Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Tuesday, April 30, 2019

SANG PEMABUK DAN PEZINA ITU TERNYATA WALI ALLAH

SANG PEMABUK DAN PEZINA ITU TERNYATA WALI ALLAH ...
Di dalam buku hariannya Sultan Turki Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.
Sultan berkata kepada kepala pengawal: "Mari kita keluar sejenak".
Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar.
Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit.
Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.
Sultan pun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: "Apa yang kau inginkan?.
Sultan menjawab: "Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?"
Mereka berkata: "Orang ini Zindiq, suka menegok minuman keras dan berzina".
Sultan berkata: "Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayoh angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya".
Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.
Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.
Dalam tangisnya sang istri berucap kpd jenazah suaminya: "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang soleh".
Mendengar ucapan itu Sultan Murad kehairanan. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya".
Sang istri menjawab: "Sudah ku duga pasti akan begini..."
"Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke kedai kedai minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin".
"Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka wang dan berkata: "Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi".
"Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam".
" Orang-orangpun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir."
Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: "Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu".
Ia hanya tertawa, dan berkata: "Jangan takut, bila aku mati, aku akan disolati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya".
Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: "Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatkannya dan menguburkannya".
Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.
(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV)
Photo : sayyid maliki (mekkah)

Saturday, April 27, 2019

zaman 70an dulu, kami org pondok panggil wahabi sebagai KAUM MUDA

AyobHussin Pulau Keramat

Just now
zaman 70an dulu, kami org pondok panggil wahabi sebagai KAUM MUDA...
kenapa kami panggil kaum muda ?
kerana mereka rata rata masa tu... terdiri dari budak budak mentah dan muda... yg baru balik dari timur tengah dan menyebarkab fahaman wahabi...fahaman ibnu taimiyah ... bin bas...ibnu qayyim
kaum muda perpadanan dengan hadis Nabi ...
sabda Nabi,
يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ
“Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik (Rasulullah), mereka lepas dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..” (HR Bukhari)

Khawarij Akhir Zaman: Slogan kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah

