Inilah Jalan Sufi Headline Animator

Whatsap Saya

Pencerahan Bid'ah

Wednesday, March 30, 2016

KH Saiful Islam Al Payage, Berdakwah Hingga Pedalaman Papua

KH Saiful Islam Al Payage, Berdakwah Hingga Pedalaman Papua
_____________________________

Nama aslinya Elimus Payage. Pria kelahiran Papua 4 April 1979 ini lahir dari keluarga pendeta terkemuka di Papua bernama Simon Payage. Tak banyak yang tahu jika masa kecilnya dihabiskan di Desa Silimo Yahukimo, dan mulai bersekolah di SD Inpres Silimo Yahokimo Papua, lalu melanjutkan ke SMP YPPK Wamena masih di Papua tahun 1991. Menginjak remaja, Syeh Payage muda melanjutkan sekolah ke SMU Ibrahimy Situbondo Jawa Timur. Di kota inilah ia lalu melanjutkan kuliahnya di Institut Agama Islam Ibrahimy Situbondo Jawa Timur.

Sejak lulus SD, ia menemukan jalan hidup yang telah digariskan untuknya menjadi seorang dai. Perjalanan itu dimulai dari perkenalannya dengan seorang pengusaha Muslim di Papua bernama H Baharuddin. Saat itu Syeh Payage ingin sekolah di Jawa mengingat minimnya sarana dan fasilitas pendidikan di Papua. “Saya nanti ingin kembali ke Papua dengan membawa pengetahuan yang berguna untuk masyarakat,” ujarnya.

Tahun 1993 Syeh Payage dibawa H Baharuddin ke pesantren yang didirikan oleh KH As’ad Syamsul Arifin (alm) di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur. Di sana ia dipertemukan dengan putra KH As’ad Syamsul Arifin bernama KH Raden Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin.

Ternyata kedatangan Syeh Payage sudah ditunggu lama oleh pengasuh pesantren tersebut. Dari pembicaraan KH Fawaid dan H Baharuddin, Payage mendengar bahwa KH As’ad pernah berwasiat kepada putranya untuk mendidik anak dari Papua yang akan dijadikan juru dakwah di sana. “Anaknya asli Papua. Kalau sudah alim nanti akan dikirim kembali ke Papua untuk berdakwah di sana,” ujar. Syeh Payage mengingat pembicaraan itu.

Sejak saat itu nama Syeh Payage diganti Saiful Islam dan diangkat menjadi anak asuh KH Fawaid As’ad Syamsul Arifin.

Selama di pesantren Saiful diminta sungguh-sungguh belajar ilmu agama. Untuk biaya sekolah, kebutuhan sehari-sehari dan biaya lain-lain akan ditanggung oleh ayah angkatnya kh Fawaid As’ad Syamsul Arifin

Di pesantren itu. Syeh Saiful sangat giat belajar dan melahap berbagai ilmu pengetahuan mulai dari ilmu al-Qur’an, fikih, tarikh, akhlak dan ilmu tauhid. Ia juga mengenyam pendidikan formal mulai dari madrasah tsanawiyah sampai meraih gelar sarjana (S1) dari Institui Agama Islam Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur tahun 2006.

Tahun 2007 ia sempat dikirim ke Yaman untuk belajar di Pondok Pesantren Darul Musthofa yang di Asuh Oleh Al Alim Al Alamah Habib Umar Bin Hafidz Hadramaut Yaman.

Bakat dan kemampuan Payage di dunia dakwah semakin terasah dengan mengikuti muhadarah (ceramah) di pesantren. Tak heran ketika masih menjadi santri, Saiful sering mendampingi KH Fawaid berceramah ke beberapa daerah serta diminta menggantikannya jika berhalangan hadir.

Namun demikian Syeh Saiful tetap tidak lupa dengan tugas yang diemban untuk berdakwah di kampung halamannya. Selama berdakwah ke daerah-daerah, Syeh Saiful sempat beberapa kali berdakwah di Papua untuk menyampaikan ajaran Islam, meskipun tak mudah meretas jalan dakwah di Tanah Papua.

Budaya masyarakat Papua tetap tidak berubah meskipun daerah tersebut telah lama ia tinggalkan. Masyarakat di sana masih makan daging babi, mempercayai kekuatan roh, memakai koteka, berjudi, perang antarsuku dan berbagai kemaksiatan lainnya.

Menurut beliau Syeh Saiful, persoalan ini tidak bisa diselesaikan kecuali dengan jalan dakwah. Melalui dakwah itu ia mengenalkan budaya kebersihan, keindahan dan kemuliaan akhlak sesuai dengan ajaran Islam. Dakwah ini dilakukan dengan dua cara yaitu dakwah bil hal dengan mengenalkan mandi, bersuci, tayamum, memandikan mayit, dan menutup aurat Dll . Cara kedua, melakukan safari dakwah ke daerah pedalaman seperti Babo, Bintuni, Kaimana, Wamena, Jayawijaya, Merauke dan daerah-daerah terpencil lain yang jarang tersentuh Islam

Dakwah yang dilakukan secara berkelompok ini ditempuh dengan berjalan kali. Jika rombongan kehabisan perbekalan di tengah jalan, mereka hanya bertahan dengan makan daun-daunan serta minum air hutan. “Semua kita lakukan agar masyarakat Papua mengenal Islam dan mendapat manfaat yang besar,”

Memang Di Daerah Papua Bukan rahasia lagi beberapa tempat di pedalaman itu banyak tak tersentuh nikmatnya fasilitas infrastruktur dari pemerintah. Seperti di Papua, Kalimantan hingga Sulawesi. Syeh Al-Payage pun menceritakan beberapa pengalamannya

“Saya pernah ke suatu tempat yang terpecil di Papua. Untuk mencapainya, saya harus dibopong oleh empat orang menggunakan papan kayu. Perjalanan itu butuh sehari-semalam. Makannya pun hanya dedaunan yang kita temui sepanjang perjalanan,” kenangnya.

Ia pun berdecak kagum karena di tempat terpecil seperti itu ada sebuah kampung Islam. Bahkan pada lain waktu, ia pernah berdakwah dengan menggunakan bahasa isyarat seadanya. Hal itu terpaksa dilakukan karena Syeh Al-Payage tak mengerti bahasa lokal masyarakat setempat. Begitu pula masyarakat tersebut tak paham dengan Bahasa Indonesia.

“Akhirnya bahasa isyarat pakai gerakan-gerakan seperti saya menunjukkan kitab Al Qur’an dan menunjukkan gerakan-gerakan salat. Nggak tahu saya kalau mereka paham atau tidak. Saya lalu menggunakan jasa penerjemah bila menemui seperti itu lagi,” Menurutnya ada kepuasan tersendiri bila berdakwah di pedalaman.

“Dakwah di hotel atau tempat mewah memang enak, tapi kalau di pedalaman itu beda. Capeknya kerasa, perjuangannya kerasa dan bangganya setelah berdakwah di sana rasanya sangat luar biasa,”

Beliau pun menceritakan kondisi agama Islam di tanah kelahirannya. Saat ini Islam, bukan menjadi agama minoritas namun sudah menjadi penyeimbang. Masyarakat Papua pun terbuka dengan agama Islam.

“Memang meluasnya ajaran Islam di Papua ada sangkut pautnya dengan banyaknya pendatang di sana. Tapi pada dasarnya orang asli Papua bukanlah masyarakat antiagama lain. Kami bisa menerima sesuatu hal yang baik dan bermanfaat,”

Mendirikan Islamic Center di tanah Papua merupakan cita-citanya. Baginya, pesantren adalah sumber pengembangan ilmu Islam dan dakwah Islam.

“Paling tidak di Papua ada pesantren yang pertama kali didirikan oleh putra daerah asli rakyat Papua yang Muslim. Saya sangat yakin andaikan di Papua ini Islamnya bagus maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang ‘Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur’ (negara yang baik dan selalu dalam ampunan Allah),”

Ulama yang beristrikan. Umi Luluk Kholifah ini adalah Ketua HISSI (Himpunan Ilmuwan & Sarjana Syari’ah Indonesia wilayah Timur Papua) dan Ketua IKSASS (Ikatan Santri Salafiyah Syafi’iyah wilayah Timur Papua) serta Ketua Majlis Ulama Indonesia ( MUI prov Papua. )

Moto hidupnya cukup sederhana “Hidup adalah ibadah dan bermanfaat untuk orang banyak”, Boleh jadi Payage merupakan satu-satunya anak pendeta dari Papua yang kembali ke tanah kelahirannya untuk menyampaikan ajaran Islam.

Saya jadi teringat untaian kata dari Al Habib Umar Bin Haifidz:

ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻗﺮﺑﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺇﻫﺘﻤﺎﻣﻪ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ

Mudah-mudahan Syeh Payage dan para Habaib Serta Ulama” lainya senantiasa diberi kesehatan dan terus menebarkan dakwah damai ke seantero Nusantara. Amiin.
________________________

Oleh: Abdul Wahab, Jama’ah Sarkub Tegal

Sumber: http://www.elhooda.net/2014/11/kh-saiful-islam-al-payage-berdakwah-hingga-pedalaman-papua/

"Berapa ramai di kalangan kita belajar sesuatu ilmu bukan dari ahlinya, belajar Feqh dari jurutera, belajar hadis dari ahli bahasa? Lebih teruk lagi, berapa ramai pula yang belajar tanpa guru?

Adab menuntut Ilmu; "Seseorang yang sentiasa didalam majlis ilmu, maka mereka akan sentiasa mendapatkan nasihat-nasihat agama sebagai peringatan. Peringatan kepadanya kerana kita ini makhluk yang sering terlupa. Peringatan ni suatu nikmat daripada Allah سبحانه وتعالى kerana peringatan itu daripada Allah سبحانه وتعالى sendiri. Mendapat rahmat Allah."

"Apabila seseorang itu menerima nasihat dengan berlapang dada, maka Allah سبحانه وتعالى akan mencampakkan hidayah kepadanya. Ulama menyifatkan manusia yang sntiasa terlupa ini umpama terkena penyakit amnesia. Dia hilang ingatan. Manusia memerlukan nasihat supaya tidak lupa."

