Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Thursday, August 26, 2021

amalan tertunai hajat dari paksu mid

Sekadar perkongsian

Kami Admin dh post hrtu .Ni kami post semula utk Sahabat2 yg terlepas pandang..

Amalan Pak Su Hj Hamid utk sakit kanser

1. Puasa 3 Hari berturut2
2. Wirid Ya Hayyu 
(nama Allah) 9999 setiap Hari
3.Solat hajat 2 rakaat sebanyak 12 Kali
4.Baca Surah Yasin 41 kali sampai di ayat
 سَلَمٌ قَوْلاً مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ 
ulang 24 Kali dan Sambung semula bacaan sambil baca hembuskan dalam air...

Semoga Bermanfaat

Friday, August 20, 2021

kitab hayak aulia

https://www.sendspace.com/filegroup/JsvFvft8i3DmbjqiuXWsbbDTPBmjI6oqSCE%2BduDCM%2BqlQd5a2buv8cmHBC3uA2l9HDC%2BuCD%2Ffh1fXXbq7fjalYOWdyM%2BZVoHv3EfNT8FffBwSNSUqfA2lDTLQQ%2BTcKr6%2Fxui%2F2oO8uvS1US%2FRDtSEje2NiU05akvxP5fjb8cGe%2Ff%2FxIgW4wM2Mj2YXzNp%2BddtNroQIUPMTknhJ5U%2FmyFEw

Monday, August 16, 2021

kelebihan banysk berzikir

[ YANG PALING BAIK.. ]

Sayyidina Abu Bakr As-Siddiq رضي الله عنه bertanya kepada Rasulullah ﷺ, mafhumnya,
“Ya Rasulullah, solat siapa yang paling baik??�Jawab Rasulullah ﷺ, “Solat orang yang paling banyak berzikir.”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Puasa siapa yang paling baik?”�Jawab Rasulullah ﷺ, “Puasa orang yang banyak berzikir.”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Sedekah siapa yang paling baik?”�Jawab Rasulullah ﷺ, “Sedekah orang yang paling banyak berzikir.”

Setiap kali ditanya siapa yang paling baik, dijawab oleh Nabi ﷺ - “yang paling banyak berzikir.”

Kata Sayyidina Abu Bakr - “Kalau begitu orang yang banyak berzikir dapat pahala amal yang terbaik.”

“Betul”, kata Rasulullah ﷺ. 

Sebab itu diiringi ibadah dengan berizikir, dalam 24 jam kehidupan seharian tak lepas daripada berzikir - daripada bangun pagi, berwudhuk, dsb…

- disunting daripada pengajian bersama Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid | MTDM 15012021

@habibalizaenalalhamid 

#habibalizaenalabidinalhamid 
#darulmurtadza

Tuesday, August 10, 2021

𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗣𝗔𝗦 𝗦𝗘𝗝𝗔𝗥𝗔𝗛 𝗔𝗥𝗔𝗕 𝗦𝗔𝗨𝗗𝗜 𝗡𝗘𝗚𝗔𝗥𝗔 𝗪𝗔𝗛𝗔𝗕𝗜 𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗗𝗜𝗡𝗔𝗦𝗧𝗜 𝗛𝗔𝗕𝗔𝗜𝗕 𝗣𝗜𝗡𝗗𝗔𝗛 𝗞𝗘 𝗗𝗜𝗡𝗔𝗦𝗧𝗜 𝗦𝗔𝗨𝗗

𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗣𝗔𝗦 𝗦𝗘𝗝𝗔𝗥𝗔𝗛 𝗔𝗥𝗔𝗕 𝗦𝗔𝗨𝗗𝗜 𝗡𝗘𝗚𝗔𝗥𝗔 𝗪𝗔𝗛𝗔𝗕𝗜 ;
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗗𝗜𝗡𝗔𝗦𝗧𝗜 𝗛𝗔𝗕𝗔𝗜𝗕 𝗣𝗜𝗡𝗗𝗔𝗛 𝗞𝗘 𝗗𝗜𝗡𝗔𝗦𝗧𝗜 𝗦𝗔𝗨𝗗

Ketahuilah bahwa sebelum negara Saudi Arabia (badwi najd wahabi) sekarang ini berdiri tegak, para Sultan Hijaz (Arab) adalah para Habaib / Syarif / Sayyid / keturunan Nabi Muhammad SAW. 

Berikut data - datanya, untuk lebih jelas urutan kekhalifahan tanah Hijaz :
 