Baik Perkataannya, Buruk Perbuatannya

Berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits mereka pakai, namun kesimpulan lain yang mereka dapat dan amalkan. Berbagai larangan Allah dalam Al Qur’an seperti Su’u Zhon (Buruk Sangka), Mengolok-olok sesama, Mengkafirkan sesama Muslim, dan membunuh sesama Muslim. Berbagai caci-maki terhadap sesama Muslim seperti Ahlul Bid’ah, Sesat, Kafir dan sebagainya terlontar dari mulut mereka.
Kaum Khawarij ini merasa paling benar. Bahkan Khawarij pertama merasa lebih benar dari Nabi sehingga menuduh Nabi tidak adil. Khawarij masa kini menuduh Jumhur Ulama yang merupakan Pewaris Nabi sebagai tidak adil. Contohnya ada Khawarij bilang sejumlah ulama besar adalah sesat atau pembela aliran sesat:
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Ali ra. yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. membagikannya kepada beberapa orang, Aqra` bin Habis Al-Hanzhali, Uyainah bin Badr Al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al-Amiri, seorang dari Bani Kilab, Zaidul Khair At-Thaiy, seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Apakah baginda memberi para pemimpin Najed, dan tidak memberikan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda: Aku melakukan itu adalah untuk mengikat hati mereka. Kemudian datang seorang lelaki yang berjenggot lebat, kedua tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, jidatnya jenong dan kepalanya botak. Ia berkata: Takutlah kepada Allah, ya Muhammad! Rasulullah saw. bersabda: Siapa lagi yang taat kepada Allah jika aku mendurhakai-Nya? Apakah Dia mempercayai aku atas penduduk bumi, sedangkan kamu tidak mempercayai aku? Lalu laki-laki itu pergi. Seseorang di antara para sahabat minta izin untuk membunuh laki-laki itu (diriwayatkan bahwa orang yang ingin membunuh itu adalah Khalid bin Walid), tetapi Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara bangsaku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: 
Seseorang datang kepada Rasulullah saw. di Ji`ranah sepulang dari perang Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak. Dan Rasulullah saw. mengambilnya untuk diberikan kepada manusia. Orang yang datang itu berkata: Hai Muhammad, berlaku adillah! Beliau bersabda: Celaka engkau! Siapa lagi yang bertindak adil, bila aku tidak adil? Engkau pasti akan rugi, jika aku tidak adil. Umar bin Khathab ra. berkata: Biarkan aku membunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya memang membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1761)
Ciri Khawarij ini adalah gemar membaca Al Qur’an, mengaku pembela Islam, namun tidak mengamalkannya. Dia datangi ummat Islam dgn pedang sambil menuduh ummat Islam melakukan kesyirikan. Padahal Syirik menurut pemahaman Nabi adalah menyembah berhala. Yang dilakukan Nabi adalah menghancurkan berhala. Bukan membunuh orang-orang yang dituduh Musyrik:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ، وَكَانَ رِدْئًا لِلْإِسْلَامِ، انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ»، قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ، الْمَرْمِيُّ أَمِ الرَّامِي؟ قَالَ: «بَلِ الرَّامِي»
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).
Kafirnya Khawarij bukan karena aqidahnya sesat atau karena ibadahnya penuh bid’ah. Aqidah dan ibadahnya bersih. Namun sikap mereka yang mengkafirkan Muslim lain itulah yang mengakibatkan mereka jadi kafir. Keluar dari Islam. Khawarij artinya orang-orang yang keluar (dari Islam).
يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ
“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud)
Bahkan merekapun membawakan hadis-hadis Nabi SAW, namun dipahami dengan pemahaman yang tidak benar, sabda Nabi,
يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ
“Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik (Rasulullah), mereka lepas dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..” (HR Bukhari)
Pemikiran takfiri (mudah mengkafirkan) adalah pemikiran yang ditakutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimpa umatnya, karena ia berakibat yang tidak bagus dan merugikan Islam dan kaum muslimin bahkan merusak citra Islam dan mengotori keindahannya. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengecam keras Khawarij dalam hadis-hadisnya, Abu Ghalib berkata,
رَأَى أَبُو أُمَامَةَ رُءُوسًا مَنْصُوبَةً عَلَى دَرَجِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ ثُمَّ قَرَأَ { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ
قُلْتُ لِأَبِي أُمَامَةَ أَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ إِلَّا مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا حَتَّى عَدَّ سَبْعًا مَا حَدَّثْتُكُمُوهُ.
“Abu Umamah melihat kepala-kepala (kaum Khawarij) yang dipancangkan di jalan Masjid Damaskus, Abu Umamah berkata, “Anjing-anjing neraka, seburuk-buruknya orang yang terbunuh di kolong langit, dan sebaik-baiknya yang dibunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij), kemudian beliau membaca Ayat, “Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lain menjadi hitam..” Sampai akhir ayat.
Aku berkata kepada Abu Umamah, “Engkau mendengarnya dari Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Aku mendengarnya sekali, dua kali, tiga kali, empat kali sampai tujuh kali. Bila aku tidak mendengarnya, aku tidak akan menyampaikannya kepada kamu.” (HR. At Tirmidzi).
Tempat kaum Khawarij berasal. Nabi menunjuk ke arah Timur:
Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Yusair bin Amru, ia berkata: Saya berkata kepada Sahal: Apakah engkau pernah mendengar Nabi saw. menyebut-nyebut Khawarij? Sahal menjawab: Aku mendengarnya, ia menunjuk dengan tangannya ke arah Timur, mereka adalah kaum yang membaca Alquran dengan lisan mereka, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1776)
Saat mengatakan itu, Nabi berada di Madinah, Hijaz. Ada pun di timur Madinah/Hijaz adalah Najd, (Riyadh dan sekitarnya) tempat lahirnya Muhammad bin Abdul Wahhab:


Sunday, April 21, 2019

Tuduhan Imam Ghazali tak ngaji ilmu hadis



IMAM AL GHAZALI DAN ILMU HADIS

1. Ini hanyalah antara contoh dari kebanyakan penganut Wahhabi yang menghina dan melekehkan ulamak muktabar. Hujjatul Islam Imam al Ghazali yang diiktiraf kealimannya dihina oleh penganut ajaran sesat wahhabi.

