Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Saturday, December 29, 2018

Al Allamah Wali Allah Tuan Guru Haji Saad Mogoi


AyobHussin Pulau Keramat

Al Allamah Wali Allah Tuan Guru Haji Saad Mogoi | Tok Mogoi ( Meninggal Tahun 1969 )

Wali Allah yang tinggal di Pokok Sena ( Kg Bukit) ini merupakan anak murid Pak Da Eil Mekah. Beliau seorang yang cukup tegas . Jika ada sesuatu fakta itu bercanggah dengan Islam , dia sanggup berhujah dengan siapa sahaja untuk memperbetulkan ia .

Banyak dengar kisahnya dari anak murid beliau iaitu Tuan Guru Haji Jusoh . Antara yang saya ingat ialah , kata TG Hj Jusoh bila kita makan sekali dengan dia kalau kita kata makanan tu sedap dia akan ambik air tambah dalam makanan tu bagi jadi tak sedap sebab dia nak kita makan makanan tu atas sebab niat nak sihat tubuh badan senang buat amal bukannya sebab sedap .

Pesannya kepada murid beliau :
Mu kena ikhlaskan hati , mu ada mata mu tengok , mu ada hati mu prati , mu ada akai mu tenung . Mana elok mu ikut .

Antara karamah beliau ialah :

1. Ketika masuk sahaja waktu solat bas yang dinaiki Almarhum Tuan Guru Haji Saad Mogoi ini akan mati serta merta jika driver bas tak hentikan bas

2. Apabila hujan lebat Tok Mogoi tetap akan redah tanpa basah lencun

3. Jika wayang2 ditayang dikampung apabila Tok Mogoi lalu sahaja wayang tersebut akan mati @ terpadam serta merta

4 Tok guru pernah ditanya oleh muridnya di surau kg Bendang, dekat kg saya .."Tok Guru, bila nak jadi qiamat." Tok guru menunduk seberapa ketika... lepas dia dia mengangkat muka... dia menjawab "bila kedai berhubung hang aku (berderet deret) sepanjang jalan dari Langgar sampai ke Alor Setar" maka qiamat lah"  padahal masa tu hutan sepanjang jalan dari langgar sampai alor setar. Sekarang ni deretan kedai dah hampir sambung (berderet deret)antara satu sama lain !

( Dikisahkan daripada Tok Wan Noh , Kampung Bukit )
Antara anak muridnya ialah :-

1. Tuan Guru Haji Jusoh Hussin Tobiaq
2. Tuan Guru Haji Ahmad | Pak Teh Mad Kuala Nerang
3. Tuan Guru Haji Mahmood Kampung Paya ( Ayahanda kpd Ustaz YB Salim Mahmood  (Adun Pokok Sena)
4. Tuan Guru Wan Saad Bin Haji Sa'id

Moga Allah Taala merahmati roh auliaNya . Amin
Kredit : Ibnu Siraj

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10216829963162016&id=1251877796

Thursday, December 27, 2018

Cara Ulama Terdahulu Menjadi Ulama

Penulis bertanya kepada DR. Rasyid Rajjal, dosen senior berkebangsaan Mesir, yang sudah sekitar 15 tahun mengajar di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Beliau biasa mengajar mata kuliah ‘Tsaqofah Islamiyah’ dan ‘Tarbiyah Islamiyah’ di lembaga pendidikan yang dibawahi langsung oleh Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, Arab Saudi, ini. Pertanyaan yang diajukan adalah: Bagaimana cara ulama terdahulu menuntut ilmu dan menjadi ulama yang hebat?

Sebelum penulis tuturkan jawabannya, kita mengenang kembali bagaimana kedahsyatan ulama terdahulu di dalam kancah keilmuan. Baik ilmu ke-Islaman maupun ilmu sains, atau dalam bahasa Arabnya; ilmu ayat-ayat Qauliyah, yang mengkaji Al-Quran dan Hadits Nabi, maupun ilmu ayat-ayat Kauniyah, yang mengkaji ciptaan-ciptaan Allah di alam semesta, para ulama terdahulu itu meninggalkan warisan keilmuan yang sangat melimpah. Bayangkan Musnad Imam Ahmad dalam kompilasi hadits-hadits Nabi yang disusun oleh Imam Ahmad sendiri, terdiri dari 20 jilid! Suatu karya yang di zaman sekarang tidak bisa dikerjakan melainkan oleh tim dan kelompok! Bayangkan pula kehebatan Ibnu Sina, dokter muslim yang hafal Quran sejak kecil. Ia memiliki karya berjudul Al-Qanun fi Ath-Thib yang terjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa oleh orang-orang Eropa, kemudian dijadikan rujukan selama beratus-ratus tahun oleh universitas-universitas kedokteran di sana.