 1. Muhammed Abu-Jafar Al-Thalab (The fox) (967–980). 
 2. Sharif Essa (980–994).    
 3. Sharif Abu Al-Futooh (994–1039). 
 4. Sharif Shukrul-Din (1039–1061).
 5. Abul-Hashim ibn Muhammed (1061–1094). 
 6. Ibn Abul-Hashim Al-Thalab (1094–1101). 
 7. Qatada ibn Idris al-Alawi al-Hasani (1201–1220). 
 8. Ibn Qatada Al-Hashimi (1220–1241). 
 9. Al-Hassan Abul-Saad (1241–1254). 
10. Muhammed abul-Nubaj (1254–1301). 
11. Rumaitha Abul-Rada (1301–1346). 
12. Aljan Abul-Sarjah (1346–1375). 
13. Al-Hassan II (1394–1425). 
14. Barakat I (1425–1455). 
15. Malik ul-Adil ibn Muhammed ibn Barakat (1455–1497).
16. Barakat II bin Muhammed (Barakat Efendi) (1497–1525).
17. Muhammed
Abul-Nubaj bin Barakat (1525–1583).
18. Al-Hassan bin Muhammad Abul-Nubaj (1583–1601). 
19. Idris bin Al-Hassan (1601–1610).
20. Muhsin bin Hussein (1610–1628).
21. Ahmed bin Talib Al-Hasan (1628–1629). 
22. Mas'ud bin Idris (Mas'ut Efendi) (1629–1630). 
23. Abdullah bin Hassan (1630–1631).
24. Zeid bin Muhsin (1631–1666).
25. Sa'ad bin Zeid (1666–1667). 
26. Muhsin bin Ahmed (1667–1668).
27. Sa'ad bin Zeid (1668–1670). 
28. Homud bin Abdullah bin Al-Hasan (1670–1670). 
29. Sa'ad bin Zeid (1670–1671).
30. Barakat bin Muhammed (1672–1682).
31. Said bin Barakat (1682–1683). 
32. Ibrahim bin Muhammed (1683–1684). 
33. Ahmed bin Zeid (1684–1688).
34. Ahmed bin Ghalib (1688–1689). 
35. Muhsin bin Ahmed (1689–1691).
36. Said bin Sa'ad (1691–1693).
37. Sa'ad bin Zeid (1693–1694). 
38. Abdullah bin Hashim (1694–1694).
39. Sa'ad bin Zeid (1694–1702).
40. Said bin Sa'ad (1702–1704).
41. Abdulmuhsin bin Ahmad (1704–1704). 
42. Abdulkarim bin Muhammed (1704–1705). 
43. Said bin Sa'ad (1705–1705) 
44. Abdulkarim bin Muhammed (1705–1711). 
45. Said bin Sa'ad (1711–1717). 
46. Abdullah bin Said (1717–1718). 
47. Ali bin Said (1718–1718). 
48. Yahya bin Barakaat (1718–1719). 
49. Mubarak bin Ahmad (1719–1722). 
50. Barakaat bin Yahya (1722–1723). 
51. Mubarak bin Ahmad (1723–1724).
52. Abdullah bin Said (1724–1731). 
53. Muhammed bin Abdullah (1731–1732). 
54. Mas'ud bin Said (1732–1733).
55. Muhammed bin Abdullah (1733–1734).  56. Mas'ud bin Said (1734–1759).
57. Ja'far bin Said (1759–1760).
58. Musa’ed bin Said (1760–1770).
59. Ahmad bin Said (1770–1770).
60. Abdullah bin Hussein (1770–1773). 
61. Surour bin Musa’ed (1773–1788).
62. Abdulmuin bin Musa’ed (1788–1788). 
63. Ghalib Efendi bin Musa’ed (1788–1803). 
64. Yahya bin Surour (1803–1813).
65. Ghalib Efendi bin Musa’ed (1813–1827). 
66. Abdulmutalib bin Ghalib (1827–1827).
67. Muhammed bin Abdulmuin (1827–1851). 
68. Abdulmutalib bin Ghalib (1851–1856). 
69. Muhammed bin Abdulmuin (1856–1858). 
70. Abdullah Kamil Pasha (1858–1877).
71. Hussein bin Muhammed (1877–1880).
72. Abdulmutalib bin Ghalib (1880–1882).
73. Aun Al-Rafiq Pasha (1882–1905).
74. Ali Abdullah Pasha (1905–1908).
75. Hussein bin Ali Pasha (1908–1916). 
76. Ali Haidar Pasha (1916–1917).
77. King Hussein bin Ali (1917–1924). 
78. King Ali bin Hussein (1924–1925) >> >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

*TERPUTUS*

King Ali bin Hussein dikhianati oleh Ibnu Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab dari Najdi (pendiri faham Wahabi Salafi). Keduanya bekerjasama dengan British (Inggris) dalam upaya perebutan kekuasaan. 

Putra tertua Muhammad ibn Sa`ud, Abd al-Aziz ibn Sa`ud dinikahkan dengan putri al-Wahab. Muhammad ibn Abd al-Wahhab mulai menyebarkan ajarannya di masyarakat Dir`iyyah dan yang malas mengikuti pengajiannya disuruh membayar denda atau mencukur jenggot. Dinasti Sa`ud-Wahhabi pun terbentuk, demikian pula dinasti yang nanti menjadi penguasa Sa`udi Arabia (Allen, 2006: 52). . 

Peran seorang mata - mata Inggris, Hempher, terhadap Muhammad bin Abdul Wahab telah diberitakan pula dalam sebuah *kitab berjudul “Mir’at al-Haramain”, yang terbit kurang lebih 120 tahun yang lalu.* 

Dalam buku ini diberitakan bahwa pada 1125 H (1713 M), Muhammad bin Abdul Wahab bertemu Hempher di Basrah. Kemudian terjalinlah persahabatan di antara keduanya. Peran Hempher sangat besar dan vital dalam gerakan Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham Wahabi tersebut. Dan seterusnya. 
[Ayyub Sabri Pasya, Mir’at al-Haramain, Istanbul, terbit tahun 1888 M] . 

Kemenangan Ibn Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab di jazirah Arab ini, membuat Kesultanan Ottoman Turki berubah menjadi dinasti Saud, dengan mengganti syariat islam dengan doktrin ajaran Wahabi yang tidak pernah di jalankan pada masa kesultanan Turki Usmani yang sah dan mengubah wilayah hijaz menjadi nama SAUDI ARABIA, di ambil dari nama Ibnu Saud.  >>>>>>>>>>>>>> 

*BERDIRILAH negara wahhabi pertama (1745-1818)*
Namun gagal karna banyak pembela kesultanan yang sah memberontak. 
Baru kemudian negara wahabi (Saudi) tahap ke kedua (1824-1891) berdiri berkat bantuan Inggris dan beberapa kelompok yahudi hingga sekarang. Dengan banyak sekali penghancuran peradaban islam oleh wahabi salafi, yang menuai protes luas di seluruh penjuru dunia. 

Terputusnya kesultanan Turki Usmani yang sah ini, otomatis wilayah Hijaz jatuh ketangan dinasti Ibnu Saud.

Dan sebuah fakta nyata, sejak paham wahabi salafi yang menjadi mascot trah dinasti Saud, sebagai imbal jasa Muhammad bin Abdul Wahab yang membantunya merebut kekuasaan.. Sampai pada saat ini.. Wahabi salafi tidak pernah bisa menjadi nomor satu di dunia, karena jelas ajaran yang di bawa sama sekali tidak sesuai ijma' ulama kebanyakan bahkan bertolak belakang dengan seluruh kesultanan hijaz sebelumnya (Turki Usmani), yang menganut paham sunni / aswaja (aswadul adzom). 

 Suni / aswaja sebagai al jama`ah adalah perintah Rasulullah dan adalah kewajiban bagi umat islam mengikutinya.
Dan sebuah perintah Rasulullah adalah sunnah, dimana pengikutnya sudah jelas menjalankan salah satu sunnah dari sekian banyak sunnah - sunnah Rasulullah dan semua sultan hijaz dari keturuan Rasulullah adalah aswadul a'dzom /al jama`ah dan sama sekali tidak berpijak pada landasan wahabi salafi, dimana faham wahabi lebih mudah berkata bid`ah, syirik dan saling mengkafirkan sesama muslim (menyerang sesama Muslim dari dalam dengan alasan Pemurnian Islam).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

. “إِنَّ اللهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّةِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ” . “

*Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“.*
(HR. Tirmidzi: 2168). 