"Dan Seluruh alam ini ialah tanda untuk kita membaca, yakni alat untuk memperolehi ilmu untuk kita dekat kepada Allah سبحانه وتعالى, keesaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan alam ini dinamakan sebagai alam iaitu ilmu atau alamat atau petanda. Yakni alat utk memperolehi ilmu, dan diantaranya ialah gunung adalah ayat yang kita perlu baca, langit yang terbentang adalah ayat yang perlu kita baca. Untuk kita mendapatkan rahmat Allah سبحانه وتعالى."

"Apakah itu rahmat? Rahmat ialah kesayangan, kasih sayang, atau mendapat rahim Allah سبحانه وتعالى. Dan tempat curahnya rahmat Allah ialah dirumah-rumah Allah atau tempat-tempat yang diizinkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk
mengagungkan-Nya."

"Bagaimana harta dunia itu memberi ketenteraman didalam jiwa manusia? walhal Rasulullah ﷺ pernah bersabda; "Dan harta dunia semua tu adalah dilaknat oleh Allah سبحانه وتعالى." Ketenteraman hati atau jiwa itu terletak pada point akhirat bukan daripada segi point dunia."

"Yakni bukan dari segi rumah besar kereta mewah. Akan tetapi daripada hati yang sentiasa mempunyai hubungan dengan Allah سبحانه وتعالى. Apabila manusia mencari sesuatu pada tmpt yang betul, maka ia akan dapat mencari sesuatu itu. Begitu juga dengan ketenangan. Ketenangan itu satu yang mahal. Barangsiapa yang mencari ketenangan perlulah cari di tempat yang betul iaitu dirumah-rumah Allah سبحانه وتعالى."

"Dizaman kita sekarang, adab amatlah penting. Kenapa imam Al-Ghazali membuka pendahuluan kitabnya dengan adab-adab? Kerana Rasulullah ﷺ mengajar kita adab yakni memperadabkan sesuatu. Dan adab adalah aspek yg mencangkupi segala perbuatan yang akan kita lakukan."

"Dan alat untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Adab juga perkara bagaimana utk berinteraksi dengan Allah سبحانه وتعالى dan juga manusia. Kita juga diajar oleh Rasulullah ﷺ untuk beradab kepada para rasul, para malaikat, kitabullah dan sekalian makhluk Allah سبحانه وتعالى."

"Dan didalam menuntut ilmu juga ada adabnya. Adab didalam menuntut ilmu dan memilih gurunya. Berapa ramai di kalangan kita yang tidak berhati-hati memilih guru lantas belajar dengan orang yang tidak betul pemikirannya? Berapa ramai di kalangan kita yang belajar dengan guru yang tidak menjaga adab sebagai guru?" Yang mengutuk sana sini, mencerca alim ulamak, tidak beradab didalam kata-kata mahupun perbuatan mereka?"

"Berapa ramai di kalangan kita belajar sesuatu ilmu bukan dari ahlinya, belajar Feqh dari jurutera, belajar hadis dari ahli bahasa? Lebih teruk lagi, berapa ramai pula yang belajar tanpa guru?"

"Membaca sana dan sini, lalu mengambil hukum sendiri terus dari sumbernya Al-Quran dan Hadith tanpa panduan daripada ulama. Tafsir sendiri ikut akal dia. Ilmu agama ini amat mahal dan perlu kita beradab dengannya. Perlulah diambil daripada dada para ulama yang ahlinya, bersanad sambung kepada Rasulullah ﷺ."

Guru mulia kami. Tasawwuf. Darul Mujtaba. Ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari.

Tuesday, March 29, 2016

Keajaiban telaga zam zam

Air zam2 sbnrnya dipam tanpa henti sebnyk 8000
liter/saat, brmakna 480,000 liter/minit atau 28.8
juta liter/jam. Uniknya air yg dipam sebnyk 691
juta liter sehari itu kembali terisi hnya dlm masa
11 minit dan jk tdk diganti, air zam2 akan surut
sedlm 44 kaki sehari. Tp dgn kuasa Allah, hal ini
tdk brlaku. :)

Monday, March 28, 2016

Kisah Teladan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang, Ketika Didzalimi Dibalas Dengan Menyayangi

Kisah Teladan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang, Ketika Didzalimi Dibalas Dengan Menyayangi
===============================

Dahulu di masa al-Habib Ali al-Habsyi Kwitang masih hidup, ada seseorang yang sangat membencinya dan orang itu tinggal di Kwitang. Kelakuan orang itu terhadap al-Habib Ali al-Habsyi sunggah tidak terpuji. Bila lewat di hadapannya dengan sengaja meludah di depan al-Habib Ali al-Habsyi, sampai-sampai membuat marah para murid al-Habib Ali al-Habsyi.

Hingga suatu saat, al-Habib Ali al-Habsyi memberikan jatah sembako berupa beras kepada orang itu. Dengan memanggil muridnya, al-Habib Ali al-Habsyi memerintahkan agar beras itu diberikan kepada orang itu. Hal ini membuat bertanya-tanya sang murid. Namun belum sempat ditanyakan, al-Habib Ali al-Habsyi berkata: “Berikan ini, tapi jangan bilang dari saya. Bilang saja dari kamu.”

Lebih dari 2 tahun orang itu menikmati jatah sembako yang diberikan al-Habib Ali al-Habsyi kepadanya melalui perantaraan sang murid. Sampai pada saatnya al-Habib Ali al-Habsyi berpulang ke rahmatullah, maka berhentilah kiriman jatah sembako kepada orang itu.

Orang itu pun bertanya kepada murid al-Habib Ali al-Habsyi yang biasa mengirimkan sembako kepadanya: “Engkau yang biasa mengirimiku beras kenapa berhenti? Apa masih ada?”
Murid al-Habib Ali al-Habsyi itu menjawab: “Perlu kamu ketahui, semua yang aku kirimkan kepadamu itu sesungguhnya bukan dariku melainkan dari guruku al-Habib Ali al-Habsyi yang dulu sering kau ludahi. Andai saja guruku tidak menahanku mungkin kamu sudah kubikin babak belur!”

Mendengar jawaban murid al-Habib Ali al-Habsyi membuat orang tersebut menangis menyesali perbuatannya selama ini. Dan atas kejadian itu, orang tersebut jadi rajin menghadiri majelisnya al-Habib Ali al-Habsyi di Kwitang.

Pada waktu sang cucu yang menggantikan kakeknya di dalam memimpin majelis taklim al-Maghfurlah al-Habib Ali al-Habsyi, beliau didatangi oleh seseorang yang sudah lanjut usianya dengan badan yang tergopoh-gopoh. Orang itu mendekati cucu al-Habib Ali al-Habsyi itu sambil menangis seraya berkata: “Ya Habib, saya ini bila melihat engkau jadi teringat dengan kakekmu. Yang dulunya sering saya ludahi, ya Habib.”

Orang itu menuntaskan ceritanya sambil menangis menyesali diri atas perbuatannya kala itu.
___________________________
Keterangan foto: Yang sedang naik becak adalah al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang dan al-Habib Ali bin Husein Alattas Bungur

Sumber: FB Pecinta Habib Munzir

Sunday, March 27, 2016

Satu kerosakan besar buat Ugama ialah apabila

"Satu kerosakan besar buat Ugama ialah apabila orang yang jahil berfatwa Seolah-olah "Ulama Mujtahid" dan juga apabila para Agamawan menjawab persoalan hukum agama bermula dengan perkataan "Pada Pendapat Saya"

- Bicara Pondok -

Inilah beliau Ulama’ Solihin Al-Arif Billah Tuan Guru Haji Tayyib Al-Makki

Inilah beliau Ulama’ Solihin Al-Arif Billah Tuan Guru Haji Tayyib Al-Makki,

Beliau di lahirkan pada tahun 1912. beliau ke Makkah sejak British menjejaki kaki ke tanah melayu sehingga sekarang. Selama di Makkah , beliau sempat menuntut ilmu dengan Masyaikh Makkah yang terkenal antaranya:

-Syeikh Wan Ismail Al-Fathani
-Syeikh Muhammad Amin Al-Kutbi
-Syeikh Alawi Abbas Al-Maliki
-Syeikh Hassan Masyath dan ramai lagi.

*Antara rakan seguru beliau di Makkah ialah:

-Tuan Guru Hj Abdul Rahman Awang, Pondok Guar Kepayang, Kedah
-Tuan Guru Haji Salleh Haji Musa, Pondok Sik Kedah.
-Tuan Guru Hj Abdul Rahman Pombing. Dan lain-lain lagi.

Di Mekah beliau di kenali dengan nama 'Hj Tayyib Roti’ kerana beliau hanya makan roti. Akhlak beliau sangat indah. Beliau mudah didekati oleh sesiapa pun. Jika anda meminta nasihat dari beliau. Nasihat yang bakal beliau beri bertepatan dengan peribadi orang yang meminta nasihat. Banyak mutiara kata yang di lontarkan oleh beliau.

Beliau hidup dengan penuh kezuhudan. Hanya tidur beralaskan papan keras dan sekapit simen lama sebagai bantal. Beliau seorang penegak kebenaran. Oleh sebab itu sesetengah orang kampung tidak menyukai beliau tapi sangat disukai, dihormati dan terkenal di Makkah..

Diantara Ulama Hebat yang pernah ketemu dengan beliau ialah Al-Habib Umar Bin Hafidz dan Syeikh Nuruddin Marbu Al Banjari Al Makki & ramai lagi ulama yg lain datang untuk mereka membuat rujukan serta bertukar pendapat..

Ulama Solihin ini telah lanjut usia. Bila bila masa sahaja Allah Taala boleh menjemputnya ke Raudhah. Selagi masih ada peluang. selagi masih ada waktu, ziarahilah beliau. Minta agar beliau mendoakan kesejahteraan kita. Rugilah kita mengabaikan Ulama permata ummah ini.