2. Jawapan kepada penganut wahhabi mengenai keilmuan Imam Al Ghazali mengenai hadis : 

3. Menurut Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali, Imam al-Ghazali telah mempelajari hadis secara wijadah (penemuan) dan juga ijazah, namun beliau tidak mempelajarinya secara sama‘ (talaqqi) kecuali di akhir hayatnya (al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith hlm. 81-83). Sebab itu, beliau berusaha untuk mengatasi kelemahannya itu, dan ini yang membawa beliau untuk mendengar Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim melalui al-Hafiz Abu al-Fityan ‘Umar bin Abi al-Hasan al-Rawasi.

4. Al-Hafiz Ibn ‘Asakir menyebutkan bahawa Imam al-Ghazali telah mendengar Sahih al-Bukhari daripada Abu Sahl Muhammad ibn ‘Abdullah al-Hafsi (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/200). Dan antara syeikh-syeikhnya yang lain dalam ilmu hadis ialah al-Hakim Abu al-Fath Nasr ibn ‘Ali ibn Ahmad al-Hakimi al-Tusi, Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari, dan Muhammad ibn Yahya ibn Muhammad al-Syuja‘i al-Zawzani (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/220).

5. Kata muridnya, al-Hafiz ‘Abd al-Ghafir al-Farisi (w. 529H): “Di akhir hayatnya, beliau telah memberi tumpuan terhadap hadis Nabi al-Mustafa SAW, dan duduk bersama para ahlinya, serta menelaah al-Sahihain, al-Bukhari dan Muslim, yang mana kedua-duanya merupakan hujjah Islam.Seandainya beliau hidup lama, nescaya beliau mampu mengatasi semua orang dalam disiplin ilmu (hadis) tersebut dengan waktu yang cukup singkat yang beliau luangkan untuk memperolehinya. Tidak diragukan lagi bahwa beliau telah mendengar hadis-hadis di waktu-waktu sebelumnya, dan beliau hanya menyibukkan diri dengan mendengarnya (secara sama‘) di akhir hayat. Dan beliau tidak berkesempatan meriwayatkannya. Namun, hal itu tidak memudaratkan terhadap apa yang beliau tinggalkan dari kitab-kitab yang telah ditulis dalam bab usul, furu’ dan seluruh bahagian yang lain, yang akan kekal disebut-sebut namanya. Dan telah tertetap di sisi mereka yang menelaah dan mengambil faedah daripadanya bahwa tidak ada lagi orang terkemudian yang sebanding dengannya sesudah beliau”. (Lihat: Tabyin Kazib al-Muftari oleh al-Hafiz Ibn ‘Asakir, hlm. 296; Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/210).

6. Kata ‘Abd al-Ghafir al-Farisi lagi: “Aku pernah dengar bahawa beliau telah mendengar Sunan Abi Dawud al-Sijistani dari al-Hakim Abu al-Fath al-Hakimi al-Tusi, namun saya tidak menemukan bukti sama‘nya” (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212). Sebab itu, ada dikatakan bahawa Imam al-Ghazali pernah menyebut bahawa menelaah kitab Sunan Abi Dawud itu sudah memadai bagi seorang mujtahid.

