Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Saturday, March 19, 2016

Janganlah kamu menyibukkan dirimu, dengan apa yang tidak ditakdirkan untukmu."

"Apa yang sudah ditakdirkan untukmu, Pasti akan datang. Apa yang bukan untukmu, pasti tidak akan datang padamu."

"Maka, sibukkanlah dirimu dengan Tuhanmu. Janganlah kamu menyibukkan dirimu, dengan apa yang tidak ditakdirkan untukmu."

Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad رحمه الله تعالى

Hukum tawassul

Arti Tawasul dan Hukum Tawasul - Berikut ini adalah artikel mengenai arti tawasul dan hukum tawasul menurut ahlussunnah wal jamaah.

Arti Tawasul adalah mendekatkan diri atau memohon kepada Allah SWT dengan melalui wasilah (perantara) yang memiliki kedudukan baik di sisi Allah SWT.

Wasilah yang digunakan bisa berupa nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh yang kita lakukan, dzat serta kedudukan para nabi dan orang shaleh, atau bisa juga dengan meminta doa kepada hamba-Nya yang sholeh. Allah SWT berfirman :
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَة
Artinya : Dan carilah jalan yang mendekatkan diri ( Wasilah ) kepada-Nya. (Al-Maidah:35).

Menurut jumhur Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, tawasul dengan segala ragamnya adalah perbuatan yang dibolehkan atau dianjurkan. Kebolehan tawasul dengan nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh dan meminta doa dari orang sholeh telah disepakati, bahkan oleh kelompok yang keras sikapnya terhadap tawasul ini, sehingga perlu kami paparkan dalil-dalilnya panjang lebar. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul.
 
Hukum Tawasul - Bertawasul dengan nabi dan orang-orang shaleh kerap menjadi permasalahan. Contoh sederhana tawasul jenis ini adalah ketika seseorang mengharapkan ampunan Allah SWT. Misalnya ia berdoa, “ Ya Allah, aku memohon ampunanmu dengan perantara nabi-Mu atau Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.” Terlihat jelas dalam bertawasul, nabi atau orang sholeh hanyalah perantara, sedangkan yang dituju dengan do’a hanyalah Allah SWT semata. Dengan tawasul, ia tidak menjadikan nabi dan orang shaleh tersebut sebagai tuhan yang disembah.