Saturday, March 26, 2016

Apabila wahabiy jadikan mimpi sebagai hujjah

Dlm buku Aqidah Yang Membawa Ke Syurga susunan ust abid annury pun ada dinyatakan perihal mimpi..padahal bg wahabi mimpi itu x boleh dijadikan hujjah..diorang ni rasanya ada kecelaruan akal fikiran kot..

Hujjah Menyanggah Dr rozaimi wahhabi pensyarah upsi yg sesat dari segi akidahnya dan jauh tersasar dari agama islam


Mohamad Sha'ary https://m.facebook.com/story.php...
1,732 Views
Muhammad Ridzuan with Anie Shaari and 11 others.
Hujjah Menyanggah Dr rozaimi wahhabi pensyarah upsi yg sesat dari segi akidahnya dan jauh tersasar dari agama islam dan berakidah firaun !
Kesalahan rozaimin dalam video ni ialah,
1 : Percayakan Kepada Firaun Bahawa Alloh dilangit Padahal Firaun Itu Musuh Alloh Dan Para Nabi Dan Para Rosul. Tidak Patut Percayakan Firaun Yang Sesat. Tetapi Kenapa Rozaimi Ikut Firaun? Sabda Nabi Saw Bahawasanya Tiada Suatupun Diatas-Nya (Alloh) Dan Tiada Suatupun Dibawah-Nya (Maknanya Alloh Ada Tanpa Tempat).
2 : Rozaimi Kononnya Pakar Hadis Ini Menuduh Nabi Musa Alaihissalam Mengatakan Bahawa Nabi Musa Mengatakan Alloh berada Dilangit. Nabi Musa Yang Kata Ke Mu Yang Kata Rozaimi Weh? Nabi Pun Kau Fitnah.. Betapa Celakanya Ajaran Wahhabi Talibarut Yahudi Yg Ingin Sesatkan Umat Islam.
3 : Rozaimi Memfitnah Imam Hanbali Dan Pengikut Imam Hanbali Bahawa Puak Hanabilah Kata Alloh Atas Langit. Ini Akidah Mushrik ! Mustahil Imam-Imam Muktabar Berpegang Sepertimana Rozaimi Dakwa Kerana Mereka Sangat-Sangat Alim Bab Quran Dan Hadis. Mereka Tidak Sebodoh Rozaimi Yang Mendakwa Kononnya Pakar Hadis.
Firman Alloh Taala Dalam Suroh Assajdah Bermaksud , Alloh taala Menciptakan Langit Dan Bumi. Lihatlah, Alloh taala Sendiri Yang Kata Dia Menciptakan Langit Dan Bumi. Sbelum Alloh Menciptakan Langit Dan Bumi, Alloh Dimana? Sudah Tentu Alloh Ada Tanpa Tempat !
Dalam Video Ini Rozaimi Kata Kita Boleh Melihat Alloh taala.. Saya Jawab , Ya benar. Ada Hadis Nabi Saw Mengatakan Demikian. TETAPI MELIHAT ALLOH TAALA DIAKHIRAT KELAK TANPA KAIFIAT, TANPA TEMPAT, TANPA PENYERUPAAN DENGAN MAKHLUQ !
Terjemahan daripada kitab : al Bayan Lima Yusyghil al Azhan
Karangan : al ‘Alim al ‘Allamah Fadhilah al Syeikh Dr. Ali Jumu’ah, Mantan Mufti Besar Mesir.
Soalan 1 : Apakah yang patut saya katakan jika seorang anak kecil bertanya “Allah dimana?”
Jawapan 1 : Dengan nama Allah serta segala pujian-pujian yang hanya layak bagiNya, selawat dan salam ke atas junjungan Sayyidina Rasulillah, kaum keluarga baginda, serta para pengikut baginda.
Apabila seorang anak kecil bertanyakan soalan “Dimanakah Allah Ta’ala berada?”. Kita hendaklah menjawab : “Bahawa sesungguhnya, tiada sesuatu pun yang seumpama atau menyerupai Allah Ta’ala, sebagaimana yang Allah Ta’ala khabarkan berkenaan dengan hakikat diriNya dalam kitabNya yang mulia, iaitu firmanNya :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat (Surah al Syura : 11)
Kita Sepatutnya memberitahu kepada anak kecil tersebut bahawa, seseorang itu tidak sepatutnya mengarahkan pemikirannya terhadap persoalan haqiqat Dzat Allah Ta’ala, dari sudut keadaan Allah Ta’ala mahupun rupaNya. Hal ini merupakan satu perkara yang sangat merbahaya (daripada sudut Aqidah) serta boleh mengundang perbuatan menyama rupakan Allah Ta’ala dengan makhluq ciptaanNya. Kita juga sepatutnya memberitahu anak kecil tersebut bahawa, kita diwajibkan memikirkan tentang segala dalil berkaitan dengan Qudrat (kekuasaan) Allah Ta’ala serta tanda-tanda keagunganNya kerana hal ini akan menyebabkan iman kita semakin bertambah.
Persoalan tentang “Dimanakah Allah Ta’ala berada” merupakan satu persoalan Aqidah, dan seluruh orang Islam wajib beri’tiqad bahawasanya Allah Ta’ala itu bersifat wajib al wujud (Wujud Allah Ta’ala adalah wajib). Maka maksud Allah Taala itu wajib al wujud adalah : Tidak diterima akal sama sekali Allah itu tidak wujud, dan Allah Ta’ala tidak akan ‘binasa’ sejak dahulu sehingga kini, dan akan datang. Wujud Allah Ta’ala itu adalah merupakan wujud yang haqiqi atau dzatiy, dan tidak dikeranakan dengan ‘Illah (sebab musabbab). Hal ini bermaksud: Tiada kuasa lain yang menciptakan Dzat Allah Ta’ala. Dan tidak masuk Akal sama sekali bahawa masa dan tempat mempengaruhi kewujudan dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang maha tinggi.
Jika maksud daripada persoalan ini diajukan adalah bertujuan untuk mengetahui arah atau lokasi bagi zat Allah Ta’ala, yang tujuannya adalah untuk menthabitkan bagi Allah Ta’ala itu arah kedudukan dan lokasi yang tertentu, maka soalan seperti ini tidak sepatutnya diajukan sama sekali. Hal ini kerana, arah kedudukan dan lokasi merupakan sebahagian daripada perkara-perkara yang dinisbahkan kepada makhluq Allah Ta’ala sahaja (al Nisbiyah al Hadithah), dengan maksud: Apabila kita mensifatkan sesuatu berdasarkan kepada arah kedudukan yang tertentu, maka sudah tentu nisbah tersebut dibandingkan dengan sesuatu yang lain pula. Sebagai contoh : Langit berada di atas kita. Sudah pasti maksud ‘di atas’ tersebut jika dinisbahkan kepada manusia yang berada di bawahnya. Dan, kita pula berada di bawah langit, jika dinisbahkan bagi langit yang berada di atas kita. Selama mana arah kedudukan merupakan satu bentuk penisbahan kepada sesuatu, dan ianya adalah mahkluq Allah Ta’ala maka selagi itulah tidak selayaknya pula perkara dinisbahkan kepada Allah Ta’ala.
Semua orang Islam beriman dengan penuh yaqin bahawa, Allah Ta’ala itu bersifat dengan Qidam, iaitu mereka menthabitkan sifat Qidam bagi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala merupakan Qidam yang haqiqi (tidak ada permulaan bagi wujud Allah Ta’ala), hal ini berdasarkan dalil:
هُوَ الْأَوَّلُ
Dialah yang Awal (Yang dimaksud dengan: yang Awwal ialah, yang telah ada sebelum segala sesuatu ada ) (al Hadid : 3)
Dalam sebuah hadith Nabi SAW pernah bersabda:
أنت الأول فليس قبلك شيئ
Engkaulah (Ya Allah) yang Awwal kerana tiada sebelum Engkau sesuatu apa pun ( Hadith Muslim : 4/ 2084)
Maka sifat Qidam ini secara lansung menolak kewujudan sesuatu yang mendahului kewujudan Allah Ta’ala, atau sesuatu itu wujud seiring dengan wujudnya Allah Ta’ala. Hal ini merupakan maksud al Salbiy (penafian) bagi sifat Allah Ta’ala dalam memahami maksud sebenar sifat al Qidam.
Demikianlah segala sifat Allah Ta’ala yang tiada permulaan bagi wujudnya, dan tidak akan menerima sebarang perubahan terhadap sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sebab kewujudan segala Makhluq ciptaanNya. Maksud menthabitkan arah kedudukan dan lokasi bagi Dzat Allah Ta’ala adalah : Allah Ta’ala boleh menerima sebarang bentuk perubahan sifat. Hal ini bermaksud : Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak bersifat dengan ketinggian, dan tidak mengatasi makhluq yang lain, melainkan setelah alam ini diciptakan. Ertinya, Sebelum daripada diciptakan alam, Allah Ta’ala tidak boleh dikatakan tinggi atau mengatasi segala benda, kerana tiada sesuatu makhluq yang berada di bawahnya. Sebenarnya hal seperti merupakan sifat mahkluq yang terhasil daripada penisbahan terhadap makhluq yang lain. Oleh kerana itu, sifat ini adalah tidak layak sama sekali bagi Allah Ta’ala.
Sebagaimana semua orang Islam beriman dengan yaqin bahawa Allah Ta’ala besifat
مخالفته تعالى للحوادث
(Tidak sama Allah Ta’ala dengan segala makhluq). Hal ini membawa maksud, penafian terhadap ciri-ciri jirim, ‘Arad (sifat makhluq), Kulliyyah (kuantiti lengkap), Juz’iyyah (pecahan daripada satu kuantiti lengkap) dan segala ciri yang berkaitan secara lansung dengan perkara-perkara tersebut. Ciri-ciri yang berkaitan secara lansung dengan jirim, ‘Arad, Kulliyyah, dan juz’iyyah itu adalah : Setiap jirim pasti akan mengambil ruang, ‘Arad pula menumpang pada yang lain, kulliyah pula adalah bersifat besar dan boleh dibahagi-bahagikan kepada beberapa kompenan, sedangkan Juz’iyyah pula adalah tentunya bersaiz kecil daripada Kulilliyah dan sebagainya. Jika syaitan mencampakkan perasaan waswas dalam hatimu, seperti : “ jikalau Allah Ta’ala itu bukan berbentuk jirim, bukan juga seperti ‘Arad, bukan berkuantiti yang lengkap atau sejuzuk daripada kuantiti yang lengkap, maka bagaimanakah haqiqat sebenarnya Allah Ta’ala tersebut?”. Maka hendaklah kita jawab bahawa : “ Tiada seorang pun yang mengetahui Haqiqat Allah Ta’ala melainkan hanya Allah Ta’ala sahaja yang mengetahuinya”.
Sifat ini sebenarnya adalah berdasarkan kepada firman Allah Ta’ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (Surah al Syura : 11)
Begitu juga halnya dengan Sunnah Nabi SAW, yang diriwayatkan daripada Sayyiduna Ubai Bin Ka’ab RA: Orang-orang musyrik berkata “Wahai Muhammad, nisbahkanlah (sifatkanlah) kepada kami sekalian tentang tuhan sembahanmu”. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat :
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (al Ikhlas : 1&2).
Bersabda Nabi SAW: Allah tempat tumpuan segala permintaan hambaNya :
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (al Ikhlas : 3&4).
Hal ini kerana tidak ada sesuatu yang wujud di dunia ini melainkan akan mati pada suatu masa nanti. Setiap yang mati pula pasti akan mewariskan harta perwarisan. Sedangkan Allah Ta’ala tidak akan mati dan mewariskan sesuatu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد
Tidak ada suatupun makhluq yang setara dengan Dia (al Ikhlas : 4).
Maka sabda Nabi SAW lagi “Tidak terdapat sebarang penyamaan bagi Allah Ta’ala, dan tidak ada keserataan bagi Allah Ta’ala dengan yang lain, dan tiada sesuatu pun makhluq yang sebanding dengan Allah Ta’ala (al Hakim: 2/589)
Maka dapat kita fahami disini bahawa Allah Ta’ala mensifatkan dirinya, dan Nabi Muhammad juga turut mensifatkan Allah Ta’ala dengan menafikan penyamaan Allah Ta’ala dengan mahkluq ciptaanNya, dan menafikan juga kekurangan yang tidak selayaknya bagi Allah Ta’ala yang maha tinggi. Maka, orang-orang yang beriman wajib meyaqini bahawa Allah Ta’ala itu tidak sama dengan makhluqNya.
Kesimpulannya: Haram hukumnya mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat makhluq, begitu juga halnya bertanyakan sesuatu yang menjurus kepada perkara tersebut. Sepatutnya, jangan disoal sama sekali ‘dimanakah Allah Ta’ala berada?” dengan tujuan ingin mengetahui arah kedudukan dan lokasi bagi Allah Ta’ala. Namun, harus bertanya soalan seperti itu dengan tujuan ingin mengetahui kerajaan milik Allah Ta’ala, atau para MalaikatNya, atau apa jua soalan berkaitan dengan makhluq Allah Ta’ala yang bersifat dengan baharu.
Kesemua Ulamak, Para Nabi, Para Rosul, Umat Islam Beriktiqod Bahawa Alloh taala Ada Tanpa Tempat, Tanpa Arah Yang 6, Tidak Serupa Dengan Makhluq Dari Apajua Sudut Sekalipun.

