ada penggantinya yaitu al-Khaliq.
Segala sesuatu yang kamu tinggalkan didunia, akan engkau dapati pengganti yang lebih baik didalam kehidupan yang akan datang. Anggaplah bahwa masih tersisa umur sampai hari ini, bersiaplah untuk kehidupan akhirat, karena kesempatan itu akan hilang dengan datangnya malaikat Izrail pencabut nyawa.
Dunia adalah ladang dan tempat singgah bagi manusia, dan akhirat adalah tempat diam. Jika semangat dari Allah telah datang, maka keduanya (dunia dan akhirat) akan tertutupi. Sehingga dia akan berdiri diantara keduanya, tidak kepada dunia dan tidak kepada akhirat.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
Hidup di Dunia Bagai Berteduh Di Bawah Pohon :
Rosulullah Saw tidur diatas sebuah tikar, ketika beliau bangun tampak bekas tikar itu di pinggangnya. Kemudian kami berkata: “Wahai Rosulullah bagaimana seandainya kami membuatkan kasur (alas tidur yang empuk) untuk anda?” Maka Beliau bersabda: “Apalah artinya dunia ini bagiku? Aku didunia ini hanyalah bagaikan seorang pengendara yang berteduh dibawah sebuah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.”
(HR. Tirmidzi)
Dunia Ini Tidak Berharga :
Rosulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya dunia ini dilaknat (dibenci karena tidak berharga) dan dilaknat (pula) apa yang ada didalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan segala yang mendekatkan kepada-Nya, orang alim dan orang yang menuntut ilmu.”
(HR. Tirmidzi)
Dunia di Tangan Bukan di Hati :
“Dunia boleh saja ditanganmu atau berada disakumu untuk engkau simpan dan pergunakan dengan niat yang baik. Tetapi jangan meletakkannya didalam hati. Engkau boleh menyimpannya diluar pintu (hati), tetapi jangan memasukkannya ke dalam pintu. Karena hal itu, tidak akan melahirkan kemuliaan bagimu.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
firman Allah Swt: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah senda gurau, permainan dan perhiasan”
Senda gurau, permainan, dan perhiasan bagi anak kecil yang bodoh, bukan untuk orang-orang dewasa yang memiliki akal sehat. Aku telah memberitahukan bahwa dunia hanya untuk orang yang bodoh yang tidak berakal sehat. Dan aku juga telah memberitahukan bahwa kalian diciptakan bukan untuk permainan dan sibuk dengan dunia dengan melupakan akhirat. Apabila engkau mengambil bagian dunia dengan hawa nafsu, keinginan, dan syahwat, maka apa yang engkau dapat darinya hanya berupa ular, kalajengking, dan racun. Sibukkanlah dirimu dengan akhirat, kembalikan hatimu untuk dekat dengan-Nya. Sibuklah dengan-Nya, setelah itu barulah engkau ambil apa saja yang datang kepadamu (dunia), melalui tangan kemurahan-Nya.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
Allah Tidak Memandang Dunia Karena Tidak Berharga :
Nabi Saw bersabda: “Sejak Allah menciptakan dunia, Dia tidak pernah memandangnya.” Hasan ra mengatakan bahwa maksudnya; Allah Swt tidak pernah memandangnya dengan pandangan rahmat-Nya karena kebencian-Nya. Sungguh dunia itu merupakan hijab (penghalang) yang besar. Dengan ujian dunia akan terbukti manakah orang yang bersih dan manakah orang yang cacat. Orang yang masih terdapat cinta dunia didalam hatinya tidak akan bisa sampai pada kelezatan bermunajat kepada-Nya. Karena cinta dunia itu berlawanan dengan Allah dan berlawanan dengan sesuatu yang dicintai-Nya.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Kefakiran adalah tidak punya sesuatu yang di butuhkan, dan jika tidak membutuhkan sesuatu maka dinamakan kaya.”
