Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Wednesday, March 11, 2015

fakta alquran

Apakah maksud Al-Quran?
Al-Quran adalah Kalamullah, diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W sebagai mukjizat melalui Malaikat Jibril A.S. dalam bahasa Arab sebagai panduan kepada manusia. Ia ditulis pada Mashaf dan dikira ibadah apabila membacanya. Dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Naas serta disampaikan kepada kita secara Mutawatir

Apakah bacaan Qiraat yang diamalkan oleh kebanyakan umat Islam sedunia termasuk Malaysia?
Qiraat riwayat Hafs An A’sim

Apakah surah terpanjang dan terpendek dalam Al-Quran?
Surah terpanjang ialah Surah Al-Baqarah manakala surah terpendek ialah Surah Al-Kauthar.

Apakah ayat yang terpanjang dalam Al-Quran?
Ayat yang terpanjang dikenali sebagai ‘ayat hutang’ iaitu ayat 282 Surah Al-Baqarah.

Berapa banyakkah jumlah Surah Makkiyyah dalam Al-Quran?
Jumlahnya ialah sebanyak 86 Surah.


Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Tajwid

 Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Tajwid

Tentu, tak dapat dibayangkan bagaimana sulitnya membaca Alquran andai hingga saat ini kalam Ilahi itu masih ditulis dalam huruf Arab yang belum ada tanda bacanya sebagaimana di zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Jangankan harakat fathah (baris atas), kasrah (baris bawah), dhommah (baris depan), dan sukun (tanda wakaf, mati), bentuk serta tanda titik-koma (tanda baca) saja tidak ada. Tentu, masih lebih mudah membaca tulisan Arab yang ada di kitab kuning yang gundul (tanpa harakat) karena umat Islam masih boleh mengenali huruf-hurufnya berdasarkan bentuk dan tanda bacanya. Misalnya, huruf ta, tsa, ba, nun, syin, sin, shad, tho', dan sebagainya walaupun tidak mengetahui terjemahannya. Beruntunglah, kekhawatiran-kekhawatiran ini cepat teratasi hingga umat Islam di seluruh dunia boleh mengenali dan lebih mudah dalam membaca Alquran. Semua itu tentunya karena adanya peranan dari sahabat Rasul, tabin, dan tabiit tabiin.Pemberian tanda baca (syakal) berupa titik dan harakat (baris) baru mulai dilakukan ketika Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Islam atau setelah 40 tahun umat Islam membaca Alquran tanpa ada syakal. Pemberian titik dan baris pada mushaf Alquran ini dilakukan dalam tiga fase. 

Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abdul Aswad Ad-dawly untuk meletakkan tanda baca (i'rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca. Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa' dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. 

Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin 'Ashim dan Hay bin Ya'mar. Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan Alquran bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan Alquran dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan Alquran baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab ('ajami). Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran. 

Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada. Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad. 

Sebagaimana mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah 'ain. Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Alquran adalah tajzi', yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata 'juz' dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri. Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca Alquran. Ini semua berkat peran tokoh-tokoh di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca Alquran.dia/sya/berbagai sumber 

Pemeliharaan Alquran dari Masa ke Masa Dalam Alquran surah Al-Hijr (15) ayat 9, Allah berfirman, ''Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.'' Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Alquran selama-lamanya hingga akhir zaman dari pemalsuan. Karena itu, banyak umat Islam, termasuk di zaman Rasulullah SAW, yang hafal Alquran. Dengan adanya umat yang hafal Alquran, Alquran pun akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman. 

Selanjutnya, demi memudahkan umat membaca Alquran dengan baik, mushaf Alquran pun dicetak sebanyak-banyaknya setelah melalui tashih (pengesahan dari ulama-ulama yang hafal Alquran). Alquran pertama kali dicetak pada tahun 1530 Masehi atau sekitar abad ke-10 H di Bundukiyah (Vinece). Namun, kekuasaan gereja memerintahkan agar Alquran yang telah dicetak itu dibasmi. Kemudian, Hankelman mencetak Alquran di Kota Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M atau sekitar abad ke-12 H. (Lihat RS Abdul Aziz, Tafsir Ilmu Tafsir, 1991: 49). Kini, Alquran telah dicetak di berbagai negara di dunia. 

