Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Friday, February 9, 2018

Yayasan Ta'lim Praktikal Nahu Sorof Ei'rab Al-Quran



Yayasan Ta'lim: Praktikal Nahu, Sorof & Ei'rab Al-Quran [13-01-15]

Senarai Nama Kitab Nahu Yang DiPelajari Di Pondok

Senarai Nama Kitab Nahu Yang DiPelajari Di Pondok Syarah Asymuni Merupakan kitab Nahu peringkat tertinggi di pusat pengajian pondok.








Syarah Asymuni adalah huraian kepada matan tersohor iatu Alfiyyah Ibnu Malik(1000 rangkap syair) yang melengkapi dua ilmu yakni Nahu dan Sarf. Kitab ini sukar difahami kerana perbahasannya amat terperinci dan mendalam. Setahu saya, terdapat seorang dua tok guru sahaja di Patani yang mengajar kitab ini. Dicetak bersama Hasyiah al- Sobban sebanyak 4 jilid. 

Syarah Syaikh Khalid al- Azhari Selesai disyarah oleh Syaikh Khalid al- Azhari pada tahun 887H. Kitab ini menghurai matan Ajurumiyyah dengan bahasa yang mudah sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyid Zaini Dahlan dalam Mukhtasarnya. Syaikh Khalid banyak memberi tumpuan kepada I'rab. Dicetak bersama Hasyiah Abu Naja setebal 95 m/s. 

Syarah al- Fakihi Pengarangnya ialah Ahmad b. al- Jamal Abdullah b. Ahmad b. Ali al- Fakihi. Kitab ini merupakan syarah kepada matan Qatru al- Nada(bagi Ibn Hisyam). Syarah ini agak sukar difahami sekiranya diajar oleh guru-guru yang tidak mahir dalam ilmu Nahu. Suatu ketika dahulu(sekitar tahun 50an), pernah menjadi teks dalam kuliyah al- Allamah Syaikh Abdul Karim al- Banjari di Makkah al- Mukarramah. Beliau mengajar kitab ini secara tahqiq selama 5 tahun(seingat penulis) berdasarkan catatan salah seorang muridnya di Patani. Dicetak dua juzu' bersama Hasyiah Yasin pada tahun 1353H( gambar di atas). 

Syarah Syuzur al- Zahabi Karangan Jamaluddin Abu Muhammad Abdullah b. Hisyam al- Ansori(708H-761H). Dicetak bersama Hasyiah Muhammad Ubadah al- Adawi.( gambar di atas) sebanyak dua juzu'. Kitab ini hampir setaraf dengan Syarah Ibn Aqil dari sudut penggunaan bahasanya. Oleh itu, pelajar yang dapat memahami kitab ini sudah dikira alim Nahu. Syarah Ibn Aqil Ibn Aqil ialah teks nahu yang sangat dikenali oleh pelajar samada di pondok-pondok atau di universiti. Ia juga dipelajari di maahad-maahad kelolaan Universiti Azhar, Mesir. 

Ibn Aqil adalah syarah kepada matan Alfiyyah(seribu rangkap syair) yang juga melengkapi ilmu Sarf. Ia dikarang oleh Qadhi segala qadhi Baha'uddin Abdullah b. Abd. Rahman b. Aqil (697H- 769H). Kuburnya berhampiran dengan maqam Imam Syafie, Kaherah, Mesir. Dicetak bersama Fathul Jalil Ala Ibn Aqil pada tahun 1306H(gambar di atas) setebal 313 m/s. 

Syarah al- Makudi Karangan Syaikh Abdul Rahman b. Ali al- Makudi. Merupakan syarah kepada matan al- Ajurumiyyah dengan bahasa yang mudah difahami. Cetakan tahun 1345H setebal 23 m/s. 

Tashil Naili al- Amani Ditulis oleh Syaikh Ahmad b. Muhammad Zain al- Fatani. Merupakan syarah kepada matan Awamil al- Jurjani( karya Syaikh Abdul Qahir al- Jurjani). Tebal m/s 32. Selesai ditulis pada tahun 1300H. Kawakib al-Durriyyah Kitab ini ditulis oleh Syaikh Muhammad b. Ahmad al- Ahdal. Ia merupakan syarah(huraian) kepada Mutamimmah al- Ajurumiyyah(pelengkap matan Ajurumiyyah). Terdiri daripada 2 juzu'.

Aqiqah Rora Berbohong lagi

Daurah Al-Hikam Tuan Guru Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni



Daurah Al-Hikam, Tuan Guru Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni. 






Thursday, February 8, 2018

Imam Syafi’i lalu melanjutkan wasiatnya Carilah Ulama’ yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan orang munafiq


Carilah Ulama’ yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan orang munafiq

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Rasulullah SAW bersabda :

سياتى زمانٌ على امّتى يفرّون من الالماءِ والفقهاء فيبتليهمْ اللهُ بثلاثِ بليّاتٍ : اُولاها يرفع اللهُ البركةَ من كسبهم , والثانية يسلّط الله تعالى عليهم سلطانا ظالما , والثالثة يخرجون من الدنيا بغير ايمانٍ

“Akan datang suatu masa kepada ummatku dimana mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu : 1. Allah menghilangkan berkah dari rizki mereka 2. Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka 3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman. [ Al Hadis ]

Siapakah Ulama yang mestinya tidak boleh dijauhi,mereka dicirikan sebagaimana firman ALlah SWT :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama [ Fathir (35): 28

Imam asy Syafi’i rahimahullah, beliau pernah berwasiat:

“Nanti diakhir zaman akan banyak Ulama’ yang membingungkan umat, sehingga umat bingung untuk membedakan dan memilih yg mana Ulama’ Warosatul Anbiya’ (penerus nabi) dan yg mana ulama’ suu’ (jahat) yang menyesatkan umat.”

Imam Syafi’i lalu melanjutkan wasiatnya : “Carilah Ulama’ yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan orang munafiq, dan jadikanlah ia sebagai Ulama’ yang membimbingmu, dan jauhilah ulama’ yang dekat dengan orang kafir dan munafiq kerana ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari keredhaan Alloh.”