7. Kata ‘Abd al-Ghafir al-Farisi: “Beliau juga telah mendengar berbagai-bagai hadis secara formal bersama-sama para fuqaha’. Antara yang saya temukan bukti sama‘nya ialah apa yang beliau dengar daripada kitabMawlid al-Nabi SAW karangan Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr ibn Abi ‘Asim al-Syaybani, riwayat al-Imam Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Harith al-Asbahani, dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far ibn Hayyan, dari pengarangnya. Imam al-Ghazali telah mendengarnya dari Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari - Khawar Tabaran - rahimahullah, bersama-sama dua orang anaknya, Syeikh ‘Abd al-Jabbar dan Syeikh ‘Abd al-Hamid serta sekumpulan para fuqaha’… Kitab tersebut di dalam dua juzuk yang didengar oleh beliau” (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212-214).

8. Kata al-Hafiz Ibnu ‘Asakir al-Dimasyqi (w. 571H): “Beliau telah mendengar Sahih al-Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin ‘Abd Allah al-Hafsi, dan menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah di Baghdad. Kemudian beliau keluar ke Syam mengunjungi Baitul Maqdis. Beliau memasuki Dimasyq pada tahun 489H dan tinggal di sana dalam satu tempoh. Disampaikan kepadaku bahawa beliau telah menulis di sana sebahagian karya-karyanya. Kemudian beliau kembali ke Baghdad, lalu ke Khurasan. Beliau telah mengajar dalam satu tempoh di Tus. Setelah itu, beliau meninggalkan pengajaran dan perdebatan, dan menyibukkan diri dengan ibadah”. Al-Hafiz Abu Sa‘d ibn al-Sam‘ani menyebut bahawa beliau pernah mengundang Abu al-Fityan ‘Umar bin Abi al-Hasan al-Rawasi al-Hafiz al-Tusi dan memuliakan beliau, serta mendengar darinya Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim” (Lihat: Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/214-215).

9. Menurut Ibn Kathir : “Dikatakan pada akhir hayatnya, beliau telah cenderung kepada mendengar hadith dan menghafal al-Sahihain (al-Bukhari dan Muslim)…”, “Kemudian (di akhir hayat) beliau telah pulang ke negerinya Tus dan tinggal di sana, membina sebuah ribat, membuat rumah yang baik, menanam tanam-tanaman di sebuah kebun yang indah, memberi tumpuan membaca al-Quran dan menghafal hadith-hadith sahih” (Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/214-215).

Rujukan dari blog Ustaz Khafidz Soroni -

http://sawanih.blogspot.com/2011/12/status-imam-al-ghazali-450-505h-dalam.html?m=1