Friday, March 25, 2016

Membalas kejahatan dengan kebaikan

Membalas kejahatan dengan kebaikan

Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Jufri berkata:
"Aku pernah berada di kota Aden, berada dalam satu majlis dengan seorang bekas penguasa / pemimpin yang sangat dzalim, dimana ketika berkuasa dia melakukan banyak kemungkaran dengan membantai atau membunuh banyak ulama ulama besar hadramaut, diantaranya, salah satu yg menjadi korbannya adalah guru mulia kami assyahid Al Habib al Imam Muhammad bin Salim Bin Hafidz, ayahanda dari guru kami Habib Umar Bin Hafidz.
Takdir telah membawaku untuk bertemu dengannya dan Ketika menatapnya (setelah aku diberitahu siapa dia) timbul perasaan tidak suka / tidak nyaman bahkan aku tidak mau berbicara dengannya, meskipun sekedar berdakwah sekalipun, aku tahu sikapku ini keliru dan salah, karena memanggil orang ke jalan Allah harus diutamakan, tak peduli siapa mereka atau apa yang pernah mereka lakukan
Dan tiba tiba saja, orang dzalim itu menghampiriku dan berkata, "aku ingin bertobat! Apa yang harus kulakukan?".
Aku berusaha keras untuk menguasai diriku, agar bisa menjawab permintaannya dengan baik, aku berusaha tersenyum supaya ia tidak pergi menjauh dari kebenaran yang ia inginkan, segera setelah keluar dari majlis aku tetap merasa sangat terganggu dan tidak nyaman, maka aku menelepon guruku Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz serta menceritakan dengan siapa aku telah bertemu, dan beliau hanya bertanya, "Apa maunya?", aku katakan keinginan orang itu untuk bertobat dan minta maaf, tapi aku tak mampu menuntunnya dgn baik karena hatiku sangat tak menyukai dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu, Habib Umar kemudian berkata, "Ali, penuhilah haq Allah atas mu, yaitu menuntun ia kepada Allah, tunjukkan kasih sayang dan perhatian atasnya dari dasar hatimu yang paling dalam ..
Dan untuk perasaanmu yg tidak suka berkumpul bersamanya atau ketidaknyamananmu itu alihkan kepada kebencian terhadap 'perbuatannya', bukan kepada individu atau orangnya, Rasulullah ﷺ tetap menerima keislaman Wahsyi (orang suruhan Hindun istri abu Sofyan) yang telah membunuh paman tercinta nabi, Sayyidina Hamzah (dgn cara menombaknya dari jauh kemudian memutilasinya), Nabi tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi meski beliau mengalami kesulitan menatap wahsyi dan berkata jangan biarkan aku melihatnya lagi (karena akan membuat beliau ﷺ teringat lagi keadaan paman beliau kala syahid)"..
Kata kata Habib Umar ini sungguh tak ternilai dan sangat amat berharga, karena beliau sedang berbicara tentang Manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup Habib Umar (membunuh Ayah beliau) dan memisahkannya dgn keluarga beliau!! Tetapi Habib Umar tetap teguh mengikuti Sunnah Baginda Rasulullah ﷺ..
Inilah maksud dari ucapan Al Habib Abu Bakar Al Adni yang berkata marilah kita terapkan sunnah sunnah Nabi dalam setiap kejadian atau perbuatan dalam peristiwa hidup kita.."
===============================
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallim

GURAUAN PUNCA KAFIR

# GURAUAN PUNCA KAFIR...

Takut2 kita ter'cakap'.
Ni dari sumber 'Usrah TV9'.

INFO: BERGURAU ADA BATASNYA, FIKIR DULU
SEBELUM CAKAP.

Antara contoh-contoh dialog menjadi kafir dalam tak sedar:

1. Nabi Yusof smart, aku smart lebih sket dari nabi. - jatuh kafir

2. Tak payahlah simpan2 janggut, tak payah nak bersunnah-sunnah,
beselerak je muke aku tengok. - jatuh kafir

3. Zaman nabi mane ade Gillette, sebab tu la ade jambang. - jatuh kafir

4. Hudud dah tak sesuai zaman ni bro... - jatuh kafir

5. Senyumlah skit, muke masam je dah macam malaikat mungkar nakir dah aku tengok. - jatuh kafir

6. Sedarlah sikit yang selama nie kerajaan bagi
rezeki kat kamu. - jatuh kafir

7. Aku dah isi borang murtad, tapi tak diluluskan
mahkamah la pulak. - jatuh kafir

8. Erm... kalo murtad mesti boleh buat maksiat
kan? Macam best je... - jatuh kafir

9. Aku murtad dah, eh gurau je gurau je... - jatuh kafir

10. Jika ikut kaedah Islam, maka mundur lah negara kita ni. - jatuh kafir

"Barangsiapa MEMPERSENDA, MEMPERMAIN,
MENAFIKAN sunnah
Rasulullah SAW dan ayat Kitabullah maka dia kafir serta-merta"  -Kitab Fiqhul Akbar: Karangan Imam Syafie.

P/S: Sekiranya pernah terucap dan berlaku pada diri sendiri, maka ucaplah balik Syahadah yg kuddus, selawat serta
zikir - pesanan pada
semua dan diri sendiri.

# Tolong SHARE sekiranya input ini berguna untuk anda. Mungkin berguna juga untuk orang lain juga. Bahaya ni... baru tau. Masya Allah !

Syirik kecil boleh jadi macam ini. Situasi:

1. Ida sedang menyanyi. Tiba-tiba kawannya Farah berkata;
"Nanti hujanlah". Haa, tu boleh jadi syirik kecil.

2. Azizi bertanya kpd Khuzaimi; "Awak dah solat Zuhur? Khuzaimi menjawab, "Dah, semalam."

Hah perkara kecil sebegitu pun boleh jadi syirik dari setiap percakapan kita tanpa kita sedar. Ini kerana dia memperlekehkan
amalan wajib lima waktu.

Kita tak tahu pada mulanya, sekarang dah tahu kan?
Sila copypaste n kongsi.
Ilmu bukan utk dijual beli.
Sumber 'Usrah' TV9
Wallahuallam...

- "GWYOMI" bermaksud "SAYA SAYANG YAHUDI".   
- "POKEMON" bermaksud "SAYA YAHUDI".      
- "PIKACHU" bermaksud "JADILAH ORANG YAHUDI".      
- "CHARMANDER" bermaksud "ALLAH ITU LEMAH".       

Please sebarkan. Tak mati pun kalau share... *Astaghfirullah* Jangan sebut "alee uto". Perkataan ini berasal dari bahasa Ibrani yang membawa maksud "KEPALA ITU TUHANKU".    

# Sebarkanlah...

⚠ Amaran ⚠
Orang beragama Islam tolong jangan guna tanda ini:

1. ������������ = Maksud tanda ini ialah 'Hormat Vulcan', simbol ni digunakan dalam amalan di dalam agama Judais (agama Yahudi).