Namun kenyataan sederhana ini tidak bisa dipahami oleh sebagian orang yang mengaku mengikuti sunnah namun kenyataannya adalah jauh dari sunnah. Mereka menganggap tawasul jenis ini adalah bentuk menyekutukan Allah SWT. Seorang Syaikh Wahabi Abu Bakar Al-Jaziri berkata mengenai Tawasul: “ Sesungguhnya berdoa kepada orang-orang shaleh, Istighosah (meminta tolong) kepada mereka dan tawasul dengan kedudukan mereka tidak terdapat didalam agama Allah ta’ala, baik berupa ibadah maupun amal shaleh sehingga tidak boleh bertawasul dengannya selama-lamanya. Bahkan itu adalah bentuk menyekutukan Allah SWT di dalam beribadah kepada-Nya, hukumnya haram dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam serta mengakibatkan kekekalan baginya di neraka Jahannam.”(Aqidatul Mu’min, hal 144). Fatwa ini sangat tendensius dan tidak berbobot ilmiah.
Dalil - dalil Hukum Tawasul
Dalil Pertama Mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits shahih tentang Syafaat yang diriwayatkan oleh para hufadz dan ahli hadits. Pada hari kiamat, ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, mereka mengalami kepayahan yang sangat. Mereka bertawasul dengan mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan supaya Allah SWT mengistirahatkan mereka dari penantian yang panjang.
Dalil kedua tentang Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits dari sahabat Utsman bin Hunaif yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, an-nasai, ath-Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi dengan sanad yang shahih. Diriwayatkan dari Utsman bin hunaif bahwa seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW Memohon kepada Rasulullah SAW berdoa untuk kesembuhannya. Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau ingin, aku akan doakan. Namun jika engkau bersabar maka itu lebih baik.”Lelaki itu tetap berkata, “Doakanlah.”Nabi SAW lalu memerintahkan kepadanya untuk berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa berikut: “Ya Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad, nabi yang rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku denganmu agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, izinkanlah ia memberikan syafaatnya kepadaku…” kemudian lelaki itu bisa melihat.
Hukum Tawasul di dalam hadits riwayat ath Thabrani dan al-Baihaqi terdapat tambahan bahwa shabat Utsman bin Hunaif di kemudian hari mengajarkan doa tersebut kepada seorang lelaki agar hajatnya terpenuhi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Tambahan hadits ini dishahihkan oleh ath Thabrani. Al-Haitsami dalam Majma Zawaid menetapkan pendapat ath Thabrani mengenai keshahihannya. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa lelaki buta meminta doa kepada Nabi SAW, namun Nabi tidak mendoakannya melainkan mengajarkan doa yang berisi bertawasul dengan nabi saw. Ini menunjukkan bertawasul dengan nabi saw. boleh.
Seandainya tawasul ini syirik maka tidak mungkin Nabi SAW mengajarkannya kepada orang buta tersebut. Para pengingkar tawasul akan berusaha memalingkan makna hadits tersebut dengan takwil yang jauh dari makna dzohirnya. Mereka yang mengatakan yang dimaksud orang buta tersebut bukan bertawasul dengan nabi saw melainkan bertawasul dengan meminta doa Nabi saw. Perkiraan ini keliru sebab hadits tersebut tidak menjelaskan bahwa Nabi saw. berdoa. Bahkan yang disebutkan adalah bahwa Nabi saw. meminta orang buta itu berdoa dengan menyebut nama beliau dalam doanya sebagai perantara. Jika itu adalah bentuk tawasul dengan doa, pasti Nabi saw. tidak perlu repot-repot mengajarkan doa yang panjang itu. Beliau hanya perlu menengadahkan tangan dan berdoa.
Dalil lain mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan dzat adalah hadits yang disebutkan dalam shahih Bukhari bahwa sayidina Umar ra meminta hujan pada masa kekeringan dengan sayidina Abbas, paman Nabi saw. seraya berkata:“Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu SAW, dan sesungguhnya kami sekarang bertawasul kepadamu dengan paman Nabi kami.” Maka hujanpun turun.Para ulama menyebutkan bahwa tawasul sayidina Umar ini bukan dalil tidak bolehnya bertawasul dengan nabi saw setelah wafatnya, sebab telah berlalu dalil mengenai tawasul para sahabat dengan Nabi saw setelah wafat. Ini adalah dalil mengenai kebolehan bertawasul dengan hamba yang sholeh selain nabi. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tawasul tidak harus dilakukan dengan hamba yang paling utama. Shabat Ali bin Abi Thalib lebih utama dari sahabat Abbas, tapi justru sahabat Abbas yang dijadikan wasilah. Tawasul dengan sahabat Abbas pada hakikatnya juga tawasul dengan Rasulullah SAW. Kalau bukan karena dia adalah kerabat dengan posisinya dengan Rasulullah saw., maka tidaklah beliau dijadikan tawasul. Berarti ini adalah bentuk bertawasul dengan nabi juga. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul
Imam as-Subki dan Ibnu Taimiyah Tentang Hukum Tawasul
Pendapat mengenai hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan Nabi diperkuat dengan kesepakatan para ulama salaf dan kholaf. Imam as-Subki mengatakan: “Bertawasul, meminta pertolongan dan meminta syafaat dengan perantara Nabi kepada Allah adalah baik. Tidak ada seorangpun dari kaum salaf dan kholaf yang mengingkari hal ini sampai datang Ibnu Taimiyah. Ia mengingkari hal ini dan melenceng dari jalur yang lurus, memunculkan ide baru yang tidak pernah dikatakan oleh ulama sebelumnya sehingga terjadilah keretakan dalam islam.”