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (mayoritas pemahaman kaum muslim)“ . 

Aswaja / Sunni adalah pengikut sanad. Artinya apa yang dipahami diambil dari sumber sumber ulama bersanad, berkesinambungan, saling terkait, pemahaman yang tidak terputus sampai kepada Rasulullah. 

*Pemurunian Islam itu sesungguhnya dengan sanad.*

Apa yang diperbuat Rasulullah juga dilakukan oleh para sahabat, diteruskan oleh tabi'in, dilanjutkan oleh tabi'ut tabi'in dan seterusnya, adalah mata rantai berurutan, yang tidak berubah hingga sampai kepada ulama Aswaja / Sunni sekarang ini. Itu yang disebut sanad, dimana pemahamannya tetap sebagaimana aslinya sekalipun itu urusan bid`ah, syirik dan perkara kafir. 

Bagi Aswaja /sunii tentu saja hal ini jauh lebih baik dalam memahami syariat ajaran islam karna tidak di kotori oleh pendapat pendapat, dalil - dalil akal perseorangan atau kelompok, melainkan seluruh sudut pandang ulama yang terkait sanad yang ilmunya adalah sebuah mata rantai besar yang pada akhirnya berujung pada sunnah - sunnah Rasulullah, yang dipahami dengan cara yang tidak keliru dan tetap original. 

Ini lah yang sebenarnya yang disebut Pemurnian Islam sesungguhnya, dan tentu berbeda dengan istilah "Pemurnian Islam" ala wahabi salafi yang sama sekali tidak punya sanad. 

Berkata Imam Syafi'i RA, “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” 
(Faidhul Qadir juz 1 hal 433). 

Berkata pula Imam Atsauri : 
“Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”.

Berkata pula Imam Ibnul Mubarak : 
“Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya".

*Sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad* 
(Faidhul Qadir juz 1 hal 433). 

*Sedikit renungan: Apakah Anda hanya sebatas mengetahui beberapa ilmu pengetahuan tanpa bimbingan guru, cukup dengan modal baca buku atau cukup mengandalkan google, yahoo ??*

Dunia internet hanya tambahan, hanya seumpama ladang luas sebagai media pengetahuan secara umum. Namun dalam banyak hal secara realita nyata, maka seorang pembimbing dan ahli agama bersanad yang duduk dihadapan kita itu lebih baik dan lebih jelas dalam memahami syariat islam.

Maka kaum sunni /aswaja menekankan anak - anaknya masuk pondok pesantren dan ditambah pendidikan formal di universitas yang jelas, sebagaimana petunjuk gurunya pondoknya agar tidak salah memilih universitas mana yang pantas dan relevan, sebagaimana ajaran islam di pondokan. Sinkron. 

ini pentingnya sanad ilmu yang jelas. 

Mari kita sama - sama mengkaji diri, jadikan akal untuk mengendalikan hawa nafsu. Bukan nafsu yang mengendalikan akal sehat. Dan adalah suatu kewajiban bagi umat muslim untuk saling mengingatkan. Dan jangan berfikir dangkal jika di ingatkan justru dianggap mencari kesalahan, membuat permusuhan. Atau bahkan dikatakan memecah umat.

Yang haq adalah haq dan yang bathil tetaplah bathil, apapun alasannya. 

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi kita semua dalam memahami ajaran islam yang benar dan di ridho'i Allah dan Rasulullah. 
Dan silahkan jika anda mau mencaci maki penulis. 
Dan jawaban penulis sederhana saja. 
Allah itu tidak pernah lalai akan perbuatan hambaNya kala terang dan kala tersembunyi. Baik dunia maya dan dunia nyata, baik yang terlihat oleh orang lain atau tidak. Baik yang samar atau jelas.

Semua akan ada balasannya. Semua dicatat secara lengkap yang kelak akan diterima apakah catatan itu ditangan kiri atau ditangan kanan.. 

اللَّـﮬـُمَّ صـَلِِّ ؏َـلٰے سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ؏َـلٰے اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

Semoga berkah Rasululloh ﷺ, berkah bacaan Sholawat, Berkah para Waliyullah, Berkah orang2 Sholih, semoga kita semua di beri sehat lahir batin, panjang umur barokah umur, tambah ilmu barokah ilmu, banyak rejeki barokah rejeki, bahagia dan selamat dunia akhirat, Khusnul khotimah mati iman sempurna, masuk syurga bighoiri hisab mendapat SYAFAAT dari RASULULLAH ﷺ
AAMIIN...... YA ALLAH......

Mari kita selalu ISTIQOMAH memperbanyak SHOLAWAT 1.000 kali lebih setiap harinya, lebih2 di malam / hari Jum'at.

اَللّٰـــــــــهُمَّ صَلِّ عَلٰے سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰے أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِے الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ وَفِےالْمَلٓاءِ الْأَعْلَے إِلَے يَوْمِ الدِّيْنِ

https://m.facebook.com/groups/2376867322615448/permalink/2750092318626278/

Monday, August 9, 2021

JAWAPAN IMAM AL-ASH’ARI TERHADAP PARA PENGKRITIK ILMU KALAM DULU DAN KINI

JAWAPAN IMAM AL-ASH’ARI TERHADAP PARA PENGKRITIK ILMU KALAM DULU DAN KINI

Muhamad Hakim Ismail Al-Azhari
Felo Muda ISSI
(Ijazah Sarjana Muda Usuluddin dan Falsafah, Universiti Al-Azhar)

Risalah fi al-Istihsan al-Khawd Fi Ilm al-Kalam (Risalah Tentang Kebaikan Mendalami Ilmu Kalam) merupakan karya Al-Imam Abu Hassan al-Ash’ari bagi menjawab kritikan kelompok-kelompok umat Islam yang menolak disiplin Ilmu Kalam. Kritikan terhadap Ilmu Kalam ini telah wujud sejak dari awal perkembangan disiplin ilmu ini sendiri sehingga ke hari ini dengan penghujahan yang sama dikitar semula sepanjang lebih 1000 tahun! 