Baca website ni untuk tahu lebih banyak pasal Hormat Vulcan: http://en.wikipedia.org/wiki/Vulcan_(mythology).
Baca website ni untuk tahu lebih banyak pasal agama Judais  : http://en.wikipedia.org/wiki/Judaism

2. Jangan guna isyarat ������������.

3. Simbol ni bermaksud ✌✌✌✌✌✌ kejayaan untuk syaitan.

Tolong kongsi pada orang ramai. Simbol ✌ dan �� ni dah popular ngan umat Islam.

Wallahualam bissawab..

Wednesday, March 23, 2016

Berkesempatan debat ngan seorang penganut wahabi yg kebetulan buta matanya


Berkesempatan debat ngan seorang penganut wahabi yg kebetulan buta matanya. Kami berdebat darihal ayat mutasyaabihat Allah istiwa atas arasy. Dia cakap tidak boleh sama sekali mentakwel ayat al quran, kena tafseer lurus begitu saja. So, dia kata masalah istiwa ni kena ikut betul betul ayat alquran sebut .....
Maknanya Allah "duduk" atas arasy.....
Kemudian saya bacakan kat dia ayat alquran " ومن كان في هذه أعمى فهو في الآخرة أعمى وأضل سبيلا " maknanya.... dan brg siapa di dunia ini buta, maka di akhirat nanti dia juga akan buta, bahkan terlebih dahsyat lagi !
Dia mcm terkejut.... katanya.... itu kita kena tafseer lain makna !
Hok aloh !
Pulok doh !
Tadi beriya iya tak bagi takweel ayat alquran !

Kehebatan ilmu nahu budak pondok

S:  Apakah i'rob "أنت" pada ayat  "كن أنت"  seperti mana yg ad didalam lirik lagu kun anta?  setahu saya tempat "أنت" itu mahalnya adalah nasab mengapakh ianya datang dgn dhomir rofo'?

J:  ianya mnjadi khobar bagi "كن" dalam kitab Dalilul Falihin syeikh Muhammad ada mghuraikannya pada hadis azan pada ayat
و أرجو أن أكون أنا هو
Lafaz "أنا" disitu mnjadi taukid bagi isim "أكون"
Dan lafaz "هو" disitu mnjadi khobar "أكون" bagaimana ini boleh berlaku sdgkan هو itu ialah dhomir rofok dn dlm masa yg sama khobar "أكون" mstilah nasab, maka disitu Syeikh Muhammad mngatakan ianya ad brlaku isti'aroh (lughotan) iaitu lafaz "هو" dhomir rofok dipinjam utk lafaz "إياه" dhomir nasab pada khobar "أكون"  ....
Begitulah juga kita qiyaskan pada ayat "كن أنت" ...

sila lihat i'robnya dibawah ini:

كن:
فعل الأمر الناقص يرفع الاسم و ينصب الخبر مبني على السكون وفيه ضمير مستتر وجوبا تقديره "أنت" اسمه

أنت:
ضمير بارز منفصل مبني على الفتح في محل النصب خبر "كن" وإتيانه على صورة الرفع لاستعارة ضمير الرفع لضمير النصب

~MajazZajam

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1092458457478716&id=100001437155054

Dan sesiapa yang melakukan suatu kesalahan atau suatu dosa, kemudian ia menuduhnya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah memikul kesalahan berbuat dusta, dan melakukan dosa yang amat nyata.

An-Nisā':112 - Dan sesiapa yang melakukan suatu kesalahan atau suatu dosa, kemudian ia menuduhnya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah memikul kesalahan berbuat dusta, dan melakukan dosa yang amat nyata.

Al-'An`ām:129 - Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian dari orang-orang yang zalim itu kawan rapat dengan sebahagian yang lain, disebabkan apa yang mereka telah usahakan (dari perbuatan-perbuatan kufur dan maksiat itu).

Mazhab - soal jawab ngan wahabiy

#ASWJ
Tuan mazhab apa?

#Wahhabi
Kami ikut Al-Quran dan As-Sunnah.

#ASWJ
Ikut Al-Quran dan As-Sunnah ikut kefahaman siapa?

#Wahhabi
Kefahaman Ulama' salaf.

#ASWJ
Ulama' Salaf yang mana?

#Wahhabi
Salaf yang hidup 300 tahun hijrah yang pertama.

#ASWJ
Jadi Tuan hidup pada zaman salaf?

#Wahhabi
Tidak, kami ikut ulama yg ikut salaf.

#ASWJ
Jadi darimana datangnya kefahaman salaf yang tuan ikuti sedangkan tuan tidak hidup pada zaman salaf dan tuan menolak majoriti ulama' khalaf yang meneruskan kesinambungan ilmu salaf secara bersambung (muttasil) di dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah?

#Wahhabi
Kami ikut Imam Ibn Taimiyyah, Imam Ibn al-Qayyim, Sheikh al-Albani, Sheikh bin Baz, Sheikh Solleh Uthaimin dan ulama-ulama sunnah.

#ASWJ
Mula-mula kata ikut Al-Quran dan As-Sunnah tak ikut mazhab maksudnya tak ikut ulama' sebab mazhab ialah tempat berjalan atau aliran seseorang ulama' di dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah.

#Tapi bila ditanya rupanya mengaku ikut ulama' juga di dalam nak memahami makna Al-Quran dan As-Sunnah bukan faham direct daripada Al-Quran dan As-Sunnah seperti dakwaan pertama. Kefahaman ulama' salaf dakwaan mereka juga bukan diambil direct daripada salaf sebab mereka tak hidup zaman salaf. Jadi mereka ambil kefahaman daripada siapa?

#Jawapannya tidak lain tidak bukan ialah daripada Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Muhammad b Abdul Wahhab, Bin Baz, Uthaimin, Al-Albani dan minoriti tokoh yang ditolak di dalam Islam.

#Ke mana perginya ribuan para ulama' mujtahid Islam yang besar-besar selain ulama pujaan mereka selepas daripada zaman salaf yang mana asbab mereka sampainya ilmu dan kefahaman Al-Quran dan As-Sunnah kepada kita pada hari ini?

#Apakah seramai-ramai ulama' Islam yang ada hanya Ibn Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dan beberapa orang tokohsahaja yang benar kefahaman agama dan bertepatan dengan sunnah?

#Perhatikan tahun kelahiran ulama' mereka dan ulama' mazhab ikutan kita?

{Imam ikutan ASWJ}

Imam Hanafi 80H
Imam Malik 93H
Imam Syafie 150H
Imam Ahmad 164H
Imam Abu Hassan al-Asya'ari 240H

{Imam ikutan Wahhabi}

Ibnu Taimiyyah 661H
Muhammad Bin Abdul Wahhab 1115H
Ibn Baz 1330H
Al-Albani 1333H
Uthaimin 1347H

#Jika Wahhabi kata kami ikut Al-Quran dan As-Sunnah maknanya mereka sedang menipu kerana tanpa huraian para ulama' bagaimana nak faham Al-Quran dan As-Sunnah?

#Jika Wahhabi kata ikut salaf mereka juga menipu kerana Imam 4 adalah salaf. Mazhab mana yang mereka ikut?

#Jika mereka kata kami tak taqlid mana-mana ulama' mereka lagi menipu kerana mereka mengambil huraian daripada ulama-ulama mereka yang kita nyatakan tadi. Mereka bukan salaf.

#Bermazhab itulah sebenarnya mengikut jalan salaf bukan hanya mendakwa mengikut salaf tetapi hakikatnya tokoh-tokoh panutan mereka adalah yang ditolak di dalam sejarah Islam oleh kesepakatan para ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah.

Pejuang Mazhab Salaf,
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi ?

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi ?

Jika majoriti Ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebesar Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaani dan Imam Nawawi, Imam Hadith Ahl al-Sunnah Wal Jamaah pun ditolak akidah meraka kerana berfahaman ‘asyaairah. Apalagi kami yang kecil-kecil ini.

Bagaimana kalian tidak digelarl Wahhabi?

Jika kalian menolak bermazhab bahkan mengsyirikkan bermazhab sedangkan telah dipraktik oleh umat Islam seluruh dunia bermula selepas zaman salaf sehingga ke hari ini hatta para ulama’ mujtahid yang bersar-besar juga bermazhab dengan salah satu mazhab Imam yang empat.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian hanya menjadikan kemaksuman kepada tokoh-tokoh kalian sahaja sehingga pantang dikritik akan terus melenting sedangkan yang mengkritik Imam Ibn Taimiyyah adalah sebesar Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H) menulis sebanyak 7 buah kita mengkritik Imam Ibn Taimiyyah dan ramai lagi yang sezaman dan selepas. Ulama yang mengkritik Muhammad Ibn Abdul Wahhab adalah sebesar Mufti al-Haramain (Mekah dan Madinah) pada zaman terakhir Khilafah Uthmaniyyah yang masyhur dengan kitab mukhtasar jiddan syarah matan al-ajrumiyyah dan syarah al-Fiyyah iaitu Syeikhul Islam Sheikh Ahmad Zaini Dahlan.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian mendhaifkan ijtihad ulama’ sebesar Imam al-Syafie, al-Ghazali, al-Nawawi, Ibn Hajar, Syeikh Izuddin Abdissalam, Imam Ramli, Imam Rafi’e, Imam al-Subki dan ramai lagi yang menjadi tunjang dan rujukan kepada umat Islam yang berakidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian tidak pernah berlapang dada dengan perbezaan pandangan sekalipun di dalam masalah khilafiyyah ijtihadiyyah fiqhiyyah yang mana para ulama’ muktabar pun berselisih pandangan. Apakah kalian mengira pandangan ulama’ mujtahid dibatalkan dengan pandangan kalian yang bukan mujtahid? Jika di zaman para sahabat dan para salaf sudah ada perbezaan di dalam memahami Al-Quran dan Al-Hadith bagaimana kalian menyangka hanya kefahaman kalian sahaja yang benar dan menepati sunnah?