Dalam ucapannya, Imam as-Subki menegaskan bahwa kebolehan bertawasul dengan Nabi disepakati sampai datang Ibnu Taimiyah. Namun faktanya, Ibnu Taimiyah sendiri sebenarnya tidak mengingkari kebolehan bertawasul kepada Nabi. Yang beliau ingkari adalah istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi SAW, bukan Tawasul.

Ibnu Katsir salah satu murid Ibnu Taimiyah menceritakan mengenai tuduhan yang ditujukan kepada Ibnu Taimiyah: “Kemudian Ibnu Atho’ menuduhnya (Ibnu Tiaimyah) dengan banyak tuduhan yang tidak bisa dibuktikan satu pun. Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata, “Tidak boleh beristighosah selain kepada Allah, tidak boleh beristighosah kepada Nabi dengan istighosah yang bermakna ibadah. Namun boleh bertawasul dan meminta syafaat dengan perantara Beliau (Nabi SAW) kepada Allah.” Maka sebagian orang menyaksikan menyatakan, ia tidak memiliki kesalahan dalam masalah ini.” (Bidayah Wa Nihayah juz 14 hal 51).

Jadi tampak jelas bahwa (Hukum Tawasul) bertawasul dengan Nabi sama sekali tidak diingkari oleh Ibnu Taimiyah, sedangkan tuduhan yang dialamatkan kepada beliau itu keliru. Bahkan fatwanya, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hukum tawasul dengan Nabi disyariatkan dalam berdoa. Beliau mengatakan:“Termasuk ke dalam hal yang disyariatkan adalah bertawasul dengannya ( Nabi SAW ) di dalam doa sebagaimana terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi dan dishahihkan olehnya bahwa Nabi SAW mengajarkan seorang untuk berdoa, “Wahai Allah, sesungguhnya aku bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawasul dengan perantaramu kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku itu. Wahai Allah, jadikan ia orang yang memberi syafaat kepadaku.”Tawasul yang seperti ini adalah perbuatan yang baik. Sedangkan berdoa dan beristighosah kepadanya ( Nabi SAW ), maka itu merupakan perbuatan yang haram.

Perbedaan di antara keduanya telah disepakati dikalangan umat muslim. Orang yang bertawasul sebenarnya hanya berdoa kepada Allah, menyeru kepada-Nya dan memohon pada-Nya. Ia tidak berdoa selain pada-Nya. Ia hanya menghadirkannya ( Nabi SAW ). Adapun orang yang berdoa dan meminta tolong, maka berarti ia memohon kepada yang ia seru dan meminta darinya, serta meminta tolong dan bertawakal kepadanya, sedangkan Allah merupakan Tuhan semesta alam. (Majmu Fatwa juz 3 hal 276). Berdoa dan beristighosah yang dilarang Ibnu Taimiyah seperti sudah dijelaskan adalah dengan makna beribadah. Semua ulama bersepakat bahwa beribadah kepada Nabi Muhammad SAW adalah Syirik, berbeda dengan beribadah kepada Allah dengan melalui Nabi Muhammad yang malah disyariatkan.

Muhammad bin Abdul Wahab Tentang Hukum Tawasul
Berbeda dengan pengikutnya mengenai hukum tawasul yang menghukumi syirik kepada orang yang bertawasul dengan Nabi SAW dan orang Sholeh, ternyata pendiri Wahabi Muhammad bin Abdul Wahab manganggap masalah tentang hukum tawasul adalah masalah ijtihadiyah yang tidak perlu diperselisihkan.