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
”Jika kamu mengerti makna suatu kefakiran, maka  semua yang ada selain Allah adalah fakir, karena membutuhkan sesuatu, dan hanya Allah sendiri yang kaya, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu pertolongan dari makhluk siapapun.“
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
“Semua yang ada tentu ada yang mengadakan, adapun yang mengadakan itu Dia-lah Allah Ta’ala, selain Dia adalah makhluk dan makhluk selalu membutuhkan, karena itu setiap makhluk adalah fakir: renungkan, Allah berfirman yang artinya:
“Allah itu kaya dan kamu sekalian adalah fakir”
(QS. Muhammad: 38)
Ini adalah fakir secara mutlak, fakir secara keseluruhan, namun yang kita maksudkan disini adalah fakir harta benda.
Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fakir, karena memang dia tidak membawa apa apa ketika dilahirkan, namun dalam mencari harta setiap orang dapat dilihat dari lima kriteria :
Pertama :
Apa bila dia diberi harta dia tidak suka, dia tidak mengambil harta itu dan benci, karena dia menjaga dirinya dari kejahatan harta dan bahayanya, orang seperti ini di namakan orang zuhud, yaitu orang yang memandang harta sama seperti batu dan tanah dan ini adalah tingkatan tertinggi.
Kedua :
Dia tidak gemar terhadap harta dan tidak pula membencinya, dia zuhud apa bila memperoleh harta, orang seperti ini di namakan orang yang ridho.
Ketiga :
Dia suka kepada harta dari pada tidak ada, tetapi kesukaannya itu tidak sampai membuat dia jadi rakus yang selalu kurang dan ingin bertambah, dia mau mengambil harta itu jika harta itu tidak syubhat dan halal secara mutlak, orang yang seperti ini di namakan orang yang qona’ah, yaitu orang yang menerima dengan ridho apa yang ada ditangannya sendiri, apa yang telah dimiliki,
Keempat :
Dia tidak punya harta lantaran lemah dan tak bisa mencarinya, dan seandainya masih mampu tentu di carinya sekalipun berpayah-payah, dia akan selalu sibuk mencarinya, orang seperti ini sekalipun tak punya harta, tergolong orang yang rakus dan tercela.
Kelima :
Yang dibutuhkan itu benar benar sangat dibutuhkan, seperti orang dalam keadaan lapar dan tak punya pakaian, maka mencari harta dalam keadaan seperti ini sekalipun sangat ingin, bukan di namakan cinta harta, karena yang tidak di miliki memang sangat di butuhkan.”
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
”Wahai hamba Allah, yang disebut kerja keras itu bukan terletak pada kekesatan pakaianmu dan makananmu, kerja keras adalah terletak pada sikap zuhud hatimu.“
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
Wahai hamba Allah, jagalah nikmat itu dengan bersyukur, terimalah perintah-Nya dengan membuka telinga, terimalah kesulitan dengan kesabaran dan kemudahan dengan syukur, karena demikianlah keadaan orang orang terdahulu, seperti para Rasul dan orang shalih, mereka selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan kepadanya dan mereka selalu bersabar atas musibah dan kesulitan yang sedang menimpa dirinya.”
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
”Sabar adalah suatu ketentuan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban, selain itu sabar adalah suatu kekuatan.“
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
”Wahai hamba Allah, terkadang Allah Ta’ala menjelaskan hukuman di dunia ini dengan memberikan ujian dan cobaan yang berbagai bentuk, seperti cobaan jasmani dan rohani yang berupa panyakit, kecelakaan, sakit ,gelisah, duka cita, rasa tidak aman, kehilangan harta kekayaan, kebakaran, di curi orang, dan kematian.“
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
“Ujian dan cobaan yang menimpa manusia itu ada dua penyebab, yaitu: Disebabkan kedurhakaan terhadap Allah oleh manusia itu sendiri sebagai balasan untuk menghapus dosa kedurhakaanya itu sendiri, dan agar manusia menjadi sadar atas kedurhakaanya itu.
Karena takdir Allah sendiri untuk menguji hamba-Nya dan kelak di akhirat akan di ganti dengan rahmat dan keridhaan-Nya, kalau yang di uji itu bersabar dan tawakal kepada-Nya.”