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian menolak pengajian tasawwuf dan tarekat secara total sedangkan ilmu dan praktik tasawwuf sinonim dengan ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebesar Imam Hasan al-Basri, Sheikh Junaid al-Baghdadi, Sheikh Abdul Qadir al-Jilani, Hujat al-Islam Imam al-Ghazali dan ramai lagi.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian merasakan hanya kalian sahaja yang benar-benar Islam dan berada di atas Sunnah Rasulullah SAW dan selain kalian bid’ah sesat dan syirik. Berapa ramai para ulama’ dan umat Islam yang kalian ingin sesatkan bermula selepas salaf sehingga ke hari ini kerana tidak menepati ideologi dan aliran kalian?

Jika kalian mengaku kalian Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah maka siapa lagi Imam-Imam Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah yang kalian ikuti jika yang besar-besar sebagai panutan umat Islam ditolak akidah dan perjalanan mereka? Jamaah Islam manakah yang kalian ikuti kerana majoriti umat Islam berakidah al-‘Asyairaah Wa al-Maaturidyyah dan bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat yang telah diterima secara talaqqi bi al-Qabul daripada satu generasi kepada satu genarasi berantaian daripada Rasulullah SAW sehingga kepada kita pada hari ini.

Jika kalian tidak ingin digelar Wahhabi, maka kembalilah kepada manhaj Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah mengikuti majoriti para ulama’ yang besar-besar. Selama kalian menyisih daripada perjalanan mereka, maka selama itu kalian akan digelar dengan al-Wahhabiyyah bertepatan dengan manhaj yang diasaskan oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab.

Tulisan asal,
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
BA (Hons) Usuluddin Akidah dan Falsafah
Universiti Al-Azhar Mesir

Tuesday, March 22, 2016

PENYAKIT ORANG YANG SUDAH MENIKAH ADA TIGA

PENYAKIT ORANG YANG SUDAH MENIKAH ADA TIGA:

1. Susah mencari rizqi yang halal di daerah sendiri.
2. Tidak sabar menghadapi tingkah laku yang tidak baik dari istrinya.
3. Adanya istri dan anak menjadikannya lalai kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Maka untuk menanggulanginya ada TIGA cara agar pasangan suami-istri langgeng:

1. Istiqomahkan NGAJI.
2. Perbanyak SEDEKAH.
3. Lazimkan Ibadah WAJIB dan SUNNAH.

*Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i

Sesiapa yang menjadikan Akhirat sebagai kerisauannya maka Allah S.W.T akan Memperkayakan Hatinya dan Harta

Sabda Rasulullah S.A.W:

" Sesiapa yang menjadikan Akhirat sebagai kerisauannya maka Allah S.W.T akan Memperkayakan Hatinya dan Harta Benda Dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk dan hina.

Dan sesiapa yang menjadikan Dunia sebagai kerisauannya, Allah S.W.T akan menjadikan kemiskinan terbayang-bayang di hadapannya dan dia akan diselubungi kesusahan.

Dia tidak akan mendapat di Dunia lebih daripada apa-apa yang telah ditakdirkan."

Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi

Sunday, March 20, 2016

MENGENALI KAUM TUA [ASYA’IROH DAN MATURIDIYAH]

MENGENALI KAUM TUA [ASYA’IROH DAN MATURIDIYAH]

Secara umumnya, Kaum Tua boleh didefinasikan sebagai ulama-ulama muktabar tradisional yang alim, berpengetahuan luas, mempunyai keahlian dalam selok belok agama, menjaga amanah ilmiyah, berpegang kepada pengajian bertalaqqi secara bersanad yang diwarisi daripada Rasulullah, sahabat, para tabien, tabi’ tabieen sehinggalah sampai ke tanah melayu kita. Selain itu juga mereka dikaitkan dengan kitab kuning [lama] kerana mementingkan keaslian sumber yang dipakai betul-betul daripada Ulama’ Islam terdahulu, tidak diubah sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Muda [wahhabi]. Sesuai dengan konsep bertalaqqi, ulama’-ulama’ ini sebagaimana biasanya melihat sirah atau masa lampau [salaf] sebagai sumber inspirasi atau sesuatu yang harus dipertahankan.

Kaum Tua di Nusantara, samada ulama silam di Malaysia, Indonesia, Brunei mahupun di Patani, akur bahawa rujukan dalam Islam yang paling utama ialah AL-QURAN dan AL-HADIS. Namun dalam masa yang sama sumber-sumber yang lain seperti IJMA’ ULAMA dan QIYAS AS-SHAHIH tidak kurang pentingnya kerana ianya amat diperlukan di antara satu sama lain. Oleh itu, Kaum Tua [ulama’ Islam] bersepakat bahawa sumber pensyari’atan Islam yang menjadi dustur (perlembagaan) Umat Islam terdapat 4 elemen iaitu AL-QURAN, HADIS, IJMAK ULAMA’ dan QIYAS AS-SHAHIH. Selain dari itu, mereka menolak keras untuk menentukan segala persoalan Islam berdasarkan pemikiran otak semata-mata, bahkan hujah akal itu hanya boleh digunakan sebagai syahid kepada syara’ (bukti kebenaran syara’) sahaja.

Dari sudut akidah, Kaum Tua menjadikan garisan akidah dua tokoh Imam Besar sebagai pegangan. Kedua-dua imam tersebut ialah Imam Abul Hasan al-Asy'ari[1](260 H/873 M - 324 H/935 M) dan Imam Abu Mansur al-Maturidi[2] (wafat 333 H/944 M) yang mana kedua akidah tokoh ini diiktiraf oleh Rasulullah Shollahu alaihi wasallam.

Dari sudut fiqh pula, Kaum Tua menjadikan empat orang Ulama Besar sebagai rujukan iaitu : Imam Hanafi (80 H/699 M - 150 H/767 M), Imam Maliki (93 H - 179 H), Imam Syafi'ie (150 H/768 M - 204 H/820 M) dan Imam Hanbali (164 H - 241 H). Manakala dalam tasawuf pula ialah Sheikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297 H/910M. Berhubung dalam permasalahan fiqh di Nusantara, kebanyakan Ulama-Ulama Nusantara memilih Mazhab Syafie sebagai rujukan utama.
Mencari keberkatan adalah misi utama bagi Kaum Tua ini di Nusantara. Kebanyakan mereka mengelakkan diri supaya tidak menerima gaji dan sebelum itu guru-guru pondok hanya menerima infak dari kutipan zakat sahaja. Mereka amat berhati-hati dalam menerima pemberian atau mencari rezeki.

Antara Kaum Tua yang lahir hasil dari didikan Institusi Pondok yang tawadhuk di Nusantara ini ialah ;
MALAYSIA
Syeikh Abdullah Fahim (Pulau Pinang)

Dato' Tg Dato' Hj Ahmad Maher

Sheikh Abdul Halim

Syeikh Idris Al-Marbawi (Perak)

Tuan Guru Hj Abdullah Tahir Bunut Payung, Kelantan

Sheikh Wan Ali Kutan Al-Kalantani (beliau terkenal dengan kitab karangannya ; Al-Jauharul Mauhub wa Munabbihatul Qulub (Mengenai Hadis) juga pernah mengajar di Masjidil Haram Mekah).

Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Muhammad Yusuf bin Sheikh Abdul Halim Al-Kalantani.

Tok Selehong (Hj. Abdul Rahman Bin Hj. Osman)

Khatib Kelantan.

Tuan Guru Hj Awang Fakir.

Tuan Guru Hj Yahya Kupang.

Tok Kenali (Haji Muhammad Yusuf Bin Ahmad Al-Kalantani)

Haji Ali Pulau Pisang (1899-1968) (Hj. Mohd Ali Solahuddin Bin Awang)

Hj. Abdul Malek Sg. Pinang, Hj. Yusof Sg. Pinang (kemudian lebih dikenali dengan nama Tok Pulau Ubi),

Tok Padang Jelapang,

Tok Bachok, (Kelantan)

Haji Ismail Pontianak (1882-1950, (Hj. Ismail bin Hj. Abdul Majid)

Tok Seridik.

Tok Kemuning (di Pulau Kundor),

Haji Abdul Malek Sungai Pinang (1834-1934), Kelantan

Hj. Idris, Dato’ Perdana Hj. Nik Mahmud (Kelantan)

Tuan Guru Ahmad Al-Kalantani

Hj. Omar Sg. Keladi,

Pak Chik Musa,

Hj. Yaakob Legor dan Hj. Ahmad Hafiz

Tok Pulai Condong

Tok Pulau Ubi (Yusuf Abdul Rahman)

Tuan Guru Haji Abdullah (Haji Abdullah Bin Haji Abdul Rahman)

Ahmad bin Aminuddin Qadhi (Kedah)

Tg. Pakcu Him Gajah Mati ( Kedah)

Syeikh Uthman Jalaluddin Al-Kalantani

Syeikh Utsman Jalaludin, pengasas Pondok Penanti Pulau Pinang

Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Husein Al-'Aiderus (Terengganu)

Sheikh Muhammad Amin atau Tok Duyung (menjadi ulama terkenal Terengganu)

Wan Abdullah Tuan Tabal

Tok Syafie Kedah

Tuan Guru Haji Abdullah Lubuk Tapah (Kelantan)

Bekas Mufti Sabah Said Hj Ibrahim.

Tuan Guru Baba Hamid

Mufti Kerajaan Johor, Allah Yarham Al’Allamah Dato’ Sayyid ‘Alawiy Bin Thahir.

Tuan Guru Haji Hasyim, Tok guru Pondok Pasir Tumbuh Kelantan.

Tuan Guru Pok cik Din al-Kelantany ( Tok guru penulis) . Beliau tinggal di Kulim, Kelantan.

Tuan Guru Wan Mohd. Shaghir bin Abdullah

Dan Ramai Lagi

The Power Of Sedekah

Kisah untuk renungan bersama ... :)

The Power Of Sedekah

3 minggu lepas, saya menghadiri satu seminar selama 5 hari.

Seminar ini kebanyakannya dihadiri oleh mereka yang diberi kelapangan kewangan oleh Allah. Ini kerana kos seminar itu hampir RM8,000 untuk 5 hari.

Tak ramai yang mampu hadir disebabkan kos yang sangat tinggi.