Pemeliharaan Alquran tak berhenti sampai di situ. Di sejumlah negara, didirikan lembaga pendidikan yang dikhususkan mempelajari Ulum Alquran (ilmu-ilmu tentang Alquran). Salah satu materi pelajaran yang diajarkan adalah hafalan Alquran. Di Indonesia, terdapat banyak lembaga pendidikan yang mengajak penuntut ilmu ini untuk menghafal Alquran, mulai dari pendidikan tinggi, seperti Institut Ilmu Alquran (IIQ) hingga pesantren yang mengkhususkan santrinya menghafal Alquran, di antaranya Pesantren Yanbuul Quran di Kudus (Jateng). 

Demi memotivasi umat untuk meningkatkan hafalannya, kini diselenggarakan Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ), dari tingkatan satu juz, lima juz, 10 juz, hingga 30 juz. ''Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.'' (HR Bukhari). Adanya lembaga penghafal Alquran ini maka kemurnian dan keaslian Alquran akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, para penghafal Alquran ini akan ditempatkan di surga. Wa Allahu A'lam.

Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), Alquran berasal dari bahasa Arab yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Kata 'Alquran' adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja (fi'il madli) qaraa yang artinya membaca. Para pakar mendefinisikan Alquran sebagai kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir dan bagi orang yang membacanya termasuk ibadah. Al-Qur'anu huwa al-kitabu al-Mu'jiz al-Munazzalu 'ala Muhammadin bi wasithah sam'in aw ghairihi aw bilaa wasithah. Ada juga yang mendefinisikannya sebagai firman Allah yang tiada tandingannya. 

Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul, dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir yang dimulai dengan surat Alfatihah dan ditutup dengan surat Annas. Alquran terdiri atas 114 surat serta 30 juz dengan jumlah ayat lebih dari 6.000 ayat. Kalangan ulama masih berbeda pendapat mengenai jumlah ayat Alquran. Ada yang menyebutkan jumlahnya sebanyak 6.236 ayat, 6.666 ayat, 6.553 ayat, dan sebagainya. Perbedaan penghitungan jumlah ayat ini karena banyak ulama yang belum sepakat apakah kalimat Bismillahirrahmanirrahim yang ada di pembukaan surah dan huruf Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Yaa Sin, Shad, dan Qaaf termasuk ayat atau bukan. Inilah yang menyebabkan adanya perbedaan mengenai jumlah ayat. Namun demikian, hal itu tidak menimbulkan perpecahan di antara umat. Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. 

Para ulama membagi masa penurunan ini menjadi dua periode, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW. Sementara itu, periode Madinah dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun. Sedangkan, menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi kepada surat-surat Makkiyah (ayat-ayat Alquran yang turun di Makkah) dan Madaniyah (diturunkan di Madinah). 

Surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah, sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah. Sementara itu, dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada dalam Alquran terbagi menjadi empat bagian. Pertama, As-Sab'u al-Thiwaal (tujuh surat yang panjang), yaitu Albaqarah, Ali Imran, Annisa', Al A'raf, Al An'am, Almaidah, dan Yunus. Kedua, surat-surat yang memiliki seratus ayat lebih (Al Miuun), seperti surat Hud, Yusuf, Mu'min, dan sebagainya. Ketiga, surat-surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus ayat (Al Matsaani), seperti surat  Al Anfal, Alhijr, dan sebagainya. Keempat, surat-surat pendek (Al-Mufashshal), seperti surat Adhdhuha, Al Ikhlas, Alfalaq, Annas, dan sebagainya. sya   REPUBLIKA - Minggu, 22 Februari 2009        
Penulis : dia/sya/berbagai sumber

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/09/07/09/61193-sejarah-pemberian-tanda-baca-dan-tajwid

Tuesday, March 10, 2015

Saya nak jawap bersoalan Isu Karomah yg dilontarkan Oleh sahabat dri Wahabiyy

Saya nak jawap bersoalan Isu Karomah yg dilontarkan Oleh sahabat dri Wahabiyy
Sahabat dari Wahbiyy membantah kita dari pegangan abu hasan asyaari dan maa turidee mempercayai Karomah oleh para solehiin dan para Ulama. Hujjah mereka ialah para sahabat nabi dulu tak ada pun karomah yg pelik pelik.

ini jawapan saya :
Para Sahaabah telah punyai karoomah melebihi org yg terkemudian dari zaman Nabi Kita, kerana karomah yg mereka dapat ialah dapat bertemu, berjumpa dan dapat berbual dengan Nabi Kita.
Itulah karomah (kemuliaan) yg tersangat instimewa yg tiada tandinganya.]