Inilah kiranya rahasia keunggulan para ulama Islam terdahulu, walau pun mereka tidak mengenal gedung-gedung mewah universitas, karena memang belum ada dibangun di zaman itu:

1) Mereka menghafalkan Al-Quran sejak usia dini (antara 7 tahun sampai 15 tahun).

Sewaktu menghafal Quran, para calon ulama besar itu belajar menghargai waktu dengan sebenar-benarnya. Para penghafal Quran zaman sekarang tau benar bagaimana pentingnya menghargai waktu itu jika mau sukses menyelesaikan hafalan Qurannya. Menyia-nyiakan waktu satu jam saja yang sudah dibiasakan untuk digunakan menghafal, maka tunggu-lah besok di waktu yang sama untuk menghafal hafalan baru itu lagi. Mereka juga belajar mengatur waktu menghafal dan waktu mengulang hafalan. Waktu sebelum subuh untuk menghafal hafalan baru, dan waktu dhuha untuk mengulang hafalan yang telah dimiliki. Semua kemampuan ini sangat menunjang di saat mereka mempelajari ilmu-ilmu yang akan mereka geluti nantinya.

Al-Quran dengan sendirinya juga mendorong ulama-ulama cilik ini untuk bersemangat menuntut ilmu sekencang-kencangnya. Teriakan-teriakan ‘mengapa kamu tidak berfikir’, ‘mengapa kamu tidak mempergunakan akal’, ‘mengapa kamu tidak meneliti’, adalah teriakan-teriakan yang datang dari Al-Quran yang selalu mereka ulang-ulang sewaktu mengulang hafalan. Dan masih banyak lagi alasan mengapa hafalan Quran mampu memberikan tenaga besar di dalam menggerakkan tubuh, jiwa dan akal para ulama cilik ini untuk mendalami ilmu pengetahuan sedalam-dalamnya.

2) Ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu.

Karena ikhlas, maka Allah membantu perjuangan sang pencari ilmu, dan jika sudah dibantu Allah, adakah penghalang yang mampu menghalangi? Ikhlas dalam menuntut ilmu berarti menyerahkan sepenuh hati kepada ilmu itu. Maka tidaklah mengherankan jika di antara mereka ada yang berkata: “Berikan dirimu untuk ilmu sepenuhnya, maka ilmu akan memberikan dirinya kepadamu separuhnya.” Ikhlas dalam menuntut ilmu berarti juga menganggap enteng penghalang-penghalang yang menghambat proses panjang mencari ilmu itu. Sebab ia yakin, Allah akan menolongnya di saat kesulitan. Maka tidaklah mengherankan jika di antara mereka, ada yang giat menyalin buku jikalau uang tidak ada di tangan untuk membelinya. Bagaimana kondisi kita jika kita tidak bisa membeli suatu buku yang berharga? Apakah meniru mereka dengan menyalin buku itu? Atau diam saja tidak berbuat sambil berharap, mudah-mudahan bulan depan ada rezeki untuk membelinya?

3) Kecintaan yang luar biasa kepada ilmu.

Sejak kecil, ulama-ulama terdahulu telah ditumbuhkan kecintaan ilmu oleh para orang tua mereka. Imam Suyuthi dikabarkan lahir dari ibu yang sedang menyuguhkan secangkir teh buat suaminya (ayah Imam Suyuthi) yang sedang menggeluti ilmu di perpustakaan pribadinya! Inilah memang yang mesti kita galakkan kepada anak-anak kandung kita dan kepada anak-anak didik kita: Menanamkan kecintaan ilmu sejak dini sekali!

Memperdengarkan bacaan Al-Quran sejak si anak masih janin di dalam rahim, lalu di saat mereka tertidur dan terbangun di waktu bayi, kemudian di saat mereka sedang belajar merangkak lalu berjalan, kemudian di saat mereka sudah mulai terdaftar di Taman Kanak-Kanak, adalah salah satu cara menanamkan kecintaan kepada ilmu segala ilmu, Al-Quran.

Alhamdulillah, anak penulis yang berumur satu tahun sudah ikut ibunya mengajar di Lembaga Tahfidz Quran At-Taqwa. Walaupun di sana kebanyakannya berjalan kian kemari, tetapi sering pula penulis mendengar dari istri tercinta, si Hafidz suka merebut ‘A-Ba-Ta-Tsa’nya anak-anak, hingga akhirnya dibelikanlah buku ‘A-Ba-Ta-Tsa’ itu.