Dalam kumpulan tulisannya, disebutkan bahwa beliau pernah berfatwa: "Mengenai adanya sebagian ulama yang memperbolehkan untuk bertawasul dengan orang-orang sholeh dan sebagian lain yang hanya mengkhususkan kebolehan itu dengan Nabi SAW saja, maka mayoritas ulama melarangnya dan tidak menyukainya. Ini merupakan satu masalah fiqih walaupun pendapat yang benar menurut kami adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa bertawasul adalah makruh. Namun kami tidak mengingkari orang yang melakukannya karena tidak ada ingkar atas permasalahan-permasalahan ijtihadiyah. Namun pengingkaran kami hanya ditujukan bagi orang yang berdoa kepada makhluk dengan lebih mengagungkannnya daripada kita menyeru kepada Allah".(Majmu Mualafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab juz 2, hal 41 cetakan Darul Qasim)

Pernyataan beliau keliru dalam hal bahwa jumhur ulama tidak menyukai tawasul dengan Nabi SAW dan orang sholeh, sebab kenyataannya justru para ulama sepakat menganggap hal itu baik. Namun sikap beliau tentang tawasul jelas itu adalah masalah ijtihadiyah. Muhammad bin Abdul Wahab tidak mengingkari tawasul. Yang beliau ingkari adalah jika seorang mengagungkan orang sholeh lebih daripada pengagungannya kepada Allah SWT. Tidak ada seorang muslim pun yang bertawasul dengan menganggap wasilahnya lebih agung dari Allah SWT.

Jika Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah mengingkari bertawasul dengan Nabi maupun orang Shaleh, dari mana kaum Wahabi mendapat ajaran yang menganggap syirik orang yang bertawasul? - Arti Tawasul dan Hukum Tawasul
Sumber: Rubrik Cahaya Nabawi
http://cintai-ulama.blogspot.my/2014/11/arti-tawasul-dan-hukum-tawasul.html

KETIKA ABU JAHAL MINTA TOLONG KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

KETIKA ABU JAHAL MINTA TOLONG KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Oleh : Al- Maghfurlah Assayid Munzir Alaihi Rahmatullah

Diriwayatkan didalam Sirah Ibn Hisyam , ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya , di saat itu Abu Jahl telah menunggu dari kejauhan , ia telah menggali lubang agar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam jatuh terperangkap kedalam lubang dan celaka, kemudia ia akan mentertawakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata :

“ seorang Rasul terperangkap kedalam lubang , padahal ia mempunyai wahyu dari Tuhan tetapi tidak mengetahui ada perangkap di depannya “ .

Lubang sudah digali di depan pintu rumah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi nabi tidak keluar, pintu diketok nabi tetap tidak keluar , diketok kedua kalinya nabi pun tidak keluar , kemudian pintu diketok untuk ketiga kalinya maka Rasulullah membuka pintu dan mengagetkan Abu jahl kemudian Abu Jahl kaget dan mundur akhirnya ia masuk sendiri kedalam lubang yang digalinya , lalu siapa yang ia minta pertolongan saat itu ? ialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Teman-teman Abu Jahl yang menyaksikan Abu Jahl yang ingin mencelakakan nabi dari kejauhan, berhasil atau tidak . Maka ketika mereka melihat Abu Jahl yang terjatuh kedalam lubang itu , mereka pun lari takut kepada Nabi Muhammad dan tidak mau menolong Abu Jahl , maka siapa yang akan menolongnya , siapa yang ia panggil ? Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Ia memanggil “ Ya Muhammad !” ,

tidak salahkah ia menggali lubang untuk mencelakakan nabi Muhammad dan setelah terpuruk sendiri ia meminta bantuan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

kalau kata tetangga sebelah sirik tuh , mintalah kepada Allah jangan minta kepada manusia

Maka tangan mulia itupun terulur untuk mengangkat tangan Abu Jahl , padahal itu musuhnya yang selalu menghalangi dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , tetapi ia diangkat dan diselamatkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , menyelamatkan Abu Jahl dari perangkap yang telah ia buat untuk mencelakakan dirinya,kenapa? padahal jika nabi Muhammad membunuhnya maka berkuranglah satu orang yng menjadi penghalang dakwah , sudah jelas-jelas siang dan malam ia selalu memerangi dakwah sang Nabi di Makkah , biarkan saja jika ia mati dalam perangkap itu karena akan bertambah mudah dakwah sang nabi . Namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menyelamatkan orang yang paling jahat didalam dakwahnya , kalau bisa ia selamat dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala , kalau bisa ia selamat dari api neraka , maka beliau selamatkan Abu Jahl barangkali ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam supaya ia selamat dari api neraka , demikian indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Wallahu`alam
Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa 'ala Jasadihi filajsad, wa alaa Qabrihi filqubuur"
Artinya

(wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur

“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”

dan jangan Lupa membaca Al-qur'an, jangan lewatkan seharipun tanpa membaca Al-qur'an jadikan bacaan yg paling anda senangi, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Cinta Allah besar pada pecinta Alqur'an, dengan memahaminya atau tidak dg memahaminya

Thursday, March 17, 2016

Kisah Sayyidatina Fatimah mewasiatkan jenis kerandanya

KISAH TELADAN

_Habib Bagir BSA_

Sayyidah Fathimah Azzahra puteri tercinta Rasulullah ﷺ, ketika berada di depan rumah Baginda ﷺ , tiba-tiba ada janazah yang hendak dibawa itu lalu di depan sayyidah Fathimah Azzahra. Saat itu Sayyidah Fathimah bersama Sayyidah Asma binti khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Sayyidah Fathimah setelah kepergian Rasulullah ﷺ.

Menangis Sayyidah Fathimah teresak-esak hingga membuat Sayyidah Asma panik lalu Beliau bertanya, “ wahai Putri Rasulillah, kenapa engkau menangis melihat janazah itu? ada apa dengan janazah itu? ”

Sayyidah Fathimah menjawab, "setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan di bawa ke perkuburan dengan di pikul oleh orang-orang yang membawanya?”

*dahulu jika ada yang meninggal akan dipikul di Atas bahu

Lalu Sayyyidah Asma menjawab, “Tentu wahai putri Rasulullah? ”
Lalu kata Sayyidah Fathimah,”
"Dan akupun kelak akan di bawa kekubur seperti itu?”

Sayyidah Asma menjawab, “na'am Ya bintu Rasulillah”. Lalu Sayyidah Fathimah berkata, "sebab itu yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal, kemudian di bungkus kain kafan dengan rapat lalu di angkat di atas Bahu orang-orang yang membawaku kekubur, sementara orang yang mengiring janazahku akan melihatku, sungguh aku sangat malu saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku "
Kemudian Sayyidah Asma berkata ” wahai putri Rasulullah, dahulu aku ke negeri Habsyah aku melihat janazah yang di bawa kekubur, janazah diletakkan di sebuah tempat yang di sebut keranda, aku pikir itu boleh menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh janazah yang dibawa”.

Mendengar cerita Sayyidah Asma ini tiba-tiba tangis Sayyidah Fathimah terhenti, dan wajah nya berubah berseri-seri sambil berkata, "wahai Asma sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat di bawa kekuburan".

Dan benar setelah Sayyidah Fathimah meninggal, maka di buatlah keranda untuknya.

---

Saat ini, di zaman ini! Adakah sifat mulia sayyidah Fathimah terbenak pada wanita yang berada di sekeliling kita?

Ana Uhibbuki Yaa Sayyidah Fathimatuzzahro.. Sudikah Engkau kelak memandang diri yg hina ini ������

Wednesday, March 16, 2016

EMPAT TINGKATAN MANUSIA

EMPAT TINGKATAN MANUSIA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan:

"Terdapat empat jenis manusia:

Pertama, manusia yang tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh, dan hina. Mereka ini tak pernah ingat kepada Allah. Tak ada kebaikan dalam diri mereka. Mereka ini bagai sekam yang tak berbenih, dimana Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya.

Kerana itu, waspadalah jangan menjadi seperti mereka. Ini adalah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni neraka. Mari berlindung kepada Allah dari mereka.

Hiasilah dirimu dengan makrifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan agama, menjadi pemimpin dan penyeru agama. Ingatlah, kau harus mengajak mereka taat kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa.