Bertemu Dengan Ramai Jutawan

Sepanjang 5 hari di sana, saya bertemu dengan ramai jutawan.

Mereka ‘tersangat’ kaya.

Ada yang income mencecah RM500k-RM600k sebulan, baru berusia 40-an.

Ada yang baru berusia 25 tahun, tapi pendapatan bulanan sudah mencecah RM50k sebulan.

Ada yang berusia 35 tahun. Sales tahunan mencecah RM120 juta.

Tak boleh nak cerita semua. Sebab terlalu ramai yang hebat.

Subhanallah. Saya sendiri terkejut dengan kejayaan mereka.

Jangan tunggu kaya baru nak sedekah. Sebab itulah nanti kita tak kaya kaya. Untuk menerima, kita perlu memberi dahulu.

Nasihat Dari Para Jutawan

Semasa salah satu sessi, saya sarapan pagi bersama mereka.

Saya tanya mereka, apa rahsia amalan yang mereka buat untuk berjaya sampai ke tahap itu?

Salah seorang peserta, berusia 25 tahun berpendapatan RM50k sebulan berkongsi dengan saya.

“Bang, saya nak share satu benda aja. Kalau kita nak yang terbaik. Kita kena beri yang terbaik. Nak duit banyak, kena sedekah banyak. Satu benda mudah yang saya nak share dengan abang, sedekah bila masuk masjid. Abang buka beg duit, ambil duit yang paling besar. Then, sedekah kat tabung masjid. Abang buat aje, nanti abang akan rasai perbezaannya. Bila kita beri yang terbaik, Allah pulangkan yang terbaik untuk kita.”

Kemudian, salah seorang CEO syarikat lain menambah.

“Firdaus, kau jangan percaya apa dia ni cakap. Jangan percaya, tapi kau buat aje!!! Ingat, duit yang paling besar dalam wallet ok.”

Kemudian, salah seorang CEO syarikat lain pulak menambah.

“Saya ni dah lama jutawan. Tapi, dulu nak sedekah kat masjid, RM10 pun rasa berat. Kedekutnya saya waktu tu. Tapi, lepas saya belajar. Saya dah tak kedekut. Saya pun sama macam mereka. Saya keluarkan duit yang paling besar ada dalam wallet saya. Saya juga selalu tukar duit kecil, RM1, RM5, RM10, RM20 dan saya selalu bawa bersama saya. Bila saya jumpa orang yang memerlukan, saya akan sedekah ikut keperluan mereka.”

Wowwww…… Ini rupanya rahsia mereka.

Saya Masuk Masjid Dan Teringat Kata Kata Mereka

Hari Khamis yang lepas, saya masuk ke Masjid di Parit Buntar.

Pada waktu tu, saya teringat nak bersedekah kepada masjid. Saya berazam nak sumbanglah RM50 kepada masjid. Sebab saya sangka itulah duit yang paling besar saya ada dalam wallet.

Tiba tiba, bila saya buka beg duit.

Allahuakbar. Macam mana ada duit RM100 pulak dalam wallet saya ni?

Aduh !!!!!

Iman saya mula bergoyang. Nak sumbang RM50 pun dah kira besar. Inikan pula RM100. Fuhhhhh…. Saya berpeluh seketika.

Tapi, disebabkan saya teringat kata kata para jutawan yang menggalakkan saya menderma wang terbesar dalam wallet. Saya pun, dengan rasa ‘berat hati’. Saya keluarkan RM100 dan masukkan dalam tabung masjid.

Saya ingat lagi, masa saya sumbang tu. Saya berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, aku berikan yang terbaik untuk Mu. Aku tak tahu macam mana Kau akan gantikan duit ini untukku. Tapi, aku sudah menjalankan tanggung jawabku. Sekarang, aku serahkan pada Mu untuk mengaturkan sesuatu untuk aku.”

Sejujurnya, masa saya keluar masjid. Saya asyik berfikir.

“Hmmm…. macam manalah Allah nak gantik RM100 ni dalam masa segera?” tak nampak jalan yang saya akan dapat duit dari mana mana sumber bisnes yang saya buat.

Tapi, tak per lah. Saya buat kerja saya, selebihnya saya serahkan kepada Allah.

Apa Berlaku Pada Hari Jumaat?

Pagi Jumaat, saya buat kerja seperti biasa. Tiba tiba, saya dapat panggilan telefon daripada abang saya.

“Daus, cepat cepat. Jual saham yang hang beli tu? Sekarang naik mencanak.”

Tanpa membuang masa, saya terus onlinekan telefon saya.

Saya cek saham yang dah 2-3 minggu saya beli, yang asyik turun tak naik naik. Saya pun dah sedikit kecewa dengan saham ni.

Terbeliak biji mata saya tengok harga semasa saham tersebut.

Allahuakbar.

Kalau dihitung mudah, keuntungan sekitar RM4,800.

Subhanallah. Tanpa membuang masa, saya terus jual saham tersebut.

Syukur Alhamdulillah.

Saya benar benar tak sangka, Allah nak beri rezeki kepada saya daripada pintu yang tidak saya sangka.

Memang saya jangka saham yang saya beli tu akan naik. Saya jangka untung dalam RM1,000-RM1,500. Tak lah sampai RM4,800 dalam tempoh 2-3 minggu.

Subhanallah. Saya bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan.

Selepas itu, saya pergi ke masjid untuk menunaikan Solat Jumaat. Sekali lagi, saya buka beg duit saya, saya dermakan wang paling besar yang saya ada.

Kali ini, saya berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, aku bersyukur dengan nikmat yang Kau berikan kepadaku. Terima kasih kerana memberi ‘pulangan’ kepada aku dengan begitu pantas. Hari ini, aku berikan sumbangan aku lagi untuk masjid ini. Semoga Kau berikan yang lebih baik buat aku selepas ini.”

Jangan takut untuk bersedekah.

Allah Allah…..

Selama ini, bukan saya tak percaya THE POWER OF SEDEKAH.

Saya tersangat percaya, tapi biasalah. Kita manusia. Kita selalu rasa takut nak MEMBERI. Kita ingat dengan memberi akan mengurangkan apa yang kita ada.

Sebenarnya tak, bila kita memberi. Kita akan menambah apa yang kita sedia ada.

Saya tulis kali ini, semata mata untuk memberi kekuatan kepada saya untuk memberi yang terbaik dalam setiap perkara yang saya lakukan.

Semoga kisah ini juga sedikit sebanyak akan memberi inspirasi kepada anda untuk bersedekah.

Kawan kawan semua…. Jom Bersedekah.

Ingat pesan ini, “Kita kurang berjaya bukan kerana kita kurang menerima, tetapi kerana kita kurang memberi. The more we give, the more we get back. Insya Allah.”

Jika kita tak mampu nak bersedekah dengan wang ringgit, jom bersedekah dengan cara yang paling mudah. Iaitu dengan memberi senyuman.

Kalau ini pun kita tak mampu nak lakukan, hmmm…. Lebih baik kita usah hidup.

Semoga Allah beri kekuatan kepada kita untuk lebih banyak memberi selepas ini. InsyaAllah ... �� ...

Saturday, March 19, 2016

Janganlah kamu menyibukkan dirimu, dengan apa yang tidak ditakdirkan untukmu."

"Apa yang sudah ditakdirkan untukmu, Pasti akan datang. Apa yang bukan untukmu, pasti tidak akan datang padamu."

"Maka, sibukkanlah dirimu dengan Tuhanmu. Janganlah kamu menyibukkan dirimu, dengan apa yang tidak ditakdirkan untukmu."

Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad رحمه الله تعالى

Hukum tawassul

Arti Tawasul dan Hukum Tawasul - Berikut ini adalah artikel mengenai arti tawasul dan hukum tawasul menurut ahlussunnah wal jamaah.

Arti Tawasul adalah mendekatkan diri atau memohon kepada Allah SWT dengan melalui wasilah (perantara) yang memiliki kedudukan baik di sisi Allah SWT.

Wasilah yang digunakan bisa berupa nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh yang kita lakukan, dzat serta kedudukan para nabi dan orang shaleh, atau bisa juga dengan meminta doa kepada hamba-Nya yang sholeh. Allah SWT berfirman :
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَة
Artinya : Dan carilah jalan yang mendekatkan diri ( Wasilah ) kepada-Nya. (Al-Maidah:35).

Menurut jumhur Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, tawasul dengan segala ragamnya adalah perbuatan yang dibolehkan atau dianjurkan. Kebolehan tawasul dengan nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh dan meminta doa dari orang sholeh telah disepakati, bahkan oleh kelompok yang keras sikapnya terhadap tawasul ini, sehingga perlu kami paparkan dalil-dalilnya panjang lebar. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul.
 
Hukum Tawasul - Bertawasul dengan nabi dan orang-orang shaleh kerap menjadi permasalahan. Contoh sederhana tawasul jenis ini adalah ketika seseorang mengharapkan ampunan Allah SWT. Misalnya ia berdoa, “ Ya Allah, aku memohon ampunanmu dengan perantara nabi-Mu atau Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.” Terlihat jelas dalam bertawasul, nabi atau orang sholeh hanyalah perantara, sedangkan yang dituju dengan do’a hanyalah Allah SWT semata. Dengan tawasul, ia tidak menjadikan nabi dan orang shaleh tersebut sebagai tuhan yang disembah.