Dengan kecintaan kepada ilmu, jadilah mainan mereka buku-buku, jadilah kesukaan mereka masjid-masjid yang di dalamnya tersebar halaqah-halaqah ilmu. Dan kalau sudah cinta kepada ilmu, beristirahat-lah kita –para orang tua- dari ngedumel-ngedumel mengomel menyuruh anak-anak belajar. Sebab mereka sudah otomatis belajar sendiri. Bahkan tunggulah suatu waktu, dimana kita kesulitan menyiapkan uang buat membeli buku-buku ilmu kegemaran mereka!

4) Menghayati sepenuh hati, bahwa ilmu adalah harta segala-galanya dan kesenangan setinggi-tingginya, sehingga melahirkan jiwa otodidak dalam belajar.

Tentu maksudnya ilmu yang menyampaikan kepada rasa takut kepada Allah. Begitulah memang para ilmuan solih sebelum kita. Ilmu … ilmu … dan ilmu. Saking sudah menghayatinya mereka itu akan penting ilmu, sampai-sampai terkenal di antara mereka, ilmuan-ilmuan yang matang karena otodidak, belajar sendiri. Pergi ke perpustakaan dari awal jam dibuka dan keluar pada akhir jam ditutup. Imam Al-Albani sang pemuncak hadits abad ke-21 ini sampai diberikan kunci perpustakaan agar ia bisa sepuas-puasnya menjelajahi buku-buku di sana setelah waktu resmi perpustakaan itu ditutup setiap malamnya!

Sebagian pakar memang tidak menganjurkan sistem belajar otodidak. Akan tetapi itu jikalau tidak dibarengi dengan menyambangi majelis-majelis ilmu dan duduk bersimpuh di hadapan para guru. Jika bersama dengan belajar di hadapan para ulama, maka itulah yang dipraktikkan ulama-ulama terdahulu!

Jiwa otodidak (bahasa Arabnya: At-Ta’lim Adz-Dzati) mutlak diperlukan oleh setiap penuntut ilmu. Imam Nawawi penyusun kitab ‘Riyadh Ash-Shalihin’ adalah seorang ulama berjiwa otodidak. Beliau menegaskan bahwa seorang murid tidak boleh selalu bergantung dengan gurunya, sebab bisa jadi gurunya sedang lelah mengajar, atau banyak sekali murid-muridnya yang mengaji kepadanya.

5) Menjadikan Masjid sebagai tempat belajar.

Halaqah tahfidz dan talaqqi Quran, halaqah tafsir Quran, halaqah Hadits, halaqah Fikih adalah halaqah-halaqah yang dilangsungkan di masjid-masjid perkotaan kaum muslimin di masa lalu. Penulis belum membaca apakah halaqah matematika, halaqah ilmu Fisika, dan halaqah ilmu Biologi dilangsungkan juga di masjid, akan tetapi kemungkinan besar teori-teorinya diajarkan di masjid-masjid, kemudian praktiknya dilangsungkan di lapangan dan di laboratorium.

Dengan menjadikan masjid sebagai tempat belajar, mereka bisa selalu mengkondisikan hati untuk selalu ikhlas karena Allah dalam belajar. Mereka juga bisa selalu berdoa kepada Allah jika mendapat kesulitan dalam suatu persoalan. Ketenangan bisa terjaga karena di masjid setiap orang tidak diizinkan berteriak-teriak. Dan masih banyak lagi keutamaan belajar mengajar di tempat yang paling suci di muka bumi ini.

6) Bermulazamah (ngaji berhadapan dengan guru) dengan guru-guru yang spesialis.

Belajar Al-Quran dari seorang hafidz Quran yang mutqin (hafalannya lancar) dan memiliki isnad Quran. Belajar Hadits dari seorang hafidz Hadits. Belajar Fikih kepada ahli Fikih dan seterusnya, adalah cara pemuda-pemuda penuntut ilmu mereguk luasnya lautan ilmu di zaman terdahulu. Terkenal di kalangan mereka sebuah kalimat: “Sesungguhnya ilmu agama ini adalah din (amanah agama), maka lihatlah, dari siapa engkau mengambilnya.”

Uniknya, para pemuda haus ilmu ini, tidaklah mencari guru lain di bidang lain, sebelum ia faham betul akan ilmu yang sudah dipelajarinya. Belum hafal Quran, mereka tidak akan mengambil ilmu hadits. Belum hafal hadits, mereka pun tidaklah pergi untuk menimba ilmu fikih dan begitulah seterusnya. Ada tahapan, ada ke-amanahan, dan ada kedisiplinan di dalam menggeluti jenjang dan bidang ilmu.

7) Praktik langsung saat masih belajar.