Friday, April 19, 2019

MENJAWAB FITNAH YANG DILONTARKAN TERHADAP GURU MULIA KAMI

MENJAWAB FITNAH YANG DILONTARKAN TERHADAP GURU MULIA KAMI
“Alhamdulillah, pagi tadi berkesempatan menadah kitab Sifat 20:
Suatu Pengenalan Asas karangan Ustaz Muhadir Haji Joll as-Sanariyy dengan Al-Fadhil Ustaz Muhadir sendiri di Masjid Negeri Shah Alam.
Alhamdulillah, setakat ini belum pernah miss kuliah aqidah beliau.Di permulaan kuliah, beliau mengatakan baru menerima whatsapp daripada seorang kawan dari Pahang beritahu ada orang menulis yang beliau (Ustaz Muhadir) mengatakan dalam sebuah rancangan TV lebih kurang “Siapa yang menyimpan kitab Ihya’ Ulumiddin di rumahnya,syaitan akan lari.”
Al-Fadhil Ustaz Muhadir mengatakan kepada ahli pengajian aqidah tadi, “Mungkin orang tersebut silap quote. Semoga Allah mengampuninya. Seingat saya, saya tidak katakan begitu. Yang saya katakan, “Guru kami, Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith menyebutkan di dalam kitabnya Al-Manhaj as-Sawi Syarh Ushul Thoriqah as-Sadah Aali Ba Alawi, “Ada para Ahlullah (wali Allah) yang melihat syaitan lari dan ada tanah di atas kepalanya. Ketika syaitan ditanya, syaitan menjawab, “Telah ditulis sebuah kitab yang aku takut manusia akan mengikut ajaran di dalam kitab tersebut. Kitab tersebut adalah Kitab Ihya'
Ulumiddin.”
Selepas itu Ustaz Muhadir meminta para jemaah yang ramai tadi bersaksi yang beliau memaafkan orang tersebut dan semua orang yang menulis sesuatu yang “tidak baik” dalam fb tentang perkara tersebut. Beliau juga menasihatkan supaya mendengar semula ucapannya dengan lengkap dan memahaminya sebaiknya sebelum memberi komen atau memanjang-manjangkannya dan menasihatkan bahawa “daging ulama’ beracun.”
Kemudian beliau berdoa semoga semuanya dijauhkan daripada fitnah kehidupan dan kematian dan diaminkan oleh para jemaah.
Balik rumah, saya semak buku yang beliau katakan. Allahu Akbar.....Benar apa yang beliau katakan. Biarlah saya kongsikan.Terjemahan (yang bergaris merah sahaja):
“Sayyiduna al-Imam Abdullah al-Haddad radhiyallahu ‘anhu berkata, ".......Sesungguhnya salah seorang daripada mereka (para solihin/ Auliya')
berkata, “................ Sesungguhnya salah seorang daripada melihat syaitan menaburkan tanah di kepalanya setelah ditulis kitab Ihya' ( Ulumiddin).
Lalu dia bertanya kepadanya, “Kenapakah dengan kamu (melakukan perkara tersebut)?"
Syaitan menjawab, “Telah dikarang sebuah kitab tentang Islam yang aku takut manusia akan mengikutnya (iaitu mengikut ajaran yang terkandung
di dalamnya.” (muka surat 250-251)
Apa yang jelas, Ustaz Muhadir tidak sebarangan dalam kata-katanya.Ada sumbernya. Tambahan lagi, kata-kata itu bukan kata-kata beliau,tetapi kata-kata Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad,seorang ulama’ besar, Habib yang masyhur, malah seorang Wali Allah terkemuka yang menyusun
Ratib al-Haddad yang sangat masyhur dan berkat itu.
Lagi satu, Ustaz Muhadi maksudkan syaitan akan takut kalau orang merujuk kepada kitab Ihya’ Ulumiddin kerana kandungannya lengkap mengajar tauhid yang benar, feqah yang lengkap dan tasawuf yang mantap. Itu yang ditakutkan syaitan. Bukan letak kitab tersebut dalam rumah, syaitan lari. Fahamilah kata-kata beliau dengan baik.
Semoga Allah memberikan kita manfaat yang banyak daripada para ulama’ kita yang ikhlas. Amin.
Ditulis oleh:
Ahli pengajian Kuliah Aqidah Sifat 20,
Masjid SSAAS, Shah Alam, Selangor,
Rabu, 17 April 2019.
*Disertakan kitab dan mukasurat serta kandungan kitab tersebut sebagai rujukan.

Thursday, April 18, 2019

infaq kitab sullam sibyan

Ilmu Pondok 30 mins · Pada 3 dan 4 hb mei nanti akan ada daurah pengajian kitab Sullam Sibyan bahasan hukum hakam puasa di masjid balik bukit depan hospital besar jerteh terengganu. Jadi sy mengajak sahabat2 yg ingin menginfakkan kitab untuk diagihkan kepada peserta daurah tersebut. Jadi setiap kali org guna kitab yg kita infaq selagi itulah kita akan dpt pahala walau kita sudah meninggal dunia sekalipon. Siapa yg nak berinfaq boleh brhubung dengan ust Haziq 0195949228.