Dinukilkan dari hadis yang memperkuat pendapatnya ini, rasulullah bersabda: “Tiga golongan ini tidak akan diremehkan kecuali oleh orang munafik ( orang munafiq suka meremehkan 3 golongan ini ), yakni orang tua yang telah lama memeluk Islam, orang yang berilmu (ulama) dan pemimpin yang adil” (HR. Thabrani). Bentuk lain dari menjauhi ulama adalah keengganan memperdalam pengetahuan agama.

Akhir-akhir ini ada sebagian orang yang suka menjauhi ulama. Kemudian mereka meninggalkan dan tidak mengambil pendapat atau fatwa mereka, serta berlepas diri dari bimbingan mereka… Lalu apa dampak dan risikonya ? Padahal di sebutkan di dalam satu hadis, para Ulama ini adalah “Delegasi” Allah di muka bumi atas makhluknya. Merekalah yang mewarisi ilmu dari para Nabi.

Jika benar manusia sekarang sudah lari dan menjauhi ulama’ maka ada 3 adzab yang menimpa umat ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِم اللهُتَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ:

Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama’ dan fuqoha’ (ahli fiqih), maka Allah menurunkan tiga bala’ untuk mereka.

Pertama

اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ

Allah menghilangkan barokah dari usaha mereka

Benarkah saat ini mencari harta yang barokah sulit? Kalau tidak benar kenapa para konglomerat nakal, para pejabat korup yang sudah berharta trilyunan masih gila harta, masih memakan harta rakyat? Jawabnya Karena hartanya sudah tidak barokah. Hasil usaha yang tidak barokah pasti membawa dampak negatif, bila dimakan tidak menambah kenyang tapi malah kurang dan semakin rakus.

Makanan yang masuk menyebabkan tubuh malas beribadah, dan kebanyakan berakhir menjadi suatu penyakit. Harta yang tidak barokah bila digunakan untuk biaya pendidikan anak bukannya menjadikan anak semakin baik melainkan malah menjadi semakin buruk, digunakan berfoya-foya, zina, narkoba, setidaknya menyebabkan anak berani terhadap orang tua. Lantas jika ingin selamat dari harta yang tidak barokah jalan satu-satunya adalah mendekat pada para ulama’.

Kedua

وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا
Allah mengangkat penguasa untuk mereka, penguasa yang dlolim.
Akibat jauh dari para ulama’, banyak diantara kita memilih pemimpin, pejabat, anggota dewan bukan lagi atas dasar kemampuannya berbuat adil tetapi karena ketenarannya, atau karena obral janjinya, atau karena obral hartanya. Sehingga ketika menjabat mereka bukannya menjadi pengayom rakyat, pembawa suara rakyat, malah memakan harta rakyat.

Ketiga

وَالثَّالِثَةُ يَخْرُج. ُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَان

ٍMereka keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tanpa iman. Dengan kata lain Su’ul Khatimah. Dan inilah Azab yang paling ditakutkan, naudzu billahi min dzalik.

Jika hal ini terjadi maka kesengsaraan yang dialami bukan tahunan melainkan kekal selama-lamanya disiksa di api neraka.

Oleh karena itu, Bila menghormati para ulama diperintahkan, maka sebaliknya menghina dan merendahkan mereka dilarang, sungguh betapa mengerikan jika ada seorang muslim berani menghina Ulama Shalafus Shalih, ingin tahu bahayanya lainnya??

1. Menghina ulama akan menyebabkan rusaknya agama

Berkata Al-Imam Ath-Thahawi –rahimahullah- :

“Ulama salaf dari kalangan ulama terdahulu, demikian pula para tabi’in, harus disebut dengan kebaikan. Maka siapa yang menyebut mereka dengan selain kebaikan maka dia berada di atas kesesatan”

Berkata Al-Imam Ibnul Mubarak –rahimahullah- :

“Siapa yang melecehkan ulama, akan hilang akhiratnya. Siapa yang melecehkan umara’ (pemerintah), akan hilang dunianya. Siapa yang melecehkan teman-temannya, akan hilang kehormatannya”

Dan mencela ulama termasuk diantara dosa-dosa besar.

2. Orang yang menghina ulama sama artinya dia mengumumkan perang kepada Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang wali Alloh yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari -rahimahullah- dari Abu Hurairah –radhiyallohu ‘anhu- :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ
تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْآذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ – …رواه البخاري

Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman :

‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya…[HR. Al Bukhari]

Dan para ulama, mereka adalah termasuk wali-wali Allah.

3. Orang yang menghina ulama sengaja mencampakkan dirinya untuk terkena do’a dari seorang alim yang terzhalimi. Hal ini sebagaimana kisah salah seorang Shahabat yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash –radhiyallohu ‘anhu- dan beliau termasuk salah seorang dari 10 Shahabat yang dijamin dengan Surga.

4. Orang yang mencibir para ulama maka ia akan dijerumuskan kepada apa yang ia tuduhkan kepada ulama itu.

Berkata Ibrahim An-Nakha-i –rahimahullah- :
“Aku mendapati dalam jiwaku keinginan untuk membicarakan aib seseorang; akan tetapi yang mencegahku dari membicarakannya adalah aku khawatir jika aib orang itu ternyata menimpa diriku”

5. Orang yang merasa lezat dengan meng-ghibah para ulama maka ia akan diberikan su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek)

Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini dikarenakan dia suka mencibir Al-Imam An-Nawawi.

6. Daging para ulama itu beracun Berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- :

“Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”

7. Mencela ulama merupakan sebab terbesar bagi seseorang untuk terhalangi dari dapat mengambil faedah dari ilmu para ulama.

Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.”

Demikianlah dampak bahayanya menjauh, terlebih membenci dan meninggalkan diri dari bimbingan para ulama.

Semoga kita Allah persatukan di bawah bimbingan para Ulama Billah wa Fillah. Dan tidak di kelompokkan menjadi para pembenci kekasih-kekasih kekasih Allah.