Justeru penting untuk kita memperhalusi jawapan-jawapan yang dikemukakan oleh al-Imam al-Ash’ari dalam menjawab segala kritikan terhadap Ilmu Kalam dengan beliau mengintegrasikan hujah naqli (wahyu) dan hujah aqli (rasional) sekaligus membuktikan kepentingan dan keutamaan serta kebaikan mendalami Ilmu Kalam.

Kritikan Terhadap Ilmu Kalam: Apakah hujah-hujahnya dari dahulu sehingga sekarang?
Al-Imam al-Ash’ari memulakan Risalah ini dengan jawapan yang keras dan tegas terhadap kelompok yang mencela Ilmu Kalam sebagai kelompok yang menjadikan kejahilan sebagai modal pemikiran mereka, culas dalam berfikir dan malas mengkaji agama dengan lebih mendalam, malah mereka lebih cenderung untuk bermudah-mudahan serta bertaqlid buta. Sudahlah begitu, kelompok ini juga lebih gemar menyesat dan membid’ahkan umat Islam yang menekuni dan berkhidmat kepada kefahaman mendalam terntang usul-usul agama Islam itu sendiri. 

Sebelum menjawab satu persatu tohmahan terhadap Ilmu Kalam, Imam al-Ash’ari menyenarai tuduhan-tuduhan yang biasa digunakan untuk menolak Ilmu Kalam, dan kemudiannya beliau menjawab setiap salah faham dan kesilapan yang timbul pada tohmahan para pengkritik Ilmu Kalam. Ini juga sebenarnya merupakan kaedah yang turut digunakan oleh para mutakallim lain seperti al-Imam al-Ghazali ketika mematahkan hujah-hujah ahli falsafah Neoplatonisme Muslim dalam kitab beliau Tahafut al-Falasifah.

Antara tuduhan-tuduhan sepanjang zaman bagi penolakan Ilmu Kalam adalah:

1-Tuduhan pengkritik Ilmu Kalam bahawa perbincangan tentang harakah (gerak) dan sukun (diam), jisim, aradh, al-akwan (kejadian), al-alwan (warna-warna), al-juz’ wa al-tafrah juga perbincangan berkenaan sifat-sifat Allah SWT itu adalah bid’ah dan sesat.

2-Tuduhan pengkritik Ilmu Kalam sekiranya perbincangan Ilmu Kalam tersebut adalah sebahagian dari agama, ia juga telah diperkatakan oleh Nabi SAW, para khalifah dan juga sahabat baginda. Ini kerana Nabi SAW telah menerangkan kesemua perkara berkaitan agama dan baginda tidak meninggalkan suatu pun persoalan yang perlu diperjelaskan lagi oleh umat Islam berkaitan urusan agama mereka selepas kewafatan baginda.

3- Berdasarkan tuduhan-tuduhan tersebut, maka pengkritik Ilmu Kalam menyimpulkan: “Oleh kerana tidak ada seorangpun dari para sahabat meriwayatkan tentang perbincangan tersebut, maka kesimpulannya ia adalah bid’ah lagi menyesatkan, jika tidak, ia pasti akan dibincangkan oleh baginda dan sahabat. Tambah pengkritik Ilmu Kalam lagi, perkara tersebut tidak terkeluar dari dua andaian, samada Nabi SAW dan Sahabat tahu dan berdiam diri dari memperkatakannya ataupun mereka tidak tahu akan hal ehwal perbahasan tersebut malah jahil akannya.”

4-Maka jelas dalam kedua-dua situasi itu, pengkritik Ilmu Kalam menyimpulkan bahawa perbincangan dalam Ilmu Kalam adalah perkara baharu yang mungkar dan mendalaminya adalah suatu kesesatan!

Jawapan Imam al-Asha’ri Kepada Pengkritik Ilmu Kalam
Al-Imam al-Ash’ari menjawab tohmahan-tohmahan pengkritik Ilmu Kalam berdasarkan tiga perspektif:

Pertama: Mengarahkan kembali tohmahan tersebut kepada pengkritik Ilmu Kalam dengan mengatakan Nabi SAW  juga tidak pernah mengatakan bahawa orang yang meneliti dan membincangkan perkara-perkara yang telah dinyatakan diatas akan tergolong dalam golongan yang bid’ah dan sesat. Maka secara jelas sebaliknya, pengkritik Ilmu Kalam yang telah melakukan bida’ah kerana memperkatakan sesuatu yang tidak diperkatakan oleh baginda Nabi SAW dan menghukum sesat kepada mereka yang tidak dihukum sesat oleh Nabi SAW.
Jadi, di sini kita melihat bagaimana Imam al-Ashari  menggunakan tohmahan pengkritik Ilmu Kalam semula untuk menjerut ungkapan mereka sendiri berkaitan persoalan bid’ah iaitu memperlakukan sesuatu yang tidak diperlakukan oleh Nabi SAW. 

Kedua: Dalam bahagian ini, Imam al-Ashari  membentangkan secara jitu bahawa segala perbahasan berkaitan Ilmu Kalam itu ada sandarannya daripada wahyu al-Quran dan al-Sunnah. Ini untuk menjawab kritikan bahawa perbahasan Ilmu Kalam direka-reka dalam Islam malah diambil dari sumber Yunani/Greek. Imam al-Ashari  memulakan tentang perbahasan al-Harakat wa Sukun (Gerak dan Diam) dengan rujukan peristiwa yang dirakamkan dalam al-Quran melalui kisah Nabi Ibrahim berdialektik i.e bersoal-jawab di minda (thought experiment) terhadap pergerakan matahari dan bulan, maka akhirnya menatijahkan pengesahan pencipta alam semesta ini adalah Allah SWT. 

Perbahasan asas dalam Pengesaan Allah SWT  melalui Prinsip Tamanu’ wa Taghalub berkaitan kemustahilan tuhan berbilang-bilang yang digunapakai oleh para mutakallimun adalah berdasarkan dalil dari surah al-Anbiya (21:22), surah al-Mu’minun (23:91) dan surah al-Ra’d (13:6). Ketiga-tiga dalil yang dibawakan Imam al-Ashari  ini adalah cukup menjelaskan Allah SWT itu Esa, dan tiada sekutu bagiNya, dan dihuraikan dengan lebih berstruktur dalam Ilmu Kalam. 