Sunday, April 14, 2019

7 Jenis Iblis Mendatangi Manusia ketika Sakaratul Maut

7 Jenis Iblis Mendatangi Manusia ketika Sakaratul Maut


TAHUKAH Anda jika 7 iblis ini akan mendatangin Anda ketika Anda sakaratul maut? iblis apa sajakah itu? Berikut penjelasannya.
1. Iblis dengan Rupa Binatang yang Ditakuti
Ketika ada orang dalam keadaan sakaratul maut, ada iblis yang mendatanginya dengan rupa binatang yang ditakuti, seperti ular, harimau, singa atau binatang lainnya. Saat orang itu memandangi iblis berupa binatang menakutkan, maka ia akan terkejut dan lari ketakutan hingga melompat-lompat. Apabila ia meninggal karenanya, maka ia telah mati dalam keadaan lupa dan lalai terhadap Allah SWT bahkan ia telah menjadi munafik.
2. Iblis dengan Rupa Aneh
Iblis ini dapat berbentuk sebagai perak, emas atau lainya. Bahkan bisa juga sebagai minuman dan makanan yang lezat. Orang yang sakaratul maut biasanya akan teringat dengan ketamakannya terhadap barang-barang di dunia. Saat orang dalam keadaan sakaratul maut mulai meraba dan menyentuh barang duniawi itu kemudian meninggal dunia, maka ia telah mati dalam keadaan lupa dan lalai pada Allah SWT. Ia telah menjadi seorang munafik dan nerakalah tempat baginya. Kisah sakaratul maut iblis harus diketahui agar kita tidak terjerumus pada tipu daya iblis.
3. Iblis dengan Rupa yang Paling Dibenci
Saat seseorang dalam keadaan sakaratul maut maka akan datang iblis yang menyerupai orang-orang yang dibencinya. Dengan melihat orang yang dibenci itu, maka ia akan berusaha melakukan sesuatu pada musuhnya itu, baik untuk mendorongnya atau menyakitinya. Pada saat inilah, orang itu akan meninggal dalam keadaan munafik karena telah lupa dan lalai terhadap Allah. Tempat kembali baginya adalah neraka. Inilah dahsyatnya proses sakaratul maut.
4. Iblis dengan Rupa Binatang yang Disukai
Iblis dapat datang pada orang yang sakaratul maut dengan bentuk binatang yang disukainya, seperti kucing, kelinci ataupun anjing. Ketika binatang itu terlihat, maka ia akan meraba-raba, memeluk, dan menyayanginya. Jika saat itu malaikat mencabut nyawanya maka ia akan mati dalam keadaan lalai dan lupa pada Allah. Ia telah menjadi kaum munafik dan hanya neraka lah tempat yang pantas baginya.
5. Iblis dengan Rupa Sanak-saudaranya yang Hendak Mati
Orang dalam keadaan sakaratul maut akan didatangi oleh iblis yang menyerupai ayah, ibu, adik, kakak, atau saudara lainnya. Mereka akan menawarkan hal-hal yang disukai olehnya. Namun, iblis akan membuat janji jika orang itu mau menerima pemberiannya maka ia harus menurut pada iblis dan menyembah Tuhan mereka. Orang yang terlena dengan hal ini, maka orang itu akan termasuk dalam kaum munafik.
6. Iblis dengan 72 Barisan
Iblis akan datang dalam 72 barisan karena diketahui bahwa umat Muhammad akan terbagi menjadi 73 barisan yang terdiri dari 72 barisan yang masuk neraka dan 1 barisan yang benar. Dengan datangnya 72 barisan itu akan membuat orang tersebut lalai pada Allah dan menjadi kaum munafik. Oleh karena itu tanda-tanda sakaratul maut perlu diwaspadai.
7. Iblis yang Menyatakan sebagai Ulama Pembawa Kitab
Akan datang iblis menyerupai ulama menghampiri orang yang sedang sakaratul maut. Iblis itu akan menasihati orang tersebut bahwa ia merupakan seorang ulama yang akan menyampaikan kebaikan baginya. Ia menampilkan Tuhan dan Surga palsu untuk mengiming-iminginya. Jika ia menyetujui hal tersebut maka ia akan mati dalam keadaan munafik karena lalai pada Allah