- Thariqah Alawiyah Plus

Al-Fadhil Tuan Guru Syeikh Muhammad Nuruddin bin Haji Marbu

"SEORANG ULAMA DARI TANAH BANJAR YANG TERKENAL DENGAN KETINGGIAN ILMUNYA"
Al-Fadhil Tuan Guru Syeikh Muhammad Nuruddin bin Haji Marbu bin Abdullah Thayyib, atau yang lebih dikenal dengan nama Syeikh M.Nuruddin Marbu Al-Banjary merupakan seorang Ulama terkenal yg berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.
"Kelahiran & Masa Muda Beliau"
Syeikh M. Nuruddin Marbu Al-Banjary dilahirkan di sebuah desa bernama Harus, Amuntai pada tanggal 1 September 1960 M.
Beliau anak ketiga dari tujuh bersaudara, dari sebuah keluarga yang taat beragama.
Ibunda Beliau bernama Hajjah Rahmah binti Haji Muhammad Sobri, yg mana Ibunda Beliau ini adalah puteri dari seorang tokoh Ulama besar di Kalimantan Selatan.
"Berhijrah ke Tanah Suci Makkah"
Beliau mendapat pendidikan awal di sekolah rendah di kampung Harus.
Kemudian pada tahun 1974 Beliau belajar di pondok pesantren Normal Islam, belum pun sempat menamatkan pengajiannya di pondok tersebut seluruh keluarga Beliau telah berhijrah ke tanah suci Makkah.
Pada tahun itu juga (1974) Beliau meneruskan pengajiannya di madrasah Shaulathiah sampai tahun 1982.
Selain itu beliau juga mengikuti pengajian yang diadakan umum di Masjidilharam dan juga dirumah para Masyaikh.
Pada tahun 1982 Beliau telah menamatkan pengajiannya dengan peringkat mumtaz (cemerlang) di madrasah Shaulathiah.
Di samping itu juga Beliau turut mencurahkan ilmunya kepada para pelajar dari Indonesia. Beliau telah mengajarkan kitab Qatrunnada, Fathul Mu'in, 'Umdatussalik, Bidayatul Hidayah dan lain-lain sebelum naik ke kelas 'Aliyah.
Beliau merupakan murid kesayangan gurunya As-Syaikh al-‘Allamah Ismail Utsman Zain al-Yamani .
Dan guru Beliau inilah yang banyak mewarnai dalam kehidupan Beliau.
Syeikh Ismail Utsman Zain banyak meluangkan waktunya yang berharga untuk Beliau dan sering mengajak Beliau untuk menemani ke Madinah menghadiri program agama dan juga menziarahi maqam baginda Rasulullah SAW.
Beliau senantiasa mencurahkan segala usaha dan tenaga kepada para masyaikh untuk berkhidmat dan juga membekali diri dengan ilmu daripada guru-gurunya.
Beliau juga amat gigih belajar, maka tidak mengherankan kalau beliau mendapat tempat di hati para gurunya.
Sebut sahaja Ulama-Ulama yang ada di Mekah khususnya, pasti Beliau pernah berguru dengan mereka.
Siapa yang tidak mengenali tokoh Ulama-Ulama yang harum nama mereka disebut orang semisal :
- Syaikh al-Allamah Hasan al-Masyath yang digelar Syaikh-ul-Ulama'.
- Syaikh al-Allamah Muhammad Yasin al-Fadani, yang mendapat julukan Syaikhul Hadits wa Musnidud-dunya.
- Syaikh Ismail Usman Zein Al-Yamani yang digelar Al-Faqih Ad-Darrakah (guru Beliau ini menghafal kitab Minhajut Tholibin).
- Syaikh Abdul Karim Banjar.
- Syaikh Suhaili al-Anfenani.
- As-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki.
- Syaikh Said al-Bakistani.
Dan masih banyak lagi.
"Melanjutkan Menuntut Ilmu Ke Al-Azhar"
Pada tahun 1983 Beliau telah melanjutkan pengajiannya di Universitas Al-Azhar Asy-Syarif dalam bidang syariah, hingga mendapat gelar sarjana muda.
Kemudian Beliau meneruskan lagi pengajiannya di Ma'had 'Ali Liddirasat Al-Islamiah di Zamalik sehingga memperolehi diploma am “Dirasat 'Ulya” pada tahun 1990.
Antara guru-guru Beliau ketika Beliau belajar di Mekah dan Mesir adalah adalah:-
- Syaikh al-‘Allamah Hasan al-Masyath.
- Syaikh al-‘Allamah Muhammad Yasin al-Fadani.
- Syaikh al-‘Allamah Ismail Utsman Zain al-Yamani al-Makki.
- Syaikh ‘Abdullah Said al-Lahji.
- Syaikh al 'Alaamah al-Jalil as-Sayyid 'Amos.
- Syaikh al-‘Allamah Muhammad ‘Iwadh al-Yamani.
Dan lain-lain.
Kitab-kitab yang dipelajari Beliau bersambung sanad hingga kepada pengarang.
Betapa hebat dan beruntungnya umur Beliau dan segala yang diberikan oleh Allah SWT, tidak salah kalau dikatakan ilmu Beliau lebih tua dari umurnya.
"Menjadi Pengajar Diberbagai Tempat"
Setelah beberapa tahun Beliau mendapat kesempatan mengajar berbagai macam kitab, baik di Mesir yg hingga mendapat gelar Al-Azharus stanii (Al-Azhar yg kedua) & di Malaysia, akhirnya pada tahun 2004 Beliau telah menetap & mendirikan satu pondok pesantren di daerah Ciampea, Bogor, dengan nama Ma'had Az-Zein Al-Makky Al-Aly Littafaqquhi Fiddin Wa Tahfizhil Qur'an & memiliki cabangan diberbagai tempat di Nusantara sampai sekarang.
"Kitab-Kitab Karangan Beliau"
Selain dengan kesibukan Beliau mengajar, Beliau juga senantiasa berkontribusi dalam penulisan kitab.
Kitab-kitab susunan Beliau diantaranya :
° الإحاطة بأهم مسائل الحيض والنفاس والاستحاضة
° تساؤلات وشبهات وإباطيل حول معجزة الإسراء والمعراج والرد عليها
° المختار من نوادر العرب وطرائفهم
° آدب المصافحة
° من هو المهدى المنتظر؟
° المجال الإقتصاد في الإسلام
° بيان مفتى جمهورية مصر العربية حول فوائد البنوك في ميزان أهل العلم
° سفر المرأة (احكامه و آدابه)
° الدرر البهية في إيضاح القواعد الفقهية
° معلومات تهمك
° أسماء الكتاب الفقهية لسادتنا الأئمة الشافعية
° أحكام العدة في الإسلام
° آراء العلماء حول قضية نقل الأعضاء
° أدلة بحريم نقل الأعضاء الآدمية
° الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر في الكتاب والسنة
° العبر ببعض معجزات خير البشر صلى الله عليه وسلم
° محمد نور الدين مربو البنجاري المكي والأحاديث المسلسة
° الجوهر الحسن من أحاديث سيدنا عثمان عفان رضي الله عنه
° اسمى المطالب من بعض أحاديث سيدنا على بن أبي طالب رضي الله عنه
° مراقي الصعود من بعض أحاديث سيدنا عبدالله بن مسعود رضي الله عنه
° إفادة العام والخاص من بعض أحاديث سيدنا عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما
° الكواكب الدري من أحاديث سيدنا أبي سعيد الخدري رضي الله عنه
° الكواكب الأغر ببعض أحاديث سيدنا عبدالله بن عمر رضي الله عنهما
° زاد السلك من أحاديث سيدنا أنس بن مالك رضي الله عنه
° الإقتباس من أحاديث سيدنا عبدالله بن عباس رضي الله عنهما
° فيض الباري حول بعض أحاديث سيدنا أبي موسى الإشعري رضي الله عنه
° الردة أسبابها وأحكامها
° توفيق الباري لتوضيح وتكميل مسائل الإيضاح للامام النووي
° مكانة العلم والعلماء وآداب طالب العلم
& masih banyak lagi kitab-kitab susunan serta tahqiqan Beliau.
Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memelihara serta memanjangkan umur Beliau, & mudah-mudahan juga kita semua mendapat manfaat ilmu dari Beliau.
Amiiin ya Rabbal alamiin.