Kedua, manusia berlidah, tapi tak berhati. Mereka berkata bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah SWT, tapi mereka sendiri menjauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam lautan noda.

Kerana itu, menjauhlah dari mereka agar kau tak terseret oleh manisnya lidah mereka, yang kelak api dosanya membakarmu, lalu kebusukan hatinya akan membinasakanmu.

Ketiga, manusia berhati tapi tak berlidah. Mereka adalah Mukmin yang telah diberkahi, diberi pengetahuan tentang noda-noda dirinya, dikurniai hati yang mencerahkan, dan menyedari mudaratnya bergaul dengan manusia, kekejaman dan kekotoran lidah, dan meyakini bahawa keselamatan manusia ada pada sikap diam. Sebagaimana sabda Nabi, "Barangsiapa selalu diam, maka ia memperoleh keselamatan." (HR Ahmad dan At-Tirnidzi).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya pengabdian kepada Allah terdiri dari sepuluh bahagian, dan yang sembilan bahagian dari itu adalah sikap diam."(HR Ibnu Abi Dunya).

Hunad Ibn As-Sari dalam kitab Az-Zuhud meriwayatkan hadis dari Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah SAW bersabda, "Belumkah aku beritahukan pada kalian ehwal ibadah paling ringan dan mudah bagi badan? (ia adalah) diam dan berakhlak baik."

Mereka adalah para wali Allah, yang dalam rahsia-Nya tersembunyi, dilindungi, diberkahi dan dirahmati-Nya.

Kerana itu, kau harus mencari, mendekati dan berguru kepada orang-orang mulia ini. Layanilah dan cintailah mereka.

Keempat, manusia yang berlidah dan berhati. Mereka adalah orang-orang yang diundang ke dunia ghaib, yang dibalut pakaian kemuliaan, hal seperti ini yang disebut dalam Hadis, "Barangsiapa yang mengetahui dan bertindak sesuai pengetahuannya dan memberikannya kepada orang lain, maka dia akan diundang ke dunia ghaib dan menjadi mulia." (HR An-Nasa'i).

Mereka ini adalah orang 'alim yang memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yang sempurna tentang-Nya, dan Dia menganugerahkan kepadanya rahsia-rahsia yang disembunyikan-Nya dari yang lain. Dia memilihnya, mendekatinya, membimbingnya, memperluas hatinya agar dapat menampung rahsia dan pengetahuan hingga menjadikanya pekerja di jalan-Nya, penyeru hamba-hamba-Nya kepada kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan-perbuatan keji dan menjadi hujjatullah di tengah mereka.

Mereka menjadi pemandu, pembimbing, perantara, seorang siddiq dan saksi Al-Haqq, wakil para nabi, dan pilihan Allah.

Maka, orang semacam ini berada pada puncak tertinggi tingkatan manusia. Tak ada maqam di atas ini, kecuali maqam para Nabi. Adalah kewajipanmu untuk mentaati mereka, dan jangan sekali-kali memusuhinya. Sungguh keselamatan terdapat pada ucapan dan kebersamaan dengan mereka.

-- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adb as-Suluk wa at-Tawasul ila Manazil al-Muluk

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Tuesday, March 15, 2016

Org yg ngaji cara mazhab wahabiyy, tak mantap tauhidnya... sebab tu mereka menerima Tuhan itu ada tempat, ada rupa, ada tangan dan kaki

Masa saya kat pondok dulu, mengaji usuluddeen (sifat 20) setahun masih belum khatam, masih banyak lagi ilmu tauhid yg tertinggal....

Masa masuk UiTM,  belajar tauhid 3 serangkai ( ajaran mazhab wahabiy) cuma seminggu, dah boleh buat karangan dan jawab soalan ujian.....

Persolannya.... nak kenal Tuhan cuma 1 minggu saja ?

Kita nak kenal isteri kita pun ambil masa bertahun ! Tuuu pun masih tak berapa kenal lagi !

Beza org yg ngaji usuluddeen cara mazhab abu hasan asyaari dan maa turidee berbanding cara mazhab wahabiy umpama langit dan bumi !