Seterusnya, Imam al-Ashari  meneruskan perbahasan keharusan berlakunya Hari Kebangkitan. Di sini, Imam al-Ashari  mengerahkan segala kudrat dan kepakaran beliau dalam Ilmu Kalam, Mantiq dan Falsafah bagi menjawab tuduhan dari dua kelompok yang menolak Kebangkitan di Hari Kiamat iaitu golongan yang mengatakan kemustahilan kebangkitan kali kedua daripada  kehancuran jasad dan golongan kedua dari Falasifa yang mendirikan hujah alam itu Qadim (Tiada Permulaan) dan tidak diciptakan. 

Perkara yang menarik yang ditonjolkan oleh Imam al-Ashari adalah bagaimana kemampuan beliau menggunakan hujah aqli antaranya konsep dua perkara berlawanan tidak akan berhimpun (al-diddan la yajtami’an), prinsip unsur bagi hidupan iaitu panas-kering ( harah ratbah) juga sejuk-lembab (baridah yabisah), kemudian mengkritik hujah dari gologan Ateis (al-Dahriyyun) dengan menggunakan konsep al-Tasalsul – Infinite Regress, segala hujahan ini membuktikan penguasaan beliau dalam ilmu-ilmu aqliyat/nazariyyat. 

Tidak sekadar itu, dalam masa yang sama Imam al-Ashari menselang- selikan dengan dalil naqli dari al-Quran dan al-Sunnah bagi bagi setiap hujahan beliau. Secara tidak langsung, Imam al-Ashari menunjukkan bahawa inilah kaedah yang dipraktikkan oleh para mutakallim bagi menjawab syubhat dalam aqidah, tidak sesekali memisahkan antara aqal dan wahyu.

Ketiga: Untuk jawapan ketiga, Imam al-Ashari menegaskan bahawa segala persoalan yang diperbincangkan dalam Ilmu kalam ini diketahui oleh Nabi SAW cuma permasalahan tersebut tidak diperkatakan pada zaman baginda secara khusus biarpun asasnya jelas termaktub dalam al-Quran dan al-Sunnah. Malah apa sahaja perbincangan dalam Syari’ah yang diselidiki dan diperdebatkan zaman berzaman seperti isu tentang wasiat, pembahagian harta pusaka, pembebasan hamba, permasalahan tentang hudud, talak dan banyak lagi isu fiqhiyah yang berbangkit pada zaman tertentu, setiap satunya tidak didatangkan nas dari Nabi  SAW, kerana jika didatangkan nas yang jelas dari Nabi SAW maka tidak akan berlaku percanggahan pendapat sehinggalah ke zaman sekarang. 

Dari sini Imam al-Ashari menjelaskan tentang piawaian bagaimana berinteraksi dengan  isu semasa dimana jika permasalahan itu berpunca dari perkara furu’ maka perlu dikembalikan kepada hukum-hukum Syariat yang tidak dapat diketahui hukumnya melainkan melalui al-Sama’ dan Rasulullah SAW. Adapun, perkara yang berkaitan Usul agama,  umat Islam perlu mengembalikan hukumnya kepada asas yang disepakati iaitu dengan akal, pancaindera dan perkara badihi (intuitive tanpa inferens) serta selainnya. 

Dengan mengetahui letak duduk kaedah dalam menanggapi masalah berkaitan dengan agama samada usul mahupun furu’, kita dapat fahami sekiranya terdapat isu berkaitan kemakhlukan al-Quran pada zaman nubuwwah misalnya, sudah tentu Baginda  akan menjelaskan perkara tersebut sepertimana baginda memperjelaskan seluruh perkara yang berlaku pada zamannya.

Seterusnya bagi menjawab persoalan bahawa perbincangan mengenai Ilmu Kalam ini tidak diriwayatkan oleh para sahabat dan para tabiin, maka Imam al-Ashari mewujudkan persoalan berbalik iaitu seperti itu juga tiada riwayat yang sahih daripada Nabi SAW bahawa al-Quran itu makhluk atau bukan makhluk, maka kenapa pengkritik Ilmu Kalam membicarakan tentang persoalan yang tidak dibincangkan oleh Nabi? Adapun jika mereka mengatakan, kami tidak menentukan bahawa al-Quran itu mahkluk atau tidak, kami hanya bertawaquf, maka persoalan yang sama dilontarkan, tiada riwayat  yang sahih juga daripada Nabi SAW bahawa baginda bertawaquf dalam isu ini, maka pengkritik Ilmu Kalam tetap melakukan perbuatan(bertawaquf) yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW. Maka tidakkah itu juga perkara bid’ah?

Demikian juga Nabi SAW tidak menulis kitab sepertimana dilakukan oleh Imam Malik, al-Thawri, al-Shafi’I dan Abu Hanifah, maka menurut logic dan analogi pengkritik Ilmu Kalam ini, para aimmah ini juga pelaku bid’ah kerana memperlakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW, mengarang sesuatu yang tidak dikarang oleh RasulullahSAW. 

Penutup
Imam al-Asha’ri menutup perbahasan dengan menyatakan bahawa segala hujah-hujah beliau di dalam Risalah ini sudah membuktikan kepentingan mendalami Ilmu Kalam bagi orang yang berakal dan bukan bagi mereka yang degil dan ingkar. Maka jelaslah kepada kita bagaiamana kekuatan hujah yang dihidangkan oleh Imam al-Ash’ari dengan sandaran al-Qur’an dan al-Sunnah bagi mempertahankan keabsahan Ilmu Kalam. Imam al-Asha’ri bukan sahaja menyebutkan secara teorikal, malah membuktikannya dengan mengaplikasikan terus Ilmu Kalam itu sendiri secara praktikal di dalam Risalah ini yang boleh digunapakai oleh semua pencinta Ilmu Kalam pada hari ini!

https://www.facebook.com/133210716753668/posts/5894731810601501/

Friday, August 6, 2021

ainul-yaqeen ilmul-yaqeen

🙏❤Org org yg dah "MATI" saja dapat tahu kebenaran. Tapi malangnya mereka x mampu sampaikan kpd kita. Yg belum "MATI".. kebenaran yg diyakininya adalah sangkaan & dhon semata, bukan haqiqat ! Pengetahuan (perkara haq & batil) yg kita dapat hanyalah melalui penyampaian tulisan dan ceramah.. bukan ainul-yaqin ! Di dunia ini, selain Nabi2 dan Rasul, hanya org tertentu (kasyaf) saja yg dapat ilmu ainul-yaqin. Org2 biasa seperti kita ni... sejurus roh terpisah dari badan, barulah kita akan dipernampakkan kebenaran (ainul-yaqin)🙏❤