Ketika mempelajari bab Mu’amalat (jual beli) mereka berdagang. Ketika mempelajari bab Jihad mereka berjihad. Ketika mempelajari bab Nikah mereka menikah, dan seterusnya. Ini jelas mempertajam ilmu yang telah dikuasainya secara teori. Maka terkenal-lah di kalangan mereka julukan-julukan semisal An-Najjar, si tukang kayu, Al-Haddad, pandai besi, Al-Jasshash, si tukang kapur, Az-Zajjaj, si tukang cermin. Menandakan betapa mereka selain ahli di bidang ilmu juga menjalani profesi di lapangan, artinya mempraktikkan ilmu di kehidupan. Hanya memang perlu diingat, jika kita bukan termasuk yang mampu menggabungkan antara berdagang dengan kegiatan ilmu, maka yang diutamakan harus-lah belajar dan belajar.

8) Mengajar sambil belajar dan mengajar setelah belajar.

Di antara para ulama terdahulu yang mengajar sambil belajar adalah Imam Nawawi, dimana paginya beliau belajar dan di sore harinya mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Menurut riwayat, sampai 13 mata kuliah yang beliau pelajari di pagi hari, dan di sorenya pun mengajarkan lagi ke-13 mata kuliah itu untuk para santri. Sementara Imam Abu Hanifah, mengajarkan ilmunya setelah matang sampai umur 40 tahun belajar, lalu mengajarkan ilmunya sampai usia 70 tahun. Ibnu ‘Abbas juga dikenal sejarah sebagai seorang sahabat Nabi yang sangat sibuk mengajarkan 7 mata pelajaran berbeda di setiap harinya. Adapun Imam Syafi’i, dikabarkan bahwa para penghafal Quran datang menyetorkan bacaan dan hafalan mereka kepada beliau lepas shalat Subuh hingga matahari terbit. Setelahnya datang para penghafal Hadits menyetorkan hafalan Hadits dan menanyakan makna-makna Hadits Nabi itu kepada beliau hingga waktu dhuha (atau jam 10-an). Selanjutnya datang para ahli Fikih, mempelajari fikih Imam Syafi’i yang sangat termasyhur itu.

9) Menulis, menulis, dan menulis terus demi menyampaikan ilmu.

Maksud dari menulis di sini adalah mengarang, menterjemahkan, menyusun, mengkritik suatu pemikiran dan kegiatan lain yang berhubungan dengan penulisan. Ulama terdahulu terbiasa melakukan kegiatan tulis-menulis ini. Seakan-akan kegiatan ini telah menjadi nafas mereka di dalam pergaulan mereka dengan ilmu. Orang-orang Jerman kabarnya pun menggalakkan anak didik mereka sejak kecil dengan kegiatan tulis-menulis. Diberikan kepada anak-anak Sekolah Dasar suatu kalimat misalnya ‘Indonesia’. Maka mereka pun diwajibkan untuk mencari tau informasi Indonesia sebanyak-banyaknya, apakah lewat buku-buku di perpustakaan, atau bertanya kepada orang-orang Indonesia ahli Sejarah yang kebetulan sedang tugas di Jerman dan sebagainya. Yang mana membawa informasi terlengkap, maka itulah pemenangnya!

Lihat saja HAMKA, ia menulis di usia 19 tahun. Tulisan-tulisannya telah dimuat di surat-surat kabar, baik yang ia ikut mengelolanya maupun yang tidak. Maka tak heran di akhir hayatnya, buku-buku yang telah dikarang dan disusunnya mencapai lebih dari 100 judul. Belum lagi yang belum sempat naik cetak.

Kesimpulan Cara Ulama Terdahulu menjadi Ulama:

1) Mereka menghafalkan Al-Quran sejak usia dini (antara 7 tahun sampai 15 tahun).

2) Ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu.

3) Kecintaan yang luar biasa kepada ilmu.

4) Menghayati sepenuh hati, bahwa ilmu adalah harta segala-galanya dan kesenangan setinggi-tingginya, sehingga melahirkan jiwa otodidak dalam belajar.

5) Menjadikan Masjid sebagai tempat belajar.

6) Bermulazamah (ngaji berhadapan dengan guru) dengan guru-guru yang spesialis.

7) Praktik langsung saat masih belajar.

8) Mengajar sambil belajar dan mengajar setelah belajar.

9) Menulis, menulis, dan menulis terus demi menyampaikan ilmu

Syarat-Syarat untuk seseorang itu digelar Ulama

Syarat-Syarat untuk seseorang itu digelar Ulama

https://web.facebook.com/ayobhussin/posts/10213090308512987

1) Berkemampuan untuk menggali hukum dari Al-Quran.termasuk didalamnya harus mengetahui
Asbab al-Nuzul(latar belakang turunnya Al-Quran), Nasikh Mansukh (ayat yang mengganti atau diganti),
Mujmal-Mubayyan (Kalimat yang global dan parsial),Al-Amwa Al-Khash (kalimat yang umum dan khusus),
Muhkam-Mutasyabih (kalimat yang jelas dan samar)

2) Memiliki ilmu yang luas tentang Hadis Nabi Muhammad SAW, terutama yang berkaitan dengan persoalan hukum seperti
Asbab Al-Wurud (latar belakang munculnya Hadis) dan Rijal Al-Hadis (sejarah para perawi hadis).