**** (Dengan Kata Lain Yg Lebih Mudah Untuk Difahami ialah menjadi Sahabat Nabi Adalah Karoomah Paling Utama, para Nabi dan Rasul lain pun rasa cemburu kepada Ummat Nabi terutama Sahabat Nabi ***

timbul perkara pelik pelik bukan bermakna karoomah. itu bukan tanda karoomah. Karomah ialah kemuliaan.
Org org Soleh dan Ulama bukan bermatlamatkan perkara pelik... Yg mereka inginkan kemuliaan hati seperti bersih dan jilah hari mereka dari syirik khafi, bersih hati dari sifat mazmuumah dan hati mereka hidup siang malam sentiasa berzikir

ITULAH KAROOMAH SEBENAR !

RAFIDHOH amat membenci malaikat Jibril

RAFIDHOH amat membenci malaikat Jibril yang Allah sifati dengan ‘Ar Ruh Al Amin.’ Namun menurut Rafidhoh, malaikat Jibril telah berkhianat sebab memalingkan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Ali bin Abi Thalib justru disampaikan kepada Muhammad SAW. Sehingga mereka mengingkari sifat amanah pada Jibril. [Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hal.112]. Sifat membenci malaikat Jibril adalah perbuatan Yahudi. Allah befirman:
“Katakanlah, barang siapa yang memusuhi Jibril maka Jibril itu telah menurunkan Al-Qur’an ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi kaum Mukminin. Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya Jibril, dan Mikail maka sesungguhnya Allah akan memusuhi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 97-98)
Dalam ayat ini dijelaskan:
1. Barangsiapa yang memusuhi Jibril, maka ia adalah seorang kafir.
2. Mengingkari Jibril berarti mengingkari al-Quran.
3. Mengingkari Jibril berarti mengingkari Allah.
[Sumber: Bahaya Syiah Rofidhoh bagi Dunia Islam/Karya: Ust. Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori/Penerbit: Maktabah Daarul Atsar]

Wednesday, March 4, 2015

Dakyah Wahabi berjaya menarik ramai pengikut kerana slogan menarik mereka yang menyeru konon-kononnya

SIAPAKAH WAHABI?

Wahabi bukan kerana mereka tidak membaca Qunut Subuh lalu mereka dipanggil Wahabi, kerana tiga Mazhab ASWJ lain tidak pun membaca Qunut Subuh, itu perbezaan pandangan (khilafiyah) di kalangan para Imam Mazhab Empat; bukan juga kerana tidak membuat kenduri arwah kerana ada satu qawl dalam mazhab shafie yg tidak menggalakkannya, bukan juga kerana itu dan ini tetapi Wahabi adalah satu cara berfikir yang salah yang membentuk satu gerakan ekstrem yang boleh memecahbelah masyarakat. Kemuncak ekstrem dan radikal Wahabisme boleh sehingga membawa pertumpahan darah seperti IS,ISIL, ISIS, al-Qaeda, Taliban...semua itu adalah didikan Wahabi.

Dakyah Wahabi berjaya menarik ramai pengikut kerana slogan menarik mereka yang menyeru konon-kononnya:

-- jangan "taqlid"
-- jangan "mengikut membuta tuli"
-- jangan "taksub Mazhab"
-- "kembali kepada Al-Quran dan al-Sunnah"
dan banyak lagi...

[1] Wahabi sebenarnya adalah gerakan MEMBIDAAHKAN amalan orang lain yang tidak sehaluan dengan mereka dan merasakan hanya amalan mereka sahaja yang betul. Hanya mereka sahaja kononnya mengikut "Sunnah". Mereka kelompok manusia yang tidak boleh berbeza pandangan, tidak menghormati ikhtilaf atau khilafiyyah (perbezaan pendapat di kalangan ulamak). Wahabi menolak bahawa Bid'aah ada dua bentuk (i) Baik (Hasanah) dan (ii) Sesat (Dolalah). Bagi Wahabi semua Bid'aah sesat dan masuk neraka. Oleh itu setiap Bid'aah adalah mungkar dan bagi mereka wajib ditentang. Lalu mereka menentang semua Bid'aah walaupun Bid'aah Hasanah, mereka membesarkan perbezaan pendapat dan membikin kecoh seantero dunia tanpa boleh berlapang dada.
Pra-syarat menjadi Wahabi nampaknya macam kena memperbanyak menuturkan "BID'AAH" terhadap amalan orang lain dan menjadikan ianya "wirid" harian.