Wednesday, February 7, 2018

SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN BID’AH HASANAH


*SYAIKH IBN TAIMIYAH DAN BID’AH HASANAH*
Oleh Von Edison Alouisci
Dalam salah satu fatwanya yang terhimpun dalam kitab “Majmu’ Al Fatawa” Syaikh Ibn Taimiyah berkata :
وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلَال مَنْ ابْتَدَعَ طَرِيقًا أَوْ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُولَ لَمْ يَذْكُرْهُ وَمَا خَالَفَ النُّصُوصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لَا يُسَمَّى بِدْعَةً قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ – : الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلَالَةٍ . وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُونُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ : نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ
“Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak pernah menyebutnya.
Pandangan yang menyalahi nash adalah Bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedang pandangan yang tidak diketahui menyalahinya terkadang tidak dinamakan Bid’ah.
Imam As Syafi’iy –rohimahulloh- berkata : “Bid’ah itu ada dua :
Pertama ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- maka ini disebut Bid’ah Dholalah.
Kedua ; Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, maka Bid’ah ini terkadang disebut Bid’ah Hasanah berdasar pernyataan Umar “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini (tarowih)”.
Pernyataan Imam As Syafi’iy ini diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang shohih. *(Majmu’ Fatawa, vol. 20, hlm. 163)*
*Nah dari penjelasan ibnu taimiyah diatas maka beranikah wahabi mengatakan beliau ahlul bidah sesat ??*
*Beranikah wahabi mengatakan ibnu taimiyah tidak paham bidah ?*
*Kenapa ustadz ustadz wahabi menutupi penjelasan beliau ini dalam kitab majmu fatawa ?*
*Kenapa ingkar dari paham ibnu taimyah tentang hal ini dan menutupinya dari pengikut wahabi awam ?*
Sungguh ustadz wahabi ahlul munafikun bahkan pengikutnyapun di bohongi agar anti bidah hasanah dan membiarkan pengikutnya tebar fitnah,teriak semua bidah sesat hingga bagai hakim agama padahal masih dangkal.
*Beginikah yg dikatakan ahli sunnah ?*
Sungguh benar hadits rasulullah yg mengatakan bahwa di akhir zaman akan muncul golongan sama persis dgn tinggkah khawarij dimasanya :
ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : ﺇﻥ ﻣﻦ ﺿﺌﻀﺊ ﻫﺬﺍ ﻗﻮﻣﺎ ﻳﻘﺮﺋﻮﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻻ ﻳﺠﺎﻭﺯ ﺣﻨﺎﺟﺮﻫﻢ ﻳﻘﺘﻠﻮﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﻳﺪﻋﻮﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﻭﺛﺎﻥ ﻳﻤﺮﻗﻮﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻛﻤﺎ ﻳﻤﺮﻕ ﺍﻟﺴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻣﻴﺔ ﻟﺌﻦ ﺃﺩﺭﻛﺘﻬﻢ ﻷﻗﺘﻠﻨﻬﻢ ﻗﺘﻞ ﻋﺎﺩ
*Sesungguhnya dari keturunan ini (khawarij) akan ada kaum* yang membaca Al-Qur’an yang tidak sampai kecuali pada kerongkongan, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, jika saya menjumpai mereka pasti akan saya bunuh mereka seperti membunuh kaum Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
ﺳﻴﺨﺮﺝ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻗﻮﻡ ﺃﺣﺪﺙ ﺍﻷﺳﻨﺎﻥ ﺳﻔﻬﺎﺀ ﺍﻷﺣﻼﻡ
.
*Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.”* (HR. Bukhari dan Muslim)
ﻳﺨﺮﺝ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺃﻣﺘﻲ ﻳﻘﺮﺋﻮﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻳﺤﺴﺒﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻻﺗﺠﺎﻭﺯ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﺗﺮﺍﻗﻴﻬﻢ
*“Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al‑Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.” (HR. Muslim)*
ﻳﺤﺴﻨﻮﻥ ﺍﻟﻘﻴﻞ ﻭﻳﺴﻴﺌﻮﻥ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻴﺴﻮﺍ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
*Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)*
ﻻﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﻳﺨﺮﺝ ﺁﺧﺮﻫﻢ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺴﻴﺢ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ
*Mereka akan senantiasa keluar sampai pada yang terakhir bersama Al-Masih Ad-Dajjal. Jika kalian bertemu mereka, maka bunuhlah; merekalah sejelek-jelek penciptaan dan sejelek-jelek makhluk.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)*
ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻗَﻮْﻡٌ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻟَﻴْﺴَﺖْ ﻗِﺮَﺍﺀَﺗُﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﻗِﺮَﺍﺀَﺗِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺻَﻠَﺎﺗُﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺻِﻴَﺎﻣُﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﻴَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻳَﺤْﺴِﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻟَﺎ ﺗُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺻَﻠَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻗِﻴَﻬُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ
*Akan keluar suatu kaum dari umatku* ...
mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya..
demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya.
Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka.
Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud)
ﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ ﻛﻼﺏ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ
*Al-Khawarij adalah anjingnya ahli neraka*
*LIHAT DAN PERHATIKANLAH BAIK BAIK TINGKAH LAKU PENGIKUT WAHABI !*
*Merasa paling alim dari kita semua !!*
Sampai sampai tdk ada amalan kita yg mereka anggap baik selain diri mereka saja.
Bahkan mereka ALERGI Berkumpul dgn umat muslim selain mereka krn merasa merekalah ahli surga.
Dimana mana mereka menyeru sunnah sunnah seperti khawarij tetapi semuanya hanya batas tenggorokan !
Semoga kita terlindung dari kaum khawarij akhir zaman ini.intaha
By.Von Edison Alouisci
Tgl 4 pebruari 2018
Whatsapp
+6281273311201
.
BBM : VON6666
.
CHANEL TELEGRAM
http://tlgrm.me/von_edison_alouisci
.
CHANEL LINE :
https://line.me/R/ti/p/%40cpu9611w
.
FANS PAGE FB :
http://www.facebook.com/von.edison.alouisci