[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
”Cahaya adalah hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal-Nya, mengenal Rasul-Nya, serta mengetahui dan mengamalkan ajaran ajaran-Nya, perintah-Nya dilaksanakan dan larangan-Nya di tinggalkan jauh jauh.“
[Syeh Abdul Qodir Jaelani]
Wahai manusia, zuhudlah di dunia dan ambillah bagian-bagianmu yang kamu peroleh dari dunia dengan tangan takwa dan wara’ lalu carilah akhirat dan beramallah kamu untuk akhiratmu, sadarkanlah jiwamu dan taatlah kamu kepada Allah Ta’ala, nasehatilah jiwamu terlebih dahulu untuk mengabdi kepada-Nya, lalu nasehatilah orang-orang selain kamu, bagaimana jadinya kalau kamu memperbaiki orang lain sedang kamu sendiri buta ?!
Yang penting bagi kamu adalah, mendidik hatimu untuk selalu berbuat baik, tiada guna lidahmu mengajak orang lain, jika dalam hatimu masih bersarang kotoran dan dosa syirik, bagaimana manusia akan mengikuti ucapanmu, jika dalam hatimu penuh dengan noda dosa ?!
“Kamu jangan seperti orang munafik, orang yang tidak jujur dan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya dengan apa yang di ucapkannya, obatilah hatimu yang sakit sebelum kamu mengobati orang lain.”
“Janganlah kamu menjadi orang yang berlisan syukur, tetapi hatimu berpaling dari hak yang datang kepadamu, memang demikianlah kebanyakan orang.”
“Orang mukmin adalah orang yang tidak mau mengikuti kemauan hawa nafsunya dan hawa setan, jadikanlah hidup di dunia untuk mencari bekal buat akhirat, dan dalam setiap waktunya selalu dipergunakan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.”
Wahai hamba Allah, jagalah ketakwaan dan jagalah syari’at, siapkan dirimu untuk menekan kemauan nafsu,
Allah telah berfirman kepada Nabi dan para Rasul untuk menyampaikan berita gembira dan kabar ancaman !
”Dimanakah rasa syukur dari kamu wahai orang yang berpaling dari Allah ? wahai orang yang melihat nikmat datang dari selain Allah ? adakalanya kamu melihat nikmat itu datang dari selain Allah, suatu saat nanti kamu akan datang menghadap-Nya dan kamu akan melihat kesombonganmu sendiri.“
“Suatu kaum itu disibukkan untuk memberi kepada makhluk. Mereka mengambil dan memberi. Mengambil dari karunia dan rahmat Allah dan memberikan kepada fakir dan miskin yang ditimpa kesempitan.
Mereka tunaikan hutang orang yang berhutang yang tiada kuasa untuk melunasinya.
Mereka adalah raja-raja, bukan raja-raja dunia, karena raja-raja dunia itu mengambil dan tidak memberi, sedangkan kaum itu mengutamakan orang lain dan menunggu-nunggu orang yang tidak hadir.
Mereka mengambil dari tangan Allah bukan tangan makhluk. Usaha anggota badan mereka untuk makhluk, sedangkan usaha hati mereka untuk mereka sendiri. Mereka berinfak (memberikan harta) itu karena Allah bukan karena hawa nafsu, bukan karena pujian dan sanjungan.
Tinggalkan kaum yang sombong terhadap Allah dan terhadap makhluk, karena sombong itu termasuk sifat orang-orang pemaksa yang mana mereka [kelak] dibenamkan ke dalam neraka jahanam. Apabila kamu marah kepada Allah maka kamu sombong kepada-Nya.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Janganlah kamu melihat amalmu, walaupun anggota-anggota badanmu bergerak untuk amal dan hatimu beserta Zat yang mana amal itu ditujukan kepada Allah. Apabila hal ini sempurna bagimu maka hatimu menjumpai mata yang dapat melihat.  Makna menjadi bentuk, yang ghaib menjadi hadir, berita menjadi terang. Hamba apabila baik karena Allah maka Dia bersamanya dalam semua keadaan. Dia mengubahnya, menggantikannya dan memindahkannya dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.