3) Menguasai persoalan-persoalan yang disepakati Ulama (Ijma')

4) Memahami Qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum.

5) Menguasai Bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti Ilmu Nahwu,Sharf,Balaghah dan lainnya.
Juga harus menguasai Kaidah-Kaidah Ushul Al-Fiqh (cara memproduksi hukum)

6) Memahami serta menghayati tujuan utama pemberlakuan hukum Islam. Yakni memahami bahawa tujuan utama hukum Islam
adalah Rahmah li Al-Alamin, yang terpusat pada usaha untuk menjaga perkara Dharuriyyat(primer atau pokok),
Hajiyyat(sekunder atau pelengkap), dan tahsiniyyat(tersier dan keindahan)

7) Mempunyai pemahaman serta metodologi yang dapat dibenarkan untuk menghasilkan keputusan hukum.

8) Mempunya niat dan akidah yang benar.Dengan kata lain,tujuannya bukan mengejar dan mencari pangkat serta kedudukan
duniawi.Namun niatnya murni kerana Allah SWT, ingin mencari hukum demi kemaslahatan seluruh manusia.

(USHUL AL-FIQH,ABU ZAHRAH,380-389)

diambil dari FIQH TRADISIONALIS,39-40 oleh KH Muhyiddin Abdusshomad
(Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam(NURIS) Antirogo Jember.