Sunday, February 4, 2018

Sanad itu sebahagian dari agama, tanpa sanad akan berkata sesiapa apa yang mahu dikatakan

Mazrisyam Bin Sharif added 3 new photos.


SYARAH DAN SANAD MATAN JAUHARAH

Menyenaraikan Syuruh Matan Jauharah tidak boleh mensabitkan adanya Tauhid 3 dalam matan tersebut. Klu tidak pun datang kn satu capture dari kitab syarah yg mensyarahkan demikian agar boleh dibincangkan. Tiada jugak!

Cukup pada saya 2 Syarah, oleh Ulamak Mutaakhirin Syeikh Nuh Al-Qudhah RahimahUllah Mufti Jordan.

Dan satu lagi syarah oleh Imam Besar Al-Burhan Al-Bajuri As-Syafie RahimahUllah yg ditahqiq oleh Al-Fadhil Ust Dr Ali Jumu'ah HafizahUllah. Bahkan Al-Fadhil Dr Ali Jumaah mengatakan sanad bacaan beliau sampai kepada Imam Al-Bajuri RahimahUllah. Dan dalam syarah ini tiada pembahagian Tauhid 3.

Maka benarlah kata Abdullah Bin Mubarak r.a: الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

'Sanad itu sebahagian dari agama, tanpa sanad akan berkata sesiapa apa yang mahu dikatakan.'

Semoga Allah swt memelihara aqidah dan agama kita.




LikeShow more reactionsCommentShare

107Sam Nas, Muhammad Saifuddin and 105 others
6 Shares
13 Comments
Comments

View 1 more comment

Ahmad Faiz Alfateh ust dan kaaa ngn syeikh nuh qudhaaah
2Manage


LikeShow more reactions · Reply · 3h

Mazrisyam Bin Sharif replied · 7 Replies · 37 mins


Mohd Miqdad Aswad Ahmad Ada ustaz dok diskusi panjang dengan al Fadhil Dr Abdul Rahim Ahmad. Ustaz dah baca ka. Harap ustaz dapat buat ulasan buat budak2 macam ana ni.Manage


LikeShow more reactions · Reply · 2h

Mohd Miqdad Aswad Ahmad replied · 2 Replies · 2 hrs


Tengku Ahmad Ridhaudin Tak dak sanad satu hal. Buat faham sendiri tu lagi parah. Lepas tu menyanadkan ahli wahabi sampai terpeleot konon datang dari mufti.
7Manage


LikeShow more reactions · Reply · 2h

Hanzalah Roslan Al-Hajjam replied · 1 Reply


محمد ابن اسماعيل الشافعي Ustaz boleh rujuk juga kitab karangan Imam Laqqoni sendiri atas matan Jauharah iaitu هداية المريد dan عمدة المريد شرح الكبير ا ustaz Mazrisyam Bin Sharif
4Manage


LikeShow more reactions · Reply · 2h

Syed Shahridzan Nanti ana nak mai perlih, nak duduk ngan enta talaqqi matan jauharah. Dah lama tak refresh, dah banyak berkarat bila orang mintak cerita pasal ilmu akidah.
8Manage


LikeShow more reactions · Reply · 1h

Baba Syarif Berandamadina replied · 2 Replies · 24 mins


Emang Sarani Wahabi jdi bisu.. mana wahabi yg main tangkap muat.. main hentam2 ksi masuk matan ke tauhid 3.. memang wahabi ni mengada2.. auta retorik..Manage


LikeShow more reactions · Reply · 1h

Ustaz Mahfuz Mohd Khalil Pasai apa yg ngaji Jordan ramai jd Pak Wahab ?Manage


LikeShow more reactions · Reply · 1h

Luqman Nordin replied · 3 Replies · 46 mins


Mahadzir Tajuddin beliau ada juga memetik nama Baba Ismail Sepanjang Al Fathoni..harap ada anak murid baba semak kesahihan tersebut..nnti baba maksudkan lain, beliau faham lain..inipun jenayah ilmiyah jugak...Manage


LikeShow more reactions · Reply · 1h

Mahadzir Tajuddin replied · 2 Replies · 12 mins


محمد حمدي احمد Kadang2 mereka taqiyyah..tak ngaku.. Jabatan mufti wilayah berlambak prowahabi, maza, rora... Hari2 bergaul xde nak tegur pun.. Siap support menyaport lagi dlm fb....Manage


LikeShow more reactions · Reply · 1h

Ustaz Mahfuz Mohd Khalil Tekong2 wahabi rata2 dr pelajar JordanManage


LikeShow more reactions · Reply · 1h

Faqir Al-Miskin Ibn Sabil Ustaz, pasai po bagi Dalil kaw sangat kat Wahhabi?? Payoh lah depa nak jawab ni ~ Hok aloh ~

Benarlah, Tauhid 3 serangkai ini bukan dari Salafussoleh, hanya rekaan Ibnu Taimiyyah pada kurun ke-7 ( 700 Hijriah ) kena buh lengkap tu, sebab ade wahhabi ambo jumpo, katanya : kurun ke 7 Hijriah itu sama zaman dengan Nabi, Hok aloh ~ Ibnu Taimiyyah lak jadi sahabat, Hok aloh ~ kurun pun Wahhabi dok pehe, kurun ke-7 disangka tahun ke-7Manage


LikeShow more reactions · Reply · 51m · Edited

Abdul Rashid Baharuddin Syabas ustaz. Mempertahankan mustalahat ahli sunnah waljammah drp dicuri pakai oleh wahabi.Manage


LikeShow more reactions · Reply · 44m

Friday, February 2, 2018

LAGI BUKU MUFTI WP Tidak amanah pada matan Jauharah Tauhid



Asy-Syafi’i Mencela Sufi Para Imam Ahli Hadits Pun Bermadzhab


Benarkah Imam Asy-Syafi’i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Bagaimana Dengan Kita Yang Awam?