Namun kenyataan sederhana ini tidak bisa dipahami oleh sebagian orang yang mengaku mengikuti sunnah namun kenyataannya adalah jauh dari sunnah. Mereka menganggap tawasul jenis ini adalah bentuk menyekutukan Allah SWT. Seorang Syaikh Wahabi Abu Bakar Al-Jaziri berkata mengenai Tawasul: “ Sesungguhnya berdoa kepada orang-orang shaleh, Istighosah (meminta tolong) kepada mereka dan tawasul dengan kedudukan mereka tidak terdapat didalam agama Allah ta’ala, baik berupa ibadah maupun amal shaleh sehingga tidak boleh bertawasul dengannya selama-lamanya. Bahkan itu adalah bentuk menyekutukan Allah SWT di dalam beribadah kepada-Nya, hukumnya haram dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam serta mengakibatkan kekekalan baginya di neraka Jahannam.”(Aqidatul Mu’min, hal 144). Fatwa ini sangat tendensius dan tidak berbobot ilmiah.
Dalil - dalil Hukum Tawasul
Dalil Pertama Mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits shahih tentang Syafaat yang diriwayatkan oleh para hufadz dan ahli hadits. Pada hari kiamat, ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, mereka mengalami kepayahan yang sangat. Mereka bertawasul dengan mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan supaya Allah SWT mengistirahatkan mereka dari penantian yang panjang.
Dalil kedua tentang Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits dari sahabat Utsman bin Hunaif yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, an-nasai, ath-Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi dengan sanad yang shahih. Diriwayatkan dari Utsman bin hunaif bahwa seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW Memohon kepada Rasulullah SAW berdoa untuk kesembuhannya. Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau ingin, aku akan doakan. Namun jika engkau bersabar maka itu lebih baik.”Lelaki itu tetap berkata, “Doakanlah.”Nabi SAW lalu memerintahkan kepadanya untuk berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa berikut: “Ya Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad, nabi yang rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku denganmu agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, izinkanlah ia memberikan syafaatnya kepadaku…” kemudian lelaki itu bisa melihat.
Hukum Tawasul di dalam hadits riwayat ath Thabrani dan al-Baihaqi terdapat tambahan bahwa shabat Utsman bin Hunaif di kemudian hari mengajarkan doa tersebut kepada seorang lelaki agar hajatnya terpenuhi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Tambahan hadits ini dishahihkan oleh ath Thabrani. Al-Haitsami dalam Majma Zawaid menetapkan pendapat ath Thabrani mengenai keshahihannya. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa lelaki buta meminta doa kepada Nabi SAW, namun Nabi tidak mendoakannya melainkan mengajarkan doa yang berisi bertawasul dengan nabi saw. Ini menunjukkan bertawasul dengan nabi saw. boleh.
Seandainya tawasul ini syirik maka tidak mungkin Nabi SAW mengajarkannya kepada orang buta tersebut. Para pengingkar tawasul akan berusaha memalingkan makna hadits tersebut dengan takwil yang jauh dari makna dzohirnya. Mereka yang mengatakan yang dimaksud orang buta tersebut bukan bertawasul dengan nabi saw melainkan bertawasul dengan meminta doa Nabi saw. Perkiraan ini keliru sebab hadits tersebut tidak menjelaskan bahwa Nabi saw. berdoa. Bahkan yang disebutkan adalah bahwa Nabi saw. meminta orang buta itu berdoa dengan menyebut nama beliau dalam doanya sebagai perantara. Jika itu adalah bentuk tawasul dengan doa, pasti Nabi saw. tidak perlu repot-repot mengajarkan doa yang panjang itu. Beliau hanya perlu menengadahkan tangan dan berdoa.
Dalil lain mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan dzat adalah hadits yang disebutkan dalam shahih Bukhari bahwa sayidina Umar ra meminta hujan pada masa kekeringan dengan sayidina Abbas, paman Nabi saw. seraya berkata:“Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu SAW, dan sesungguhnya kami sekarang bertawasul kepadamu dengan paman Nabi kami.” Maka hujanpun turun.Para ulama menyebutkan bahwa tawasul sayidina Umar ini bukan dalil tidak bolehnya bertawasul dengan nabi saw setelah wafatnya, sebab telah berlalu dalil mengenai tawasul para sahabat dengan Nabi saw setelah wafat. Ini adalah dalil mengenai kebolehan bertawasul dengan hamba yang sholeh selain nabi. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tawasul tidak harus dilakukan dengan hamba yang paling utama. Shabat Ali bin Abi Thalib lebih utama dari sahabat Abbas, tapi justru sahabat Abbas yang dijadikan wasilah. Tawasul dengan sahabat Abbas pada hakikatnya juga tawasul dengan Rasulullah SAW. Kalau bukan karena dia adalah kerabat dengan posisinya dengan Rasulullah saw., maka tidaklah beliau dijadikan tawasul. Berarti ini adalah bentuk bertawasul dengan nabi juga. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul
Imam as-Subki dan Ibnu Taimiyah Tentang Hukum Tawasul
Pendapat mengenai hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan Nabi diperkuat dengan kesepakatan para ulama salaf dan kholaf. Imam as-Subki mengatakan: “Bertawasul, meminta pertolongan dan meminta syafaat dengan perantara Nabi kepada Allah adalah baik. Tidak ada seorangpun dari kaum salaf dan kholaf yang mengingkari hal ini sampai datang Ibnu Taimiyah. Ia mengingkari hal ini dan melenceng dari jalur yang lurus, memunculkan ide baru yang tidak pernah dikatakan oleh ulama sebelumnya sehingga terjadilah keretakan dalam islam.”

Dalam ucapannya, Imam as-Subki menegaskan bahwa kebolehan bertawasul dengan Nabi disepakati sampai datang Ibnu Taimiyah. Namun faktanya, Ibnu Taimiyah sendiri sebenarnya tidak mengingkari kebolehan bertawasul kepada Nabi. Yang beliau ingkari adalah istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi SAW, bukan Tawasul.

Ibnu Katsir salah satu murid Ibnu Taimiyah menceritakan mengenai tuduhan yang ditujukan kepada Ibnu Taimiyah: “Kemudian Ibnu Atho’ menuduhnya (Ibnu Tiaimyah) dengan banyak tuduhan yang tidak bisa dibuktikan satu pun. Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata, “Tidak boleh beristighosah selain kepada Allah, tidak boleh beristighosah kepada Nabi dengan istighosah yang bermakna ibadah. Namun boleh bertawasul dan meminta syafaat dengan perantara Beliau (Nabi SAW) kepada Allah.” Maka sebagian orang menyaksikan menyatakan, ia tidak memiliki kesalahan dalam masalah ini.” (Bidayah Wa Nihayah juz 14 hal 51).

Jadi tampak jelas bahwa (Hukum Tawasul) bertawasul dengan Nabi sama sekali tidak diingkari oleh Ibnu Taimiyah, sedangkan tuduhan yang dialamatkan kepada beliau itu keliru. Bahkan fatwanya, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hukum tawasul dengan Nabi disyariatkan dalam berdoa. Beliau mengatakan:“Termasuk ke dalam hal yang disyariatkan adalah bertawasul dengannya ( Nabi SAW ) di dalam doa sebagaimana terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi dan dishahihkan olehnya bahwa Nabi SAW mengajarkan seorang untuk berdoa, “Wahai Allah, sesungguhnya aku bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawasul dengan perantaramu kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku itu. Wahai Allah, jadikan ia orang yang memberi syafaat kepadaku.”Tawasul yang seperti ini adalah perbuatan yang baik. Sedangkan berdoa dan beristighosah kepadanya ( Nabi SAW ), maka itu merupakan perbuatan yang haram.

Perbedaan di antara keduanya telah disepakati dikalangan umat muslim. Orang yang bertawasul sebenarnya hanya berdoa kepada Allah, menyeru kepada-Nya dan memohon pada-Nya. Ia tidak berdoa selain pada-Nya. Ia hanya menghadirkannya ( Nabi SAW ). Adapun orang yang berdoa dan meminta tolong, maka berarti ia memohon kepada yang ia seru dan meminta darinya, serta meminta tolong dan bertawakal kepadanya, sedangkan Allah merupakan Tuhan semesta alam. (Majmu Fatwa juz 3 hal 276). Berdoa dan beristighosah yang dilarang Ibnu Taimiyah seperti sudah dijelaskan adalah dengan makna beribadah. Semua ulama bersepakat bahwa beribadah kepada Nabi Muhammad SAW adalah Syirik, berbeda dengan beribadah kepada Allah dengan melalui Nabi Muhammad yang malah disyariatkan.

Muhammad bin Abdul Wahab Tentang Hukum Tawasul
Berbeda dengan pengikutnya mengenai hukum tawasul yang menghukumi syirik kepada orang yang bertawasul dengan Nabi SAW dan orang Sholeh, ternyata pendiri Wahabi Muhammad bin Abdul Wahab manganggap masalah tentang hukum tawasul adalah masalah ijtihadiyah yang tidak perlu diperselisihkan.

Dalam kumpulan tulisannya, disebutkan bahwa beliau pernah berfatwa: "Mengenai adanya sebagian ulama yang memperbolehkan untuk bertawasul dengan orang-orang sholeh dan sebagian lain yang hanya mengkhususkan kebolehan itu dengan Nabi SAW saja, maka mayoritas ulama melarangnya dan tidak menyukainya. Ini merupakan satu masalah fiqih walaupun pendapat yang benar menurut kami adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa bertawasul adalah makruh. Namun kami tidak mengingkari orang yang melakukannya karena tidak ada ingkar atas permasalahan-permasalahan ijtihadiyah. Namun pengingkaran kami hanya ditujukan bagi orang yang berdoa kepada makhluk dengan lebih mengagungkannnya daripada kita menyeru kepada Allah".(Majmu Mualafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab juz 2, hal 41 cetakan Darul Qasim)

Pernyataan beliau keliru dalam hal bahwa jumhur ulama tidak menyukai tawasul dengan Nabi SAW dan orang sholeh, sebab kenyataannya justru para ulama sepakat menganggap hal itu baik. Namun sikap beliau tentang tawasul jelas itu adalah masalah ijtihadiyah. Muhammad bin Abdul Wahab tidak mengingkari tawasul. Yang beliau ingkari adalah jika seorang mengagungkan orang sholeh lebih daripada pengagungannya kepada Allah SWT. Tidak ada seorang muslim pun yang bertawasul dengan menganggap wasilahnya lebih agung dari Allah SWT.

Jika Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah mengingkari bertawasul dengan Nabi maupun orang Shaleh, dari mana kaum Wahabi mendapat ajaran yang menganggap syirik orang yang bertawasul? - Arti Tawasul dan Hukum Tawasul
Sumber: Rubrik Cahaya Nabawi
http://cintai-ulama.blogspot.my/2014/11/arti-tawasul-dan-hukum-tawasul.html