Org yg ngaji cara mazhab wahabiyy, tak mantap tauhidnya... sebab tu mereka menerima Tuhan itu ada tempat, ada rupa, ada tangan dan kaki.....

Org yg ngaji cara pondok ( mazhab abu hasan asyaari/ maaturidee ) pula menolak Tuhan itu berupa, menolak tempat dan pehak bagi Tuhan, menolak adanya  ruang, waktu dan masa bagi Tuhan.

Kita menyempurnakan Tuhan dengan sempurna yg hakiki... tiada cacat cela....

Makhluq mengambil ruang, tempat, kedudukan, arah, masa, ada jirim dan jisim, ada rupa..... kalau Tuhan pun ambil tempat, arah, masa, kedudukan, berjirim dan berjisim, maka Tuhan itu sama seperti makhluq....

Padahal Alquran sebut Allah itu tidak serupa dengan makhluq dlm apa jua hal dan keadaan !

Sunday, March 13, 2016

Jawabpan untuk Rozaimi......Hadith sapu Muka selepas salam solat itu Hasan bukan dhoif jiddan

Jawabpan untuk Rozaimi......Hadith sapu Muka selepas salam solat itu Hasan bukan dhoif jiddan.......Kitab feqoh syafie yang  menyatakan sunnat sapu muka selepas solat ialah kitab Arab ialah kitb Bughyatul mustarsyidin dan kitab Jawi munyatul Musolli syeikh Daud al Fathoni ,Bahrul Wafi syeikh Nik Mat kecik.....,al Hafiz Imam Nawawi juga memuatkan Hadith menyapu muka dengan tangan kanan selepas solat dalam kitabnya al Azkar pada Bab zikir zikir selepas solat,Syeikh as syawkani dalam kitabnya tuhfah az zakirin ..Didapati sebahagian salaf juga mengamalkan seperti mana tersebut Dalam kitab musannaf Abd Razaq ..... ..Jangan telan sahaja apa kata Rozaimi ni,,.Beliau Ahli Fatwa Perlis,...Pihak jabatan agama perlis ni ada bau2 wahabi(dahulu kerajaan perlis ada buat seminar besaran2 lagi antrabangsa  Tentang Muhammad Abdul wahab,pengasas ajaran wahabi yang sesat)) dan Rozaimi juga geng rapat MAZA serta satu ajaran dengan MAZA...cuma Rozaimi pandai cakap,manis mulut bercakap..pandai  mengayat ...Itu strategi Pemasaran ajaran Mereka.

Status Hadith menyapu muka dengan tangan  selepas solat (Jawabpan Syeikh Aminuddin,Ahli Fatwa kedah) :