Ketika Khalid Basalamah Tidak Tahu Bahwa Arasy Adalah Makhluk Allah

Belajar Tauhid 3 Serangkai ... tak tahu hakikat makluq dan khaliq ?

http://pecihitam.org/2018/01/ketika-khalid-basalamah-tidak-tahu-bahwa-arasy-adalah-makhluk-allah.html


Dalam suatu video youtube, Khalid Basalamah yang merupakan seorang Ustad bergelar Doktor penganut Tri Tauhid, yang sedang mengajar Aqidah Islam ketika ditanya apakah Arasy itu makhluk? Beliau menjawab tidak tahu. Ketika beliau memberi kuliah tentu banyak yang mendengar, bahkan nampaknya ada tim khusus yang merekam dan mengupload video itu. Namun dari sekian banyak yang hadir baik murid maupun gurunya sama-sama tidak sensitif dengan keyakinan yang amat syubhat itu.

Perhatikan Menit ke 3 detik 15 pada Video Berikut:


https://www.youtube.com/watch?v=YoHlF4hVJog

https://www.youtube.com/watch?v=vu6QU5T5dus

Ini text yang diucapkan dalam video itu:

“.. tentang apakah Arasy itu makhluk ya… Allahu a’lam, Ini saya tidak bisa jawab apakah Arasy itu makhluk atau tidak. Allahu a’lam gitu khan.. karena Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam. Semua yang berhubungan dengan Allah dan DzatNya itu lebih cenderung ulama mengatakan seseorang tidak berbicara. Karena ada sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam yang berbunyi berbicaralah di Nama-Nama dan Sifat Allah dan jangan berbicara di DzatNya Allah, karena DzatNya Allah kita tidak akan mampu membicarakan masalah-masalah sampai di sana”

Ucapan beliau itu menunjukkan jalan pemikiran beliau akibat memahami ayat Mutasyabihat dengan makna zahirnya. Beliau tidak dapat menjawab bahwa Arsy itu makhluk atau bukan, alasannya adalah karena:
Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam, maka Arasy adalah berhubungan dengan Allah dan DzatNya.
Ada sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam yang berbunyi berbicaralah di Nama-Nama dan Sifat Allah dan jangan berbicara di DzatNya Allah, karena DzatNya Allah kita tidak akan mampu membicarakan masalah-masalah sampai di sana. Jadi beliau mengira jika berbicara apakah Arasy itu makhluk atau bukan adalah sama dengan berbicara di Dzat Allah.

Maha Suci Allah dari apa yang telah disifatkan itu.

Bagi orang Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang telah belajar Ilmu Tauhid Sifat 20 dari kecil tahu bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk.

Dari informasi yang kami terima, sebenarnya beliau berasal dari lingkungan dan keluarga Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah/Matudiriyah sebagaimana sebagian besar Umat Islam Indonesia. Dan memang Umat islam Indonesia dari dahulu, dari sejak masuknya Islam ke Indonesia adalah beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyah/Matudiriyah, bermazhab Syafii dan bertasawuf mengikuti Ulama Tasawuf seperti Imam Ghazali, Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Hasan Al Syadzili. Hal ini telah ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah .

Mengapa beliau kemudian menjadi tidak tahu bahwa yang selain Allah adalah makhluk, termasuk Arasy adalah makhluk Allah?
Konflik antara makna zahir istawa dengan Sifat Allah menurut dalil Aqli dan Naqli

Inilah bukti adanya konflik dalam ajaran Tauhid 3 serangkai, karena menolak ilmu Tauhid Sifat 20 yang telah disusun oleh Ulama Tauhid Ahlussunnh wal Jamaah yang berdasarkan dalil Naqli dan Aqli. Ajaran Tauhid 3 serangkai menolak Ilmu Mantiq (logika), sedangkan ilmu Mantiq ini sangat diperlukan agar kita tidak keliru dalam menggunakan akal, sebagaimana pentingnya ilmu Tajwid agar kita tidak keliru membaca Al Quran.

Meyakini yang selain Allah adalah makhluk, dan yang selain makhluk itu adalah Allah adalah satu perkara pokok Aqidah yang amat mendasar. Setiap orang yang berakal pasti dapat dengan mudah memahaminya. Selain dengan dalil Naqli sebagaimana disebut dalam QS Al-Ikhlash, juga dengan dalil aqli (akal) pun kita dapat mudah memahaminya, karena ini sesuai dengan fitrah akal.

﴾قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤

“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang/sesuatupun yang setara dengan Dia”.

Sehingga sudah semestinya keyakinan ini sudah sebati dengan keyakinan kita. Beliau itu Ustad bergelar Doktor yang telah belajar agama bertahun-tahun, namun mengapa demikian?

Mengapa ajaran Tauhid dibagi 3 membuat beliau menjadi tidak tahu bahwa Arasy adalah makhluk? Bagaimana jika yang belajar itu orang awam?

Akal kita mempunyai fitrah yang tidak dapat kita nafikan. Kalau suatu ajaran melawan fitrah akal, walaupun diajarkan dengan sistem dogma secara berulang-ulang, tetap saja akal yang masih sehat dan sesuai fitrahnya akan menolak, akal dan hati akan merasa tertekan dan tidak puas.

Contoh ada agama yang mengajarkan Tuhan mempunyai anak, walaupun diajarkan bertahun-tahun dengan “dalil aqli yang diada-adakan”, tanpa Ilmu Mantiq (logika), yaitu:
Allah itu Maha Kuasa dapat melakukan apa saja, termasuk punya anak.
anak Tuhan berbeda dengan anak manusia yang melalui proses biologis.