Seluruhnya menjadi berarti, seluruhnya menjadi keimanan, keyakinan, pengetahuan, pendekatan dan kesaksian. Seluruhnya menjadi siang tanpa malam, sinar tanpa gelap, jernih tanpa keruh, hati tanpa nafas, rahasia tanpa kasar, fana tanpa wujud, ghaib tanpa hadir.
Seluruhnya menjadi kitab ghaib dari mereka dan dirinya. Seluruh ini pangkalnya adalah jinak kepada Allah sehingga kejinakan ini sempurna antara kamu dan Allah.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Makhluk dan Khaliq tidak berkumpul. Dunia dan akhirat juga tidaklah berkumpul dalam satu hati. Ada kalanya makhluk dan ada kalanya Khaliq di hatimu. Ada kalanya dunia dan ada kalanya akhirat. Ada kalanya terbayang bahwa makhluk ada di lahirmu sedang Khaliq di hatimu. Dunia di tanganmu sedang akhirat di hatimu. Adapun di dalam hati, kedua-duanya tidak berkumpul. Lihatlah kepada jiwamu dan pilihkan untuknya, jika ia menghendaki dunia maka keluarkanlah akhirat dari hatimu. Jika ia menghendaki akhirat maka keluarkanlah dunia dari hatimu. Jika ia menghendaki Tuhan maka keluarkanlah dunia dan akhirat dan apa yang selain-Nya dari hati.
Selagi di dalam hatimu masih ada sebesar semut yang selain Allah, maka kamu tidak melihat dekatnya Allah di sisimu, dan tidak bangkit kejinakan dan ketenangan kepada-Nya. Selagi di dalam hatimu masih ada dunia sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat akhirat di hadapanmu. Dan selagi di dalam hatimu terdapat akhirat sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat dekat kepada Allah.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
Puasanya Orang Zuhud & Puasanya Orang Arif :
“Orang yang zuhud itu berpuasa dari makan dan minum, sedangkan orang yang arif itu berpuasa tanpa diketahui.
Puasa orang zuhud itu siang hari, sedangkan puasa orang arif itu siang dan malam. Ia tidak berbuka dari puasanya sehingga ia bertemu Tuhan-nya.
Orang yang arif itu puasa tahunan, selalu demam. Puasa tahunan dengan hatinya, demam dengan rahasianya, dan ia tau bahwa sembuhnya itu adalah dengan bertemu Tuhan-nya dan dekat kepada-Nya.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Lelah itu selama kamu berkemauan untuk menuju dan berjalan kepada-Nya. Apabila kamu telah sampai dan habis jarak perjalananmu dan kamu berada di dalam rumah dekat dengan Tuhanmu maka hilanglah beban itu.
Maka tetaplah terhibur dengan-Nya yang berada di dalam hatimu, dan kamu akan bertambah sehingga kamu mengambil sesuatu di samping-Nya. Mulanya kamu kecil kemudian menjadi besar. Apabila kamu sudah besar maka hati penuh dengan Allah, maka tidak ada jalan dan tidak ada sudut bagi hati untuk selain-Nya.
Jika kamu ingin sampai kepada ini, maka jadilah kamu mengikuti perintah-Nya, mencegah segala larangan-Nya, berserah diri kepada-Nya dalam kebaikan dan keburukan, kaya dan miskin, mulia dan hina.”
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)
“Terkadang kamu meminta pertolongan kepada-Nya dengan menentang-Nya.”
“Penyesalan: perbaikilah hatimu, karena jika hati telah baik, segala tingkah lakumu akan menjadi baik.”
”Hati yang baik itu karena adanya takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala, bertauhid kepada-Nya dan ikhlas dalam beramal serta yakin akan kerusakan semua itu apa bila tidak ada tindakan-tindakan tersebut.“
(Syeh Abdul Qodir Jaelani)