[2] Wahabi MELARANG BERAMAL apabila tiada nas khusus untuk amalan tersebut walaupun di sana ada perintah umum daripada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Bagi Wahabi setiap ibadat kena ada nas dan dalil, walhal perintah yang bersifat umum sudah ada namun mereka menolaknya. Wahabi marah membaca Surah Yasin malam Jumaat kerana tiada nas. Bukankah perintah memperbanyakkan membaca al-Quran sudah cukup banyak dan memadai? Adakah nas melarang membaca Yasin malam Jumaat? Tiada larangan. Lalu apa salahnya membaca?

[3] Wahabi adalah gerakan MENSYIRIKKAN orang lain: tawassul bagi mereka syirik kecuali tawassul dengan amalan soleh, dan dengan Asmaul Husna saja. Walhal para Sahabat dan Salafus Soleh bertawassul dengan pelbagai bentuk lain;

[4] Wahabi gerakan MENTAJSIMKAN Allah SWT mensifatkan Allah "bertangan", "duduk" atas Arasy, "ketawa", "Allah di atas langit" dan lain-lain. Wahabi menolak takwil yang dibawa oleh manhaj Asha'irah dan Maturidiyyah sedangkan manhaj Asha'irah itu lebih selamat daripada mensifatkan Allah dengan sifat makhluk.

[5] Wahabi juga gerakan MENTADHA'IFKAN hadith dan MEMARDUDKAN hadith dhaif, menolak penggunaan hadith-hadith dhaif dan membakulsampahkan semua hadith-hadith dhaif. Sedangkan sejak seribu tahun lebih para ulama hadith membenarkan penggunaan hadith dhaif dalam hal fadhailul 'amal dan targhib wa tarhib. Kiblat rujukan hadith Wahabi ialah Sheikh Nasruddin Al-Albani. Mereka tidak sedar mereka bertaqlid dan mengikut membuta tuli apa sahaja takhrij hadith oleh al-Albani. Ulama rujukan Wahabi pula ialah sekalian "kibarul ulama" Saudi hari ini manakala kitab-kitab rujukan Wahabi ialah kitab karangan Muhammad Abdul Wahab. Mereka membutakan mata dan memekakkan telinga apabila didatangkan hujah daripada para ulamak lain yang muktabar namun tidak sealiran dengan mereka.

[6] Wahabi gerakan MEMBURUKKAN ahli Sufi dan Tasawuf. Mereka secara terpilih memetik yang mana sesuai dengan fikrah mereka kitab-kitab Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Al-Dhahabi, al-Syawkani khususnya di bab memburuk dan mencemuh para Sufi kerana Wahabi gerakan anti-Sufi. Walhal Ibn Taymiyyah sendiri adalah pengikut tarekat Qadiriyyah. Wahabi Malaysia ada yang mengatakan tasawuf lebih kotor dan jijik daripada air longkang. Sedangkan Sufi ada yang baik dan ada yang sesat sepertimana umat Islam yang lain juga amnya: ada yang Soleh, ada Munafik dan ada yang berdosa. Sufi juga tidak maksum. Bahkan Imam Ghazali RA sendiri turut mengkritik "Sufi palsu" walaupun beliau sendiri seorang ahli Sufi.

[7] Wahabi MENOLAK Imam al-Ghazali RA dan amat jarang sekali kita mendengar mereka mengutip kalam Imam al-Ghazali RA. Bagi mereka Imam al-Ghazali RA Hujjatul Islam itu jahil hadith dan Sufi.

[8] Wahabi TIDAK BERPEGANG KEPADA MAZHAB. Kata mereka zaman Nabi SAW mana ada mazhab. Mereka mendakwa berpegang terus kepada "Al-Quran dan As-Sunnah". Lalu kita bertanya Empat Mazhab ASWJ itu berpegang kepada apa jika bukan kepada al-Qur'an dan Al-Sunnah?