Namun di bawah sadarnya akal menolak dan tidak merasa puas, karena ada konflik dalam ajarannya itu. Fitrah akal memahami bahwa dzat anak adalah setara dengan dzat sang ayah,
sifat dzat anak selalu mewarisi sifat dzat ayahnya
suatu saat dzat sang anak akan menjadi seperti dzat ayahnya

Karena mereka gigih “mempertahankan” dan “memaksakan” Tuhan punya anak, maka pada akhirnya mereka mengangkat “anak” Tuhan – yang tadinya disebutnya berbeda dengan anak manusia – menjadi “bagian dari Tuhan”. Maka Tuhan yang mereka sifatkan itu tidak lagi Maha Esa, Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Untuk “membungkus” pemahaman yang sudah kacau ini mereka katakan: Tuhan itu tiga tapi satu, satu tapi tiga, yang hingga sekarang akal dan hati mereka sendiri tidak terima. Mereka katakan imani saja, inilah rahasia keimanan.

Sebenarnya dalil Aqli (lihat Sifat Salbiyah dalam Sifat 20) sudah dapat menjawab bahwa mustahil Allah punya anak, selain dalil Naqli yang disebut dalam QS Al Ikhlash.

Demikian juga ajaran Tauhid 3 serangkai. Dalam Tauhid Asma wa Sifat, mereka sangat fanatik dan gigih mempertahankan makna asli yang zahir dari ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya) walaupun itu melawan fitrah akalnya. Mereka mempertahankan makna istawa dengan terjemahan bersemayam dengan makna zahirnya dalam QS Thaha:5

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

Bahkan menolak takwil (mengalihkan makna) dengan kata menguasai (lihat mulism.or.id tentang makna-tauhid).



Walaupun ada ayat Muhkamat (yang jelas maknanya) yang menyatakan Allah Menguasai Arasy, seperti disebut dalam QS At-Taubah:129

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara) ‘Arsy yang agung“.

Sebenarnya Allah sudah memberikan panduan bagaimana kita mesti memahami ayat-ayat Mutasyabihat, Pertama dengan Tafwid yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah atau dengan cara Takwil yaitu dengan memalingkan dari membahas makna yang samar dalam ayat Mutasyabihat ke ayat yang jelas maknanya dalam ayat Muhkamat.

Karena gigih “mempertahankan” dan “memaksakan” makna asli yang zahir dari ayat Mutasyabihat dengan dalih tidak ingin mentakwil dengan memalingkan arti istawa, akibatnya mereka justru telah mentakwil (memalingkan) pemahaman Arasy dari “makhluk Allah” menjadi mengira “bagian dari Dzat Allah”, Na’udzu billahi min dzalik.

Sebagaimana agama yang meyakini Tuhan punya anak tadi, mereka juga punya “dalil aqli yang diada-adakan” tanpa Ilmu Mantiq (logika), mereka katakan

Allah itu Maha Kuasa, tentu Dzat Allah mampu melakukan istawa (bersemayam) dengan makna zahir di atas Arasy.

Bersemayamnya Dzat Allah berbeda dengan bersemayamnya makhluk
Namun di bawah sadarnya akal sebenarnya tidak terima, karena ada konflik dalam pemahaman demikian.

Mengapa ada konflik pemahaman dalam fitrah akal di bawah sadarnya? Sebab fitrah akal memahami suatu dzat yang bersemayam dengan makna zahir di atas dzat yang lain, adalah jika dua dzat ini setara. Setara yang dimaksud adalah sama sifat dzatnya. Yakni sama-sama mempunyai jisim (tubuh, benda, bervolume) jism itu wujud (ada) pada waktu yang bersamaan.

Di satu sisi untuk dapat dikatakan bersemayam, kedua jism (tubuh) Allah dan Arasy harus sama-sama wujud. Di sisi lain, Arasy itu bukan Allah, kalau bukan Allah tentu Arasy itu pernah tidak ada, jadi batal sifat bersemayam bagi Jism Allah karena Jism Arasy belum ada. Disinilah konflik akal yang menyebabkan Ustad bergelar Doktor tidak dapat menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan, alasannya Arasy ini adalah tempat Allah subhanahu wa ta’ala bersemayam. Beliau mengira kalau menjawab apakah Arasy itu makhluk atau bukan, sama dengan bicara di Dzat Allah. Secara tak sadar akalnya menganggap ada kesetaraan antara Allah dan Arasy. Na’udzu billahi min dzalik.

Sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa pemahaman makna asli yang zahir “istawa” (bersemayam) menurut dalil Aqli (lihat Sifat Salbiyah dalam Sifat 20), adalah mustahil berlaku pada Dzat Allah, Selain dalil Naqli bahwa tidak ada seorang/sesuatupun yang setara dengan Dia” (QS Al Ikhlas). Makna istawa (bersemayam) dengan makna zahir adalah perbuatan Jism (tubuh/benda/volume). Mustahil Allah bersifat jism (tubuh, benda, bervolume), sebab jism/tubuh/volume memerlukan ruang untuk dapat menampungnya, sedang ruang adalah makhluk yang pernah tidak ada. Artinya Allah yang mereka sifatkan itu memerlukan tempat/ruang dan Arasy. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Untuk “membungkus” pemahaman yang kacau ini, mereka katakan Allah bersemayam di atas Arasy tetapi Allah tidak perlu Arasy. Namun video di atas menunjukkan bahwa akal bawah sadar mereka tidak faham dengan pernyataan itu, sehingga Ustad bergelar Doktor beserta seluruh pendengar dan tim dokumentasi yang merekam dan mengupload video itu sama-sama tidak sensitif dengan pernyataan “tidak tahu bahwa Arasy itu makhluk atau bukan”. Bukankah ini meng”kultus”kan makhluk Allah yang bernama Arasy, bahkan syubhat mengira bahwa Arasy adalah bagian dari Dzat Allah. Na’udzu billahi min dzalik.