10 Syarat Menjadi ‘Alim Faqih Mujtahid

10 Syarat Menjadi ‘Alim Faqih Mujtahid

Menjadi kewajipan ke atas setiap penuntut ilmu mengenali ulama’ dan dukhala’ (alim palsu) agar tidak tertipu dan tersesat dalam perjalanan ilmunya.
Dalam kitab2 Usul al-Fiqh al-Islami, disebutkan 10 syarat atau lebih untuk seseorang menjadi alim atau faqih.
Pertama, Seorang alim mestilah bertaqwa (beragama), sentiasa memelihara solat, warak, dan adil iaitu tidak melakukan dosa besar, dan tidak mengulangi dosa2 kecil. Ia mestilah mempunyai malakah (bakat) dan persediaan fitri untuk mjd alim faqih (Dr ‘Abd al-Karim Zaydan; al-Wajiz Fi Usul al-Fiqh). Ia mestilah menghormati orang yang lebih alim dan tidak memandang rendah kpd penuntut ilmu. Zahid terhadap dunia, cinta kpd Akhirat, amat mementingkan agama dan sentiasa memelihara ibadah.
Apabila ia muhasabah akan dirinya, ia menangisi dosa-dosanya. (al-Isra’: 107-109)
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ
سُجَّدًا (107وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩ (109)
Kedua, penguasaan Ilmu2 Islam
1.Penguasaan ilmu al-Quran. Menghafaz seluruh al-Quran atau sebahagian besar dari al-Quran.; mempelajari ‘Ulum al-Quran spt ilmu tajwid, tafsir, qira’at, ayat-ayat hukum, ilmu nasikh mansukh, Asbab Nuzul. Utk itu ia mestilah menguasai kitab2 tafsir spt Tafsir al-Qurtubi, Tafsir Ibn Jarir, al-Baghawi, Tafsir al-Jassas, Tafsir Ibn al-Arabi al-Maliki, Ahkam al-Quran al-Shafi’ei dan lain2 tafsir ahkam. Abu Zarr r.a. berkata, “Kamu tidak akan mjd faqih sehinggalah kamu melihat banyak wajah (tafsiran) terhdp ayat-ayat al-Quran.”
Ia mestilah mengetahui tafsiran semua ayat al-Quran secara umum, dan tafsir ayat2 Hukum secara tafsil. Kini terdpt kitab2 moden spt Tafsir Taysir al-Imam ‘Abd al-Rahman al-Sa’di, Sofwat dan Tafsir Ayat al-Ahkam oleh Shaykh Muhammad ‘Ali al-Sabuni sbg cth. Cuma Sofwat perlu diperhati dan dijauhi kesilapan2 yang ada di dalamnya.
2.Ilmu Hadith; meliputi hadith2 hukum, ilmu sanad dan rijal (Usul dan Mustalah al-Hadith), meliputi hadith mutawatir, sahih, hasan daif dan mawdhu’. Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil. Antara kitab2 hadith yg perlu dibaca dan dikuasai ialah Kutub Sihah spt Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, al-Mustadrak, Sahih Ibn Khuzaimah, Sahih Ibn Hibban, Sunan2 yg Empat, Musnad2, spt Musnad Ahmad, Musnad al-Bazzar, Musnad Abi Ya’la, Musnad ‘Abd Humayd, Musnad Ibn Abi Shaybah, dll. Hadith2 ini semestinya dihafaz. Cukup dengan mengetahui sahih daif (ilmu riwayah) dan syarah2nya (ilmu dirayah). Mu’awiyah ibn Qurrah berkata, “Sesiapa yg tidak mencari hadith, maka dia bukanlah alim.” al-Imam Ahmad dan Ishaq berkata, “Seseorang yang tidak tahu membezakan sahih dan daif maka ia bukanlah seorang alim.”
Utk hadith Ahkam mesti merujuk kpd al-Umm, al-Majmu’, Ihkam al-AHkam oleh al-Imam Ibn Daqiq al-‘Id, Bulugh al-Maram Min Adillat al-Ahkam al-‘Asqalani, Nayl al-Awtar al-Imam al-Shawkani, ‘Umdatul Ahkam dll. Atau Ma’alim al-Sunan oleh al-Khattabi.
Antara Kitab Asbab Wurud al-Hadith ialah karangan Ibn Hamzah al-Dimasqi.
3.Ilmu Lughah iaitu bahasa Arab fus-ha; termasuk nahw, balaghah dan sarf. Sepakat ulama mengatakan bahawa orang yang tidak mengetahui bahasa Arab yg merupakan bahasa al-Quran dan al-Hadith, bukanlah orang alim. Wajib mempelajari bahasa arab utk mjd alim. Utk balaghah qur’aniyyah, baik merujuk Safwat al-Tafasir oleh al-Sabuni, tafsir al-Zamakhshari dan Tafsir al-Nasafi dan al-Qurtubi.
4.Ilmu Usul al-Fiqh kaedah2 istinbat hukum dr dalil2 tafsili, meliputi Dalalat al-Alfaz, ‘amm, khass, mujmal, mubayyan, mutlaq muqayyad, nasikh mansukh…Ia mencapai tahap ‘alimiyyah iaitu master dalam ilmu Usul al-Fiqh.Antara kitab yg bagus ringkas padat ialah karangan al-Risalah oleh al-Imam al-Shafi’ei, Mustasfa al-Ghazali, Muhd Abu Zahrah, al-Khudari, Dr Zaydan, Wahbah al-Zuhayli, …dll
5.Ilmu Ijma’ dan Ilmu Khilaf, ilmu Qiyas (Ijtihad), masalih dan maqasid. Ia mestilah membaca kitab fiqh 4 mazhab. Antara bacaan terbaik ialah Bidayat al-Mujtahid oleh Ibn Rushd al-Qurtubi dan al-Ijma’ oleh Ibn al-Munzir. Qatadah dan Ibn Abi ‘Arubah berkata, “Sesiapa yang tidak mengetahui khilaf, maka jangan kamu menganggapnya alim.”
Seorang alim mestilah memelihara solat jamaah sekiranya tiada sebarang uzur, memelihara lidah dari kata2 dosa, bersifat warak dan memelihara maruahnya.
KITAB2 LAIN.
1.Subul al-Salaam al-San’ani.
2.al-Fiqh al-Islami Dr Wahbah
3.Mughni Ibn Qudamah al-Maqdisi
4.Mazahib Arba’ah al-Jaziri al-Azhari.
5.Asbab Nuzul oleh  al-Wahidi, al-Suyuti, al-Nahhas,
6.Nawasikh al-Qur’an, Ibn al-Jawzi
7.Tafsir Ibn Kathir,
8.al-Nasikh Ibn Hazm,
9. al-Muhalla
10. al-Sunan al-Kubra
11. al-Tamhid dan al-Istizkar oleh al-Imam Ibn ‘Abdil Barr.
Oleh itu, jgn sesekali memberikan gelaran USTAZ  kpd org sebarangan. Adapun ustaz2 lepasan SPM di skolah rendah dan menengah, hatta univ, mrk bukan alim atau ustaz kpd umat islam, mereka hanya ustaz kpd murid2 mereka. Tidak dinafikan mereka hebat dalam bidang mereka mendidik kanak2 , usaha mrk amat disyukuri dan disanjung, tetapi mereka bukan alim, ahli fatwa atau ulama’ muslimin.
Ramai org solih, ahli ibadah dan pendakwah tetapi mereka bukanlah alim dan tidak boleh disebut alim (ustaz).
Kedapatan org awam yg baru setahun memondok sudah memakai title ustaz, berfatwa dan membicarakan ttg hukum hakam, halal dan haram, melakukan kedustaan terhadap Allah dan agama, menyesatkan umat.
6 syarat untuk mjd alim menurut al-Imam al-Shafi’ei r.a.
Akhi lan tanala al-ilma illa bi sittatin , saunbika ‘an tafsiliha bi bayan
1.Zaka’ (kecerdikan, tangkas faham, cerdas)
2.Hirs tamassuk (menghafaz ilmu; rakus)
3.Ijtihad (bersungguh2)
4.Bulghah (harta yang cukup)
5.Suhbatu ustaz (berguru, bukan hanya dengan membaca buku)
6.Tul al-zaman iaitu masa yang panjang cth 15 thn (Diwan al-Shafiei, ms 198)
Hayat al-fata wallahi bil ‘ilmi wa al-tuqa iza lam yakuna la I’tibara li zatihi
AWAS!! KINI RAMAI MUNAFIQ DAN JAHIL BERLAGAK ALIM USTAZ!!
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّاب، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي ، كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
al-Imam Ahmad mentakhrij dgn sanad hasan sahih, dr ‘Umar al-Khattab r.a., bhw Rasulullah saw mengingatkan kami ttg munafiq yg pandai berkata2 (berceramah), bersabda, “Sesungguhnya antara yg amat saaya takuti ke atas umatku ialah stp munafiq yg alim lidahnya!!