Itulah antara ciri-ciri utama Wahabi (masih banyak lagi) dalam bahasa yang mudah difahami oleh orang awam. Sandaran ilmiah bukan tempatnya di ruangan terbatas ini dan boleh dirujuk buku-buku yang banyak berada di pasaran. Ini hanyalah sekadar panduan umum untuk orang awam yang ringkas dan pantas bagi mengenali Wahabi agar tiada lagi yang terkeliru dengan suara-suara membela Wahabi dan mahukan penjelasan "Siapakah Wahabi" sebenarnya.

Pendokong Wahabi malu mengaku diri mereka Wahabi kerana nama Wahabi begitu jijik apabila mereka melakukan kekejaman membunuh orang yang tidak sealiran mereka sejak dahulu lagi. Mereka malu mengaku Wahabi lalu mendakwa mereka kononnya mengikut manhaj Salafus Soleh, merekalah kononnya "SALAFI". Hari ini jangan dicari orang yang mengaku Wahabi, tiada akan anda temui, namun ciri-ciri Wahabi di atas ada pada mereka walaupun mereka cuba berselindung atas pelbagai nama lain.

Ada ketikanya mereka cuba menyembunyikan punca kenapa mereka digelar Wahabi, kononnya Wahabi itu "hantu", "momok" dan tidak wujud. Kenal dulu ciri-ciri Wahabi maka tahulah anda siapa pendokong mereka dan adakah Wahabi wujud di kawasan anda atau hanya sekadar "hantu".

Kalau ada yang melenting apabila Majlis Fatwa Negeri Sembilan mengharamkan penyebaran ajaran Wahabi, maka hampir pasti merekalah sebenarnya pendokong tegar Wahabi (yang malu mengaku). Hati-hati dengan mereka ini walaupun petah berbicara dan mulut penuh dengan ayat-ayat al-Qur'an dan al-Hadith. Ada Wahabi Malaysia yang sangat terkenal dan bicara memukau sehingga ramai orang awam tertipu. Ayat-ayat al-Qur'an dan al-Hadith ditafsir mengikut kesesuaian fikrah mereka. Mereka mengajar kitab-kitab imam-imam Ahlu Sunnah wal Jamaah, misalnya kitab Hadith Empat Puluh Imam Nawawi RA, tetapi menafsirkan atau mensyarahkan mengikut fikrah Wahabi mereka.
Dengan pengharaman Wahabi di Negeri Sembilan dan Perak, moga-moga makin ramai yang sedar dan makin jelas siapa pendokong Wahabi sebenar yang bertopeng dan begitu licik selama ini. Jangan terkejut jika ustaz yang anda kagumi selama ini itu sebenarnya mungkin pendokong Wahabi. Kita mengharapkan semua negeri-negeri lain akan turut sama mengharamkan penyebaran faham Wahabisme ini kerana mereka memecahbelah dan menimbul keresahan masyarakat.

Apabila kita mengetahui manhaj benar ASWJ, maka senanglah kita memahami kebatilan fikrah yang lain. Kenali kebenaran itu dahulu, maka kamu akan kenal ahli-ahlinya seperti ungkapan Sayyidina Ali RA:

لا يعرف الحق بالرجال اعرف الحق تعرف اهله

Dengan kaedah yang sama, kenal dulu ciri-ciri Wahabi maka tahulah anda siapa pendokong mereka.

Moga-moga Allah SWT membimbing kita semua dan mereka mengikut manhaj Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang diredhaiNya dan mempersatukan umat Islam yang semakin parah berpecah. Amin.
Wallahu'alam

Monday, March 2, 2015

Golongan Penjual Agama - Ustaz Shamsuri Hj Ahmad


Zone Kuliah

~ Pesan Nabi kepada orang yang rapat dengan pemerintah
~ Perkara yang mengundang fitnah
~ Tujuan kata "betul" kepada benda salah
~ Benda yang banyak terjadi dikalangan alim ulama
~ Doa kepada Allah untuk Sultan Muhammad V

Sunday, March 1, 2015

Jawapan Syiah Yg Paling Lawak

Jawapan Syiah Yg Paling Lawak