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219636433642024&id=1251877796

Wednesday, August 4, 2021

CIRI-CIRI WAHABI YANG WAJIB KITA TOLAK

CIRI-CIRI WAHABI YANG WAJIB KITA TOLAK
بسم الله الرحمن الر حيم
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI
Ciri Ciri Wahabi
PENTING !
FATWA KE ATAS FAHAMAN WAHABI
1- MUZAKARAH JAWATANKUASA FATWA KEBANGSAAN KALI KE-12 PADA TAHUN 1985,
2- MUZAKARAH JAWATANKUASA FATWA KEBANGSAAN KALI KE-14 PADA TAHUN 1985,
3- MUZAKARAH JAWATANKUASA FATWA KEBANGSAAN KALI KE-16 PADA TAHUN 1986,
4- MUZAKARAH JAWATANKUASA FATWA KEBANGSAAN KALI KE-40 PADA TAHUN 1996,
5- MUZAKARAH JAWATANKUASA FATWA KEBANGSAAN KALI KE-42 PADA TAHUN 1997,
6- MUZAKARAH JAWATANKUASA FATWA KEBANGSAAN KALI KE-44 PADA TAHUN 1998, 
KEPUTUSAN ADALAH MENOLAK PENYEBARAN
FAHAMAN WAHABI KERANA MENGANGGU GUGAT PERPADUAN UMAT ISLAM
SUMBER: JABATAN KEMAJUAN ISLAM MALAYSIA (JAKIM) &
JAWATANKUASA PENYELARASAN PENYELIDIKAN ISLAM KEBANGSAAN (JAPPIS). 
Ciri-ciri fahaman Wahhabi:
- Sering merujuk pendapat Ibnu Taimiyyah, al-Albani, Ibnu Qayyim, Abdul Aziz bin Baz dan Ibnu Ustaimin.
- Mengatakan Allah ada di langit bersemayam di atas Arasy.
- Membahagi tauhid kepada tiga: tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma' wa sifat.
- Menolak amalan menyebut lafaz niat solat (USOLLI).
- Menolak amalan menyebut SAYYIDINA ketika berselawat.
- Menolak amalan mengusap muka setelah selesai solat.
- Menolak zikir, wirid dan doa beramai-ramai selepas solat di masjid.
- Menolak amalan baca yaasiin beramai-ramai pada malam jumaat di masjid.
- Menolak amalan solat terawih 20 raka'at di masjid.
- Menolak amalan baca yaasiin 3 kali pada malam nisfu Sya'ban.
- Menolak amalan membaca doa akhir dan awal tahun.
- Menolak bacaan talqin ketika pengembumian mayat.
- Menolak tahlil dan kenduri arwah.
- Menolak bacaan berzanji dan marhaban.
- Menolak amalan selawat syifak, selawat fatih, selawat nariah, selawat tafrijiah.
- Menolak sambutan maulidur rasul.
- Menolak amalan ziarah makam nabi.
- Menolak bacaan tarhim dan bacaan Al-Quran sebelum azan subuh menggunakan pembesar suara.
- Mengatakan tiada solat qabliah jumaat.
- Menolak amalan membaca text ketika khutbah.
- Menolak tasawuf dan tarikat.
- Menolak MAZHAB.
- Mengatakan bid'ah tiada yang hasanah, semua bid'ah adalah sesat.
- Menolak beramal dengan hadis daif.
- Menolak amalan tawassul dengan orang yang sudah meninggal dunia. 
- Menolak amalan tabarruk selain dari Nabi saw.
- Menolak amalan isthtighathah. 
- Mengatakan talak tiga sekaligus cuma jatuh talak satu.
- Menolak manhaj Asyairah dan Maturidiyah.
- Menolak Sifat Dua Puluh.