Monday, December 24, 2018

Bukti kewujudan Allah

Bukti kewujudan Allah
Imam – imam besar Islam selalu ditanya tentang mengapa mereka mempercayai Tuhan, dan mereka akan menjawab dengan mengajak mentadabbur petanda kewujudan Allah pada alam.
Dilaporkan daripada Imam Abu Hanifah bahawa sebahagian ahlul kalam berkehendak untuk berbincang dengan beliau tentang bukti kewujudan Tuhan. Abu Hanifah berkata:
“Beritahu saya sebelum kita berborak, tentang sebuah kapal di sungai Tigris yang bergerak sendiri dan dipenuhi oleh makanan, barangan dan material. Kapal ini kemudian berpatah balik dengan sendirinya, kemudian melabuhkan dirinya, kemudian mengeluarkan barangannya sendiri tanpa orang yang menguruskan”
Mereka kata “Ini tak mungkin berlaku!”
Abu Hanifah membalas “Jika ini mustahil berlaku pada sebuah kapal, maka bagaimana mungkin ia berlaku pada keseluruhan dunia ini?” [Ibn Abī al-‘Izz, and Aḥmad al-Ṭaḥāwī. Sharḥ al-‘Aqīdah al-Ṭaḥāwīyah. (Bayrūt: Muʼassasat al-Risālah, 1997), 1:36.]
Imam Malik pernah ditanya oleh khalifah Harun Ar-Rasyid tentang bukti kewujudan Allah, dan beliau menjawab: Buktinya ialah, setiap manusia telah dikurniakan mulut dan lidah yang lebih kurang sama kejadiannya, tetapi bahasa, suara dan intonasi setiap seorang daripada mereka adalah berbeza. [Ibn Kathīr. Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm,]
Imam Syafie pula ketika ditanya tentang dalil kewujudan Allah telah berkata: Lihatlah daun Tut ini (mulberry leaves). Apabila dimakan oleh ulat, ia mengeluarkan sutera. Apabila dimakan oleh lebah, ia mengeluarkan madu. Apabila dimakan oleh binatang ternakan, ia mengeluarkan anak. Apabila dimakan oleh rusa, ia mengeluarkan kasturi. Bagaimana semua ini boleh berlaku sedangkan daun yang dimakan adalah sama jenisnya? [Ibn Kathīr. Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm,]
Imam Ahmad pernah ditanya tentang kewujudan Tuhan dan beliau membalas, “Bayangkan kubu yang kebal dari pencerobohan, tanpa sebarang pintu atau jalan keluar. Bahagian luarannya seperti perak dan bahagian dalamnya pula seperti emas tulen. Ia dibina seperti ini dan alangkah takjubnya! Dindingnya merekah dan keluarlah seekor haiwan yang mendengar dan melihat dengan bentuk yang cantik dan suara yang merdu. Imam Ahmad merujuk kepada keajaiban alam semulajadi iaitu fenomena anak ayam yang menetas dari telur ibunya

Trinity - Siapakah yang Telah Kafir

Siapakah yang Telah Kafir?


Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah  yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta  ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maaidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah [5]: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maaidah [5]: 73)
Antara Amal Muslim dan Amal Orang Kafir
Ketiga ayat di atas yang terdapat di dalam suroh yang sama – meskipun tanpa menggunakan bantuan kitab-kitab tafsir – dapat mudah dipahami bahwa Allah Ta’ala menyebut mereka yang mengatakan “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam” dan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga” sebagai orang-orang yang telah kafir.
Sudah jamak diketahui informasi tentang siapakah kaum yang meyakini serta menyatakan kedua hal tersebut.
Al-Jalalayn dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang telah kafir di dalam ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Demikian juga dengan para ulama tafsir lainnya. Mereka satu kata.
Ath-Thobari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa ayat ini merupakan celaan Allah Ta’la kepada kaum Nasrani.
Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya Aysar At-Tafaasir menafsirkan penggalan ayat laqod kafarolladziniina pada ayat ke-17 tersebut dengan menjelaskan faktor penyebab kekafiran kaum Nasrani, yaitu mereka telah mengingkari kebenaran dan mengatakan kebohongan: “Allah itu adalah Al-Masih Putera Maryam”.
Melalui ketiga ayat tersebut di atas Allah Ta’ala sangat menekankan bahwa kaum Nasrani adalah orang-orang yang telah kafir.  Penegasan yang sangat kuat dari Allah Ta’la dapat diketahui dari huruf “laqod”Laqod merupakan gabungan dua harf: la dan qod. La di sini adalah lam at-taukid (huruf lam yang menyatakan penegasan). Menurut kamus Arab modern Al-Mawrid, la mempunyai makna حقا (haqqon) dan  حتما(hatman) yang berarti sungguh-sungguh, benar-benar, atau sungguh pasti. Sedangkan qod menurut kamus Arab Mu’jam Al-Wasith adalah harf  yang masuk kedalam fi’il maadhi (kata kerja lampau) yang menyatakan penegasan. Jadi, laqod lebih kuat penekanannya dari pada la atau qod saja. Shodaqollahul ‘adzim (Maha Benar Allah Yang Maha Agung – dengan segala firman-Nya). Setiap kata, bahkan huruf yang terangkai di dalam semua ayat Al-Qur’an adalah tepat dan benar. Penggunaan laqod dalam ayat ini sangat tepat dan benar karena kekafiran mereka adalah jenis kekafiran yang paling keji sebagaimana dikatakan oleh Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut.
Ibnu Thawus dan Racun ‘Pemimpin Kafir Tapi Adil itu Lebih Baik’
Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka karena mereka mengimani “Three in one” (baca: Trinitas). Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony lane 1984). (https://kristolog.com/2013/10/07/runtuhnya-teori-trinitas/)
Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”)] menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (YesusKristus), dan Roh Kudus—sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tritunggal)
Dengan demikian jelas bahwa Allah Ta’ala telah menvonis kafir pemeluk agama Nasrani. Vonis kafir dari Allah Ta’ala juga dialamatkan kepada pemeluk agama Yahudi. Dalam ayat di bawah ini dapat jelas diketahui bahwa kaum Yahudi mengatakan bahwa Allah punya anak – yaitu Uzair, salah satu ulama kaum Yahudi di masa lalu -. Melalui ayat ini Allah Ta’ala menyamakan mereka dengan kaum Nasrani –  sama-sama meyakini Allah punya anak – . Jadi, kaum Yahudi sama dengan kaum Nasrani, sama-sama disebut telah kafir dan dicela oleh Allah Ta’ala.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah [9]: 30)
Kesimpulan dan Harapan
Antara vonis tersebut dan sikap kepada para penganut agama-agama selain Islam adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Di satu sisi, pemberian vonis tersebut beserta hukumannya oleh Allah Ta’ala adalah hak-Nya. Di sisi ini juga ada aspek iman dan aplikasi ayat-ayat tersebut. Kedua aspek ini adalah kewajiban bagi Muslim. Sisi ini tidak bisa dan tidak boleh berpengaruh negatif pada sisi satunya, yaitu sikap umat Islam kepada semua manusia, apapun agamanya.
Adanya vonis kafir tersebut mestilah membuat kita kaum Muslim tidak ragu-ragu atau takut untuk meyakini dan menyatakan bahwa kaum kafir adalah sungguh kafir, serta mengimani dan mengaplikasikan ayat-ayat vonis kafir – dalam segala aspek, terutama dalam hal memilih pemimpin/penguasa – terhadap siapapun kaum kafir, yang mana kenyataannya memang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, dan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam.
Jangan jadikan ayat-ayat vonis kafir tersebut sebagai dalil (karena memang bukan dalil) sebagai pembenaran untuk berlaku dzolim kepada kaum beragama di luar agama kita, termasuk kaum Nasrani dan Yahudi. Juga jangan jadikan sebagai penghalang (karena memang bukan penghalang) bagi kita untuk menunjukkan sikap toleransi agama – yang dibenarkan agama kita -, serta sikap-sikap baik lainnya kepada mereka, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tokoh suri teladan utama dan pertama kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam beserta para shohabah Rodhiyallahu ‘anhum. Wallahu a’lam.*