خلاصة القول في حديث مسح الوجه بعد الصلاة : الحديث أخرجه غير واحد من المحدثين ،  منهم الطبراني في المعجم الأوسط ، وفي كتاب الدعاء  ، وابو نعيم في حلية الأولياء ، والبزار في مسنده ،
ولايخلو بعض سنده من كثير بن سليم، وسلام الطويل ، وزيدالعمي .
وهذا نص المعجم الأوسط:(حدثنا أبومسلم ، ثناحفص بن عمرالحوضي ، ثنا سلام الطويل ، عن زيدالعمي ، عن معاوية بن قرة ، عن أنس بن مالك ، قال: كان رسول الله صلى الله عليه وءاله وسلم اذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ويقول بسم الله الذي لااله الا هو الرحمن الرحيم، اللهم أذهب عني الغم والحزن) . رقم ٤٦٦٣ .
راجع مجمع البحرين في زوائدالمعجمين .
ونص البزار:(حدثنا الحارث بن الخضرالعطار ، ثنا عثمان بن فرقد ، عن زيد العمي ، عن معاوية بن قرة ، عن أنس بن مالك قال : كان رسول الله صلى الله عليه وءاله وسلم يمسح جبهته بيده اليمنى ، ويقول بسم الذي لااله الا هو الرحيم الرحيم أذهب عني الهم والحزن )راجع كشف الأستار ٢٢/٤.
وكثير وسلام ضعيف باتفاق ، وزيدالعمي وثّقه احمدوالدارقطني وغيره كما في ف يض القدير ٤٠٣/٣  .
ولهذا قال الهيثمي في مجمع الزوائد : (وقدوثقه غير واحد ) .
وقد أخرج داود حديث زيد العمي هذا في سننه رقم ٥٢١ ، و٤١١٩ ، وسكت عليه، فدل سكوته على انه صالح عنده للحتجاج أو للاعتبار على الخلاف ، قال ابوداود :(وليس في كتاب السنن الذي صنفته عن رجل متروك الحديث شيء...وقال:مالم أذكرفيه شيئا فهو صالح ..) وأخرج الترمذي في سننه عن طريقه حديث رقم ٢١٢ ، ثم قال  حديث أنس حديث حسن ، وقال الألباني :صحيح .
وهو أي زيد العمي ضعيف عندالجمهور ، وعلى هذا يصح أن نقول حديثه مختلف فيه عندهم ، حسن عند بعضهم، وضعيف عندآخر ، وحكمهم بضعف حديثه هذا مبنيّ على ضعف زيد عند الجمهور .
واذا نظرنا الى سند آخر لا يوجد فيه ضعيف غيره كسندالبزار، لصحّ لنا أن نحسِّن حديثَه هذا على رأي بعضهم الذي وثقه ، لأن الراوي الذي اختلف فيه يحسّن حديثه، لاسيما هناك رواية لايوجدفي سندها زيد وضعيف آخر غيره،  وهو  ما رواه أسلم في تاريخ واسط ١٣٠/١ :(حدثنا أسلم ، قال ثنا عمار بن خالد ، عن محمد بن يزيد ، عن عنبسة بن عبدالواحد الواسطي عن عمرو بن قيس قال :كان رسول الله صلى الله عليه وءاله وسلم اذا انصرف من صلاته مسح جبهته بيده اليمنى وقال :بسم الله الذي لا اله الا هوعالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن ) فأسلم بن سهل ت ٢٩٢ھ ثقة ، وعمار بن خالد ت ٢٦٠ھ ثقة ، ومحمد بن يزيد الواسطي ت ٢٤٨ ھ ثقة ، وعنبسة القرشي الأموي الكوفي ثقة .
ونظرا الى هذا السند يمكننا أن نحسِّن حديث زيد الذي نحن بصدده ،أي يصحّ لنا أن نحكم بحُسنه
ولهذا أقول حديث مسح الجبهة بعد الصلاة لا ينْحطّ الى أسفل درجات الضعف ، وبعبارة أخرى  ليس بموضوع جزما ، ولا ضعيف جدا،  والله أعلم ، وفي الحقيقة حديث أسلم هذا اختبأته كعدة لي لأقاتل به الوهابيين .  وفقنا الله للصواب والحق ، ولما فيه خير لنا في الدارين .

Ada satu sanad lagi riwayat Imam al-Thobrani yg disebut oleh al-Hafiz Ibnu Hajar al-Haithami dalam kitabnya Kasyfu al-Astar di mana dalam hadis ini tidak ada perawi Sallam al-Thowil atau pun Kathir Sulaim. Tempat perawi Sallam al-Thowil telah diganti dgn perawi Othman bin Farqad yg merupakan salah seorang perawi Imam Bukhari.
Abu Ishaq bin al-Huwaini anak murid al-Albani pun ada cerita pasal sanad hadis ini dlm kitabnya Tanbihu al-Hajid.
Semua perawi lain thiqah kecuali Zaid Ammi yg menjadi khilaf ulama statusnya.
Hadis ini menguatkan lagi hadis di atas dan menguatkan di antara satu sama lain.
Kesimpulan hadis sapu muka kedudukannya (ialah) Hasan.(Bukan dhoif jiddan)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1151473868220511&id=100000737266461