AQIDAH
1. Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu: 
(a). Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
(b). Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh jumhur ulama‟ Islam khasnya ulama‟ empat Imam madzhab.
(c.) Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam ke lembah tashbih dan tajsim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala seperti:
Menterjemahkan istiwa’ sebagai bersemayam/bersila
Merterjemahkan yad sebagai tangan
Menterjemahkan wajh sebagai muka
Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ulya)
Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
Menterjemah nuzul sebagai turun dengan dzat
Menterjemah saq sebagai betis
Menterjemah ashabi’ sebagai jari-jari, dll
Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa
Menambah bi dzatihi haqiqatan [dengan dzat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat 
2. Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zhahir tanpa penjelasan terperinci dari ulama-ulama yang mu’tabar
3. Menolak asy-Sya’irah dan al-Maturidiyah yang merupakan ulama’ Islam dalam perkara Aqidah yang diikuti mayoritas umat islam
4. Sering mengkrititik asy-Sya’irah bahkan sehingga mengkafirkan asy-Sya’irah.
5. Menyamakan asy-Sya’irah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mu’aththilah dalam perkara mutashabihat.
6. Menolak dan menganggap tauhid sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek.
7. Berselindung di sebalik mazhab Salaf.
8. Golongan mereka ini dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, al-Musyabbihah, al-
Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah.
9. Sering menuduh bahwa Abu Hasan Al-Asy’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab asy-Sya’irah. Menuduh ulama’ asy-Sya’irah tidak betul-betul memahami faham Abu Hasan Al-Asy’ari.
10. Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat. 
11. Sering menuduh bahwa mayoritas umat Islam telah jatuh kepada perbuatan syirik.
12. Menuduh bahwa amalan memuliakan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam [membaca maulid dll] membawa kepada perbuatan syirik.
13. Tidak mengambil pelajaran sejarah para anbiya’, ulama’ dan sholihin dengan
dalih menghindari syirik.
14. Pemahaman yang salah tentang makna syirik, sehingga mudah menghukumi orang sebagai pelaku syirik.
15. Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta sholihin.
16. Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai cabang-cabang syirik.
17. Memandang remeh karamah para wali [auliya’].
18. Menyatakan bahwa ibu bapa dan datuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak selamat dari adzab api neraka.
19. Mengharamkan mengucap “radhiallahu ‘anha” untuk ibu Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, Sayyidatuna Aminah.
SIKAP
1. Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan
mereka.
2. Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak).
3. Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan hadits (walaupun tidak layak).
4. Sering memtertawakan dan meremehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.
6. Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu syaz (janggal). 
HADITS 
1. Menolak beramal dengan hadis dho’if.
2. Penilaian hadits yang tidak sama dengan penilaian ulama’ hadits yang lain.
3. Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak
mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits.
[Bahkan mayoritas muslim mengetahui bahwa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadits dan diketahui bahawa beliau belajar hadits secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].
4. Sering menganggap hadits dho’if sebagai hadits mawdhu’ [mereka mengumpulkan hadits dho’if dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadits tersebut adalah sama]
5. Pembahasan hanya kepada sanad dan matan hadits, dan bukan pada makna hadits. Oleh karena itu, pebedaan pemahaman ulama’ [syawahid] dikesampingkan.
QUR’AN 
1. Menganggap tajwid sebagai ilmu yang menyusahkan dan tidak perlu (Sebagian Wahabi indonesia yang jahil) 
FIQH 
1. Menolak mengikuti madzhab imam-imam yang empat; pada hakikatnya
mereka bermadzhab “TANPA MADZHAB”
2. Mencampuradukkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq [mengambil yang disukai] haram
3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; mereka mengklaim dirinya berittiba’
4. Sering mengungkit dan mempermasalahkan soal-soal khilafiyyah
5. Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6. Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah Bid’ah
7. Sering menuduh orang yang bermadzhab sebagai ta’assub [fanatik] mazhab
8. Salah faham makna bid‟ah yang menyebabkan mereka mudah membid‟ahkan orang lain
9. Mempromosikan madzhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas keluar daripada fiqh empat mazhab]
10. Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tu’assiru, farrihu wa la tunaffiru”
11. Sering mengatakan bahwa fiqh empat madzhab telah ketinggalan zaman
NAJIS 
1. Sebagian mereka sering mempermasalahkan dalil akan kedudukan babi sebagai najis mughallazhah
2. Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.
WUDHU’ 
1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.
ADZAN 
1. Adzan Juma’at sekali; adzan kedua ditolak 
SHALAT 
1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam‟, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
4. Tidak membaca “Basmalah‟ secara jahar.
5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid‟ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah
DO’A, DZIKIR DAN BACAAN AL-QUR’AN
1. Menggangap do’a berjama’ah selepas shalat sebagai bid’ah.
2. Menganggap dzikir dan wirid berjama’ah sebagai bid’ah.
3. Mengatakan bahwa membaca “Sodaqallahul ‘azhim” selepas bacaan al-Qur’an adalah Bid’ah.
4. Menyatakan bahwa do’a, dzikir dan shalawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khairat, Shalawat al-Syifa‟, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll.
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jum’at sebagai bid’ah yang haram.
6. Mengatakan bahwa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat.
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah.
9. Menolak amalan ruqiyyah syar’iyah dalam pengobatan Islam seperti wafa‟, azimat, dll.
10. Menolak dzikir isim mufrad: Allah Allah.
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram.
12. Sering menafikan dan memperselisihkan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban.
13. Sering mengkritik keutamaan malam Nisfu Sya’ban.
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah.
15. Mempermasalahkan kedudukan shalat sunat tasbih. 
PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR
 1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan sholihin sebagai bid’ah dan shalat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini.
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur.
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah.
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram.
5. Tidak membaca do’a selepas shalat jenazah.
6. Sebagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Do’a dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.
MUNAKAHAT [PERNIKAHAN] 
1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1) 
MAJLIS SAMBUTAN BERAMAI-RAMAI
 1. Menolak peringatan Maulid Nabi; bahkan menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan kristen bagi Nabi Isa as.
2. Menolak amalan marhaban para habaib
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan maulid adalah bid’ah
5. Menolak peringatan Isra’ Mi’raj, dll. 
HAJI DAN UMRAH 
1. Mencoba untuk memindahkan “Maqam Ibrahim as.” namun usaha tersebut telah digagalkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi saat beliau menemuhi Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam
3. Mengubah tempat sa’i di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia 
PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN 
1. Maraknya para professional yang bertitle LC menjadi “ustadz-ustadz‟ mereka (di Indonesia)
2. Ulama-ulama yang sering menjadi rujukan mereka adalah:
a. Ibnu Taymiyyah al-Harrani
b. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
c. Muhammad bin Abdul Wahhab
d. Sheihk Abdul Aziz bin Baz
e. Nasiruddin al-Albani
f. Sheikh Sholeh al-Utsaimin
g. Sheikh Sholeh al-Fawzan
h. Adz-Dzahabi dll. 
3. Sering mendakwahkan untuk kembali kepada al-Qura’an dan Hadits (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Qura’n dan Hadits sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ juga lah yang memelihara dan menjabarkan kandungan al-Qur’an dan Hadits untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumuddin” 
PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM 
1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab ulama’ yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Banyak ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka di timur tengah
4. Memusnahkan sebagian besar peninggalan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meratakan maqam al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakar dll, dengan hujjah tempat tersebut bisa membawa kepada syirik.
5. Di Indonesia, sebagian mereka dalu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [karena hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu]. 
TASAWWUF DAN THARIQAT 
1. Sering mengkritik aliran Sufisme dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai kesamaan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membedakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat.
Inilah kejahatan dan kesesatan aliran Salafi Wahabi yakni ajaran yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi :
1. Allah bersemayam di atas ‘arsy seperti akidahnya kaum Yahudi.
2. Golongan yang beriman kepada setengah ayat Al-Qur’an dan kafir dengan setengah ayat Al-Quran yang lain.
3. Golongan yang menolak Takwil pada setengah ayat, dan membolehkan Takwil pada setengah ayat yang lain berdasarkan mengikuti hawa nafsu mereka.
4. Golongan yang menafikan Kenabian Nabi Adam A.S.
5. Golongan yang menyatakan bahwa Alam ini Qidam/Maha Dahulu (Rujuk pandangan ibn Taimiyyah).
6. Golongan yang mengkafirkan Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan para pengikutnya.
7. Golongan yang mengkafirkan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh.
8. Golongan yang mengkafirkan Imam An-Nawazwi dan Seluruh Ulama Islam yang menjadi para pengikutnya (Asy’ariyah dan Maturidiyah).
9. Golongan yang mendhoifkan hadits-hadits shohih dan menshohihkan hadis-hadis dhoif (lihat penulisan Albani).
10. Golongan yang tidak mempelajari ilmu dari Guru atau Syeikh, hanya copy paste dan membaca dari buku-buku dan sebagainya.
11. Golongan yang mengharamkan bermusafir ke Madinah dengan niat ziarah Nabi Muhammad SAW.
12. Golongan yang membunuh Ummat Islam beramai-ramai di Mekah, Madinah, dan beberapa kawasan di tanah Hijaz (lihat tarikh an-Najdi).
13. Golongan yang meminta bantuan Askar dan Senjata pihak Britain (yang bertapak di tempat Kuwait pada ketika ini) ketika kalah dalam perang ketika mereka ingin menjajah Mekkah dan Madinah.
14. Golongan yang menghancurkan turath (sejarah peninggalan) Ummat Islam di Mekkah dan Madinah. (lihat kawasan pekuburan Jannatul Baqi, Bukit Uhud dan sebagainya).
15. Golongan yang membenci kaum ahlul bait.
16. Golongan yang bertentangan dengan Ijma para Shohabat, Tabiin, Salaf, Khalaf dan seluruh Ulama ASWAJA.
17. Golongan yang mendakwa akal tidak boleh digunakan dalam dalil syara’, dengan menolak fungsi akal (ayat-ayat Al-Quran menyarankan menggunakan akal).
18. Golongan yang mengejar syuhrah (pangkat, nama, promosi, kemasyhuran) dengan menggunakan pemahaman mereka yang salah terhadap Al-Qura’n dan As-Sunnah.
19. Golongan yang mendhoifkan hadis solat tarawih 20 rakaat. (Albani)
20. Golongan yang mengharamkan menggunakan Tasbih. (Albani)
21. Golongan yang mengharamkan berpuasa pada hari sabtu walaupun hari Arafah jatuh pada hari tersebut. (Albani)
22. Golongan yang melecehkan Imam Abu Hanifah R.A. (Albani)
23. Golongan yang mendakwa Allah memenuhi alam ini dan menghina Allah dengan meletakkan anggota pada Allah SWT.
24. Golongan yang mendakwa Nabi Muhammad SAW tidak hayyan (hidup) di kuburan beliau. (Albani)
25. Golongan yang melarang membaca Sayyidina dan menganggap perbuatan itu bid'ah dholalah/sesat.
26. Golongan yang mengingkari membaca Al-Quran dan membaca talqin pada orang yang meninggal.
27. Golongan yang melarang membaca shalawat selepas adzan. (Albani)
28. Golongan yang mengatakan Syurga dan Neraka ini fana (tidak akan kekal). (ibn Taimiyyah)
29. Golongan yang mengatakan lafadz talaq tiga tidak jatuh, jika aku talaq kamu dengan talaq tiga. (ibn Taimiyyah).
30. Golongan yang mengisbatkan (menyatakan/menetapkan) tempat bagi Allah. (Ibn Taimiyyah)
31. Golongan yang menggunakan uang ringgit untuk menggerakkan ajaran sesat mereka, membuat tadlis (penipuan dan pengubahan) di dalam kitab-kitab ulama yang tidak sependapat dengan mereka.
32. Golongan yang mengkafirkan orang Islam yang menetap di Palestine sekarang ini. (Albani)
33. Golongan yang membid’ahkan seluruh ummat Islam.
34. Golongan yang menghukumi syirik terhadap amalan ummat Islam yang tidak sepaham dengan mereka.
35. Golongan yang membawa ajaran tauhid dan tidak pernah belajar ilmu tauhid. (Ibn Taimiyyah)
36. Golongan yang mengatakan bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab juga mempunyai tauhid, tidak pernah Nabi Muhammad SAW mengajar begini atau pun para Shohabah R.A. (Muhammad Abdul Wahab)
37. Golongan yang membolehkan memakai lambang salib hanya semata-mata untuk mujamalah/urusan resmi kerajaan, dan hukumnya tidak kufur. (Bin Baz)
38. Golongan yang membiayai keuangan Askar Kaum Kuffar untuk membunuh Ummat Islam dan melindungi negara mereka. (kerajaan Wahhabi Saudi)
39. Golongan yang memberi Syarikat-syarikat Yahudi memasuki Tanah Haram. (Kerajaan Wahhabi Saudi)
40. Golongan yang memecah-belah Ummat Islam dan institusi kekeluargaan.
41. Golongan yang mengharamkan Maulid dan bacaan-bacaan barzanji, marhaban.
42. Golongan yang menghalalkan bom bunuh diri atas nama jihad walaupun orang awam kafir yang tidak bersenjata mati. (selain di Palastine)
43. Golongan yang menghalalkan darah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Lihat di Lubnan, Chechnya, Algeria, dan beberapa negara yang lain.
44. Golongan yang menimbulkan fitnah terhadap Ummat Islam dan menjelek-jelekkan nama baik Islam.
45. Golongan yang membuat kekacauan di Fathani, Thailand.
46. Golongan yang sesat menyesatkan rakyat Malaysia.
47. Golongan yang meninggalkan ajaran dan ilmu-ilmu Ulama ASWAJA yang muktabar.
48. Golongan yang meninggalkan methodologi ilmu ASWAJA.
49. Golongan yang minoritas dalam dunia, malah baru berumur setahun jagung.
50. Golongan yang menuduh orang lain dengan tujuan melarikan diri atau menyembunyikan kesesatan mereka.
51. Golongan yang jahil, tidak habis mempelajari ilmu-ilmu Agama, tetapi ingin membuat fatwa sesuka hati.
52. Golongan yang melarang bertaqlid, tetapi mereka lebih bertaqlid kepada mazhab sesat mereka.
53. Golongan yang secara dzahirnya berjubah, berkopiah, singkat jubah, janggut panjang, tetapi berlewat, tidak menghormati ulama, mengutuk para Alim Ulama dan tidak amanah dengan ilmu dan agama Islam.
54. Golongan yang tidak hujjah dalam ajaran mereka.
55. Golongan yang membawa ajaran sesat Ibn Taimiyyah/Muhamad Ibn Abd Wahab, kedua-dua individu ini telah dicemooh, ditentang, dijawab dan dikafirkan oleh Jumhur Ulama ASWAJA atas dasar akidah mereka yang
sesat.
Wallahu a’lam bish-Showab wal hadi ila sabilil haq.