Konon mereka ingin memurnikan ajaran Islam, namun justru mengotori keyakinannya dengan mempunyai Aqidah yang sangat syubhat.
Konflik Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Asma wa Sifat

Dalam ajaran Tauhid 3 serangkai ada konflik antara definisi Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Asma wa Sifat. Di satu sisi mereka gigih mempertahankan makna asli Nama dan Sifat Allah dalam Tauhid Asma wa Sifat. Di sisi lain dalam Tauhid Rububiyah mereka semaunya membuat definisi Sifat Rububiyah tanpa melihat sama sekali makna asli Nama “Robb” dan Sifat “Rububiyah” yang berarti Pemelihara yang erat dengan Sifat Rahman (Kasih Sayang). Akhirnya dalam Tauhid Rububiyah keluar pernyataan yang menabrak Tauhid Asma wa Sifat, bahwa Tauhid Rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin maupun kafir dari dulu hingga sekarang.

(Lihat menit ke 7 video ini, dan tulisan dalam muslim.or.id tentang makna tauhid, yang diberi tanda merah dibawah ini


Ketika Khalid Basalamah Tidak Tahu Bahwa Arasy Adalah Makhluk Allah
Kalau kita melihat definisi Tauhid Rububiyah yang mereka buat sendiri (lihat snapshot di atas) yaitu:
Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka
Salah satu kejadian yang hanya dapat dilakukan Allah adalah menghidupkan manusia di akhirat setelah mematikannya di dunia. Kejadian ini orang kafir jelas menolak mengakuinya, seperti disebut dalam QS Al-Isra:49
وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”
Jadi Sifat Rububiyah Allah “Menghidupkan manusia di Akhirat” ini dita’thil (ditolak) dalam Tauhid Rububiyah hanya untuk membenarkan pernyataan “Tauhid Rububiyah ini diyakini semua orang baik mukmin maupun kafir dari dulu hingga sekarang“. Dengan keterangan ringkas ini saja sudah dapat dijelaskan konflik yang berlaku pada ajaran Tauhid 3 serangkai yaitu Tauhid Rububiyah melanggar Tauhid al Asma was Sifat ajarannya sendiri. Wallahu a’lam

Wirid Gunung Harta

Wirid Gunung Harta

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan mengharap ridho, ampunan, kasih sayang & pertolongan Allah, pada malam hari ini dengan tulus ikhlas, saya bagikan kepada teman-teman semua;

WIRID GUNUNG HARTA.
*) Laksanakan pada malam hari, sekitar jam 1 pagi, awali dengan mengerjakan sholat Hajat 2 atau 4 raka’at (setiap 2 raka'at salam).
*) Setelah selesai sholat kemudian bacalah dzikir wirid gunung harta sebagaimana yg tertera di foto.

يَااللهُ، يَارَزَّاقُ، يَاوَهَّابُ
“Yaa Allaahu, Yaa Rozzaqu, Yaa Wahhabu”
(Wahai Allah, Dzat Yang Maha Pemberi Rizki dan Dzat Yang Maha banyak PemberianNya)

اللّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ
وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاك
"Allahummakfini bi halalika `an haramika
wa aghnini bi fadlika `amman siwak"
(Ya Allah cukupkanlah aku dengan yg Engkau halalkan dari yg Engkau haramkan. Dan Kayakanlah aku dengan karunia MU sehingga tdk lagi mengharap kepada selainMU)

InsyaAllah jika anda ikhlas, istiqomah, yakin dan rutin mengamalkannya, jalan hidup anda akan selalu terang, lancar, banyak rezeki dan dijauhkan dari penghamburan harta.
Dan InsyaAllah kekayaan yg melimpah & barokah akan segera anda raih atas izin & ridhoNYA.

Silahkan, Langsung saja diamalkan.
Anak, istri, orang tua & keluarga anda menunggu kesuksesan anda.
Semoga keberkahan Allah mengalir didalam KEHIDUPAN kita semua.

امين يارب العالمين

Pustaka Salma.




Serban itu umpama mahkota bagi orang Arab



Terjemahan Kitab Thurath added 2 new photos.Liked
14 hrs ·


Gambar dibawah sebelah atas, ALMARHUM TG HJ ABDUL LATIFF BIN ABDUL RAHMAN.Guru kepada penterjemah kitab dan ana(admin) disebelah bawah.

CopyPaste dr fb Mohammad Reeza.


Serban sudah diketahui umum bahawa ia merupakan pakaian Arab. Perkataan orang Arab yang mashur ;

" Serban itu umpama mahkota bagi orang Arab"

Bahkan terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahawa Rasulullah sendiri memakainya,seperti yang disebut dalam al Shamail al Muhammadiah. Rasulullah telah memakai serban hitam ketika Fath Makkah.

Serban Hijaziah

Serban hijazia mempunyai keunikan tersendiri.Warna nya kuning dan terkadang keemasan. Kebiasaanya pada masa kini dipakai pada hari² kebesaran agama seperti Eid atau majlis² perkahwinan. Adapun dahulu ia merupakan pakaian harian masharakat ketika itu.

#Serban_kuning apakah sandarannya?

Diriwayatkan daripada Imam Abu Abdillah al Hakim dalam Mustadraknya ;

Daripada Abd Allah bin Jaafar daripada bapanya berkata;

'Aku melihat Rasulullah saw memakai dua pakaian yang dicelup dengan zaafaran (menjadikannya bewarna kuning),iaitu ridak baginda dan i'mamahnya(serban kepala)'.-Rujuk juga Mukjam Al Kabir, At Tabarani.

Daripada Hisham bin Urwah daripada Abbad Bin Abd Allah bin Zubair berkata;

'Adalah Zubair bin Al Awwam ketika hari peperangan Badar beliau memakai #serban_kuning , turunnya malaikat juga memakai serban kuning (sepertinya keadaan Zubair bin Al awwam)' - Rujuk juga Musannaf Ibn Abi Syaibah.

Thursday, February 1, 2018

Jangan menangisi dan berduka terlalu lama pada urusan duniamu

Jgan menangisi dan berduka terlalu lama pada urusan duniamu. Kerana satu masa ianya akan berakhir tatkala jasad mu berada didalam perut bumi. Akan tetapi menangislah pada urusan akhirat mu. Kerana ianya bakal bermula. Kerana sebenar-benarnya alam kehidupan adalah alam akhirat (alam selepas kematian)❞

[Imam Ibnu Athoillah -- Kitab syarah Hikaman

Hadith Da’if bukan Hadith Palsu